Arisan 6 : Sex and Religion

*Kemal Fauzan

agama

Topik seksualitas, terutama aktivitas seksual, di Indonesia masih dianggap sebagai sebuah topik yang tabu untuk dibahas dalam sebuah forum, bahkan untuk dijadikan sebagai bahan perbincangan, pun ada, hampir selalu akan dikaitkan dengan ajaran-ajaran agama. oleh karena itu tak heran SGRCUI seringkali menerima pertanyaan terkait dengan hal tersebut.

*deep exhale*

*again*

Kebetulan pada ARISAN! yang keenam ini saya terpilih sebagai presentator topik terpilih, Sex and Religion. Dalam topik menarik ini, saya merasa kita harus membahas dari yang paling mendasar, menjawab pertanyanyaan- pertanyaan umum mengenai seks oleh karena itu saya memilih untuk membuat Frequently Asked Question on Sex and Religion! dan serunya, saat ARISAN! dilakukan, terdapat anggota perwakilan masing-masing agama, dengan catatan*

*Catatan:
1. Saya akan menjawab pertanyaan- pertanyanyaan ini dengan sudut pandang empat agama di Indonesia: Kristen (Protestan dan Katholik), Hindu, Islam, dan Buddha

2. Saya bukan seorang ahli agama, apalagi keempat agama sekaligus, meskipun tulisan ini telah berusaha ditulis seakurat mungkin dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk menanyakan kepada orang-orang yang menganut agama/ajaran yang bersangkutan, mohon maaf jika terdapat kesalahan.

 

Then it begins :

  1. Bagaimana Agama Melihat Seks?

Islam

Meskipun informasi yang eksplisit dan mendetail mengenai seks dalam Al-Qur’an terbilang sedikit, berdasarkan informasi yang bisa didapat mengenai pandangan Islam mengenai seks baik dari Al-Quran dan Hadist, dapat dikatakan Islam memandang seks sebagai aktivitas yang cukup penting untuk diperbincangkan.

Salah satu ayat Al-Quran yang cukup menggambarkan pandangan islam mengenai seks adalah QS. Al-Baqarah/2:223 yang berbunyi:

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”.

Dan hadist:

“Sesungguhnya diantara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” [HR. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu ‘anhu]

Dari ayat dan hadist tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Islam memandang seks sebagai aktivitas yang penting hingga dapat disamakan dengan kegiatan sepenting bercocok tanam. Islam juga menganggap bahwa kegiatan seks yang dilakukan tidak boleh dibicarakan atau diberitahukan kepada orang lain.

Hindu

Terdapat dua pandangan yang saling bertentangan dalam agama hindu. Bhagawan Wararucci dengan bukunya Sarasamuccaya memandang seks sebagai sesuatu yang negatif.

“Ada satu alat pada tubuh si wanita, sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi. Yaitu kulit yang berukuran sebesar kaki kijang. Di tengah-tengah kulit itu terdapat luka yang menganga yang tidak sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya “. Sarasamuccaya: 424-442 (istri/wanita)

Sementara Vatsyayana menyatakan

“Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha”

Kama adalah salah satu dari empat tujuan hidup, di samping DHARMA, ARTHA dan MOKSHA. ”

Dalam pandangan Hindu perempuan bukan sumber dosa, setumpuk daging yang hanya berfungsi membangkitkan nafsu seksual laki-laki, atau pabrik untuk melahirkan anak-anak, tetapi partner sejajarnya untuk membagi cinta kasih dan melahirkan generasi demi generasi.

Kristen

Tidak berbeda jauh dengan Islam, Kristen memandang sebagai kegiatan yang penting terutama dalam kegiatan yang esensial dalam kehidupan rumah tangga, namun dijelaskan dengan lebih eksplisit seperti yand dijelaskan pada:

“…. bersuka-citalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau dan engkau senantiasa birahi karena cintanya” (Amsal 5:18-19).

“Paulus menentang orang yang menjauhkan tubuhnya dari pasangannya serta tidak menyarankan untuk berpisah terlalu lama” (1 Korintus 7:1-5).

Buddha

Ajaran Buddha sebenarnya tidak membahas seks, sebab Buddha lebih fokus pada kehidupan setelah dunia, akan tetapi untuk membahas hal ini biasanya penganut ajaran Buddha merujuk kepada hal essensial dalam ajaran ini, yaitu Pancasila (lima sila yang tentunya bukan lima sila dasar negara Indonesia):

  1. Menahan diri dari melukai makhluk hidup / mempraktekkan cinta kasih.
  2. Menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan/ mempraktekkan kemurahan hati.
  3. Menahan diri dari melakukan perbuatan seksual yang salah/ mempraktekkan kepuasan hati.
  4. Menahan dari dari ucapan salah/ mempraktekkan komunikasi yang jujur.
  5. Menahan diri dari minuman keras / mempratekkan kesadaran.

Jadi, dalam ajaran Buddha, selama aktivitas seks yang dilakukan tidak melanggar salah satu dari kelima poin itu maka hal itu diperbolehkan.

  1. How Should We Do It?

Hindu

Dibandingkan dengan agama-agama yang ada di Indonesia Hindu adalah agama yang membahas seks dengan sangat lengkap dan mendetail. Dalam kitab Kamasutra, seks dibahas dengan sangat mendetail dari berbagai macam aspek. Posisi-posisi yang baik, apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, di mana melakukannya, semua di bahas dalam Kamasutra.

Untuk tata cara berhubungan seks, ada yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Umat Hindu diwajibkan untuk mandi atau membersihkan badan terlebih dahulu sebelum memulai hubungan seks, lalu bisa sembahyang supaya hubungan seks itu bisa segera dikaruniai dengan calon anak yang baik dan mampu mendukung keluarga mereka. Lalu, diharapkan para umat Hindu untuk melakukan hubungan seks dengan saling menyetujui satu sama lain, tidak dengan nafsu amarah, mabuk, tidak sadarkan diri, atau salah satunya sedang sedih maupun takut sehingga akan mengurangi kenikmatan hubungan seksual itu karena umat Hindu mempercayai bahwa hubungan seks harus silakukan secara sadar untuk meyakinkan kedua pasangan bahwa hubungan yang mereka lakukan bisa memberikan mereka calon anak.

Ada hari-hari yang ditentukan untuk tidak melakukan hubungan seksual, yaitu ketika wanita sedang mengalami menstruasi, pagi, siang, dan ketika matahari terbenam. Di hari ketika umat Hindu seharusnya sembahyang dan memuja dewa-dewi seperti hari Purnama, Tilem (bulan baru), dan hari raya umat Hindu, atau sedang ada upacara keagamaan.

Islam

Berdasarkan hadist-hadist dan pendapat ulama-ulama yang saya temukan adab-adab dalam melakukan seks adalah:

  1. Foreplay
  2. Makeups
  3. No nudity
  4. No sex if you are on menstruation

Namun, hadist-hadist yang dijadikan sebagai referensi ini tidak dapat dibuktikan kesahihannya.

Buddha

Do it as both of you wanted to do it,” selama tidak melanggar pancasila, dan disetujui kedua belah pihak.

Kristen

Untuk Kristen saya belum menemukan aturan pasti mengenai cara melakukan seks, namun secara umum, semua agama ini setuju, bahwa saat melakukan seks, masing –masing pihak harus dalam keadaan sadar, dan kedua belah pihak setuju untuk melakukannya – consent.

3. Pre-Marital Sex?

Hindu

Meskipun pada ajaran Hindu yang ada di India melarang seks dilakukan di luar pernikahan, dalam lingkungan Hindu Bali yang tercampur dengan budaya lokal, pre-marital sex merupakan sesuatu yang biasa dilakukan.

Kristen

Katholik melarang pre-marital sex berdasarkan:

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:  Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (Kejadian 1:28)

Dengan itu katholik berpendapat bahwa seks seharusnya dilakukan dengan tujuan reproduksi, dan pre-marital sex yang jelas bertentangan dengan tujuan utama itu tentu merupakan sesuatu yang salah.

Terdapat dua kelompok dengan pendapat yang berbeda dalam Protestan. Pendapat pertama menganggap pre-marital sex sebagai kegiatan terlarang sebab termasuk sebagai kegiatan zina, bertentangan dengan al-kitab

Orang-orang yang melakukan percabulan dan perzinahan tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga (Galatia 5:19-21).

Orang-orang yang melakukan percabulan dan perzinahan tidak dapat mewarisi kerajaan Allah (1 Korintus 6:9-10)

Kelompok kedua adalah orang-orang adalah kelompok yang menerima pre-marital sex, kelompok ini merasa bahwa pre-marital sex merupakan hal yang sudah lazim dan Galatia dan Korintus yang dijadikan alasan untuk menolak hal ini adalah ayat yang berasal dari Paulus dan dapat dipertanyakan kebenarannya.

Islam

Dalam islam, pre-marital sex dengan jelas dilarang dan tertulis dalam:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” QS. 17:32

Zina dalam pengertian legal term diartikan sebagai “aktivitas senggama di luar nikah yang dilakukan secara sukarela, di mana alat kelamin pria dimasukkan ke dalam alat kelamin wanita, berapakali pun”, namun dalam penggunaan sehari-hari makna zina sangatlah luas.

Buddha

Lagi-lagi selama tidak melanggar pancasila, selama kalian melakukannya dengan seseorang yang tidak tengah berhubungan dengan orang lain, dan disetujui kedua belah pihak, it’s fine.

Simpulan

Semua agama memandang seks sebagai sebuah aktivitas yang penting, indah dan suci, dapat dilihat bagaimana Islam menyatakan bahwa seks itu seperti berkebun, bagaimana dalam Hindu seks dibahas secara lengkap dalam sebuah buku, dan dalam Kristen seks dijadikan sebagai perumpamaan akan kecintaan kepada Tuhan dan juga sebagai gambaran kasih sayang Tuhan.

Yang saya temukan ketika berusaha membahas mengenai hal ini adalah, agama sebagai pedoman hidup para penganutnya memberikan batasan-batasan yang dianggap penting pada pengikutnya, namun seringkali batasan-batasan ini tidak terlalu jelas dalam topik-topik tertentu, termasuk dalam bahasan seks, batasan-batasan inilah yang kemudian diperlebar atau dipersempit oleh orang-orang yang berusaha menafsirkannya, oleh karena itulah jika kalian yang membaca ini merasa menganut sebuah agama, ada baiknya kalian berhati-hati dalam mengambil sikap terhadap seks atau apapun yang berhubungan dengan seksualitas, jika merasa belum tahu secara mendalam mengenai aturan agama secara mendalam, silahkan konsultasikan kepada para ahli agama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s