Queer Cinema dalam Demokrasi

*Erlita Putranti

image

Bagi kebanyakan orang, film hanyalah salah satu komoditas dunia hiburan, sebuah sarana eskapisme sesaat dari dunia nyata. Anggapan ini pun didukung oleh keberadaan film beraliran mainstream yang memang dibuat untuk tujuan komersial, sehingga kerap kali terlalu berfokus pada special effect dan penampilan yang menarik tanpa diimbangi konten yang padat (Welsh, 2000). Padahal, film sesungguhnya dapat menjadi media alternatif untuk menyampaikan ide dan pesan yang seringkali tidak mendapat tempat di media massa mainstream seperti televisi, koran, radio, dan bahkan film mainstream itu sendiri melalui apa yang disebut Rushton dan Bettinson (2010) sebagai cinemas of the other.

Cinemas of the other merujuk pada gerakan dan usaha untuk merepresentasikan kelompok minoritas yang kerap kali direpresentasikan secara salah, atau bahkan tidak direpresentasikan sama sekali oleh media mainstream. Salah satu gerakan tersebut adalah queer cinema, yang secara khusus berfokus pada isu LGBTQIA+ (Lesbian, Gays, Bisexual, Transgender, Queer, Intersex, Asexual, and Others). LGBTQIA+ ini merupakan satu dari sekian banyak golongan minoritas yang kerap menjadi korban stereotip negatif dari media mainstream dengan berusaha menyediakan image positif melalui film-film mereka sendiri (Rushton & Bettinson, 2010).

Lebih jauh lagi, gerakan cinemas of the other seperti queer cinema berusaha melawan dominasi dan hegemoni dari pihak tertentu dalam mendefinisikan kelompok minoritas seperti LGBTQIA+. Dalam kasus ini, queer cinema menyediakan film sebagai media alternatif dan mempertanyakan penggambaran yang meninggikan heteroseksualitas dan keluarga inti dibandingkan dengan orientasi serta identitas seksual lainnya (Rushton & Bettinson, 2010). Maka, queer cinema sesungguhnya menjaga dan menghadirkan keberagaman dalam media, kondisi yang seharusnya didukung oleh sistem demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Namun di Indonesia, istilah queer cinema sepertinya masih asing bagi kebanyakan penonton film di Indonesia. Bukanlah sesuatu yang mengejutkan ketika film Indonesia yang mengangkat, atau bahkan sekedar menyinggung, isu LGBTQIA+ memang masih sedikit atau bahkan nyaris tidak ada. Padahal, LGBTQIA+ bukannya tidak menjadi korban stereotip negatif dalam beberapa film mainstream Indonesia yang menyinggung atau setidaknya menampilkan karakter LGBTQIA+. Kerap kali, tokoh-tokoh tersebut muncul hanya sebagai comedic relief atau bahan komedi. Contohnya dapat dilihat pada film ‘Comic 8: Casino Kings Part 1’ yang baru tayang pada bulan Juli lalu. Film tersebut menampilkan seorang karakter gay yang melakukan proses coming out karena merasa bahwa hidupnya terancam, secara sangat stereotipikal. Tidak hanya mengaku gay, karakter tersebut dibuat mengakui juga ketertarikannya terhadap semua lelaki yang ada, dan langsung menarik kembali ucapannya setelah menyadari bahwa ia masih hidup.

Mengapa adegan ini bermasalah? Karena adegan ini meremehkan dan menggampangkan sebuah proses penting dalam kehidupan anggota komunitas LGBTQIA+. Coming out adalah proses yang membutuhkan banyak pertimbangan untuk dilakukan, karena dapat menimbulkan berbagai sanksi sosial. Sementara adegan yang ada semata untuk mengundang tawa dan alasan untuk menjadikan karakter gay tersebut sebagai bahan lelucon dalam film ‘Comic 8’ itu justru mengirimkan pesan negatif yang memperkuat asumsi bahwa coming out akan menghasilkan sanksi sosial sehingga sebaiknya tidak dilakukan. Lebih jauh lagi, penggambaran seperti ini justru bisa memberikan efek negatif pada anggota komunitas LGBTQIA+ yang menonton, seperti mendorong mereka untuk semakin menyembunyikan identitas mereka untuk menyesuaikan diri dengan apa yang mereka pahami sebagai “normal” berdasarkan norma sosial.

Stereotip dan pesan negatif seperti yang dicontohkan di atas adalah penggambaran dari apa yang terjadi ketika kaum mayoritas memiliki kebebasan untuk mendefinisikan kelompok minoritas. Penggambaran yang muncul kerap kali dipenuhi bias, sehingga menghasilkan representasi negatif yang seharusnya dirubah melalui queer cinema. Namun, queer cinema seolah tidak terdengar gaungnya di Indonesia, bahkan meskipun terdapat film mainstream seperti ‘Arisan!’ dan ‘Arisan! 2’ yang menghadirkan tokoh gay dengan penggambaran positif, bahkan secara tepat menceritakan mengenai permasalahan personal yang lekat dengan kehidupan seorang gay di negara seperti Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut sistem demokrasi dan secara teori memberikan kebebasan untuk berekspresi melalui media dan seni seperti film, termasuk melalui queer cinema. Sayangnya, kebebasan berekspresi dan sistem demokrasi tersebut seolah menjadi teori semata ketika berhubungan dengan queer cinema dan LGBTQIA+ yang masih menjadi isu sensitif di Indonesia. Rendahnya kesadaran publik terhadap isu ini, dan penolakan serta reaksi negatif yang keras dari beberapa kelompok-kelompok fundamentalis seolah membungkam representasi positif yang mungkin berusaha untuk muncul. Bahkan, pada tahun 2010 lalu, ‘Q!Film Festival,’ sebuah festival film yang mendedikasikan dirinya terhadap queer cinema, menjadi korban karena dibatalkan secara paksa oleh salah satu organisasi massa fundamentalis berbasiskan agama (BBC, 2010). Wajar rasanya jika queer cinema tidak dapat berkembang di tengah iklim media yang tidak kondusif seperti ini.

Untungnya, perubahan bukan lah sesuatu yang dapat disingkirkan begitu saja. Perlahan tapi pasti, queer cinema mulai menampakkan geliatnya di Indonesia. Salah satu contohnya adalah film ‘Selamat Pagi, Malam’ yang menceritakan mengenai pasangan lesbian yang harus berpisah karena salah satunya harus menikah dan mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki tempat di Indonesia. Film yang dirilis pada tahun 2014 dan dikenal secara internasional sebagai ‘In The Absence of The Sun’ tersebut bahkan telah memperoleh berbagai prestasi internasional, dan menjadi penutup Singapore International Film Festival di tahun yang sama (SGIFF, 2014). Dari ranah indie, terdapat lebih banyak lagi film yang mengangkat tema ini sehingga menjadi bagian dari queer cinema, seperti ‘Parts of the Heart’ karya Paul Agusta (IMDb, 2012) atau film pendek ‘Gay/Tidak’ karya Sigi Wimala (YouTube, 2012), dan berbagai film lainnya. Bahkan, kini ada web series berjudul ‘CONQ’ yang bercerita mengenai kehidupan dua orang gay di Jakarta (CONQ, 2015).

Mungkin masih butuh waktu lama sebelum queer cinema dapat benar-benar mewarnai dunia perfilman Indonesia dan menjadi suatu gerakan yang dikenal secara luas oleh publik Indonesia. Dan akan butuh waktu yang jauh lebih lama lagi sebelum queer cinema berhasil merubah representasi negatif mengenai LGBTQIA+ dan melawan hegemoni dari kelompok dominan dalam mendefinisikan kelompok-kelompok minoritas. Namun, satu hal yang pasti adalah queer cinema, seperti seluruh gerakan-gerakan lainnya, membutuhkan ruang untuk dapat terus tumbuh dan berkembang. Ruang yang, seharusnya, disediakan oleh sistem demokrasi di Indonesia. Tanpa ruang tersebut, demokrasi hanyalah istilah belaka dan suara-suara alternatif seperti queer cinema akan terus dibungkam.

Bibliography:

BBC. (2010, September 28). Pemutaran film gay di Jakarta batal. Retrieved from BBC Indonesia: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/09/100928_gayfilmcancelled.shtml

CONQ. (2015, July 18). CONQ Web Series | CONQ. Retrieved from CONQ: http://conq.me/category/conq-web-series/

IMDb. (2012, February 1). Parts of the Heart (2012) – IMDb. Retrieved from IMDb: http://m.imdb.com/title/tt2172015/

Rushton, R., & Bettinson, G. (2010). What is Film Theory?: An Introduction to Contemporary Debates.Berkshire: McGraw-Hill.

SGIFF. (2014, December 14). In The Absence of The Sun | Singapore International Film Festival. Retrieved from Singapore International Film Festival: http://sgiff.com/films/in-the-absence-of-the-sun/

Welsh, J. M. (2000). Action Films: The Serious, the Ironic and the Postmodern. In W. W. Dixon, Film Genre 2000: New Critical Essays (pp. 161-176). Albany: State University of New York Press.

YouTube. (2012, December 10). in3D “Gay / Tidak” by Sigi Wimala / LALights Indie Movie – YouTube. Retrieved from YouTube: https://m.youtube.com/watch?v=8Tdjhmjl4DE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s