Agungkan Kembali Seksualitas yang Terjebak dalam Kuasa Uang

images (1)

*Fathul Purnomo

Masih ingat dengan ditangkapnya artis “AA” sebagai mucikari atas kasus prostitusi artis di kalangan elit? Industri seksualitas ternyata menjamur bahkan di kalangan elit artis, namun apakah itu tujuan diadakannya relasi seksual? Akankah relasi tersebut masih dianggap sebagai relasi seksual? Mari kita menbedahnya secara perlahan.

Seksualitas merupakan ekspresi terprimitif manusia. Manusia yang secara determinis merupakan spesies yang masuk dalam klasifikasi mamalia-mencoba keluar dari meme [1] agama tercipta untuk berelasi seksual. Seksualitas sebagai salah satu bentuk ekspresi manusia, karena merupakan salah satu bentuk ekspresi, banyak kemudian di dekade akhir ini promosi akan kebebebasan berkespresi dalam hal relasi seksual, LGBTIQ menjadi isu yang cukup populis bahkan dalam kontestasi politik. Sebagai konsekuensi logis dari berekspresi maka kemudian semakin banyak ekspresi yang mampu ditampilkan semakin kaya orang tersebut. Saya berikan contoh, jika seseorang pada umur 10 tahun berorientasi heteroseksual lalu beralih menjadi homoseksual ketika menginjak usia 17, dan beralih menjadi panseksual di umur 30, tentu akan lebih kaya dibanding orang yang hanya mengungkapkan libido seksualnya dengan menggunakan media heteroseksualitas.

Banyak masyarakat di berbagai belahan dunia yang selama ini masih terjebak dalam mindset heteronormativitas, mulai terbuka dan memberikan ruang bernapas bagi beberapa golongan yang memiliki preferensi berbeda dari masyrakat umum dalam preferensi seksual. Termasuk Irlandia dan U.S.A yang baru saja melegalkan same sex marriage dalam kehidupan bernegara mereka, yang dihasilkan dari mekanisme sah secara konstitusi.

Dengan semakin baiknya penerimaan atas perbedaan ekspresi seksual inilah masyarakat menjadi semakin sehat secara mental. Karena justru ketika manusia tidak mendengarkan “super ego” menjadikan orang tersebut semakin bermasalah. Dengan kekangan kuasa “super egoselama ini, ekspresi menjadi terbatas dan tidak optimal kecuali hanya dalam komunitas tertentu saja. Kebanalan berekspresi memang mutlak diperlukan. Namun jangankan ekspresi yang bersifat berbeda, ekspresi yang dilegalkan pun seperti heteroseksual di Indonesia masih sangat dianggap nista.

Karena di Indonesia terjadi pengekangan maka dapat dipastikan akan ada ledakan di satu titik tertentu. Titik inilah yang menjadi incaran para pengusaha tempat prostitusi. Wanita hiburan marak dijajakan dimana mana dengan berbagai modus. Mulai ayam kampus sampai artis artis ibukota seperi kasus “AA”. Seksualitas justru diperdagangkan, ekspresinya bersifat artificial dan semu. Maka jika anda datang ke tempat prostitusi dan belanja disana, maka yang akan anda dapati adalah relasi industri penetrasi antara vagina dengan penis. Ekspresi seksualitas kemudian terjebak dalam relasi kuasa uang. Ekspresi agung ini terjebak dalam kerangka industri.

Tidak hanya dalam industri berupa pelayanan fisik yang diproduksi secara massal, industri seks visual juga berkembang pesat. Sama mirisnya, mereka harus mengikuti skenario dari sutradara yang belum tentu mereka suka, dan tidak semua pemain Sukatoro blue film memang memiliki preferensi seksual Sukatoro [2] . Seksualitas seharusnya bersifat alami dan mengalir begitu saja.  Hubungan seksual yang diharapkan menjadi titik kulminasi dalam hubungan keintiman justru digadai demi nasi esok hari. Keterjebakan inilah yang menjadikan saya sangat miris, bukan karena saya berpihak pada norma akan persetubuhan pranikah berisfat ilegal, namun karena saya teriris melihat meme terprimitif manusia direndahkan posisinya dan hanya menjadi sekadar jasa pengeluaran air mani seorang laki laki, atau sebaliknya.

Indonesia seharusnya menyediakan ruang gerak bagi penduduknya untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Eksperimen dalam ruang prostitusi bukanlah lokus yang sehat dalam mengekspresikan relasi seksual yang non-konstitusional. Tidak ada keintiman dalam bilik bilik prostitusi, yang ada hanyalah industri yang berkedok relasi seksual.

Masih tercetak jelas dalam sejarah, dimana gubernur Ali Sadikin selama menjabat sebagai gubernur Jakarta memberikan ruang bergerak bagi para warga jakarta yang memang sedang dalam titik kulminasi libidonya dengan membuat kebijakan yang mendukung ekspresi seksualitas. Namun kebijakan itu kini sirna, mungkin karena takut dengan para penegak moral berjubah tebal yang senang berkonvoi di setiap akhir pekan. Negara ini kecanduan meme agama yang kita tahu selalu bersifat dekaden.

Kekangan kuasa agama ini tidak hanya dalam bentuk ekspresi seksual bahkan juga menjamah ekspresi sosial. Masih ingat jelas dimana Inul, artis dangdut yang dicekal karena goyang ngebornya. Bagi beberapa kalangan, goyangan Inul dianggap banal dan menjadikan hancurnya moral bangsa, belum lagi menjadikan nama dangdut tercemar dan seribu alasan lainnya. Sebenarnya goyang ngebor inul masihlah dalam tataran ekspresi sosial, namun tercekat karena di klaim bernuansa seksual.

Ekspresi-ekpresi dasar seperti halnya menari. Jika kita mengingat kembali muncul bahkan sebelum simbol bahasa, mengingat kitab suci selalu menggunakan simbol bahasa, simbol tari lebih dahulu hadir di dunia, dan menjadi bentuk ekspresi dalam berbagai jenis upacara-upacara agung, baik kematian maupun pernikahan. Semakin liar dan banal tarian tersebut justru menunjukkan kalau upacara tersebut sukses, karena roh alam telah menyatu dengan sang penari.

Namun tari di kemudian hari dianggap sebagai biang kemerosotan moral. Apalagi ekspresi-ekspresi seksualitas yang berbeda, dipastikan mendapat restriksi yang begitu masif di masyarakat.Kekangan berbagai ekspresi inilah yang kemudian menjadikan ekpresi yang muncul di masyarakat bersifat semu dan bahkan kemudian dikendalikan oleh industri. Tak lagi agung seperti halnya ekspresi-ekspresi yang pernah dilakoni dalam ajaran ajaran para leluhur kita, tak seperti ajaran Tantrayana.

Dalam ajaran Tantrayana, selalu mengagungkan relasi seksual. Karena justru relasi seksual saat itu memiliki kedudukan sebagai media untuk bersatu dengan makrokosmos dan menyerap energi semesta. Walaupun bahkan hal tersebut dilakukan dengan jalan orgy, yang dalam masyarakat sekarang dianggap sebagai sesuatu nista, namun dalam seremonial Tantrayana relasi seksual dengan bingkai orgy menjadi sangat agung. Kembalikan hak masyarakat untuk bebas berkepsresi agar ekspresi-ekspresi ini bisa kembali agung, seagung diciptakannya ekpsresi seksual dan ekspresi sosial.Jangan biarkan ekspresi ini terkungkung dalam ruang ruang industri dan terhambat oleh selendang sorban kaum arogan. Uang dan dokumen dokumen kuno (baca: Kitab suci ) telah memberikan otoritas dan memperalat manusia untuk merekayasa perbuatannya, termasuk perbuatan terprimitifnya, ekspresi seksualitas.

Catatan Belakang:

[1] Konsep ‘meme’ ( baca : mem ) merupakan istilah yang dipromosikan oleh seorang filosof sekaligus biologis berkebangsaan Inggris bernama Richard Dawkins. Meme diandaikan sebagai replikator kebudayaan

[2] Sukatoro merupakan aktivitas seksual dengan menggunakan media kotoran manusia sebagai alat perangsang saat akan berhubungan seksual

http://www.suaramerdeka.com/harian/0312/27/nas2.htm

http://profil.merdeka.com/indonesia/a/ali-sadikin/

*Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan dan dapat diakses di http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/agungkan-kembali-seksualitas-yang-terjebak-dalam-kuasa-uang*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s