The Illusion of Having

herpes-dating

*Ahadi Pradana

 “Dia untukku, bukan untukmu, dia milikku, bukan milikmu, pergilah kamu, jangan kau ganggu, biarkan aku mendekatinya”

Mungkin cuplikan sekilas lirik lagu di atas merupakan lirik yang cukup familiar di telinga para penikmat musik. Ya, cuplikan lirik di atas adalah lagu yang dibawakan oleh Yovie & Nuno yang berjudul “Dia Milikku.” Lagu yang lumayan populer pada masanya ini bercerita tentang dua orang laki-laki yang memperebutkan satu orang perempuan. Dan disepanjang lagunya bercerita tentang masing-masing kubu memberikan keterangan bahwa si perempuannya ini adalah miliknya. Atau dalam bahasa sehari-harinya, si perempuan di-tag-in oleh kedua laki-laki tersebut dengan ungkapan “Milikku.”

Dalam lagu tersebut, tidak jelas apakah si perempuan ini adalah milik salah satu dari dua laki-laki ini tersebut. Lantas, mereka hanya men-cap perempuan tersebut sebagai milik mereka masing-masing dan berkelahi melalui lagu. Kondisi tersebut tidak dapat dipungkiri, kadang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan berhubungan dengan orang lain. Lantas, karena saya mengambil contoh lagu Yovie Nuno, saya akan berupaya untuk menjelaskan sikap mereka dalam men-tag  si perempuan tersebut.

Dalam penjelasan paling sederhana, kedua pihak laki-laki mengalami rasa ‘cemburu.’ Anda-anda sekalian pasti paham bagaimana penjelasan dari cemburu, dan bagaimana rasanya. Namun, jika dijelaskan dengan bahasa lebih sederhana, cemburu ialah emosi, yang kadang diasosiasikan dengan kata iri sebagai sinonim. Namun dalam penggunaan dan penekanannya, kata ‘iri’ lebih terdengar seperti cemburu yang tidak baik. Karena iri sendiri dapat diartikan sebagai pikiran-pikiran negatif dan perasaan takut, gelisah dan antisipasi berlebihan akan hilangnya suatu hal yang dianggap berharga, dan dapat diartikan dan dihubungkan dalam konteks hubungan antar manusia.

Disamping penjelasan tentang iri dan cemburu tadi, dalam video klip dan lirik dari lagu tersebut, juga menunjukkan sesuatu yang dapat disebut sebagai ‘The illusion of having,’ atau ilusi dari memiliki. Sampai sekarang, tidak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan, milik siapakah perempuan yang digambarkan di video klip tersebut

Yang jelas adalah, kedua laki-laki tersebut, diindikasi mengalami ilusi memiliki sang perempuan tersebut. Kenapa saya bisa berkata seperti ini? Karena toh, kedua laki-laki tersebut mengklaim dengan kata ‘dia milikku’ dan ‘dia untukku,’ dengan situasi di mana si perempuan ini belum memutuskan pilihannya – melainkan hanya tersenyum-senyum lucu saja terhadap keduanya.

The illusion of having ini adalah salah satu kondisi di mana seseorang merasa memiliki seseorang lain. Meskipun pada faktanya, seseorang tidak bisa semudah itu diklaim sebagai properti kepemilikan orang lain. Kondisi ini, jelas merupakan ilusi semata, meskipun dalam prakteknya, bisa saja seseorang itu benar-benar merasakan simbol tanda cinta, atau simbol tersebut hanya merupakan salah intepretasi. Jika dikaitkan dengan rasa cemburu dan iri pada pembahasan sebelumnya, rasa cemburu dan iri ini timbul mostly karena pada diri individu telah dihinggapi illusion of having relationship pada individu lain. Sehingga muncul mekanisme-mekanisme unik dari otak, untuk mempertahankan individu tersebut dari cengkraman dan tikungan orang lain. Padahal sesungguhnya, yang  dipertahankan bukan milik siapa-siapa.

The Illusion of Having  ini juga kadang disebabkan oleh perasaan terlalu cinta, terlalu sayang, dan terlalu posesif akan keberadaan seseorang. Dan, perasaan-perasaan tersebut, dapat timbul, salah satunya dengan interaksi. Interaksi, pun dapat diterima informasinya lewat pesan singkat digital, interaksi langsung berupa gerak-gerik, maupun ekspresi wajah. Dengan segala informasi berupa pemberian interaksi tersebut, subjek yang terkena illusion of having ini, biasanya salah menginterpretasikan interaksi sebagai berupa simbol maupun kode.

Herbert Mead, seorang sosiolog menyatakan bahwa,

“Setiap isyarat non verbal dan pesan verbal, yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama dari semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi, merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti sangat penting”

Namun lagi-lagi, ilusi ini, hanya membuat seseorang yang terkena ilusi memiliki ini, memaknai simbol verbal maupun tidak, hanya secara sepihak. Sehingga dapat menimbulkan misinterpretasi makna kode. Bahkan dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain, sehingga orang lain tersebut dapat tersinggung dan merasa tersakiti. Yang tidak lain karena kecemburuan tak logis, karena memang tidak memiliki siapa-siapa.

Professor W. Gerrod Parrott dari Universitas Georgetown  mendefinisikan pengalaman-pengalaman yang orang rasakan sebagai jealousy dan envy sebagai berikut:

Jealousy /Cemburu : Ketakutan akan kehilangan seseorang

  • Perasaan tidak pasti dan rasa kesepian
  • Turunnya percaya diri dan kesedihan berlebih
  • Kecurigaan dan kemarahan akan faktor yang merupakan subjek dari kecemburuan

Envy / Iri : Merasa sangat rendah dan tidak pantas

  • Kebencian akan situasi
  • Hasrat untuk memiliki sesuatu yang dianggap baik luar biasa yang dimiliki rival
  • Perasaan tidak setuju atas perasaan yang dimiliki

Kebanyakan masyarakat, akan mendefinisikan hal-hal diatas sebagai sesuatu yang buruk. Cemburu dan iri, adalah produk dari ilusi kepemilikan, (dalam hal ini, jika belum adanya status yang disetujui pihak-pihak yang bersangkutan dalam mengintepretasikan simbol) merupakan sesuatu yang sejatinya dapat mengganggu hak badan atas orang lain.

Menurut saya pribadi, masing-masing individu yang ada di muka bumi ini, adalah merdeka dan bebas. Mereka memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Dan sekalipun tak berhak merampas hak perasaan dan hak tubuh orang lain. Maka illusion of having ini, layaknya segera dianulir dan diubah bentuknya menjadi persaingan yang positif tanpa adanya baper-baper antar satu sama lain!

Daftar Pustaka:

  1. http://www.iep.utm.edu/mead/
  2. http://www.pathwaytohappiness.com/relationship_symbols.htm
  3. Gerrod Parrott. 2001. The Nature of Emotion. Blackwell Publisher
Advertisements

One thought on “The Illusion of Having

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s