Arisan 4! Priawan

*Noah Chrisella

Sejujurnya saya sering risih ketika orang-orang mencap saya sebagai perempuan tomboy karena potongan rambut saya yang super pendek, atau karena sepatu keds yang sporty dan tas backpack yang selalu saya kenakan. Komentar dan pertanyaan seperti “Anak perempuan kok rambutnya macam laki. Jelek kali.”, atau “Kok rambut lu pendek banget sih, No?” sudah sering saya dengar dan maklumi ketika mereka melihat penampilan saya untuk pertama kalinya.

Di dalam beberapa kesempatan lain, ada beberapa orang yang salah memanggil saya dengan sebutan ‘Mas’. Kalau sudah begini saya biasanya langsung tersinggung dan marah. Hal yang sama pernah juga terjadi di Jogja ketika salah seorang tukang becak memanggil saya ‘Mas’ ketika hendak menawarkan saya dan teman saya untuk naik becaknya. Seketika itu juga saya marah sambil mengacungkan jari tengah saya ke wajah tukang becak. Tentunya saya tidak naik becak si tukang becak itu dan untungnya pula dia tidak tahu apa maksud dari saya mengacungkan jari tengah ke mukanya.

Pengalaman-pengalaman pribadi saya tadi adalah contoh bagaimana orang awam pada umumnya selalu menghakimi seseorang dari penampilan luarnya: apa yang dikenakannya, dan bagaimana cara seseorang tersebut mengekspresikan dirinya di kehidupan sosial. Dalam kasus saya, orang-orang mencap saya tomboy karena melihat pendeknya potongan rambut saya dan atribut yang saya kenakan kesannya kurang girly. Padahal belum tentu setiap perempuan yang berambut pendek memang menyukai segala kegiatan yang berbau maskulin dan jauh dari sifat feminin dan kelemahlembutan.

Dari peristiwa di atas, tak jarang masyarakat awam memakai stereotype tomboy dan butch ketika melihat penampilan perempuan yang terkesan ‘laki’ dan maskulin. Tak jarang pula perempuan tomboy atau butch tadi langsung diasosiasikan dengan kata lesbian dan tidak normal. Apakah benar kenyataannya demikian? Bagaimana pula definisi dari istilah normal yang dipahami dalam masyarakat?

Selain isitilah tomboy dan butch, ada pula istilah yang mewakili gender ketiga yang belum diketahui oleh masyarakat banyak. Istilah tersebut adalah transman atau di Indonesia dikenal sebagai priawan.

Apa itu transman?

Apa bedanya tomboy, butch, transman, dan priawan? Lalu, apakah dengan demikian setiap perempuan yang berpenampilan tomboy bisa disebut sebagai seorang priawan?

Dalam ARISAN! keempat, saya mendapat giliran untuk membuka diskusi dua mingguan SGRC UI dengan topik Priawan. Namun sebelum membahas apa itu priawan, saya mengawali diskusi dengan pengenalan konsep seksualitas berbasis SOGIEB. SOGIEB sendiri adalah singkatan dari Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body. Konsep seksualitas ini mengacu pada otak (bagaimana seseorang berpikir dan memahami identitas gendernya dan menginterpretasikannya dalam keseharian), hati (bagaimana ketertarikan seseorang terhadap orang lain baik dari fisik, emosional dan spiritual berdasarkan seks atau gender), jenis kelamin (mengacu pada organ seks, hormon, dan kromosom yang dimiliki sejak lahir), dan ekspresi gender (bagaimana seseorang mengekspresikan gendernya dalam berperilaku dan berinteraksi dalam lingkungan) seorang manusia.

Dengan memahami konsep SOGIEB serta pembahasan mendalam mengenai transgender dan transman atau priawan, maka diharapkan wawasan kita semakin terbuka dengan melihat transgender sebagai gender ketiga yang harus diakui dalam masyarakat. Diskriminasi terhadap kaum transgender adalah bukti dari ketidakpedulian kita dalam mengenal perbedaan dan warna-warna dalam seksualitas manusia.

Konsep tersebut belum banyak diketahui dan dipahami oleh masyarakat sehingga muncullah stereotype yang sudah saya sebutkan di atas. Biasanya orang mencampuradukkan ekspresi gender, identitas gender dan orientasi seksual seseorang menjadi satu paket. Padahal sesungguhnya ketiga hal tersebut tidak berada dalam satu paket yang secara langsung mengungkapkan identitas seseorang. Dalam hal ini saya menyadari bahwa saya berjenis kelamin perempuan, beridentitas gender perempuan, menyukai lawan jenis (heteroseksual) dan berekspresi gender feminin, bukan maskulin atau androgini. Makanya saya menolak disebut sebagai tomboy walau orang-orang melihat saya mengekspresikan diri saya (seperti) tomboy.

Konsep SOGIEB yang belum dipahami ini berdampak pada berlakunya konsep biner gender di Indonesia. Biner gender adalah konsep yang mengikat dan mengatur hak dan kewajiban seseorang berdasarkan seks biologisnya. Seseorang hanya boleh dikategorikan sebagai laki-laki atau perempuan. Tidak ada setengah pria atau setengah wanita. Akibat biner gender, transgender menjadi suatu momok, sesuatu yang abnormal dan tabu untuk diketahui oleh masyarakat. Dalam kehidupan sosial, diskriminasi terhadap kaum transgender terlihat nyata karena mereka tidak memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, bersosialisasi, dan hidup aman dalam masyarakat.

Lalu apa itu transgender?

Individuals whose gender identity, expression, or behavior is not traditionally associated with their birth sex. Some transgender individuals experience their gender identity as incongruent with their anatomical sex and may seek some degree of sex reassignment surgery, take hormones or undergo other cosmetic procedures. Others may pursue gender expression (masculine or feminine) through external self-presentation and behavior. – The Leadership Campaign on AIDS

Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang merasa dan berpikir identitas gender dan ekspresi gendernya berbeda dan tidak sesuai dengan jenis kelamin yang dimiliki sejak lahir. Istilah ini pun tidak mewakili orientasi seks seseorang. Seorang transgender bisa saja orientasi seksualnya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, dsb. Seorang transgender bisa saja menjalani proses transisi untuk menyesuaikan identitas dan ekspresi gendernya dengan organ seksualnya, baik dengan cara medis ataupun psikis. Nah, orang yang mengalami proses transisi tersebut dikenal dengan istilah transwoman (male-to-female atau MTF) dan transman (female-to-male atau FTM). Transwoman dan transman sendiri masih berada dalam satu payung istilah bernama transgender.

Apa itu Transman? Transman adalah orang yang sejak lahir berjenis kelamin perempuan namun mengidentifikasikan identitas gender dan ekspresi gendernya sebagai laki-laki. Berdasarkan konsep SOGIEB, kita dapat memahami seksualitas seorang transman yang bersifat cair dan tidak terikat dengan ekspresi atau identitas gendernya. Seorang transman bisa mengidentifikasi orientasi seksnya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, dsb. Jadi belum tentu seorang transman menyukai perempuan.

Dalam diskusi kali ini, SGRC juga berkesempatan mengundang Kak Erky sebagai narasumber yang juga seorang transman dari Transhition. Diskusi kemudian bergulir pada pembahasan istilah transman dan priawan di Indonesia. Secara definisi, istilah transman dan priawan sebenarnya sama saja, baik mereka yang mengalami proses transisi secara medis, maupun tidak. Transman dan priawan juga masih berada dalam satu definisi transgender. Namun karena beberapa kepentingan yang bersifat politis, dua istilah tadi terlihat seperti berseberangan. Sama seperti penggunaan kata transwoman dan waria.

Diskusi semakin seru ketika masuk dalam pembahasan proses transisi seorang transman. Di sini Kak Erky berkesempatan untuk menjelaskan satu persatu perihal proses medis dan psikis yang dijalani seorang transman. Proses psikis yang dijalani seorang transman ditangani oleh psikiater atau psikolog. Pada dasarnya proses ini penting untuk memastikan keputusan orang tersebut serta konsekuensinya nanti sebagai seorang transman. Selain itu, konsultasi rutin kepada psikolog atau psikiater dibutuhkan untuk masa pendampingan karena adanya ketidakteraturan hormon yang berdampak pada mudahnya seseorang merasa tertekan dan irritated selama masa terapi.

Setelah konsultasi kepada psikiater atau psikolog, tahap berikutnya adalah proses medis yang terdiri dari operasi penegasan jenis kelamin – Sex Reassignment Surgery (SRS) dan/atau terapi penyesuaian hormon – Reassignment therapy (HRT). SRS dilakukan untuk memunculkan karakteristik seks seorang transman. Dua tindakan medis yang dilakukan antara lain metoidioplasty (memperbesar klitoris sehingga menyerupai penis) dan phalloplasty (rekonstruksi penis atau penyempurnaan bentuk penis buatan). Sedangkan HRT (dengan suntik hormon testosteron dan/atau endrogen blocker) dilakukan untuk memunculkan tanda seks sekunder laki-laki pada transman (suara menjadi lebih berat dan rendah, menghentikan siklus menstruasi, menambah massa otot, dsb). Tahapan ini bukan membutuhkan waktu dan biaya yang singkat, tentunya, namun membutuhkan waktu yang panjang.

Menurut Kak Erky, tidak semua transman memutuskan untuk menjalani pembedahan atau SRS karena biayanya yang mahal serta proses dan prosedurnya yang amat panjang. Sehingga banyak dari transman yang lebih memilih untuk terapi hormon dengan suntik testosteron rutin yang bisa didapat dari androlog. Beberapa pertanyaan juga diajukan oleh teman-teman SGRC tentang apa saja yang dirasakan Kak Erky setelah terapi hormon, apa bedanya sebelum transisi dan setelah transisi dalam kehidupan sehari-hari, dan seperti apa dan bagaimana proses metoidioplasty dan phalloplasty. Kak Erky juga menjelaskan prosedur lainnya seperti opharectomy (pembuangan indung telur), vaginectomy (pembuangan vagina) dan hysterectomy (pembuangan rahim) dan mastectomy (pembuangan payudara).Semuanya dijelaskan oleh Kak Erky dengan seru, sistematis, dan menyenangkan.

Diskusi ditutup dengan penjelasan yang sangat penting: Transgender Etiquette, yang terdiri dari daftar do’s and don’ts ketika menghadapi seorang transgender dalam kehidupan sehari-hari (baik itu MTF maupun FTM). Salah satunya adalah penggunaan kata panggilan. Panggilah orang lain dengan panggilan yang dia inginkan. Apakah Mas/Mbak/Pak/Bu nama panggilan dan refensi gender yang ia inginkan yang dia inginkan. Atau pilihlah kata ganti dan kepemilikan yang netral seperti Kak/Anda/Beliau/Dia/nya.Jika kamu melakukan kesalahan yang akhirnya dikoreksi oleh orang tersebut, minta maaf dengan baik!

Setelah diskusi ditutup, sesi tanya jawab dengan narasumber Kak Erky pun dimulai kembali. Sesi tersebut dibuka untuk teman-teman yang ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang transman dari beliau. Di sini Kak Erky banyak bercerita perihal kegelisahan dan ketidaknyamannya ketika belum mengetahui identitas gendernya, proses identifikasi diri,  lalu proses coming out ke keluarga dan teman-teman, serta hal-hal baik yang dirasakannya ketika mengalami proses transisi menjadi seorang transman. Salah satu dampak positif yang dirasakannya adalah bagaimana ia semakin mencintai dirinya sendiri sebagai seorang transman dengan lebih memperhatikan kebersihan daerah pribadinya.

Kami merasa senang sekali atas kesediaan Kak Erky dari Transhition yang telah bersedia datang dan berbagi pengetahuan bersama kami. Sharing kali ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk kami memahami lebih jauh mengenai priawan/transman. Terima Kasih Banyak!

Oh, satu lagi informasi penting!

Arisan! SGRC UI selanjutnya akan membahas topik Make-Up and Gender oleh Tya.

Sampai jumpa dua minggu lagi ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s