Testimoni Ramuan Obat Kuat : What’s Behind its Greatness?

“Istri saya puas bahkan nyerah. Istri saya heran.”

“Suami jadi betah di rumah. Saya dipuji dan disayang suami.”

Viagra-Professional

*Ferena Debineva

Sounds familiar? Berikut adalah cuplikan testimoni mengenai obat kuat untuk penis yang dapat memperpanjang waktu ereksi dan menunda ejakulasi. Sedangkan testimoni yang kedua adalah dari obat yang di klaim dapat merapatkan kembali vagina dan membuatnya lebih keset, plus dengan tambahan denyut di dinding vagina.

Testimoni ini bisa di dapatkan secara terang-terangan di Google Images dengan keyword “testimoni (nama produk).” Individu dapat dengan mudah menemukan testimnoni hasil screen capture tentunya dengan nomor telepon dan nama yang di blur dengan sengaja. Mari menyebutnya dengan kata “ramuan” dibandingkan “obat.” Sederhana saja, kandungan bahan dalam obat-obatan dapat ditemukan dengan mencarinya di daftar obat di MIMS (Monthly Index of Medical Specialties). Sedangkan ramuan menggambarkan ketidak-tahuan berkedok “rahasia dan spesial” dan upaya produsen menyembunyikan kandungan apapun yang ada di dalamnya.

Untuk individu yang tidak memercayai obat-obatan macam ini, sangat mudah menertawakan apa yang Anda baca. Namun, saya pahami bahwa terkadang muncul semacam godaan untuk mencobanya. Seperti saat menemukan “Tissue Magic” yang bisa diakses dengan mudah dengan harga 20 ribu per bungkus. Sekedar test-drive, atau lebih tepatnya, menguji hipotesis null. Tapi saya mengerti benar apa yang membuat obat-obatan semacam ini ‘laris bak kacang goreng.’ Kuncinya satu : Testimoni yang  menjual dengan tepat.

Apa sebenarnya isi dari testimoni yang saya katakan menjual dengan tepat?

Pada ramuan untuk vagina, testimoni yang ditulis selain “Resi Pengiriman” adalah “Jadi lebih romantis” “Dia suka banget” “Suami aku jadi ketagihan” “Kata suami aku enak banget dan suami aku puas” “Suami minta terus” “Suami jadi betah di rumah” “Dipuji suami”

Untuk ramuan untuk penis, testimoninya berbunyi: “Istriku takluk dan menyerah” “Cewekku kewalahan” “Istri saya minta ampun” “Dia heran”

Testimoni di atas menggambarkan dengan tepat keinginan laki-laki dan perempuan terutama dalam berhubungan intim, atau lebih jauh lagi, dalam berelasi. Perempuan menginginkan pasangannya untuk memuji dirinya. Perempuan akan lebih bahagia jika merasa diinginkan. Perempuan menginginkan suami meluangkan waktunya lebih lama di rumah. Dan ketiganya adalah gambaran apa yang tidak didapatkan perempuan dari pasangannya. Sementara lelaki berbeda. Lelaki menginginkan untuk memberikan kepuasan, harga diri yang tinggi, dan perasaan menang. Apa yang sama tentang keduanya dalam testimoni ini?.

Mereka membicarakan tentang kepuasan pasangan. Bahkan ada yang menggambarkan hubungan seksual mereka seperti pertandingan sepak bola : lengkap dengan skor. Ramuan di atas tentu tidak membicarakan foreplay, komunikasi, kompromi, relasi, intimacy, after-sex cuddling, Ramuan di atas membicarakan tentang durasi, ereksi, dan ejakulasi. Ramuan di atas tidak membicarakan bahwa seseorang yang menggunakannya merasa puas. Standar bahagia hanya sekedar penis dan vagina.

Peran gender yang sangat heteronormatif pun dapat turut dipersalahkan. Laki-laki harus digambarkan maskulin, kuat, tahan lama, dan mampu ‘mengalahkan’ lawan mainnya. Sedangkan perempuan digambarkan sebagai objek yang tengah mencari cara untuk membuat ‘majikannya’ bertahan dengan memberikan segala kepuasan servis yang dimungkinkan.

Kembali lagi, ke dalam testimoni yang tidak menggambarkan kepuasan diri. Muncul pertanyaan, “Apakah ini disengaja bahwa seseorang individu tidak mampu mengungkapkan kepuasan dalam berhubungan seksual (penile-vaginal intercourse) dan memilih menggambarkan ‘kepuasan’ pasangan dengan pilihan kata di atas?”

Atau mungkin, jika sifatnya lebih altruis, menggambarkan kerelaan diri untuk tidak puas selama pasangan bahagia dan mendapat kepuasan. Kepuasan dalam hubungan ini tidak lagi dimulai dari bagaimana pasangan saling menatap, saling memagut, saling memeluk, saling melindungi, saling bicara, saling merasakan satu dengan lainnya dan saling menunjukkan kasih sayang, baik sebelum, ketika, dan setelah penetrasi.

Testimoni di atas mementingkan bagaimana aksi penetrasi menjadi sirkus akrobatik yang meledak-ledak, grande, penuh kekuatan.  Bukan lagi mengenai bagian tubuh yang ingin disentuh, bukan tentang kecup lembut dan gerakan yang disukai, atau posisi baru yang menyenangkan untuk dicoba bersama. Melulu soal ejakulasi, ronde, dan rasa.

Tapi nyatanya, testimoni di atas menjual dengan sangat tepat.

Berapa banyak individu yang jika saya tidak jahat mengutarakannya, jatuh dalam perangkap pemikiran untuk “memberikan kepuasan kepada pasangan agar pasangan bertahan dan menghabiskan waktu lebih lama dengannya” atau “berhenti mengeluhkan harga cabai di pasar dan mulai bicara dalam bahasa desah singkat yang lebih mudah dipahami”?

Bahkan saya belum bicara tentang resiko kesehatan. Dan tidak peduli betapa banyak resiko kesehatan yang akan dipaparkan terkait kandungan ramuan, pun jika efek ramuan di atas hanya sekedar plasebo. Kata-kata di atas lebih ajaib dan lebih menggiurkan, atau lebih tepatnya : Menjual. Dan individu membelinya bukan sekedar dengan uang sejumlah sekian. Individu menggadai pemecahan masalahnya, kebutuhan emosionalnya, lewat aksi 2 jam non-stop penetrasi penis ke vagina.

Esok, kita bisa menjual ramuan yang lebih ampuh meskipun kandungannya tidak terdaftar di MIMS. Karena ramuan terkuat adalah pengenalan diri, komunikasi, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s