Coming Out : Kejujuran yang membunuh

*Rahadian Arief

Di saat negara ini membutuhkan orang-orang jujur, terkadang tidak jujur seakan menjadi pilihan yang lebih bijak untuk dilakukan.

Masih jelas di dalam pikiran Randi, seorang remaja berusia 20 tahun, tentang bagaimana fantasi seksual pertamanya terjadi di usianya yang masih terbilang sangat muda, 12 tahun yang lalu. Kala itu, Randi tengah duduk sendiri di ruang keluarga, kedua orangtuanya sedang berkerja, dan pengasuhnya kebetulan sedang tidak ada di tempat. Ditengah kesendiriannya, kedua bola mata Randi terfokus pada sebuah objek, sebuah kotak dengan layar yang menampilkan berbagai gambar. Apa yang disaksikannya waktu itu adalah gambaran seorang perempuan dan seorang laki-laki yang sedang bermesraan. Kulit mereka bersentuhan, bibir mereka berpaut, dan mereka melakukan berbagai hal yang bahkan Randi pun tidak pernah membayangkannya. Hatinya berdegup kencang, dan bilur-bilur keringat menetes dari lehernya, namun entah kenapa, Randi merasakan sensasi yang aneh, aneh sekaligus menyenangkan. Ya, apa yang disaksikan oleh Randi memang merupakan hal yang biasa menurut kita, sebuah adegan percintaan di telenovela yang kala itu populer, Rosalinda. Namun baginya, adegan tersebut, atau lebih luas, pengalaman tersebut merupakan hal yang sama sekali baru dan menegangkan. Apalagi jika semangat Randi yang kala itu baru berumur enam tahun bukan hadir karena melihat Rosalinda, tapi karena melihat lawan main Rosalinda, yaitu Jose Armando.

Kisah Randi adalah salah satu pengalam eksplorasi seksual anak yang sangat menarik. Di usianya yang masih enam tahun, Randi sudah mengetahui mengalami “orgasme” dan sadar akan orientasi seksualnya. Akan tetapi, apakah Randi lantas menceritakan pengalaman tersebut kepada orang-orang terdekatnya? Jawabannya, tidak. Randi yang besar di lingkungan Muslim konservatif memilih untuk merahasiakan hal tersebut. Ya, di usianya yang masih enam tahun, Randi sudah dipaksa untuk mengikuti berbagai jenis kegiatan keagamaan, dan diberikan pendidikan agama secara intens. Randi paham bahwa apa yang ia rasakan adalah hal yang salah, dan akhirnya, Randi memilih untuk diam. Dan didalam diam tersebut, Randi mengutuk dirinya, mengutuk kenapa ia dilahirkan berbeda, dan mengapa hal tersebut harus terjadi kepadanya.

Sebenarnya apa yang Randi alami tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh anak-anak lain, eksplorasi seksual merupakan hal yang wajar, dan pasti terjadi di dalam proses perkembangan manusia. Yang berbeda adalah, saat orang lain tertarik dengan lawan jenis, dalam kasus ini Randi tertarik dengan sesama jenis. Dan apakah hal tersebut salah? Ya, hal tersebut salah jika dilihat dari sudut masyarakat. Kala itu, masyarakat sepakat bahwa hubungan yang “normal” adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau hubungan sesama jenis. Pandangan tersebut diperkuat dengan nilai-nilai agama, yang sejak dini sudah terinternalisasi di diri Randi. Alhasil, Randi diam dan tidak berani menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Namun, apakah Randi salah karena ia menyukai Jose Armando? Menyukai pria? Apakah Randi harus disembuhkan? Jawabannya tentu saja tidak. Masyarakatlah yang harus dididik dan disembuhkan untuk menerima hal tersebut!

Pilihan Randi untuk diam inilah yang disebut sebagai living in the closet, atau menyembunyikan orientasi seksual. Di sudut yang berlawanan, terdapat sebuah konsep yang disebut coming out, atau kondisi seseorang, dalam kasus ini Randi, menceritakan perihal orientasi seksualnya kepada orang-orang terdekatnya. Pertanyaan selanjutnya adalah “gila aja lo, udah tau homo itu salah, buat apa cerita-cerita!?

Eits! tunggu dulu, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa menyembunyikan orientasi seksual dapat menyebabkan stress berkelanjutan, urgensi mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol, serta seks bebas (Beals, 2001). Namun hal ini tidak lantas menjadikan coming out sebagai sebuah hal yang wajib dankudu dilakukan. Terdapat konsekuensi dari coming out, yaitu respon orang terdekat kita perihal orientasi seksual kita. Kondisi budaya Indonesia yang “ketimuran” ini membuat coming out layaknya bunuh diri, hal ini juga didukung oleh beberapa studi terkait respon negatif pasca coming out yang berdampak pada peningkatan kekerasan verbal dan fisik (De’ Augeli, 1998), menjadikan coming out sebagai pilihan yang tidak bijak untuk dilakukan, khususnya bagi anak dan remaja (Green, 2000).

Lantas bagaimana langkah strategis yang dapat dilakukan oleh Randi, serta randi-randi lain yang ada diluar sana?. Salah satu langkah strategis bagi kelompok LGBT muda adalah dengan mengakses pengetahuan terkait dengan seksualitasnya. Di era digital ini, terdapat berbagai macam cara untuk mencari tahu informasi terkait seksualitas. Dengan menggunakan internet, kelompok LGBT muda dapat mencari tahu tentang faktor penyebab, strategi coping, dan bahkan bertemu dengan LGBT lain yang memiliki pengalaman yang sama. Namun, terlepas dari itu semua, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menerima. Ya, menerima diri sendiri secara utuh, termasuk orientasi seksual diri. Cass (1979) menganalogikan coming out sebagai sebuah proses yang diawali dengan kebingungan seksual, pencarian identitas, penerimaan identitas, dan kebanggaan atas identitas seksual diri sendiri. Dengan menggunakan kerangka berpikir Cass, kita dapat melihat bahwa dalam tahapan kebingungan dan pencarian identitas, kita membutuhkan informasi dan orang lain yang dapat diajak untuk bercerita terkait kondisi orientasi seksual kita. Baru setelah itu seorang individu bisa menerima, dan bangga akan identitas seksualnya.

Lantas kepada siapa kita harus bercerita tentang orientasi seksual kita pertama kalinya? Hal inilah yang sedikit tricky dan harus dipikirkan dengan mataang. Coming out kepada orangtua, khususnya di Indonesia bisa jadi sama halnya dengan bunuh diri. Sebut saja Ali, seorang mahasiswa yang come out ke orangtuanya dan dibawa ke dukun dan psikolog untuk disembuhkan, dan Sally, mahasiswi Bandung yang dipaksa mandi kembang oleh kakek dan neneknya karena berpenampilan tomboy. Hal-hal seperti inilah yang menghantui kelompok LGBT muda dalam konteks penerimaan identitas dirinya. Namun, terlepas dari resiko-resiko tersebut, Saurma (2004) menekankan bahwa coming out memang merupakan sesuatu yang penting, namuncoming out tidak harus selalu diawali dengan jujur kepada orangtua. Hasil penelitian Saurma justru menunjukkan bahwa coming out terhadap rekan kerja, teman dan lingkungan sosial yang dekat dengan individu jauh lebih berpengaruh daripada coming out kepada orangtua.

Jadi bagaimana solusi praktisnya? Mencari informasi tentang seksualitas, serta menemukan orang-orang yang mengerti dengan kondisi orientasi seksual kita merupakan langkah pertama yang penulis kira strategis dalam proses coming out. Dan yang tidak kalah penting, coming out yang pertama tidak harus, wajib, dankudu dilakukan kepada orangtua, layaknya malam pertama yang tidak kudu, harus, dan wajib dilakukan bersama dengan calon suami. Pada akhirnya, akan ada saatnya mereka tahu, dan pada saat itulah kita diharapkan siap, siap untuk memberikan penjelasan.

**Tulisan pernah dimuat dalam situs Suara Kita pada (17 Juli 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s