Merayakan Kesetaraan

*Bhadrika Dirgantara

equality

Menurutmu, apa yang melegitimasi ketidaksetaraan pada individu yang memiliki preferensi yang berbeda?

Coba ingat kelahiranmu: apakah posisimu di masyarakat sudah ditentukan?

Menurut saya, tiap manusia dilahirkan dari dua rahim; rahim biologis dan rahim sosial. Pada saat seorang bayi keluar dari rahim ibunya, ia tak hanya menjelma menjadi makhluk biologis namun juga makhluk sosial pada saat yang bersamaan. Pada dasarnya, saat ia dilahirkan dari rahim biologis, tiap orang berada dalam posisi yang setara. Akan tetapi rahim sosial menempatkan individu dalam posisi yang berbeda. Rahim sosial memenjarakan individu sesuai posisinya masing-masing yang telah ditetapkan oleh pihak yang berkuasa. Jika ia berkulit berwarna, maka ia dipenjarakan oleh rasismeJika ia perempuan, maka ia dipenjarakan oleh partriarki. Jika ia difabel, ia dipenjarakan oleh definisi ‘normalitas’. Jika pada saatnya ia tahu bahwa, ia, LGBTIQ, ia dipenjarakan oleh heteronormativitas.

Heteronormativitas ialah gagasan-gagasan bias orientasi seksual dan identitas gender yang menyatakan bahwa satu-satunya orientasi seksual yang normal hanyalah heteroseksual. Heteronormativitas juga menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan merupakan dikotomi identitas gender satu-satunya dan peran antara keduanya telah terbagi secara kaku dan tegas. Heteronormativitas inilah rahim sosial yang menyebabkan LGBTIQ dilihat sebagai suatu penyimpangan biologis, sosial, maupun budaya. Heteronormativitas juga melegitimasi homophobia, biphobia, dan transphobia. Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan kembali ialah, apakah heteronormativitas merupakan kebenaran?

Kita sebaiknya berpikir ulang dan kembali melihat bagaimana heteronormativitas ditanamkan dalam pikiran kita. Apakah heteronormativitas merupakan hasil pikiran kita sendiri setelah mengobservasi LGBTIQ dan berkontemplasi sekian lama? Atau heteronormativitas ditanamkan oleh keluarga, sekolah, institusi agama, negara, dan media tanpa kita sadari betul apa maksudnya? Pikirkanlah kedua pilihan jawaban ini baik-baik. Jika kamu memiliki pilihan jawaban ketiga silakan jawab juga.

Poin saya ialah banyak dari kita yang menjadi heteronormatif karena pihak-pihak di luar diri yang mengonstruksi pengetahuan kita. Keluarga, sekolah, institusi agama, dan media merupakan sejumlah aparat ideologis penguasa yang dapat menanamkan heteronormativitas tersebut. Budaya sekalipun juga dapat menanamkan heteronormativitas karena budaya dapat dihegemoni oleh ideologi penguasa.

Oleh karena itu, mari bebaskan pikiran kita dari pengetahuan yang bukan berasal dari pemikiran tiap kita. Selanjutnya, mari berpikir ulang tentang kesetaraan, karena tiap manusia pada hakekatnya dilahirkan setara dan berhak untuk hidup dalam kesetaraan. Kemudian, rayakan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s