Homoseksualitas: Pemecah Relasi Owner-Property dalam Heteronormativitas

*Fathul Purnomo

242-512

Jurnal Perempuan berdiri sejak tahun 1995, dan terus berjuang sampai detik ini demi kesetaraan. Namun tak dipungkiri, sampai saat ini pula kesetaraan belum tercapai, walaupun sudah banyak kemajuan. Peran bapak sebagai pemimpin rumah tangga telah menjadikannya sebagai aktor utama dalam kehidupan sosial. Sehingga menghasilkan relasi di mana seorang laki-laki yang maskulin akan menganggap perempuan yang feminin harus dijaga dan dirawat bak hewan peliharaan, tak boleh berpolitik, tak boleh bersekolah, tak boleh keluar rumah di atas jam 12 malam.

Perempuan dianggap sebagai properti milik laki-laki yang dipajang di rumah. Dengan demikian relasi antara laki-laki dan perempuan menjadi relasi antara pemilik/sang tuan dan properti/harta bendanya. Ritual pernikahan bahkan sebenarnya adalah cara laki-laki menjadi laki-laki. Karena dengan mengawini seorang perempuan, seorang laki-laki mampu menunjukkan eksistensinya sebagai laki-laki. Bukan seorang laki-laki jika ia tak mampu mendapatkan gadis molek. Perempuan kemudian masuk ke dalam “tubuh” laki-laki. Perempuan tak pernah menjadi perempuan, namun menjadi seperti apa yang diinginkan oleh laki-laki. Perempuan cantik, kecantikan yang juga menjadi bayangan laki-laki. Urusan reproduksi pun juga merupakan upaya unjuk kesuburan seorang laki laki yang ingin melegitimasi dirinya sebagai laki-laki, lewat rahim perempuan.

Laki-laki dianggap jauh lebih unggul, sehingga dulu anak perempuan akan dikubur hidup-hidup setelah dilahirkan karena rasa malu sang bapak. Tidak hanya sekadar laki-laki yang berpenis, namun laki-laki yang betul-betul laki-laki. Maka tidak mengherankan jika anda menemui banyak celaan ditujukan kepada mereka yang terlahir dengan fisik laki-laki namun bersifat feminin. Kerangka berpikir masyarakat yang menjadikan sifat maskulin lebih unggul dibandingkan sifat feminin telah menjadi kebiasan dan  dikukuhkan oleh pola heteronormativitas. Jika relasi heteroseksual memelihara relasi pemilik dan propertinya, maka dalam relasi homoseksual yang bergumul dalam satu rumpun yang sama terjadi fenomena yang sedikit berbeda.

Dalam dunia gay, seorang laki-laki yang maskulin yang kemudian disebut sebagai top tidak menutup kemungkinan untuk berelasi juga dengan sesama top, tidak kemudian selalu dengan bottom yang selama ini dilihat sebagai representasi femininitas. Relasi yang terjadi antar top (baca: maskulin) tidak lagi pada bingkai relasi pemilik dan properti, bukan lagi hasrat berkuasa, namun pada kompromi antar maskulinitas. Namun memang, dalam dunia gay sendiri, masih banyak yang menganut sistem heteronormativitas, dimana seorang top harus berpasangan dengan bottom. Sedang top memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding sang bottom. Sehingga dapat dikatakan sebagai relasi gay/lesbian yang terjebak dalam sistem homonormativitas.

Namun apakah harus selalu antara gender yang sama sehingga muncul kesetaraan? Antara maskulin dan maskulin, feminin dan feminin. Apakah kemudian relasi maskulin-feminin selalu akan bersifat kekuasaan? Apakah perempuan selalu menjadi SPG (sales promotion girl) mobil yang merupakan properti dari CEO laki laki? Kekuasaan maskulin atas feminin?

Homoseksualitas muncul dalam rahim yang termarginalkan. Namun justru dalam perkembangannya memarginalkan mereka yang feminin. Relasi homoseksualitas seharusnya menjadi pelopor kesetaraan. Kesetaraan yang juga terjadi antar top. Homoseksualitas seharusnya menjadi purwarupa dari relasi sehat rumah tangga. Dengan mampu menunjukkannya, maka same sex marriage memiliki topangan baru. Sayang diantara orang-orang gay sendiri, stereotip seperti ‘no sissy’ belum bisa hilang.

Namun justru hal sebaliknya terjadi di kalangan lesbian, mereka yang femme justru memiliki nilai jual lebih. Dalam dunia perempuan lesbian, ternyata femininitas yang lebih mahal. Feminin selama ini selalu identik dengan vulnerability. Paradigma yang berkembang dalam dunia lesbian ternyata justru menginginkan vulnerability menjadi patokan perempuan itu sendiri. Relasi antar perempuan menginginkan adanyavulnerability. Dengan vulnerability perempuan menjadi perempuan, karena dengan mengembangkan sifat vulnerability sebagai sifat utama, justru hal tersebut tidak menjadi sebuah kelemahan, vulnerability justru menjadi kekuatan. Perempuan menjadi perempuan kuat bukan dengan mengimitasi maskulinitas, namun dengan menjadikan vulnerability yang ada pada dirinya menjadi kekuatan.

Ini adalah sebuah kemajuan, karena dengan hal tersebut perempuan lesbian mencari seorang wanita sejati, bukan lagi seorang wanita yang selalu menginginkan maskulinitas sebagai tempat berlindung. Pergeseran cara pandang inilah yang menjadikan perempuan tidak lagi menjadi barang dagangan laki laki.Terjadinya penguasaan terhadap perempuan selama ini dikarenakan perempuan bergantung pada maskulinitas. Sementara  ketika paradigma perempuan sudah tidak lagi mengunggulkan laki-laki, maka relasi yang terjadi antara laki laki dan perempuan tidak lagi berupa ketergantungan perempuan pada laki laki. Akan tetapi menjadi kompromi antara laki-laki dan perempuan, perempuan telah membuat jarak, dan menjadikan perempuan itu sendiri sebagai main model. Gap yang muncul antara laki-laki dan perempuan selama ini yang diisi dengan rasa kuasa dari laki-laki terhadap perempuan, serta rasa perempuan untuk berteduh di balik laki laki telah bergeser, laki-laki bisa jadi berambisi menguasai tubuh perempuan namun perempuan telah mampu menghargai dirinya dengan tidak lagi bergantung pada laki-laki,dewasa ini. Maka ketika maskulin dan feminin bertemu mereka bisa berkompromi dalam berelasi. Tidak ada lagi mereka yang tertindas. Lesbian membawa berkah akan awareness terhadap kedirian perempuan.

Relasi hasil bias gender selalu dianggap ambivalen. Bayangkan jika tidak pernah ada laki-laki dan perempuan, maka apakah kemudian relasi tersebut menghilang? Selama ini telah terkonstruksi bahwa relasi selalu bersifat antara laki-laki dan perempuan. Padahal laki-laki dan perempuan adalah identitas yang disematkan pada seseorang, identitas dari masyarakat. Tanpa adanya laki-laki dan perempuan tidak kemudian menjadikan relasi menghilang. Konstruksi maskulinitas yang  selalu lebih unggul dari femininitas lah yang telah menjadikan bias gender dalam berbagai hal di dunia ini. Homoseksualitas telah mendorong terjadinya gerakan kesetaraan itu sendiri, dan juga menjadikan perempuan semakin terperempuankan. Kelak relasi heteroseksual akan menggunakan kerangka homonormativitas—kerangka kesetaraan.

*Tulisan dimuat pernah dimuat pada situs Jurnal Perempuan (3 September 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s