Arisan! 5 : Make up and Gender

*Tya Napitupulu

brand-cartoon-illustration-make-up-postcards-from-far-away-Favim.com-73949

Dewasa ini, kegiatan berdandan sudah menjadi satu hal yang lumrah.  Sangatlah mudah menemukan para perempuan dengan makeup di wajah.  Kita dapat menemukan gadis-gadis ber-makeup di ruang-ruang publik, dan sesekali, kita dapat menemukan mereka sedang touch up alias merapikan dandanan mereka. Bukan hanya para gadis, para laki-laki juga senang mendandani diri mereka dengan memoles bedak dan lipgloss. Bahkan, teman SMA saya yang merupakan seorang laki-laki pernah datang ke sekolah dengan menggunakan lipgloss berwarna pink yang cukup menyolok. Apa yang membuat makeup begitu digemari? Mengapa makeup seolah-olah menjadi kebutuhan pada saat ini?

PENGERTIAN MAKEUP

Makeup atau dandan memiliki berbagai definisi. Menurut www.oxforddictionaries.com, makeup is cosmetics such as lipstick or powder applied to the face, used to enhance or alter the appearance. Sementara menurut www.kamusbahasaindonesia.org, kata dandan diartikan sebagai mengenakan pakaian dan hiasan serta alat-alat rias; memperbaiki; menjadikan baik (rapi). Akan tetapi, makeup ternyata tidak hanya berhubungan dengan mendekorasi wajah dengan alat-alat kosmetik. Makna makeup sendiri ternyata meluas, yaitu meliputi decorative makeup dan skincare.  Jadi, ketika kamu membersihkan wajah dengan sabun pembersih wajah, itu juga dianggap ber-makeup karena kamu berupaya mempercantik diri dengan membuat wajahmu bersih dan sehat.

AWAL KEMUNCULAN MAKEUP

Makeup  sudah mulai dikenal sejak 10.000 SM.  Pada saat itu, orang-orang Mesir Kuno membuat minyak wangi dari tanaman mawar, chamomile, lavender, aloe, minyak zaitun, dan lain-lain. Pada tahun 4000 SM, perempuan Mesir Kuno memakai makeup dengan kosmetik yang dibuat dari bahan-bahan alami, seperti kombinasi almond dibakar, tembaga yang teroksidasi, tembaga bijih yang berbeda-berwarna, timah, abu, dan kuning tua—kita menyebutnya sebagai kohl—untuk membuat ilusi bentuk mata, sehingga membuat ilusi bentuk mata almond. Mereka juga sudah mulai membawa kotak kosmetik mereka setiap mereka pergi ke acara-acara tertentu.[1]

Di daratan Korea sendiri, makeup sudah mulai dikenal sejak masa Dinasti Chosun. Kebiasaan berdandan pertama kali dimulai oleh para perempuan bangsawan. Mereka melukis alis mereka dengan arang. Bibir akan mereka warnai dengan pewarna alami seperti cabe merah. Bunga saffron dan  cinnabar juga mereka gunakan untuk memberi warna pada bibir dan sebagai blush on.[2]

Sementara di Indonesia, khususnya pengantin Sunda, pada tahun 1920, menggunakan tata rias tradisional. Mereka menggunakan buah galinggem untuk mewarnai bibir atau sang pengantin diminta mengunyah sirih agar bibir mereka merah alami. Mereka juga memanfaatkan minyak pale sebagai lip gloss. Untuk membentuk alis, biasanya hanya dikerik, namun, jika alis pengantin tersebut gundul, maka alis akan dilukis menggunakan arang hasil kerikan bagian bawah teko (bujur teko) atau arang dapur yang dicampur sedikit minyak kelapa. Untuk bagian wajah, mereka menggunakan bedak saripohaci.[3]

Di Amerika Serikat, makeup brand mulai muncul sejak awal abad ke-20. Saat itu, makeup mulai dimanfaatkan secara luas dalam bidang fotografi dan filmografi. Para aktor, aktris, atau model fotografi mulai terbiasa di-makeup sebelum mulai “beraksi” di depan kamera.  Penggunaan makeup yang semakin meluas dan lintas kelas sosial-ekonomi ini membuat makeup brand bermunculan. Makeup brand pertama di Amerika Serikat adalah Max Factor pada tahun 1914 dan meraih kesuksesan pada tahun 1915. Selanjutnya berdiri berbagai makeup brand seperti Maybelline (tahun 1915) dan Revlon (tahun 1932).[4]

HUBUNGAN ANTARA MAKEUP DAN PEREMPUAN

Makeup seolah-olah menjadi sesuatu yang identik bagi perempuan. Saat ini, sangatlah mudah menemukan perempuan dengan wajah yang terpoles makeup. Kosmetik dan perawatan tubuh juga sangat banyak diperjualbelikan melalui online shop, supermarket, bahkan pasar tradisional.

Di Eropa sendiri, makeup mulai menjadi kebutuhan bagi para perempuan Pasca Perang Dunia II. Saat itu, para perempuan sudah banyak yang berkarier dan memiliki penghasilan sendiri. Mereka juga sudah mulai memperhatikan penampilan mereka saat ke luar rumah. Para investor melihat hal ini sebagai peluang mengembangkan bisnis baru, yakni bisnis makeup. Para perempuan saat itu mulai diperkenalkan dengan berbagai produk kecantikan yang dapat membuat mereka tampil menarik. Proses promosi yang luar biasapun dimulai. Media massa dipenuhi iklan produk kecantikan dengan model-model yang selalu memiliki kesamaan ciri tertentu, seperti berkulit mulus dan  bertubuh proporsional. Media massa bekerja sama dengan industri kecantikan menciptakan standar kecantikan tersendiri, sehingga perempuan yang merasa dirinya tidak memenuhi standar kecantikan tersebut mulai mencari cara memenuhi standar kecantikan tersebut. Produsen produk kecantikan mulai memainkan perannya sebagai “pemoles” tubuh perempuan dari ujung kepala hingga ujung kaki sehingga para perempuan berupaya mencapai standar kecantikan tersebut.[5]

Perempuan ber-makeup karena beberapa hal seperti berikut ini.[6]

  1. Bagi perempuan, cantik adalah segalanya. Cantik merupakan hal yang sangat penting dan salah satu cara untuk menjadi cantik adalah dengan mengenakan make up alias berdandan. Inilah mengapa mayoritas perempuan suka berdandan dan juga memiliki koleksi make up yang cukup banyak.
  2. Selain itu, beberapa perempuan memang sudah dibiasakan untuk berdandan sejak mereka kecil atau remaja. Orang tua mereka mengajarkan untuk tidak keluar rumah dengan penampilan seadanya. Minimal perempuan harus mengenakan bedak saat keluar rumah. Ini juga yang mendasari para perempuan cenderung suka berdandan.
  3. Terpengaruh iklan yang berada di media massa. Semakin luas dan besar perkembangan komunikasi di dunia menyebabkan semakin mudahnya akses dalam mendapatkan informasi. Berbagai iklan yang persuasif rupanya berhasil menarik hati para perempuan untuk mencoba bersolek.
  4. Banyak perempuan yang kecanduan dengan make up. Beberapa perempuan memang mengalami hal ini. Saat tidak mengenakan make up justru kulit mereka akan menjadi kusam atau mungkin timbul jerawat yang mengganggu penampilan. Ini juga menjadi pendorong mengapa perempuan jadi sangat suka untuk berdandan saat keluar rumah.

ANTARA MAKEUP DAN STANDAR KECANTIKAN

Membahas makeup terasa kurang lengkap jika tidak membahas standar kecantikan. Telah dijelaskan bahwa media massa ikut membentuk standar kecantikan di sebuah tempat. Di Indonesia, terdapat begitu banyak majalah untuk perempuan muda dan paruh baya yang ternyata memiliki standar kecantikan masing-masing. Ada majalah yang menetapkan standar perempuan cantik adalah perempuan yang berwajah pribumi, ada pula majalah yang meyakini bahwa perempuan cantik adalah perempuan yang berwajah lebih western atau oriental. Akan tetapi, mereka umumnya memiliki satu kesamaan standar: perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih.[7]

Bagi orang-orang di Asia Timur, salah satu standar kecantikan mereka adalah memiliki kelopak mata yang besar (double eyelids). Hal ini yang membuat banyak gadis-gadis Asia Timur menempelkan scotch tape di kelopak mata agar memunculkan ilusi mata yang lebih besar.[8] Di Eropa dan Amerika Serikat, perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit kecokelatan. Memang umumnya, standar kecantikan di sebuah negara adalah kriteria apa yang jarang ditemukan di negara tersebut, karena sesuatu yang jarang ditemukan di negara tersebut akan menjadi sebuah keunikan dan bernilai lebih menarik.[9]

MAKEUP DAN “LABEL” GENDER TERTENTU

Produk kosmetik dan perawatan tubuh rupanya memiliki gender tersendiri. Jika kamu memperhatikan produk-produk kecantikan di pasaran, kamu akan menemukan berbagai produk dengan label ”men” dengan kemasan lebih “jantan”. Selain itu, kamu juga akan menemukan produk kecantikan dengan label khusus “remaja”, “ibu-ibu”, dan lain-lain. Jika kamu memperhatikan komposisi di antara kosmetik tersebut, sebenarnya mereka memakai bahan-bahan yang sama saja. Beberapa produk kosmetik dari makeup brand yang berbeda ternyata diproduksi oleh pabrik yang sama. Lantas, mengapa terdapat label gender di dalam produk-produk kecantikan tersebut?

Label-label seperti ini ternyata menunjukkan dua tujuan, yaitu penunjang strategi pemasaran dan pembedaan formula sebuah produk kecantikan. Dengan label tertentu, sebuah produk dapat sukses terjual dengan memanfaatkan pembeli-pembeli tertentu. Ada konsumen yang risih menggunakan facial foam milik ibunya karena merasa dirinya seorang laki-laki, sehingga ia membeli kosmetik dengan label for men, padahal, komposisi facial foam yang ia beli sama saja dengan milik ibunya. Walaupun demikian, produk-produk dengan komposisi yang sama bisa saja diramu dengan cara berbeda, sehingga produk-produk tersebut memiliki perbedaan dalam hal aroma, warna, dan reaksi terhadap kulit tertentu. [10]

MAKEUP DAN PARADIGMA MASYARAKAT

Sejak zaman dahulu, masyarakat selalu memiliki paradigma tersendiri mengenai makeup. Pada zaman Dinasti Chosun, di Korea, perempuan yang berdandan tebal menunjukkan perempuan tersebut adalah para pekerja seks komersial. Sementara itu, Ratu Victoria (1819—1901) mendeklarasikan makeup sebagai hal yang vulgar dan salah karena dianggap identik dengan prostitusi.[11]

Saat ini, makeup dianggap identik dengan perempuan. Laki-laki yang memakai makeup akan dicap sebagai orang aneh, laki-laki rempong, bahkan mendapat perlakuan yang kurang baik.[12] Seperti yang dialami seorang remaja pria di Carolina Selatan, Amerika Serikat, yang harus mengulang proses pemotretan untuk surat izin mengemudi karena pada foto sebelumnya, remaja pria ini berdandan layaknya seorang perempuan.[13] Paradigma masyarakat yang bias gender dan subyektif juga sering membuat seseorang ragu-ragu memoleskan makeup di wajahnya. Ia menjadi khawatir jika dandanannya justru dianggap berlebihan oleh orang lain. Saya sendiri mengalami hal yang seperti ini. Saya tidak pernah bisa benar-benar bebas berdandan, karena walaupun saya hanya memakai liptint, saya akan segera diprotes teman-teman satu jurusan, bahkan beberapa di antara mereka meminta saya menghapus dandanan saya. Padahal, di jurusan-jurusan lain (jurusan-jurusan ini tentunya masih satu fakultas dengan jurusan saya), para mahasiswi dapat dengan bebas memoles makeup bahkan dengan perona pipi yang cukup menyolok.

SIMPULAN

Jadi, seharusnya, seseorang diperbolehkan memilih ber-makeup atau tidak ber-makeup dan pilihan tersebut murni berasal dari dirinya sendiri. Penting atau tidak pentingnya ber-makeup hanya dapat disadari oleh diri sendiri, karena yang benar-benar mengenal tubuh ini adalah diri sendiri. Kita sebagai sesama manusia harus menghargai pilihan-pilihan seseorang dalam menggunakan makeup, sekalipun bagi kita, dandanannya justru tidak elok dipandang mata. Bukankah setiap manusia berdaulat atas tubuhnya sendiri?

[1] “A History of Cosmetics from Ancient Times” diakses melalui http://cosmeticsinfo.org/Ancient-history-cosmetics.

[2] “Naturally Beautiful: Ancient Korean Makeup” diakses melalui http://blog.korea.net/?p=6762.

[3] Zavyr Beauty, “Sejarah Tata Rias Pengantin Sunda” diakses melalui https://www.facebook.com/permalink.php?id=246369198767005&story_fbid=471472202923369.

[4]  Molly Edmonds, “How Makeup Works” diakses melalui http://people.howstuffworks.com/about-makeup1.htm.

[5] Diskusi bersama SGRC UI di Freedom Spot, hari Selasa, 10 Maret 2015.

[6] “Mengapa Wanita Sangat Senang Berdandan?” diakses melalui http://www.vemale.com/body-and-mind/cantik/68076-mengapa-wanita-sangat-senang-berdandan.html.

[7] Ibid.

[8] “4 Tren Kecantikan Jepang yang Unik dan Aneh”  diakses melalui http://www.kawaiibeautyjapan.com/article/583/tren-kecantikan-aneh-di-jepang.

[9] Diskusi SGRC UI, op.cit.

[10] Ibid.

[11] Molly Edmonds, op.cit.

[12]  Diskusi SGRC UI, op.cit.

[13] Cavan Sieczkowski, “Gender Non-Conforming Teen Forced to Removed Makeup for Driver’s License Wants New Photo” diakses melalui http://www.huffingtonpost.com/2014/06/16/gender-non-conforming-teen-drivers-license-_n_5500143.html.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s