Notulensi Seminar Kartini dan Liberty

Sedikit berbeda dengan seminar yang telah diadakan pada bulan Februari silam, hari itu, Selasa 21 April 2015, seminar kali ini diadakan di Auditorium Gedung M FISIP UI. Pada ruangan itulah, seminar yang bertajuk Kartini & Liberty yang  diselenggarakan oleh UI LDSC (UI Liberalism and Democracy Study Club) dan SGRC UI (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies UI) terlaksana. Terima kasih kami haturkan kepada 70 hadirin yang berkenan datang ke acara tersebut.

Seminar yang berjudul lengkap ‘Kartini & Liberty: Membakar Semangat Kesetaraan & Kebebasan,’  mengundang Andi Achdian (Sejarawan), Daniel Hutagalung (Dewan Penasehat UI LDSC), serta Ferena Debineva (Founder dan Chairperson SGRC UI) sebagai pembicara. Seminar dibuka oleh MC, Nabilla Prita, yang selanjutnya dilanjutkan oleh sambutan dari perwakilan UI LDSC (C. M. Bregas Pranoto) dan perwakilan SGRC UI (Firmansyah) serta opening statement dari moderator seminar, M. Sindhu Partomo.

Seminar dibuka dengan pembahasan dari Andi Achdian, yang melihat Kartini dari sudut pandang sejarah. Beliau menyatakan bahwa masyarakat dewasa ini kerap kali melihat Kartini hanya sebuah ikon. Ikon atas seorang ‘perempuan modern,’ yang meski tidak serta merta salah, dikhawatirkan dapat mereduksi Kartini itu sendiri menjadi sesuatu yang banal, sesuatu yang trivial. Kartini adalah seorang intelektual, yang dalam korespondensinya dengan Estelle ‘Stella’ Zeehandelaar, menuliskan ide-ide akan modernisasi, kesetaraan, demokrasi, serta kosmopolitanisme. Sosok dirinya dibentuk oleh konteks zaman semasa ia hidup, yakni zaman kolonialisme Belanda pada abad ke-19. Setelah Cultuurstelsel, namun sebelum Politik Etis.

Pada masa itu, gerak perempuan masihlah teramat dibatasi, dan begitu juga halnya dengan Kartini, yang mengalami masa pingitan. Pada masa-masa itu, beliau menghabiskan waktu dengan membaca dan menulis,  mengembangkan pemikiran yang bebas meski tubuh fisiknya terkungkung. Tulisan-tulisannya, yang beberapa telah dibukukan itu, memiliki dampak yang melebihi masa hidupnya yang singkat. Akan tetapi, sosok tersebut pun tidak lepas dari kritik. Entah karena dianggap mengizinkan poligami dengan menikahi  R.M.A.A.Singgih Djojo Adhiningrat,Kartini dianggap sebagai produk kolonial, ‘tidak sehebat tokoh X,’ dan lain sebagainya.

Kartini adalah sosok paradoks. Beliau mempertanyakan pernikahan, namun akhirnya menikah; beliau memanggil Tuhan dengan banyak nama; dan beliau memiliki banyak opini terkait dengan kolonialisme. Setiap manusia, niscayanya, adalah merupakan sebuah proses tanpa akhir. Menciptakan tesa dan antitesa sepanjang hidupnya. Mencari jati diri. Sungguh sayang apabila sosok yang kompleks ini kemudian hanya dilihat secara sempit dari satu sisi saja dan ditenggelamkan dalam kritik.

Selanjutnya, Ferena Debineva membicarakan mengenai pemaknaan penjelmaan dari menjadi Kartini atau “Bagaimanakah cara untuk menjelma menjadi cita-cita seorang Kartini?” Beliau memulai dengan meminta para peserta untuk kembali sejenak kepada masa kecil. Mengingat-ingat segala kehebohan yang dilakukan pada saat perayaan Hari Kartini di bangku SD dulu. Anak-anak kecil akan memakai baju daerah seraya menyanyikan lagu wajib nasional. Tentu, yang dimaksud adalah lagu ‘Ibu Kita Kartini.’  Ferena secara khusus menggarisbawahi lirik dari lagu tersebut. Memperhatikan frase-frase semisal ‘merdeka,’ ‘cita-cita,’  ‘penyuluh budi,’ dan ‘cinta.’ Kartini adalah sesosok yang mengagumkan, namun mengapa dirinya kini kerap dimaknai secara banal atau bahkan teramat jauh dari idealismenya? Sebagai diskon di pusat perbelanjaan, atau  sebagai perempuan domestik yang penurut. Padahal menurut Ferena, Kartini tidaklah seperti itu. Kartini adalah seorang perempuan yang kuat di tengah keterbatasan, merdeka di dalam penjara, dan hidup dalam cita-citanya yang mulia seperti kata lagu. Mengapa orang-orang bisa lupa?

Terakhir, Daniel Hutagalung menambahkan pemaparan dari dua pembicara sebelumnya, dengan melihat Kartini sebagai seorang peretas zaman. Beliau, menurut Daniel, adalah seorang pengawal zaman modern. Sosok yang begitu mencintai kebebasan, bahkan di tengah kungkungan yang membatasi pilihan-pilihan yang dapat ia buat. Mungkin memori tentang Kartini diwarnai dengan kontroversi atas gumpalan paradoks yang membentuk dirinya sendiri. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa bahwa beliau telah memainkan peranan penting dengan kontribusi ide-idenya, terutama terkait dengan pendidikan dan kesetaraan jender.

Setelah pemaparan dari ketiga pembicara, sesi tanya jawab pun dimulai. Moderator Sindhu memberikan kesempatan bagi tiga pertanyaan untuk batch pertama. Pertanyaan pertama bertanya mengenai ‘Tulisan asli Kartini dan Esensi dari Kartini,’ pertanyaan kedua mengenai ‘Relevansi dari semangat Kartini,’ sementara ketiga mengenai ‘Menyikapi pandangan masyarakat yang nyinyir.’

Menurut Daniel, Kartini adalah paradoks yang memiliki banyak pemikiran yang saling bertentangan antara satu sama lain. Pada satu sisi beliau akan memuji kolonialisme Belanda, sementara pada saat lain menghujatnya habis-habisan. Sewaktu buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diterbitkan dari kumpulan surat-surat korespondensinya dengan Stella, bukan tidak mungkin akan ada beberapa hal yang hilang dalam translasi ataupun sengaja dihilangkan oleh sang penyunting. Tidak menutup pula kesempatan akan penambahan dari beberapa kejadian yang mungkin tidak pernah terjadi dalam proses situ.

Lalu, mengapa Kartini berfokus pada edukasi? Daniel berpendapat bahwa pendidikan adalah merupakan suatu hak dasar bagi manusia. Pendidikan menggapai individu, mengajarkan mereka untuk berpikir demi mengembangkan diri mereka dan mencapai kehidupan yang baik. Agar dapat berfungsi dengan baik di dalam masyarakat, seorang individu memerlukan tidak hanya sarana dan prasarana fisik, namun juga akses pada informasi yang memungkinkannya untuk dapat berfungsi pada awal mulanya. Kartini membenci feodalisme, dan kungkungan dari hal tersebut yang dikonstruksikan secara sosial. Untuk itulah, demi membongkar konstruksi tersebut, pendidikan menjadi penting. Tentu hal tersebut masih relevan hinngga saat ini. Bahkan pada zaman modern yang dianggap oleh penanya dua sebagai masa yang sudah setara antara laki-laki dan perempuan. Kehadiran perempuan dalam arena publik seperti misalnya, peremerintahan, masih diperlukan. Perempuan perlu untuk dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan di publik, di mana mereka telah lama tereksklusi. Sebab mau bagaimanapun, laki-laki tidak dapat sepenuhnya mewakili perempuan. Perempuan memiliki pengalaman hidup yang unik, yang hanya dapat mereka pahami dan utarakan, untuk menggambarkan realita, seperti yang bagaimana mereka alami.

Andi menambahkan bahwa adalah merupakan sebuah kekonyolan untuk menyalahkan seseorang yang sudah mati. Kartini hidup dalam konteks zaman yang berbeda dengan diri kita, dengan kondisi yang khas dan unik. Tentu hal-hal yang seringkali kita kritik dari Kartini, seperti misalnya poligami dan pemikiran kontradiktifnya berada pada posisi yang berbeda di zamannya.

Selain itu, berbeda dengan katakanlah, Cut Nyak Dien, Kartini tidak turun dalam perang. Namun mengapa dirinya tetap abadi hingga kini? Mungkin benar idiom bahwa ‘tinta dari seorang pelajar adalah lebih suci dari darah seorang martir.’ Kartini diam, tetapi beliau menulis. Dan dalam tulisan yang berisi pemikirannya itulah, Kartini mencapai keabadian. Yang harus dilakukan kini adalah tidak memaksa Kartini untuk mengikuti konteks zaman kini, namun mengapresiasi dirinya pada zamannya sendiri, sembari mengamalkan esensi dari pemikirannya.

Ferena berpendapat bahwa kita yang hidup di zaman modern dewasa ini belumlah bebas, masih terkonstriksi dengan masyarakat itu sendiri. It happens. Manusia terpecah-pecah dengan pemikiran mereka yang berbeda-beda, beberapa saling menyerang dengan kenyinyiran. Hal itu tidak bisa dihindari, maka terima saja dengan lapang dada. Sambil tidak lupa, mengembangkan diri menjadi versi yang terbaik dari diri kita sendiri. Dengan self-development, self-taught, self-confidence, motivation, dan solidarity.

Terakhir, penanya kelima bertanya mengenai pemikiran negatif mengenai kebebasan yang hadir di dalam kepala. Seseorang mungkin dapat berkata bahwa ia mendukung kebebasan namun di dalam pikirannya, stuktur yang mengungkung itu masih hadir. Sampai seberapa jauh kebebasan itu sendiri? Bagaimana kalau seandainya terjadi pertentangan? Bagaimana kalau seandainya pemikiran menjadi dogma? Sampai sejauh apa Kartini itu? Menurut Andi dan Daniel, Kartini adalah simbol pendidikan. Seorang yang tetap mencoba untuk menjadi bebas, bahkan di tengah kungkungan zamannya. Kebasan yang ia pikirkan sekiranya bukanlah kebebasan yang akan mengganggu kebebasan yang lain.

Seminar berlangsung seru, diselingi humor yang mengajak semua peserta seminar untuk berpikir. Isu mengenai pemaknaan kebebasan dan Kartini menjadi garis besar perbincangan dari seminar yang berlangsung selama dua jam itu. Ruangan mungkin tidak begitu penuh,  namun semangat dari peserta, panitia, dan pembicara untuk mengikuti seminar hingga akhir tetap tidak surut.

Moderator pun kemudian menutup seminar dengan sebuah pernyataan singkat.

“Identitas Kartini bukanlah perempuan yang domestik, bukan pula glorifikasi atas simbol. Namun beliau adalah first and foremost, seorang pemikir. Perempuan yang berpikir jauh melampaui zamannya.”

IMG-20150421-WA0008  IMG-20150422-WA0010IMG-20150422-WA0007

Untuk lebih lengkapnya, Anda dapat mengunduh booklet seminar kami di:

Booklet Kartini & Liberty

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s