Keintiman dan Same Sex Marriage

facebook_doma

Fathul Purnomo*

Baru baru ini pemerintah Irlandia melakukan voting terbuka guna menentukan apakah same sex marriage (pernikahan sejenis – red)) legal atau tidak di negara tersebut. Hasilnya mencengankan, sebagian besar warga Irlandia menyetujui same sex marriage dilegalisasi. Warga yang pro di dominasi oleh kaum muda, sedang yang kontra berasal dari para kaum penghayat agama dan golongan tua.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada perbedaan pandangan dalam konsep pernikahan itu sendiri? apa sebenarnya konsep pernikahan ? Mari kita bersama menbedahnya perlahan-lahan.

Pernikahan merupakan media untuk melegalisasi relasi seksual yang ada dalam masyarakat. Itulah simplifikasi defisnisi pernikahan sebenarnya, apakah kemudian pernikahan dijadikan sebagai lembaga untuk mempermudah mencapai tujuan masing-masing individu dan atau sebagai bentuk upaya lainnya, itu sifatnya komplementer. Tujuan primer dari pernikahan hanyalah permasalahan antar kelamin. Karena permasalahan super ego yang menghendaki adanya keterjaminan atas bayi dan harta warisan yang dimiliki oleh kedua pasangan, maka konsep pernikahan dilahirkan.

Lalu kenapa kemudian pernikahan digunakan hanya untuk legalisasi relasi antar kelamin dalam hubungan seksualitas. apa itu hubungan seksual ?

Pernikahan akan jatuh dalam perbudakan jika salah satu pasangan hanya menganggap pernikahan mereka hanya digunakan untuk jasa pemancar percum (sperma – red). Seperti yang terjadi di tahun 600 M di dataran Arab, di mana perempuan dinikahi sebagai tak ubahnya budak seksual.

Maka seksualitas mengandaikan adanya keintiman agar relasi seksual tidak jatuh dalam perbudakan. Namun apakah cukup hanya dengan berhubungan seksual menjadikan kedua pasangan memiliki hubungan yang intim? Ternyata tidak, apa yang kemudian menjadi perhatian adalah jika puncak tertinggi dalam pernikahan – relasi seksual – sudah dilakoni namun tetap tidak ada keintiman.

Konsep seksualitas yang selama ini dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia atau juga sebagain besar warga dunia memang masih sangat deterministik materialistik – golongan tua yang kontra legalisasi same sex marriage di Irlandia. Di mana relasi seksual berkonotasi dengan bagian tubuh manusia yang berbentuk bulat lonjong yang kemudian disebut sebagai penis, juga bagian berlubang yang disebut vagina. Relasi yang terjadi adalah relasi antar sesama anatomi tubuh manusia – tidak ada bedanya dengan tangan dua orang yang berjabat tangan – jika seksualitas didefinisikan sebagai hal tersebut.

Definisi yang terdistorsi dari seksualitas inilah yang menjadikan permainan seksualitas kita dalam kehidupan belum mengagung dan menyentuh keintiman. Masih pada tataran hubungan seksual, yang terjebak dalam aliran materialisme dan belum mampu keluar dari faktisitas [1] ke naturlistikan.

Apa perbedaannya pernikahan dengan prostitusi jika kedua lembaga tersebut hanya berupaya sebagai pelayan pemancar pejuh. Pun tidak ada gunanya menikah jika bahkan dengan datang ke prostitusi sudah berelasi seksual. Maka jika kita datang ke tempat prosititusi, para pekerja akan menolak untuk bertatap mata dengan para pelanggan dengan alasan bahwa mereka hadir hanya sebatas sebagai pelayan – pemuas seksualitas – dan tidak sanggup berhubungan terlalu intim -inti dari relasi seksual.

Maka di sinilah pernikahan hadir, pernikahan ada tidak hanya sebagai media untuk penetrasi tetapi juga sebagai relasi keintiman. Penetrasi antar (bukan antara) kelamin hanyalah sebagian kecil dari kosep keintiman seksualitas yang begitu luas. Seksualitas tidak hanya sekedar bertemunya dua pasangan. karena konsekuensi logisnya jika pernikahan adalah sarana menuju keintiman, maka pernikahan seharusnya tidak hanya legal bagi mereka yang memiliki preferensi heteroseksualitas, namun juga preferensi-preferensi yang lain. Serta bisa dilakukan dengan banyak pasangan –contoh, kasus tiga laki-laki Thailand yang menikah bersamaan.

Keintiman dicapai tidak hanya dengan menjalin hubungan di satu malam dengan pasangan tertentu. Namun keintiman selalu merupakan kalkulasi dari keseluruhan diri kita di saat berhubungan dengan seseorang.

Keintiman tidak hanya dilakukan disaat di ranjang, namun juga melalui; pelukan, pelukan hangat di saat bangun pagi, candaan, candaan sore di beranda rumah. Yang baru kemudian dilanjutkan dengan peleburan kedua insan dalam bentuk penetrasi antar kelamin-tidak kemudian harus selalu dua kelamin dan berbeda.

Karena pernikahan diciptakan demi keintiman, maka para pelakunya kemudian seharusnya tidak terikat dengan kekangan determinisme material. Apapun jenis kelaminnya, apapun gendernya, dan berapapun jumlahnya akan melebur menjadi satu dalam relasi keintiman seksualitas.

Di sinilah kita mendapati status ontologis dari pernikahan dan relasi keintiman seksualitas. Maka dengan ini, upaya pelegalan pernikahan sesama jenis menjadi hal yang seharusnya tak perlu lagi diperdebatkan.

Namun tetap saja hal ini mendapat hambatan dalam berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Contoh di Indonesia, restriksi terberat justru datang dari kalangan penghayat agama agama samawi. Padahal jika kita mengingat kasus salah satu sufi besar Islam, yakni Jalaluddin Rumi, beliau bercinta dengan seorang rekannya yang juga memiliki jenis kelamin yang sama. Walaupun hubungan keintiman mereka tidak dilakukan dengan pertemuan antar kelamin. Tindakan ini cukup berani dilakukan oleh seorang sufi sekaliber Rumi, mengingat posisinya saat itu cukup tenar di masyarakat. Saya begitu memahami apa yang melatar-belakangi tindakan percintaan Rumi. Ketika Rumi sudah mampu bercumbu dengan Tuhan-nya maka dia menjadi tidak ada. Being (wujud – red) Rumi telah melebur dengan being alam semesta yang sama sekali tidak bergender dan berkelamin. Maka keputusan Rumi mencintai seseorang yang memiliki jenis kelamin yang sama seperti Rumi – di mata kita – justru bagi Rumi hal tersebut sama sekali bukan merupakan sebuah kesalahan. Karena semua yang simbolik telah melebur dalam being [2] Tuhan. Dan seperti itulah sebenarnya seksualitas. Keintiman dalam seksualitas tidak kemudian harus selalu bersifat hetero bipolar. Dan tokoh ini seakan terlupakan dalam sejarah perkembangan agama Islam. Justru mereka yang arogan berusaha menebar moral dengan jalan mengangkangi para sufi yang jika melihat level-nya dalam Islam sungguh jauh dari para kaum bersorban yang hobi konvoi di jalan.

Keintiman selalu mengandaikan keseluruhan diri seseorang. Terlalu sempit jika keintiman hanya diperlakukan sebatas pertemuan antara penis dan vagina. Ada perasaan, pengalaman, pikiran, identitas yang semuanya bermuara dalam satu bentuk relasi keintiman. Dan sepertinya perasaan tak pernah bergender.

Pelegalan pernikahan sesama jenis di beberapa negara merupakan langkah baik dari pemerintah guna memperbaiki logika berfikir akan apa itu seksualitas. Keintiman seksualitas yang bersifat universal, sehingga tak terkotak dalam lingkaraan domestik, berupa heteronormativitas.

Selamat berintim ria dengan pasangan anda.

*Penulis adalah mahasiswa  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Departemen Filsafat.

Catatan kaki :

[1] Faktisitas merupakan istilah yang dipopulerkan oleh seorang filosof Jerman bernama Martin Heidegger, konsep faktisitas digunakan untuk menerangkan keterlemparan manusia ke dunia yang begitu saja dalam bukunya yang berjudul Ontology-Hermeunetics of Facticity

[2] Being merupakan kata dari bahasa Inggris yang belum memiliki padanan makna yang tepat dalam kultur bahasa Indonesia, namun seringkali dan memiliki makna yang dekat dengan kata ‘ada’ dalam bahasa Indonesia. ‘ada’ adalah genus proximum dari segala sesuatu.

Sumber internet :

http://log.viva.co.id/news/read/593101-pernikahan-tiga-pria-thailand-ini-hebohkan-dunia

http://www.bbc.co.uk/newsround/32863834

http://www.khamush.com/melayu/

https://moncisthought.wordpress.com/2015/02/01/mengkaji-ulang-monogami-poligami/

*Tulisan ini dimuat di Suara Kita dan dapat diakses di http://www.suarakita.org/2015/06/keintiman-dan-same-sex-marriage/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s