Patriarki dan Lesbian: Sebuah Tinjauan Sejarah

*Arief Rahadian

Di era kekinian ini, aneh rasanya jika kita, para akademisi muda tidak membicarakan hal-hal berbau gender. Sebut saja kedua tema diatas: Patriarki dan lesbian. Kedua tema tersebut telah melanglang-buana dibahas dalam berbagai jenis diskusi, mulai dari diskusi serius berbasis jurnal, debat kusir di media sosial sampai diskusi abal-abal mahasiswa di kantin-kantin kampus.

Kenapa kedua isu tersebut marak diperbincangkan? Perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu faktor utama tentunya. Dalam beberapa tahun terakhir, perempuan ditampilkan dalam ruang publik dalam berbagai bentuk. Komersial produk kecantikan misalnya, menampilkan gambaran perempuan sempurna dengan kulit putih dan tubuh langsing. Di sudut lain, media juga menampilkan perempuan sebagai barang pecah belah yang harus dirawat dan dibungkus dalam balutan kain agar tidak mudah pecah, layaknya dalam segmen-segmen religiusitas di media populer.

Disinilah patriarki dan lesbian mengambil perannya dalam lakon kepentingan global. Standar kecantikan dan bagaimana masyarakat mengatur perempuan untuk tampil didepan umum digugat. Dunia mulai sadar bahwa hak perempuan dibatasi dalam dunia yang bias laki-laki, dunia yang patriarkis. Sebagai respon dari gugatan tersebut, berkembang diskursus feminisme yang mendorong kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Dua hal diatas direproduksi berulang-ulang melalui perputaran arus infomasi di era digital ini. Imbasnya? Laki-laki tidak lagi memaknai “lesbian” sebagai sebuah genre film porno, tapi sebagai gerakan perlawanan perempuan dan bentuk realisasi otonomi tubuh mereka.

Mungkin beberapa pembaca akan tertawa saat membaca analisa penulis di atas. Bagaimana patriarki, feminisme, lesbian, perlawanan dan film porno disatupadukan dalam sebuah kalimat yang terkesan bombastis. Ya, analisa semacam itulah yang para akademisi tawarkan dalam rangka mendobrak sistem sosial yang patriarkis, bias laki-laki dan sebagainya. Namun penulis secara subjektif melakukan refleksi. Terkadang kita sibuk membahas bagaimana kapitalisme berpengaruh pada diskursus hiperrealitas Baudrillard terhadap kontruksi kecantikan wanita kelas menengah atas, tanpa mengetahui sejarah kapitalisme, diskursus, hiperrealitas dan kontruksi kencantikan itu sendiri!. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis mencoba menyingkir dari ranah analitis dan masuk kedalam ranah deskriptif untuk menjelaskan sejarah dari masing-masing konsep: patriarki dan lesbian.

Sejarah Patriarki

Sejarah patriarki sebenarnya masih menjadi perdebatan. Baik ahli maupun awam umumnya berpendapat bahwa patriarki hadir seiring dengan pembagian kerja. Pertanyaannya adalah, kapan sebenarnya pembagian kerja muncul dalam masyarakat?

Pembagian kerja sendiri sudah muncul pada masa berburu meramu, sekitar 80.000 tahun yang lalu. Pada masa ini, pembagian kerja hadir sebagai berikut: laki-laki berburu, perempuan mengurus anak di rumah. Pandangan ini menuai banyak kritik karena bukti fosil menunjukkan perempuan juga mengumpulkan sayuran dan kacang-kacangan, serta menangkap binatang-binatang kecil untuk menopang keluarga. Jika dibandingkan dengan hasil buruan laki-laki yang tidak menentu, hal ini tentu lebih bermanfaat. Jika kita maju ke zaman bercocok tanam, kurang lebih 12.000 tahun yang lalu, hubungan peran yang egaliter masih terjadi antara laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terlibat dalam proses bercocok tanam. Lalu sebenarnya dimanakah awal mula sistem patriarki ini mengambil bentuknya?

Beberapa ahli sepakat bahwa sistem patriarki hadir bersamaan dengan masyarakat yang mengenal konsep “private ownership“. Untuk mengetahui bagaimana masyarakat mengenal konsep kepemilikan pribadi, agaknya kita harus mundur ke daerah timur tengah, sekitar 5000 tahun yang lalu.

Pada masa bercocok tanam, selain belajar untuk bertani masyarakat juga belajar untuk menjinakkan ternak. Disinilah manusia mulai mengenal konsep kepemilikan ternak. Konsep kepemilikan ternak hadir dengan konsekuensi logis: Pemilik ternak akan memberikan ternaknya pada anak-anaknya apabila Ia meninggal. Pada masa inilah masyarakat mengenal pula konsep warisan. Imbasnya adalah pembatasan hak seksual perempuan yaitu perempuan harus perawan sebelum menikah, dan perempuan tidak diizinkan untuk berhubungan seks dengan pria lain. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah pelacakan harta warisan. Jadi bisa disimpulkan bahwa patriarki memiliki akar yang sama dengan kapitalisme: kepemilikan pribadi.

Sappho Sang Pujangga (Sumber : http://www.algbtical.org/Sappho1.jpg)

Sejarah Lesbian

Berbeda dengan sejarah homoseksual yang tercatat dimana-mana, sejarah lesbian seperti luput dari catatan dan tidak pernah ditulis. Budaya patriarki berimbas pada ketidakmampuan perempuan untuk mengeksplorasi tubuhnya. Hal inilah yang menyebabkan istilah “lesbian” baru dimengerti pada abad ke 19-20an. Dari segi historis, catatan pertama mengenai lesbian dapat dilacak hingga 3700 tahun yang lalu dalam sebuah tablet, atau tulisan di batu raksasa masyarakat Babilonia. Dalam tablet yang disebut “Code of Hammurabi” tersebut, terdapat istilah Salzikrum, atau “anak perempuan yang laki-laki”. Salzikrum memiliki hak yang tidak dimiliki oleh wanita umumnya pada zaman tersebut. Para salzikrum diperbolehkan untuk mendapatkan seluruh bagian warisan dari ayahnya, serta hak untuk menikahi perempuan lain.

Jika berbicara mengenai istilah, term lesbian sendiri berasal dari kata “lesbos” yang terdapat dalam puisi-puisi Sappho. Sappho merupakan pujangga Yunani yang menulis berbagai puisi tentang kecantikan wanita di Pulau Lesbos. Penggunaan term lesbian awalnya mengacu pada benda-benda produksi Pulau Lesbos. Namun pada tahun 1870, istilah lesbian digunakan untuk menggambarkan hubungan erotis antara dua orang wanita. Istilah lesbian kemudian menjadi marak diperbincangkan khususnya setelah tahun 1925 dimana pada masa tersebut, istilah lesbian digunakan dalam dunia medis untuk mendefinisikan “sodomi yang dilakukan oleh perempuan“.

Pada awal abad ke 19, masyarakat Amerika dan Eropa memiliki istilah lain yang maknanya kurang lebih sama dengan hubungan lesbian, yaitu “boston marriage”. Boston marriage sendiri merpakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan dua orang perempuan yang tinggal bersama tanpa dukungan ekonomi dari laki-laki.

Istilah Boston Marriage sendiri berkembang di Inggris, Eropa, sampai Amerika Utara. Meskipun istilahboston marriage diasosiasikan dengan hubungan romantis, pada masa berkembangnya istilah tersebut, yaitu abad ke 19, lesbian masih diklasifikasikan sebagai penyakit. Hal tersebut berlanjut sampai tahun 1950an, bersamaan dengan gerakan feminisme gelombang ke dua. Di era ini, hak eksplorasi seksualitas perempuan mulai mendapat tempat di masyarakat. Istilah lesbian kemudian mulai mengalami kegamangan definisi dan dimaknai secara berbeda oleh berbagai kelompok: sebagai hubungan seksual antar perempuan, atau bentuk gaya hidup dan perlawanan terhadap laki-laki.

Patriarki dan Lesbian: Sebuah Hubungan

Tidak dapat kita pungkiri bahwa masyarakat yang patriarkis merupakan salah satu alasan mengapa catatan dan studi mengenai lesbian jarang sekali disinggung dalam sejarah. Namun di lain sisi, hubungan lesbian tidak diasosiasikan dengan sanksi yang berat seperti layaknya hubungan homoseksual. Hal ini menunjukkan bagaimana sejarah sangat maskulin, dimana nilai-nilai kejantanan dihargai lebih daripada nilai-nilai kewanitaan.

Namun karena tulisan ini murni bertujuan untuk menjelaskan sejarah patriarki dan lesbian, agaknya analisa yang penulis berikan cukup sampai disini saja. Semoga bermanfaat dan mari belajar bersama!

Sumber:

Hughes, S.S., Hughes, B. 2001. “Agricultural and Pastoral Societies in Ancient and Classical History”. Temple University Press

Engels dalam Lerner, G. 1986. The Creation of Patriarchy

Lerner, G. 1986. “The Creation of Patriarchy”

Zimmerman, B. 1999. “Encyclopedia of Lesbian Histories and Cultures”

Zuffi, S. 2010. “Love and the Erotic in Art”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s