Wildest Sex Fantasy

*Ferena Debineva

fantasy_0

Apa pertanyaan paling aneh yang pernah ditujukan pada anda? Posisi seks favorit? Ukuran alat kelamin? Atau fetish tergila anda? Sebenarnya ada apa, sih, dengan semua pertanyaan aneh ini?


Rutinitas harian baru yang saya lakukan adalah mengecek Twitter, membuka ask.fm, mengecek grup WhatsApp dan email SGRC UI, sebuah organisasi di Universitas Indonesia (UI) yang berfokus pada pembahasan terkait dengan seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual. Kebanyakan isinya adalah pertanyaan dan pernyataan yang menarik yang diajukan kepada saya pribadi ataupun organisasi yang kami dirikan itu.

Saya menggumam, saya teringat kembali pada malam itu, 26 November 2014 dimana saya mencoba untuk mampir dan melihat eksplorasi calon ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI periode 2015 yang kebetulan dijadwalkan di kantin fakultas sebelah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Keputusan saya tidak salah, karena proses tanya jawab berlangsung dengan sangat seru dan penuh dengan pertanyaan kritis; mulai dari ideologi sampai definisi konseptual marxisme. Hingga pada satu kesempatan, setelah dipersilakan oleh moderator, saya berdiri, tersenyum, dan bertanya, “What is your wildest sexual fantasy?

Seperti yang sudah saya perkirakan, respon audiens bermacam macam. Ada yang menyambut pertanyaan saya dengan semangat sembari riuh dan bertepuk tangan. Ada juga yang menggelengkan kepada. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, nampaknya pertanyaan tersebut mampu mengembalikan perhatian audiens untuk menyimak, dengan tidak sabar tentunya. Calon ketua BEM dan wakilnya menunjukkan raut muka bingung. Mereka berjalan-jalan, mondar-mandir di sekitar kantin dan meminta lebih banyak waktu untuk menjawab. Mereka bahkan meminta saya untuk mengulang pertanyaan saya dalam bahasa Indonesia. Maka saya, dengan tersenyum, mengulang kembali pertanyaan saya, “Apakah fantasi seksual terliar Anda?”

Setelah mimbar bebas berakhir, saya pikir pertanyaan itu hanya berakhir di tempat tersebut, ternyata saya salah. Orang-orang mulai membuat notulensi dan menyebarkannya, kemudian mempertanyakan identitas si penanya. Ada pula yang mengomentarinya sebagai pertanyaan bodoh dan kurang kerjaan. Tapi lagi-lagi, pertanyaan ini lebih menarik daripada pertanyaan tentang ideologi Pancasila dan penjelasannya. Ada apa dibalik riuh audiens dan pertanyaan tersebut? Sebelum bertanya pada calon wakil ketua dan ketua BEM tersebut, saya melontarkan pertanyaan yang sama dengan rekan satu meja yang baru saya kenal hari itu juga. Ekspresinya pun beragam. Ada yang tertawa, ada yang malu-malu menjelaskan, ada yang sangat tertutup dan kaku, serta ada yang sangat bersemangat. Salah satu diantara mereka akhirnya bertanya, “Ada apa sih, dibalik pertanyaan ini?”

Saya tersenyum dan menjawab, sembari memberikan tanggapan kepada jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya kepada audiens. “Mengetahui fantasi seks terliarmu ialah mengetahui hasrat yang terdalam, rasa takut, harapan, hambatan, dan kebebasan diri Anda sendiri. Hal tersebut, secara tidak sadar, akan tercermin dalam sikap, sudut pandang, ideologi, dan kehidupan Anda sehari-hari. Ini bukan hanya tentang seks – atau aktivitas seksual – ini semua tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan diri sendiri dan mengetahui kelemahan diri. Kesadaran dan pemahaman akan diri sendiri adalah senjata terkuat yang dapat seseorang miliki”

Tanggapan tersebut sayangnya tidak pernah ditulis dan disebarluarkan. Bahkan di beberapa tempat, pertanyaan saya tersebut perlu disensor. Disini kita dapat melihat bagaimana tertutup dan kakunya individu dalam membicarakan masalah yang sedemikian mendasar dan menjadi kebutuhan alami manusia. Terkait dengan respon orang-orang terhadap pertanyaan saya, sore kemarin saya mendapatkan notifikasi pertanyaan dari akun ask.fm/SGRCUI. Pertanyaan tersebut kira-kira berbunyi seperti ini: “Kita sebagai mahasiswa tidak usah mengumbar dan membicarakan atau mempertanyakan tentang seks, karena seks itu agung”.

Lagi-lagi, saya tersenyum dan mulai menulis jawaban:

If we don’t talk about it, others will, and already are. Being silent means letting people, other people to shape, define and talk about sex for us.

Jadi, masih berpikir bahwa pertanyaan saya aneh dan tidak layak diperbincangkan?

*Penulis, Ferena Debineva, merupakan alumni psikologi UI angkatan 2008, founder dan chairperson SGRC UI.

** Tulisan ini pernah dimuat sebelumnya pada situs Suara Kita (23 Desember 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s