Menjelma Kartini

*Ferena Debineva

Kartini_2

Saya lahir tepat di hari Kartini dilahirkan, dengan jarak terpaut 112 tahun lamanya. Di Jakarta, di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang lalu lalang. Meskipun tidak menyandang nama Kartini, setiap hari saya hidup dengan semangatnya.

Setiap orang lain bertanya, saya kan bangga menyebutkan tanggal lahir saya : Hari Kartini. Tidak jarang orang mengerenyitkan dahi sejenak, berupaya menyembunyikan ketidaktahuan kapan sebenarnya hari Kartini dirayakan.

Saya tidak hendak memberikan kuliah umum bagaimana caranya menjadi Kartini Abad 21, Kartini Modern, atau Kartini Masa Kini, atau membuat to-do list, atau resep tertentu terkait menjadi Kartini. Saya pada dasarnya awam mengenai Kartini, meskipun tetap membaca sejarah dan tulisan-tulisannya yang terus menginsipirasi saya. Karena itu, biarkan saya membicarakan tentang apa yang saya pahami dari Kartini pada masa kecil saya.

Saya mengingat masa kecil saya yang saya habiskan dengan membalik halaman demi halaman dari buku Lagu Wajib Nasional untuk membaca dan menyanyikan lagu-lagu wajib termasuk Indonesia Raya secara lengkap hingga versi ketiga. Tentu saja lagu Ibu Kita Kartini turut saya senandungkan. Anggap ini bagian dari narsisme saya, namun, saya memang menyukai lagu anak-anak, lagu wajib nasional, dan lagu daerah. Di hari Kartini pula, anak-anak sekolah dasar (termasuk saya) dipaksa bangun lebih pagi, mengenakan berbagai baju daerah atau kebaya, dengan ibu-ibu yang sibuk mendandani anak-anak mereka, untuk mengikuti lomba fashion show yang runwaynya dibuat di tengah lapangan upacara yang terik. Seperti yang bisa Anda bayangkan, ibu-ibu tersebut sibuk memberi arahan gaya dan cara berjalan perlahan di ‘runway’ tersebut, sementara anak-anak mereka sibuk mengelap keringat kepanasan dan mulai gerah dengan baju tersebut dan hendak berlari-lari keluar. Favorit saya di hari itu sebenarnya adalah: sekolah diliburkan, dan saya merasa ulang tahun saya dirayakan oleh seluruh Indonesia.

Ada lagi yang khas dari lomba di hari Kartini, yaitu lomba menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Saya memenangkan lomba tersebut bukan semata-mata karena suara saya yang merdu. Tidak, tidak sama sekali. Saya memenangkan lomba tersebut karena saya hafal dengan pasti setiap liriknya dan tidak melakukan kesalahan, meskipun nada yang saya nyanyikan saat itu sudah dapat dipastikan sumbang.

Dari buku Lagu Wajib Nasional yang saya pinjam di perpustakaan Sekolah Dasar saya itulah, saya belajar, bahwa lagu yang juga ciptaan WR Supratman tidak sependek yang sering dinyanyikan kini. Ia terdiri dari beberapa bagian yang sebaiknya tidak main potong, seperti ayat kitab suci, demi mempercepat durasi menyanyi. Lagu Ibu Kita Kartini disenandungkan dengan penghayatan masing-masing, dalam konteksnya masing-masing.

Saya akan berikan versi lengkap dari lagu tersebut:

Ibu Kita Kartini, Putri Sejati

Putri Indonesia, Harum Namanya

 

Ibu Kita Kartini, Pendekar Bangsa

Pendekar Kaumnya, Untuk Merdeka

 

Reff :

Wahai Ibu Kita Kartini, Putri yang Mulia

Sungguh Besar, Cita-citanya

Bagi Indonesia

 

Ibu Kita Kartini, Putri Jauhari

Putri yang Berjasa, Se-Indonesia

 

Ibu Kita Kartini, Putri yang Suci

Putri yang Merdeka, Cita-citanya

 

Back to Reff.

 

Ibu Kita Kartini, Pendekar Putri

Pendekar Kaum Ibu, Se-Indonesia

 

Ibu Kita Kartini, Penyuluh Budi

Penyuluh Bangsanya, Kar’na Cintanya

Terlepas dari pro kontra mengenai hari Kartini yang dibuat berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, Tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, serta takarannya terhadap kata Pahlawan itu sendiri, lagu Kartini inilah yang tetap saya senandungkan.

Kata  “Putri Sejati” dan “Putri Indonesia” disini seringkali dimaknai sempit sebagai penggambaran putri ala-ala Disney Princess, mungkin dengan sedikit twist bahwa Disney Princess ini ada di Indonesia, mengenakan kebaya yang bagus, dan anak dari seorang Bupati, yang berjalan-jalan dengan perlahan dan tertatih-tatih, dalam tutur kata yang lembut sembari menundukkan pandangan, layaknya stereotipe putri secara umum. Apakah demikian? Di bait kedua, muncul kemudian kata “Pendekar Bangsa” dan “Pendekar Kaumnya” yang kemudian menggambarkan perjuangan Kartini sebagai pejuang untuk kaum perempuan, dalam keinginannya untuk memberikan pendidikan kepada kaum perempuan.

Dua bait lirik diatas adalah lirik yang selama ini kita kenal dan kita hafal mengenai Kartini. Lagu bagaimana dengan the rest of it?

Masih ada kata “Putri yang Mulia”, “Putri Jauhari” (Cerdas) “Putri yang Suci” “Putri yang mencita-citakan kemerdekaan” “Pendekar Putri” “Pendekar Kaum Ibu” “Penyuluh Budi” “Penyuluh Bangsa” dan yang paling penting adalah kata “Karena Cintanya”, justru disinilah WR Supratman menjelaskan siapa itu Kartini: sosok yang cerdas, suci, berbudi, yang punya cita-cita untuk mandiri, merdeka, bebas, dan menginginkan kebebasan bagi kaumnya, bangsanya, karena ia begitu mencintainya. Kemana hilangnya lirik dan pemaknaan akan lirik tersebut? Kedalam lapisan kebaya dan konde dalam perayaan hari lahirnya dan dimaknai secara terbatas : menjadi perempuan sejati dalam stereotipe perempuan yang rasanya ingin dikelupas dari tubuh saya sendiri.

Beralih sedikit dari lagu wajib nasional, pemaknaan mengenai Kartini yang saya dengar sangatlah jauh dari apa yang tertulis dalam bait lagu diatas, dan semakin jauh kepada cita-citanya atau gagasan-gagasannya. Pemaknaan Kartini belakangan ini bukanlah lagi Kartini yang menulis, Kartini yang berpikir, Kartini yang mencintai dan menginginkan kebebasan dan akses pendidikan kepada perempuan dan juga kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun dikemas sedemikian rupa sehingga simbolisasi Kartini berubah kembali kepada menjadi “perempuan yang tetap manut, yang tetap dapat menjadi seorang istri dan ibu yang ‘baik’: Kartini yang digambarkan sebagai Superwomen”. Penggambaran itu hanyalah menggambarkan Kartini yang getir, tragis, bahkan Kartini yang hipokrit. Padahal penggambaran itu jelas berbeda dengan Kartini yang saya raba.

Kartini yang saya pahami adalah Kartini yang sassy, terlihat dalam setiap pemilihan kata yang ia tuliskan dalam surat-suratnya. Ia bukan nyinyir, dan kata-katanya tidak diterjemahkan dalam nada yang mencibir. Kartini berhasil menunjukkan bahwa ketidak adilan bukan hanya menimpa dirinya sendiri, dan bahwa Kartini tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Kartini menunjukkan bahwa bahkan dalam kungkungan sistem sosial yang menyebabkan ketimpangan dalam keadilan sekalipun, ia tidak memberikan ruang untuk dirinya menyerah, walaupun harus berkali terseret di dalamnya. Dalam benak saya, Kartini selalu bebas, dan ia tidak pernah akan dapat terpenjara. Berapa banyak orang yang pada keadaan yang memaksa, ia memilih diam? Kartini tidak pernah punya alasan menyerah.

Pun, jika saya harus menjelaskam Kartini Modern atau Kartini abad 21 dari saya bukanlah Kartini dengan definisi : “perempuan cerdas yang mampu menjadi wanita karier serta menjadi akademisi, di lain pihak dapat menjaga tata-kramanya sebagai perempuan dan kembali ke takdirnya yaitu menikah, mengurusi anak dan suami”. Jika Kartini yang hadir adalah Kartini semacam itu, kemungkinan besar saya akan dengan senang hati mengganti tanggal lahir saya.

Kartini yang seharusnya dihayati bukan lagi Kartini yang hadir dalam penjelmaan fisik berupa kebaya dan konde, diskon salah satu ‘warung kopi’ terkemuka, diskon 21 persen provider telekomunikasi, atau justru sebagai peringatan sale besar-besaran di mall papan atas.  Jelas bukan itu yang Kartini inginkan. Bagi saya, Kartini yang apabila kita bisa bayangkan kehadirannya pada diri kita sendiri, dan pada kehidupan sehari-hari adalah Kartini yang bercelana jeans dan dapat berjalan sambil menari. Kartini yang saya bayangkan adalah Kartini dengan kemeja dan rambut digerai yang acak-acakan karena hampir terlambat masuk ke kelas selanjutnya. Kartini yang dapat duduk bersama dalam sebuah diskusi di warung kopi. Kartini yang berjilbab. Atau Kartini yang memakai dress.

Kartini yang harus digaris bawahi adalah Kartini yang hidup dalam cita-cita yang ia tuliskan: Zelf-ontwikkeling (Self-Development), Zelf-onderricht (Self-Taught), Zelf- vertrouwen (Self-Confidence), Zelf-werkzaamheid (Self-Motivation) juga Solidariteit (Solidarity). Kartini yang hidup dalam cita-cita ini adalah Kartini yang berseri-seri, percaya diri dan berteriak lantang “Saya Mau!”, pada setiap ajakan untuk berkembang, pada setiap cita cita dan keinginannya, namun tetap mencintai sesama manusia dengan tiada batasnya. Kartini yang bebas, dan memperjuangkan kebebasan orang lain.

Karena saya dan Anda, adalah Kartini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s