Moral Commitment dalam Long Distance Relationship; Bagaimana Cinta Mengalahkan Jarak?

“Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”

*Ferena Debineva

Anda pernah mendengar pernyataan bijak di atas? Ya, mungkin sudah sangat sering diucapkan kalimat yang artinya kurang lebih adalah cinta datang karena terbiasa. Terbiasa bertemu di kantor, sekolah yang sama, kelas yang sama, kelompok yang sama, atau bahkan sering bertemu di kereta yang sama, dan terbiasa bersama. Faktor-faktor tersebut adalah salah satu komponen pembentuk cinta, yaitu kedekatan jarak (proximity).

Lalu bagaimana dengan pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh?

Fenomena yang ada menjelaskan banyaknya pasangan yang hubungannya semasa SMA berakhir ketika pasangannya menempuh kuliah di universitas yang berbeda. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang diadakan oleh Lydon, Tamarha, dan O’Regan, (1997, dalam Ramadion, 2010). Hasilnya, dari 55 hubungan jarak jauh yang terjadi karena partisipan masuk ke universitas, 75 persennya kandas di tahun pertama dengan “pemutusan jarak jauh”. Penelitian lainnya yang diadakan oleh Knox, Zusman, & Brantley, (2002) mengatakan hal yang serupa. Dari 438 partisipan, sekitar 263 responden melaporkan bahwa hubungan mereka berakhir, (sekitar 21.5%) atau hubungan mereka memburuk (sekitar 20%).

Faktanya, sepertiga dari hubungan pada masa kuliah bersifat long-distance-relationship (Stafford, Daly, & Reske, 1987 dalam Stafford & Reske, 1990). Penyebab utama berakhirnya hubungan yang dijalankan dari jarak jauh cukup menyayat hati, yaitu, pupusnya rasa cinta sedikit demi sedikit. Selain itu, kurangnya waktu bertemu dengan pasangan membuat emosi yang dirasakan kepada pasangan semakin berkurang. Kesibukan yang berbeda, bertemu orang-orang baru dan teman baru, di lingkungan yang berbeda, mampu membuat keduanya akhirnya sepakat untuk mengakhiri hubungannya.

Pertanyaannya : Apakah harus selalu demikian halnya pada pasangan yang terpisah oleh jarak yang jauh dan jarang bertemu? Tidak dapatkah cinta itu bertahan? Individu selalu berusaha mempertahankan nilai-nilai positifnya, begitu pula dalam hubungan cinta romantis yang terpisahkan oleh jarak. “Our bonds are strong enough to overcome problem” (Gross, 1980 dalam Pistole, 2006) atau “Absence makes the heart grow fonder”, (Knox, Zusman, & Brantley, 2002), adalah quote yang muncul pada penelitian terhadap long-distance relationship dan ditangkap sebagai cara individu meyakinkan diri mereka bahwa cinta akan bertahan tanpa terikat jarak dan waktu. Namun, ketika kalimat tersebut berubah menjadi “Out of sight, out of mind”, hubungan tersebut akan berakhir secepat kalimat tersebut meluncur (Hartwell-Walker, 2006)

Lalu apakah yang membuat long-distance relationship mampu bertahan?

Menurut Hartwell-Walker (2006), salah satu cara agar hubungan jarak jauh tetap bertahan adalah adalah komitmen yang kuat diantara keduanya. Rusbult, Martz, & Agnew, (1998 dalam Beavis, 2010) mendeskripsikan komitmen sebagai “a person’s plans to remain in a relationship for a long period of time”, yaitu bagaimana individu berkeinginan untuk mengikat dirinya dalam suatu hubungan. Semua hubungan memiliki siklus naik dan turunnya masing-masing. Pasangan yang sering bertemu punya banyak waktu untuk berbincang, untuk memastikan, dan mencoba berbicara lagi dan lagi. Sedangkan pasangan long-distance relationship membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk melakukannya dengan telpon, e-mail, dan peralatan komunikasi lainnya.

Komitmen seperti apa? Jawabannya adalah moral commitment. Lydon, Pierce, & O’Regan, (1997) membagi komitmen menjadi dua bagian, yaitu enthusiastic commitment dan moral commitment. Enthusiastic commitment adalah komitmen yang muncul karena penilaian positif dan kepuasan yang diberikan atas hubungan. Jadi, kesenangan yang didapatkan seseorang dari hubungannya membuat ia memutuskan untuk mempertahankan hubungan. Bertemu, misalnya. Namun, hal ini menjadi sulit jika waktu yang dimiliki oleh individu tidak banyak, dan banyak hambatan lainnya seperti biaya, untuk membuat satisfaction dalam hal kuantitas pertemuan terjadi. Sedangkan moral commitment (Johnson, 1991 dalam Lydon, Pierce, & O’regan, 1997) adalah perasaan wajib untuk mempertahankan hubungan karena sudah memutuskan untuk menjalin hubungan tersebut.

Pasangan yang menumbuhkan moral commitment merasa bahwa hubungannya sudah tidak saja berdasarkan pada kesenangan. Pasangan itu melihat bahwa hubungan mempunyai sebuah dasar baru yang lebih berarti daripada kesenangan, yaitu investment, atau kekuatan yang menyatu pada hubungan yang sedang berjalan, bahwa mereka bisa bertemu kembali ((Rusbult, 1980, 1983; Rusbult & Buunk, 1993; Rusbult’s, 1991, (dalam Lydon, Pierce, & O’Regan, 1997)) dan meaning berupa perasaan bahwa sebuah tujuan mencerminkan nilai, identitas dan kepercayaan akan diri dan orang lain. (Brickman, 1987; Lydon, 1996 dalam Lydon, Pierce, & O’Regan, 1997).

Dengan kata lain, moral commitment membuat pasangan mengejar kondisi dimana hubungan mereka menjadi sangat kuat dan tidak hanya tergantung pada rasa senang apa yang diberikan oleh hubungan itu (antusiasme semata). Pada tahap moral commitment, karena pasangan sudah mengesampingkan untuk sementara hal-hal yang dianggap penting dalam enthusiastic commitment (waktu untuk bertemu, kontak fisik, dan lain-lain), mereka lebih siap untuk membuat pengorbanan agar hubungan tetap langgeng. Dalam hubungan jarak jauh, kesenangan yang didapatkan pasangan dari hubungan cintanya tentu jauh lebih rendah dari hubungan jarak dekat. Mereka tidak dapat dengan mudah berdekatan secara fisik dengan pasangannya dan tidak banyak memiliki waktu bersama. Karena itu, agar hubungan dapat bertahan, mereka harus berpegang kepada moral commitment.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa long-distance-relationship akan mampu bertahan selama komitmen diantara keduanya masih bertahan dan mempunyai moral commitment yang kuat. Seperti yang dikemukakan Miller & Perlman, (2009), people who are committed to relationship act in ways that avoid or defuse conflict and that enrich the relationship. Pasangan yang dapat selamat menjalani hubungan jarak jauh seharusnya menjadi pasangan yang lebih mengerti arti dan kekuatan (meaning dan investment) hubungan mereka. Selain itu masih ada beberapa keuntungan lagi, yaitu, timbulnya penghargaan/apresiasi pada pasangan, berkurangnya ketergantungan, personal growth, punya waktu bagi diri sendiri, hubungan yang dengan sendirinya makin kuat dan komunikasi yang makin kuat dan baik.

Hubungan jarak jauh bukan tidak mungkin untuk dipertahankan, asalkan pasangan bertanggung jawab. Penentu hubungan kembali ke tangan masing-masing individu.

Bagaimana dengan Anda?

DAFTAR PUSTAKA

Beavis, K. A. (2010). Factor Influencing Stay / Leave Behavior in Romantic Relationships. Great lake Publication. West Lafayette: Purdue University.

Chapman, M. L., Pistole, M. C., Roberts, A., & Ray, K. (2005, July). Long Distance and Geographically Close Relationships: Attachment, Maintenance, Conflict, and Stress. Poster session presented at the International Association for Relationship. Research Conference, Indianapolis, IN.

Hartwell-Walker, M. (2006). The Challenge of Long-Distance Relationships. Retrieved November 20, 2010, from Psych Central: http://www.psychcentral.com

Knox, D., Zusman, M.E., & Brantley, A. (2002). Absence Makes the Heart Grow Fonder?: Long Distance Dating Relationship Among College Students. College Student Journal, 36, 364-367.

Lydon, J., Pierce, T., & O’Regan, S. (1997). Coping With Moral Commitment to Long-Distance Dating Relationships. Journal of Personality and Social Psychology , 73, 104-113.

Miller, R. S., & Perlman, D. (2009). Intimate Relationship. New York: McGraw Hill. Pistole, M. C. (2006, August). Long distance romantic relationships: An attachment theory interpretation. Poster presentes at the annual meeting of the American Psychological Association, New Orleans, LA.

Ramadion. (2010, February 16). Menghadapi Long-Distance Relationship. Retrieved November 20, 2010, from Ruang Psikologi: http://www.ruangpsikologi.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s