Cerita dari Perayaan Hari Kartini ala SGRC UI – on Suara Kebebasan

cb3f3c2ba13908e47d9126cf15232cce

Kartini merupakan sebuah mozaik, ia adalah kepingan-kepingan ornamen yang menyatu menjadi sosok”, ucap Daniel Hutagalung, selaku Dewan Pembina UILDSC dalam  Seminar Kartini dan Kebebasan yang diselenggarakan oleh UI Liberal Democracy Study Club (UILDSC) dan Support Group and Resource Center for Sexuality Studies (SGRC UI). Seminar dilangsungkan di Auditorium gedung M FISIP UI pada 21 April 2015.

Dalam seminar yang dilangsungkan sebagai peringatan Hari Kartini 21 April, UILDSC dan SGRC mau merayakannya tidak lagi dengan pawai baju adat seperti yang selalu dilakukan Pemerintahan Orde Baru. UILDSC dan SGRC ingin membuat suatu kajian tentang Kartini yang sesungguhnya, sehingga Kartini tidak lagi menjadi mitos, menjadi simbol yang dimaknai zaman. Kajian ini berguna agar masyarakat tidak lagi terjebak pada perayaan Hari Kartini sebagai domestifikasi atau sekedar emansipasi perempuan tetapi juga Kartini sebagai simbol pembebasan pada zamannya. Kebebasan perempuan terhadap tradisi dan adat, kebebasan terhadap belenggu kolonialisme.

Memahami Kartini lewat Diskusi

Untuk memahami Kartini dan konteksnya, dihadirkanlah tiga orang pembicara yaitu Andi Achdian (@AndiAchdian), Sejarahwan UI yang memaparkan Sejarah Kartini dan konteks ruang-waktu yang melingkupinya, Daniel Hutagalung (@Dhutag) selaku salah satu Dewan Pembina UILDSC yang memaparkan Kartini sebagai simbol Humanisme. Kebebasan dan esetaraan bagi tidak hanya perempuan Jawa tapi juga seluruh penduduk Hindia Belanda pada masa itu. Sedangkan Ferena Debineva (@Ferenadebineva), Pendiri SGRC UI memaparkan pengalaman dia merayakan hari Kartini setiap tahun sejak kecil.

Seminar berlangsung selama tiga jam dimulai ini juga diikuti dengan sesi tanya jawab yang cukup ramai. Pemaparan para pembicara yang berusaha membuka dan memaknai Kartini melalui pisau analisis Ilmu Sejarah dan Ilmu Filsafat, ternyata  membuka tabir mitos pada sosok Kartini berkonde dan berkebaya. Kartini yang menjadi simbol domestifikasi sekaligus emansipasi perempuan. Kartini yang menginginkan kebebasan dan juga menjadi simbol bagi kebebasan. Kembali lagi pada makna Kartini menurut Daniel Hutagalung, Kartini adalah paradoks.

Kartini, Sang Feminis Liberal

Buat saya yang hadir pada acara itu, acara tu cukup membukakan mata saya terhadap sosok Kartini. Perebutan ikon Kartini sebagai perempuan Jawa berkebaya yang menuntut emansipasi dikuak lebih jauh. Ada sisi lain Kartini yang lebih dari seorang feminis yang menuntut kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, tapi juga sisi Kartini yang humanis. Beda dengan Tulisan Gadis Arivia dalam “Feminisme sebuah Kata Hati” yang memposisikan Kartini sebagai feminis post-kolonial, saya memposisikan Kartini sebagai seorang feminis liberal.

Kartini berjuang untuk kesetaraan dalam ranah ide melalui tulisan-tulisannya. Surat-suratnya kepada Abendanon, Estella H. Z Heehandelar, Nyonya Henri Hubertus van Kol, dan Marie C.E.Ovink-Soer, menunjukkan bahwa Kartini ingin semua manusia baik laki-laki dan perempuan, pribumi atau Belanda mendapatkan hak yang sama untuk merdeka dan mempunyai kesempatan yang sama.  Tapi ide saja bukan berarti tanpa gerakan, sayang saja Kartini hidup amat singkat. Toh, dalam hidupnya yang singkat dia mampu memberikan jejak pemikiran pada founding fathers kita melalui buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi bacaan wajib bagi kalangan intelektual masa pergerakan nasional.

Refleksi tentang Kartini

Seringnya pada masa sekarang kita membuat dikotomi baru terhadap Kartini. Istilah Kartini Moderen sering digunakan sebagai harapan bagi perempuan-perempuan masa sekarang untuk turut melanjutkan semangat perjuangan Kartini. Buat saya, Kartini tetaplah Kartini. Biar dunia berubah apa yang diperjuangkan Kartini masih sama. pendidikan bagi semua manusia terutama pada perempuan. Perempuan pada kenyataannya masih mengalami tantangan dalam mengaktualisasikan diri. Populasi perempuan yang mampu mencapai gelar Doktor hanya 2% di seluruh dunia. Halangan perempuan untuk mencapai pendidikan yang setara pun masih sama, salah satunya karena perkawinan. Perempuan masih dipandang sebagai mesin reproduksi yang tidak wajib disekolahkan tinggi-tinggi.

Demikian sekilas refleksi dari seminar mengenai perayaan Hari Kartini ala SGRC UI. Informasi lengkap mengenai seminar ini dapat diunduh di http://uildsc.org/wp-content/uploads/2015/04/Booklet-Kartini-Liberty.pdf .

Artikel dapat diakses di : http://www.suarakebebasan.org/id/cerita/item/412-cerita-dari-perayaan-hari-kartini-ala-sgrc-ui

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s