Arisan 8!: Bisexuality

biphobia-the-hidden-discrimination

*Dimas Mahendra As Kinsey writes in Sexual Behavior in the Human Male (1948):

“Males do not represent two discrete populations, heterosexual and homosexual. The world is not to be divided into sheep and goats…The living world is a continuum in each and every one of its aspects.”

The authors add in Sexual Behavior of the Human Female (1953):

“It is a characteristic of the human mind that tries to dichotomize in its classification of phenomena….Sexual behavior is either normal or abnormal, socially acceptable or unacceptable, heterosexual or homosexual; and many persons do not want to believe that there are gradations in these matters from one to the other extreme.”

[Overview] Orientasi seksual didefinisikan sebagai sebuah pola ketertarikan baik secara romantis atau seksual (atau gabungan keduanya) terhadap lawan jenis, sesama jenis, atau kedua gender yang ada. Melalui pengertian tersebut, orientasi seksual dapat dikategorisasi menjadi 3 orientasi seksual yaitu tertarik terhadap lawan jenis (heteroseksual), tertarik terhadap sesama jenis (homoseksual) dan tertarik kepada kedua gender yang ada (biseksual). Seperti yang ada pada pengertian di atas, biseksual diartikan kurang lebih sama oleh beberapa sumber berikut

  1. Merriam-Webster Dictionary mengartikan Biseksual sebagai

: Tertarik secara seksual baik kepada perempuan maupun laki laki : Memiliki organ seksual laki laki maupun perempuan

  1. American Psychological Association mengartikan Biseksual sebagai

: Memiliki ketertarikan secara emosional, romantis, atau seksual kepada perempuan maupun laki laki Melalui pengertian yang disediakan oleh kedua sumber tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai pengertian Biseksual. Biseksual adalah ketertarikan secara emosional, romantic atau seksual (atau gabungan keseluruhannya) kepada perempuan maupun laki-laki. Hal yang menarik mengenai Biseksualitas adalah hampir separuh dari populasi dunia pernah terlibat dalam kegiatan homoseksual dan heteroseksual (46%), 4% terlibat secara eksklusif dalam aktivitas homoseksual, dan 50% terlibat secara eksklusif dalam aktivitas heteroseksual (Kinsey, 1948). Aktivitas yang dimaksud di dalam tulisan Kinsey tersebut dapat diartikan sebagai preferensi seksual seseorang. [History] Pada kenyataannya biseksualitas yang ditandai oleh aktivitas seksual sudah ada sejak zaman dahulu kala dan sudah ada pada peradaban-peradaban yang cukup maju, seperti Yunani Kuno, Romawi Kuno dan Jepang. Pada peradaban Yunani Kuno, Biseksualitas dapat ditinjau dari praktik keprajuritan bangsa Sparta. Pada masa itu para prajurit yang masih muda dianjurkan untuk memiliki hubungan khusus dengan komandan atau pemimpin pasukannya, hal ini bertujuan agar loyalitas prajurit muda tersebut terjaga dan dapat menambah semangat dalam berperang. Berdasarkan hukum yang berlaku pada saat itu, apalagi perang atau pertempuran yang dihadapi oleh pasukan tersebut telah berakhir, hubungan khusus antara prajurit muda dan komandannya tersebut harus berakhir, namun banyak kasus hubungan mereka berlanjut bahkan hingga perang selesai. Pada peradaban Romawi Kuno, biseksualitas lebih dianggap sebagai privilege yang dimiliki oleh masyarakat yang berada pada kasta yang lebih tinggi. Pada saat itu seorang laki-laki dapat melakukan hubungan badan dengan laki laki lainnya namun dengan catatan pihak yang disetubuhi adalah seseorang yang berasal dari kasta yang lebih rendah daripada dirinya, dengan kata lain orang yang disetubuhi itu adalah seorang budak. Selain itu, ketika seorang laki-laki ingin melakukan hubungan badan dengan orang yang kastanya lebih rendah dari dirinya, dia harus manjadi orang yang melakukan penetrasi bukan orang yang dipenetrasi. Maka tak lazim pada zaman tersebut, seorang laki-laki yang memiliki istri tetap dapat melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain, hal ini berguna untuk symbol sosial. Hal yang terjadi pada zaman Yunani Kuno pada bangsa Sparta, juga terjadi pada zaman dahulu di Jepang. Pada zaman tersebut, praktik yang dilakukan adalah seorang murid dari seorang samurai ternama akan memiliki hubungan khusus. Hal ini bertujuan agar murid tersebut memiliki semangat belajar dan loyal kepada samurai yang menjadi gurunya. [Views On Bisexuality] Ada beberapa pandangan mengenai Biseksualitas yang ada pada diri manusia. Pada tulisan ini saya akan mengambil dua pandangan dari dua tokoh, yaitu Sigmund Freud dan William Stekel.

  1. Pandangan Sigmund Freud

Freud memiliki pandangan bahwa semua manusia lahir dalam keadaan Biseksual, nantinya homoseksualitas dan heteroseksualitas akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pada salah satu tulisannya yang berjudul “Three Essay” ia mengatakan bahwa Biseksualitas itu adalah gabungan atau kombinasi dari maskulinitas dan femininitas, bukanlah gabungan dari heteroseksualitas dan homoseksualitas.

  1. Pandangan William Stekel

Stekel dengan tegas mengatakan bahwa semua manusia di dunia ini secara lahiriah adalah seorang biseksual dan monoseksualitas (baik heteroseksual maupun homoseksual) tersebut merupakan sesuatu yang tidak natural. Dalam tulisannya Stekel menyatakan bahwa Psikoanalisis telah membuktikan bahwa seluruh homoseksual, tanpa terkecuali, mengeluarkan tanda-tanda heteroseksual sejak awal mereka lahir hingga mereka memasuki masa pubertasnya. Sekali lagi Freud menyatakan bahwa seluruh manusia itu pada dasarnya adalah biseksual, namun seiring berjalannya waktu mereka akan menekan tendensi heteroseksual ataupun homoseksual tersebut sesuai dengan tuntutan motif tertentu dan bertindak seakan akan mereka adalah seorang monoseksual. [Alat Ukur] Alat ukur yang paling lazim digunakan dalam membantu kategorisasi orientasi seksual seseorang adalah Kinsey Scale dan Klein Sexual Orientation Grid. Namun, pada dasarnya Kinsey Scale merupakan alat ukur yang didasari dengan metode wawancara dan self-identification dan bukanlah berdasarkan pengisian item-item tertentu pada sebuah alat ukur, berbeda dengan KSOG yang memiliki kriteria waktu (past, present, dan ideal) di dalam alat ukurnya dan dapat dilakukan penghitungan secara matematis. Pada saat arisan minggu ini, Ferena Debineva mengajak anggota yang hadir untuk mengisi alat ukur KSOG dan menjelaskan penggunaan alat ukur tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s