Get to Know your Field Research!

Halo seluruh rekan SGRC UI!

Beberapa minggu lalu, SGRC UI mengisi sebuah acara yang diinisiasi oleh HimaKrim Universitas Indonesia yang berjudul ‘Get to Know your Field Research‘. Bagi yang berhalangan untuk menyaksikan kami, berikut hasil seminar yang telah disampaikan oleh perwakilan SGRC UI.

Nah, untuk memulai artikel ini, ayo kita bahas secara detail apa saja yang perlu diperhatikan saat kita melakukan riset khususnya mengenai LGBT.

Pertama, Kamu harus fokus!

Apa sih yang dimaksud fokus?

Sebagai peneliti, kita harus fokus untuk menentukan apa yang ingin kita teliti, termasuk salah satunya fokus terhadap subjek/objek didalam penelitian kita. Jika kita ingin membahas mengenai kelompok lesbian, maka harus fokus untuk menempatkan kelompok lesbian sebagai subjek/objek didalam penelitian kita. Setelah mendapatkan hasil penelitian, jangan mengeneralisasi hasil penelitian kamu untuk mewakili kelompok LGBT karena penelitian kamu hanya mengenai lesbian. Fokus didalam penelitian itu penting loh, karena sangat terkait dengan hasil penelitian kamu nanti.

Kedua, untuk mendapatkan inspirasi mengenai penelitian (apapun) kamu bisa memulainya dari membaca buku atau literatur terkait mengenai gejala yang kamu dalami. Ada alternatif lainnya nih! yaitu dengan turun lapangan sehingga kamu bisa langsung melihat gejala apa yang kamu sukai, lalu didukung dengan bahan bacaan yang ada. Tidak sulit bukan?

Setelah melihat gejala yang ada, ketiga,  ayo tentukan! Mau mengunakan jenis penelitian yang mana dan teknik yang bagaimana. Ada pilihan loh, mau kualitatif atau kuantitatif atau bahkan campuran. Semuanya tergantung kamu sebagai peneliti dan ketertarikan kamu untuk memilih salah satu pendekatan dan teknik penelitiannya. Namun, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya bukan?

Jika kamu memilih kualitatif, kamu harus paham betul dan memiliki koneksi yang baik dengan subjek penelitian kamu. Jangan sampai hasil penelitian kamu tidak sesuai dengan etika penelitian karena kamu tidak bisa membangun kedekatan dengan subjek penelitian kamu. Itulah tantangannya didalam penelitian LGBT sehingga kamu harus paham betul mengenai kelompok LGBT. Jika mengambil istilah dari Weber, kamu harus bisa verstehen (menyatu/merasakan apa yang dirasakan oleh subjek penelitian kamu).

Sedangkan jika kamu memilih jenis penelitian kuantitatif, tantangannya, kamu harus bisa mendapatkan responden sesuai dengan teknik penarikan sampel yang kamu gunakan. Biasanya karena peneliti kesulitan untuk mendapatkan kerangka sampel, khususnya mengenai LGBT, kamu bisa mengunakan snowball sampling. Namun, harus diingat didalam menyampaikan hasil penelitian nanti, kamu hanya bisa menjadikan hasil penelitian kamu untuk digeneralisasi ditingkat sampel yang kamu teliti.

Selanjutnya yang keempat, mari kita bercerita mengenai hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh salah satu tim dari SGRC UI yaitu Ferena Debineva atau yang akrab dipanggil Fey!

Ada dua penelitian yang disampaikan pada saat seminar berlangsung. Penelitian tersebut adalah ‘Hubungan antara Orientasi Seksual dengan Prestasi Akademik pada mahasiswa S1 di Psikologi Universitas Indonesia’ dan ‘Biphobia’ (Negative attitude towards bisexual – Sikap negatif terhadap kelompok bisexual/ memiliki orientasi seksual ganda – Stonewall).

Nah, kita bahas dulu mengenai hubungan antara orientasi seksual dengan prestasi di Psikologi Universitas Indonesia. Penelitian ini berfokus kepada orientasi seksual dan prestasi mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan mengunakan teknik sampel bola salju. Untuk menentukan orientasi seksual, Fey mengunakan Klein Sexual Orientation Grid dan Skala Kinsey. Hasil penelitian Fey menunjukan bahwa semakin exclusively homosexual (dengan Skala Kinsey), maka prestasinya semakin tinggi (diukur dengan IP). Temuan yang didapatkan oleh Fey didukung melalui wawancara yang ia lakukan. Hasil wawancaranya, Mahasiswa Psikologi dengan orientasi seksual exclusively homosexual (dengan Skala Kinsey) berusaha untuk menunjukan kemampuan yang mereka miliki kepada masyarakat sehingga mereka dilihat mampu untuk menjadi orang yang berprestasi dan tidak dilihat secara sebelah mata.

Penelitian kedua mengenai Biphobia yang juga dilakukan secara kuantitatif, menunjukkan bahwa terdapat pandangan yang berbeda antara heteroseksual (male dan female) terhadap biseksual (male dan female) dan homoseksual (male dan female) terhadap biseksual. Pandangan kelompok heteroseksual laki-laki terhadap kelompok biseksual laki laki adalah ‘the grossest thing in this world’ tetapi bagi laki-laki terhadap perempuan biseksual melihat hal tersebut sebagai ‘the hottest thing in this world‘.

Bagaimana dengan kelompok homoseksual? Baik kelompok homoseksual laki-laki ataupun perempuan melihat kelompok biseksual sebagai kelompok yang oportunis yang dianggap hanya memanfaatkan privilege yang didapatkan dari kedua belah pihak.

Hal ini berkaitan dengan teori identitas, dimana identitas yang cair dapat digunakan sebagai alat kepentingan. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Fey kepada kelompok biseksual adalah, sebagian besar kelompok biseksual merasa ‘takut’ akan label oportunis yang diberikan oleh kelompok homoseksual sehingga sebagian besar dari mereka mendefinisikan diri mereka sebagai kelompok heteroseksual saja atau kelompok homoseksual.

Nah! Dari sharing hasil penelitian yang ada,  akan sangat sulit untuk menentukan orientasi seksual jika kita melakukan penelitian tanpa membangun rapport terlebih dahulu, atau mengunakan pertanyaan tertutup pada orientasi seksual. Salah satu alternatif yang dapat kita gunakan adalah Skala Klein dan Skala Kinsey.

Untuk kamu yang tertarik melakukan penelitian yang berkaitan dengan LGBT, ada beberapa tips yang bisa kamu ikuti dari pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh Fey. Berikut beberapa tipsnya:

1. Kamu harus mampu menjaga kerahasiaan responden karena isu yang kamu bawa termasuk salah satu isu yang sensitif,

2. Jangan lupa sharing hasil penelitian yang kamu kepada informan setelah kamu selesai penelitian. Itu juga salah satu bentuk apresiasi kamu loh kepada mereka,

3. Posisikan informan/responden penelitian kamu dengan baik karena mereka bukan benda yang bisa kamu ukur atau dinilai dengan subjektif,

4. Kalau kamu mengunakan instrumen kuesioner, pastikan pertanyaan kamu sudah melalui uji keterbacaan untuk dicek kembali agar tidak ada pertanyaan yang harus ditanyakan kembali sedangkan isu yang kamu bawa sangat sensitif. Sedangkan, jika mewawancarai informan, gunakan bahasa/istilah yang mudah dimengerti dan sesuai,

5. Gunakan gatekeeper supaya perjalanan penelitian kamu dapat dilakukan dengan ‘baik’,

6. Perhatikan kelompok mana yang kamu teliti karena masing-masing kelompok memiliki ‘treatment‘ yang berbeda, dan

7. Hindari penelitian menggunakan instrumen online (jika dimungkinkan) jika kamu menggunakan pendekatan kuantitatif karena sangat sulit untuk mengetahui responden penelitian kamu, atau jika ‘terpaksa’ harus mengunakan instrumen internet, lebih disarankan mengirimkan kuesioner melalui email agar lebih personal.

Terima kasih untuk perhatiannya, selalu semangat untuk berbagi dan bercerita bersama SGRC UI!

Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s