Kata Mereka, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya

*Annisa Erou

Kata mereka, kita manusia punya hak yang sama.
Untuk minum,
Untuk makan,
Untuk belajar,
Untuk bekerja,
Dan untuk hidup.

Kata mereka, kita manusia punya hak yang sama.
Untuk merdeka dan dimerdekakan.
Untuk mencintai dan dicintai.
Untuk saling mengisi.
Untuk merasakan tawa dan bahagia.

Kata mereka, kita sudah bebas dari belenggu ketamakan dan penjajahan.
Kita manusia yang diberikan kebebasan.
Kita bebas untuk berpendapat.
Kita bebas untuk beragama dan berkeyakinan.
Kita bebas untuk membuat dan menjalankan pilihan.
Kita bebas untuk menjadi anak-anak yang hidup damai dan dilindungi.
Kita bebas, kita bebas, kita bebas.

Tapi mereka lupa.

Bagaimana nyatanya ada sekelompok orang yang tidak bebas untuk mencintai dan dicintai hanya karena orang-orang ini tidak sesuai dengan pandangan kita atau pandangan mereka, lalu mereka sebut orang-orang ini pendurhaka yang telah dan akan dibinasakan ataupun dimurkai Tuhan.

Bagaimana nyatanya ada sepasang anak manusia yang memperjuangkan haknya untuk dipersatukan namun dilarang dan dikecam hanya karena sepasang anak manusia ini dianggap berbeda atas nama Tuhan, lalu mereka sebut pasangan ini pembangkang ketentuan Tuhan.

Bagaimana nyatanya ada perempuan-perempuan belia yang ingin mengembangkan dirinya dan memandang laki-laki itu adalah sederajat dengannya, lalu mereka sebut perempuan-perempuan ini adalah istri-istri yang durhaka.

Bagaimana nyatanya ada anak-anak yang ingin menyuarakan hati dan pikiran mereka, kreasi mereka, jiwa mereka, bahasa mereka, diri mereka, pilihan mereka, dan hidup mereka tapi lalu harus dibatasi dengan alasan klise tidak boleh durhaka dan membangkang kepada orangtua. 

Bagaimana nyatanya perbedaan-perbedaan itu dan perbedaan-perbedaan lain disamaratakan dengan pembelaan bahwa orang-orang ini memang salah, maka kembalilah ke jalan yang benar.

Kata mereka, kita ini bebas, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.
Lalu kenapa justru kita masih dibelenggu dengan kebuntuan dan keterbelakangan pikiran?

Kata mereka, kita-kita ini pendosa dan sudah pasti akan masuk ke neraka-Nya, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.
Lalu kenapa Tuhan memilih kita untuk dihidupkan dan memberikan kita cinta dan kasih sayang?
Karena Tuhan itu agung?
Karena Tuhan itu besar?

Kata mereka, kita manusia harus belajar hingga napas tak lagi berhembus dan jiwa dipisahkan dari tubuh kita.
Lalu kenapa kita manusia disuruh berhenti untuk belajar jika menyangkut mengenai Tuhan itu sendiri dan ketetapan-ketetapan-Nya yang kata mereka sudah pasti?
Karena Tuhan itu angkuh maka Ia tak boleh dipelajari lebih lanjut?
Karena Tuhan itu angkuh maka ketetapan-Nya tidak beralasan dan tidak tergantikan?

Aku ini bukannya tidak percaya akan Tuhan.
Tapi aku juga bukan orang yang matanya dibutakan dan otaknya dilumpuhkan hingga tak bisa berpikir.

Tuhan itu memang besar dan agung, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, kalau memang itu yang menjadi pembelaan mereka.
Tapi bukan lalu lantas karena Dia agung, maka Dia seenak-enaknya secara acak menunjuk kita untuk Dia siksa. Dia mengajarkan cinta dan kasih sayang, bukan kekerasan.

Tuhan itu memang besar dan agung, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, kalau memang itu yang menjadi pembelaan mereka.
Tapi bukan lalu lantas benar bagi kita untuk membenci orang-orang lainnya hanya karena orang-orang ini mencintai siapa-siapa yang tidak sesuai dengan pandangan kita atau berbeda dengan cara kita menjalaninya.

Tuhan itu memang besar dan agung, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, kalau memang itu yang menjadi pembelaan mereka.
Tapi mencintai itu untuk semuanya, bersaudara itu untuk semuanya, sederajat itu untuk semuanya, dan apakah kebencian adalah pesan yang ingin Tuhan sampaikan?

Kata mereka, kata mereka, dan kata mereka.
Mereka ini terlalu banyak berkata-kata, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.
Nyatanya otak saja tak punya.

These are little words of mine to say that I’m with the LGBT people, the harmed children or discriminated ones, the discriminated girls and women, the different religions couples, those who haven’t or have spoken for themselves and their hearts but later ignored, tortured, or even removed from their families.

“You are not alone because we are brothers and sisters.

** Tulisan ini pernah dibuat dalam blog pribadi Annisa,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s