Faggot: Seleksi Alam Patriarki dan Genosida Perempuan

*Fathul Purnomo

Sejarahnya, di Inggris kata faggot digunakan untuk menyebut para junior di sekolah, mereka diperlakukan layaknya pelayan

Hendri Yulius, 2015

Mungkin anda sudah tidak asing dengan kata faggot, ungkapan ini kemudian berkembang menjadi bentuk diskriminasi terhadap laki laki yang keperempuanan. Dalam istilah yang lebih kasar, faggot memiliki padanan kata dengan banci, kurang lebih dalam kultur masyarakat Indonesia. Istilah banci dipergunakan sebagai bahan untuk melabeli laki-laki untuk kemudian di-bully. Faggot tidak hanya sekadar upaya untuk mengatakan bahwa laki-laki tertentu tampak keperempuanan dan itu menjijikkan, namun juga penyamaannya dengan pelayan. Perlu kita telisik, kenapa kemudian memadukan pelayan dengan perempuan. Apakah karena perempuan dianggap sebagai pelayan?

Kenapa kemudian laki-laki feminin dianggap seperti budak? Seorang budak yang keperempuan-perempuanan. Banci kemudian bisa diartikan sebagai seorang laki-laki yang tak berbeda dengan budak perempuan. Dan apakah laki-laki yang jantan dianggap sebagai budak laki-laki? Ternyata tidak, budaya patriarki tidak pernah memproduksi konsep setara dengan faggot. Tentu tidak, karena budaya patriarki hanya mendambakan laki-laki, dan kata laki-laki bagi mereka tidak pernah cocok dikawinkan dengan kata pelayan. Kata laki-laki akan selalu diikuti oleh jejaring konsep seperti ksatria, raja, dan pahlawan, namun bukan budak. Konsep budak adalah bentuk negasi dari maskulinitas, itulah mengapa seorang putri raja akan selalu diselamatkan oleh seorang ksatria, namun bukan seorang budak.

Banyak hal yang melatarbelakangi seorang laki-laki dilabeli sebagai seorang faggot, bisa karena dia berbicara layaknya seorang perempuan, tidak memiliki otot yang besar, atau karena memiliki penis yang kecil. Masyarakat telah terbuai dengan konsep maskulinitas ideal yang ditunggu-tunggu. Sehingga selain daripada mereka yang memiliki suara berat, berotot kuat dan berpenis besar serta berurat, tak akan dianggap sebagai laki-laki. Mereka kemudian menyebutnya sebagai faggot. Laki-laki berupaya menyeleksi siapa yang layak dan tidak menjadi laki-laki. Mekanisme seleksi alam dengan jalan mendiskriminasi laki-laki yang keperempuan-perempuanan. Menjadi perempuan seakan dianggap sebagai sebuah kecacatan, sehingga harus dikastrasi secara sosial.

Sementara kita tahu konsep maskulinitas dalam sejarah ternyata sangat dinamis. Jika hanya mempermasalahkan ukuran penis, rata-rata orang Afrika memiliki ukuran diameter dan panjang penis yang cukup besar, namun ketika kita mendengungkan kata negroid yang terlintas bukan laki-laki ideal, namun laki-laki sebagai budak, laki-laki beringas yang selalu berperangai buruk. Maka jika anda menonton film porno, sang aktor negro akan dikonstruksi sebagai laki-laki yang berhubungan seksual dengan begitu kasar dan membabi buta. Bedakan dengan konsep faggot yang memadukan perbudakan dengan gender, dalam kasus negroid, konsep budak terkait dengan ras. Konsep ukuran penis tidak kemudian menjadikan seseorang semakin maskulin, kasus kaum negroid justru menunjukkan sebaliknya. Konsep maskulinitas ternyata dinamis dan berkembang sepanjang sejarah.

Konsep cantik—termasuk Miss Universe, yang bisa jadi kecantikan mereka hanya dikonstruksi oleh Donald Trump, yang lagi-lagi laki-laki—diproduksi oleh laki-laki, selaiknya konsep maskulin sendiri juga dikonstruksi oleh laki-laki. Banyak perempuan yang senang membaca yaoi (manga gay), bukan karena besarnya penis, namun karena yaoi tampaknya melakukan hubungan dengan penuh perasaan. Yaoi menandaskan bahwa konsep maskulinitas diproduksi dari laki-laki. Laki-laki bagi perempuan bukan sekadar penis, namun lebih mendasar daripada itu. Maka jika seseorang berpenis kecil, tidak bisa serta-merta kita menyebutnya sebagai faggot. Tak ada manusia yang bisa ideal disebut sebagai faggot. Namun inilah upaya seleksi alam laki-laki. Maskulinitas tidak pernah purna, juga konsep faggot itu sendiri. Upaya seleksi ini adalah upaya yang sia-sia karena bahkan secara konsep belum pernah purna.

Semantara jika terdapat perempuan yang tomboy, ia tidak mendapatkan hujatan sebanyak faggot. Jika permasalahannya adalah ketidakcocokan gender, dimana laki-laki diwajibkan untuk selalu maskulin dan perempuan selalu tampak feminin, seharusnya masyarakat juga melabeli cewek tomboy dengan sejuta bentuk diskriminasi lainnya. Sayang masyarakat masih percaya bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Karena yang ideal adalah menjadi laki-laki, maka perempuan dianggap tidak pernah sempurna menjadi seseorang. Perempuan hanyalah upaya menjadi, karena upaya menjadi maka tidak pernah ada perempuan ideal, karena tidak ada perempuan ideal maka kemanapun arah gender seorang perempuan menuju tidak pernah dipermasalahkan, termasuk menjadi maskulin. Menjadi adalah sebuah proses, dan bukan hasil, maka produk berupa perempuan tidak pernah ada. Dalam budaya patriarki perempuan  dianggap tidak pernah ada. Kita dapati sekarang bahwa konsep faggot adalah upaya seleksi alam laki-laki, juga upaya pembumihangusan perempuan. Inilah tendensi busuk patriarki yang mampu terendus dalam konsep faggot.

*Tulisan ini pernah dimuat pada situs Jurnal Perempuan (21 September 2015)

Advertisements

One thought on “Faggot: Seleksi Alam Patriarki dan Genosida Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s