Arisan 11! BDSM

*Nicholas R.

images

BDSM.

Istilah ini telah menjadi istilah yang tidak sedemikian asing lagi di masyarakat berkat kepopuleran sebuah novel (yang juga telah diangkat ke layar lebar), Fifty Shades of Grey. Meskipun novel (dan juga film ini) tidak bisa dibilang sebagai contoh yang baik mengenai hubungan BDSM – sebagaimana telah dibahas oleh artikel dalam blog ini, kenyataan bahwa novel ini telah meningkatkan animo dan rasa ingin tahu masyarakat mengenai BDSM tidak dapat dipungkiri. Kendati demikian, apakah kita sudah benar-benar tahu mengenai seperti apa hubungan BDSM yang sebenarnya, atau apakah kita hanya menganggap bahwa BDSM hanyalah merupakan hubungan seksual yang melibatkan siksaan-pukulan-ikat mengikat dan penggunaan alat pendukung (baca:  berbagai jenis sex toys) dalam hubungan seksual?

Sekilas Pandang BDSM

Hal pertama yang perlu kita ketahui adalah kepanjangan dari BDSM. Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa BDSM merupakan singkatan dari Bondage and Discipline, Sadism and Masochism.  Hal tersebut tidaklah salah, tetapi kurang lengkap. Praktisi serta komunitas BDSM menggunakan istilah BDSM untuk menyingkat tiga jenis hubungan, sebagaimana digambarkan oleh skema berikut:

2000px-BDSM_acronym.svg

Ketiga jenis hubungan tersebut adalah Bondage and Discipline (BD), Domination and Submission (DS), serta Sadism and Masochism (SM).

Jika kita sudah mengetahui kepanjangan atau jenis hubungan dan aktivitas apa saja yang masuk ke dalam istilah BDSM, maka kita perlu mengetahui secara garis besar apakah yang sebenarnya direpresentasikan oleh istilah BDSM. Rubel dan Fairfield (2014) menyatakan bahwa istilah “BDSM” merepresentasikan sejumlah praktek (aktivitas) dan ekspresi (pernyataan) yang mengikutsertakan berbagai bentuk pengendalian/pembatasan (restraint), stimulasi sensorik, bermain peran (role playing) dan dinamika antar personal yang sifatnya terbuka. Aktivitas ini biasanya bersifat erotik/seksual pada tahap tertentu, tetapi tidak selalu terjadi persetubuhan atau penetrasi alat kelamin.

Sejarah BDSM

Awal kemunculan SM dan B&D sebagai suatu bentuk praktek erotik tidaklah terlalu jelas. Berbagai peneliti menemukan berbagai contoh dari praktek SM di sebuah situs pekuburan Etruscan (kini menjadi bagian dari Italia) yang diperkirakan berasal dari tahun 600 SM. Dalam sebuah kamar pekuburan ditemukan penggambaran erotik akan dua laki-laki memukul seorang perempuan dengan sebatang tongkat. Contoh terkenal lainnya adalah Kama Sutra dari India yang ditulis pada tahun 400 SM hingga 200 SM. Dalam Kama Sutra terdapat penjelasan eksplisit mengenai berbagai cara untuk “memukul” partner ketika berhubungan seks. Kama Sutra menjelaskan dengan rinci di mana tempat untuk memukul dan bahkan mendeskripsikan adanya “erangan bahagia penuh kepuasan” yang ditimbulkan oleh pukulan tersebut. Kama Sutra juga menyatakan bahwa untuk melakukan aktivitas yang berdampak (menimbulkan rasa sakit) bagi pihak lain saat berhubungan seks (mis.: pukulan, gigitan, atau cubitan) diperlukan izin dari si perempuan karena tidak setiap perempuan menikmati rasa sakit ketika berhubungan seks. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kama Sutra merupakan panduan tertulis pertama mengenai teknis SM.

Beberapa sejarawan mengemukakan  bahwa SM muncul sebagai suatu bentuk khusus dari perilaku seksual pada awal abad ke-18, ketika ahli di bidang medis dan hukum mulai mengkategorisasikan seksualitas manusia sebagai sebuah bentuk upaya untuk memahami hal tersebut. Ketertarikan masyarakat pada aktivitas SM semakin meningkat hingga bahkan aktivitas SM mulai muncul di novel-novel pada masa itu, salah satunya pada novel Fanny Hill yang terbit pada tahun 1769.

Istilah Penting dalam BDSM

Terdapat berbagai istilah penting yang perlu untuk kita ketahui jika kita ingin mendalami mengenai hubungan BDSM.  Beberapa istilah tersebut di antaranya:

  • Top: Individu yang memberikan stimulus, dan/atau perintah, atau yang kelihatannya mengontrol bottom. Termasuk di dalamnya adalah sadist (top yang memberikan stimulus, biasanya berupa rasa sakit kepada bottom) dan dominant (top yang mengontrol dan/atau memberikan perintah kepada bottom­-nya).
  • Bottom: Individu yang menerima stimulus atau yang kelihatannya mengikuti perintah yang diberikan oleh top- termasuk di dalamnya adalah submissive (individu yang kelihatannya lebih lemah dan ingin di”urus” serta diberikan perintah akan perilaku dan/atau kegiatan yang boleh ia lakukan oleh seorang dominant) dan masochist (individu yang menerima stimulus, biasanya/mungkin adalah pencinta rasa sakit sebagai stimulan seksual di mana rasa sakit tersebut akan meningkatkan intensitas kepuasan seksualnya).
  • Scene: Suatu periode waktu khusus saat top dan bottom terlibat dalam/melaksanakan aktivitas BDSM.
  • Safeword: Kata, frasa, atau gestur yang disepakati bersama oleh top dan bottom yang bila diucapkan akan menghentikan suatu scene.
  • Tools: Perangkat atau alat-alat yang digunakan untuk mendukung suatu scene. Termasuk di dalamnya adalah sex toys.
  • Switch: Individu yang menikmati peran baik sebagai top maupun sebagai bottom.
  • Fetish: Hal apapun di luar apa yang dianggap “normal oleh orang banyak” yang menimbulkan hasrat seksual hanya bagi orang-orang tertentu.
  • Bondage: Aktivitas BDSM yang di dalamnya terdapat pembatasan fisik, biasanya berupa ikatan atau jeratan pada bagian tubuh tertentu atau bahkan seluruh bagian tubuh.
  • Dungeon: Tempat khusus untuk menyimpan alat-alat yang digunakan dalam praktrk BDSM. Tempat ini juga bisa menjadi tempat dimana praktek BDSM tersebut dilaksanakan.

Kegiatan yang Dilakukan dalam Scene BDSM

Berikut merupakan sebagian dari banyak kegiatan (aktivitas) yang dapat dilakukan dalam satu scene BDSM:

Age play: Pada age play, top dan bottom memainkan peran seolah mereka berada dalam kelompok umur yang sangat berbeda. Submissive berperan sebagai balita yang masih perlu dirawat dan diasuh oleh dominant-nya merupakan salah satu tipe age play yang sangat populer.

Animal training: Pada animal training, top dan bottom memainkan peran sebagai hewan dan pemiliknya. Biasanya, top akan berperan sebagai pemilik hewan dan bottom akan berperan sebagai hewan yang akan dilatih oleh pemiliknya. Tetapi, kondisi ini bisa saja ditukar.

Body art or modification: Merupakan bagian dari aktivitas BDSM dimana terjadi “perubahan” pada bagian tubuh dari individu yang ada dalam hubungan BDSM tersebut. “Perubahan” ini misalkan tato, tindikan (bisa saja merupakan tindikan pada bagian tubuh yang tidak lazim untuk ditindik) dan scarcification (sengaja melukai individu lain untuk memberikan bekas luka yang mungkin saja bersifat permanen).

Pain, Caning, Beating, Whipping: Aktivitas BDSM yang paling umum dilakukan. Sesuai namanya, aktivitas ini melibatkan pemberian rasa sakit fisik yang biasanya berasal dari pukulan (langsung  dengan tangan maupun menggunakan alat tertentu) atau cambukan.

Plugging:  Sesuai namanya, aktivitas ini melibatkan “penyumbatan” baik lubang vagina maupun lubang anus dengan alat tertentu (disebut sebagai “plugs”).

Hot Waxing, Scat, Golden Showers: Hot waxing merupakan kegiatan menjatuhkan/menuangkan lelehan lilin panas ke atas tubuh. Scat melibatkan tinja dan golden shower melibatkan air seni.

Blindfolding and Gagging: Merupakan contoh lain dari aktivitas BDSM yang banyak dilakukan. Pada blindfolding, salah satu individu ditutup matanya dengan kain atau alat tertentu sehingga indera penglihatannya tidak dapat digunakan untuk sementara. Pada gagging, mulut salah satu individu disumpal dengan alat tertentu sehingga individu ini tidak bisa bersuara dengan sempurna.

Orgasm control and Denial: Merupakan aktivitas BDSM dimana seorang individu tidak boleh mencapai orgasme sebelum diperbolehkan. Pengendalian orgasme ini bisa dilakukan dengan berbagai alat yang dapat menghambat atau menunda orgasme, misalkan cock ring. Biasanya ada hukuman yang diberikan bila individu ini melakukan orgasme sebelum diperbolehkan.

Humiliation and Kneeling: Humiliation dalam hal ini memang berarti dipermalukan, tetapi dilakukan atas dasar persetujuan oleh individu yang dipermalukan.  Humiliation tidak selamanya dilakukan di hadapan umum. Penggunaan kata-kata tertentu saat terlibat dalam sesi BDSM pribadi (contoh: What a slut, you love it when I … you, don’t you?) juga merupakan bentuk humiliation. Kneeling, sesuai namanya, adalah kegiatan berlutut memohon yang dilakukan oleh seorang submissive atau masochist agar dominant atau sadist-nya melakukan hal tertentu yang diinginkan oleh submissive atau masochist ini, atau bisa juga atas perintah dari dominant atau sadist-nya.

Roleplaying: Individu-individu yang terlibat dalam scene BDSM memainkan peran tertentu yang spesifik di mana salah satu individu posisinya lebih tinggi dari individu lainnya, tetapi posisi ini bisa saja dibalik. Roleplay yang populer di antaranya adalah memainkan peran sebagai guru-murid, majikan-pelayan, narapidana-polisi, dan lain-lain.

Bondage: B dalam BDSM. Bondage merupakan kegiatan yang di dalamnya terdapat pembatasan fisik, biasanya berupa ikatan atau jeratan pada bagian tubuh tertentu atau bahkan seluruh bagian tubuh. Pembatasan/pengikatan ini dilakukan dalam berbagai tingkatan. Light bondage merupakan bondage yang hanya dilakukan saat scene BDSM dan ikatan/jeratannya biasanya tidak terlalu kencang. Heavy bondage merupakan bondage yang dilakukan sepanjang hari dan ikatan/jeratannya biasanya kencang. Multi-day bondage merupakan bondage dimana ikatan/jeratan pada tubuh tidak dilepas selama lebih dari satu hari dan ikatan/jeratannya biasanya kencang. Pada Public bondage, individu yang diikat bagian tubuhnya dengan alat tertentu ini menunjukkan pada orang lain bahwa bagian tubuhnya (biasanya dada/badan) ini diikat dengan alat pengikat tertentu.

Diapers, Collars, and CorsetsDiapers , Collars, and Corsets  bukan merupakan aktivitas, tetapi contoh alat yang digunakan untuk mendukung aktivitas BDSM tertentu. Diapers lazim digunakan pada age play, pemakaian collars merupakan salah satu simbol bahwa seseorang merupakan submissive yang terikat pada seorang dominant. Corsets juga dapat digunakan sebagai salah satu alat pendukung aktivitas bondage atau dikenakan oleh seorang submissive atas perintah dari dominant-nya.

Nipple clamps, Cock clamps, and Cock rings: Merupakan berbagai contoh dari sex toys yang lazim digunakan dalam scene BDSM. Bentuknya dapat dilihat dalam artikel ‘Sex Toys’. Nipple and Cock clamps digunakan untuk menjepit puting payudara dan penis masing-masing. Cock rings lazim digunakan untuk menghambat ejakulasi, dan biasanya digunakan oleh laki-laki submissive dalam scene orgasm control/denial.

Gambar di bawah ini menunjukkan beberapa tools yang banyak digunakan dalam scene BDSM. Terlihat juga gambar dungeon di dalamnya.

image003 image005

Paddle merupakan tempat di mana spanking biasanya dilakukan. Bentuknya berupa jok untuk ditiduri oleh individu yang akan di-spank. Posisi tidurnya biasanya dalam posisi tengkurap .

St Andrew’s cross merupakan salah satu tools yang banyak digunakan dalam bondage. Bentuknya seperti huruf X dan terdapat semacam tali untuk mengikat kaki, tangan, dan badan bottom.  Ketika diikat pada St Andrew’s cross ini, posisi kedua kaki terbuka dan kedua tangan diangkat terbuka di atas kepala sehingga tubuh bottom juga menyerupai huruf X.

Stocks  juga merupakan salah satu alat yang digunakan dalam praktik bondage.  Terdapat 3 lubang  untuk menahan kepala dan tangan bottom agar kepala dan tangannya tidak dapat bergerak. Sekilas tampak seperti bagian bawah dari pisau pemenggal  guillotine.

Pemikiran Masyarakat terhadap Praktisi dan Peminat BDSM

Hingga tahun 2003, menurut penelitian yang dilakukan oleh Cutler, istilah SM masih mempunyai konotasi yang negatif di masyarakat dan literatur yang ada juga masih mencerminkan anggapan bahwa hubungan antara individu-individu dengan kecenderungan SM adalah langka dan tidak fungsional.  Kendati demikian, penelitian Cutler ini nantinya membuktikan bahwa hubungan dengan inklinasi SM nyatanya ada cukup banyak dalam masyarakat dan seringkali justru lebih fungsional dibandingkan dengan hubungan antara mereka yang tidak melaksanakan praktek SM dalam hubungannya. Jadi, jika ada anggapan yang menyatakan bahwa mereka yang tertarik pada dan terlibat dalam hubungan BDSM adalah mereka yang pernah mengalami kekerasan di masa lalu dan pada akhirnya ingin melampiaskan “dendam” mereka pada orang lain atau sebaliknya, justru menjadi “ketagihan” akan kekerasan yang mereka terima,  hal tersebut tidaklah sepenuhnya benar atau bahkan bisa dibilang sama sekali salah. Penelitian yang dilakukan oleh Visser, et.al. (2008) juga menunjukkan bahwa kemampuan psikososial praktisi/partisipan BDSM ternyata lebih tinggi, dalam artian praktisi BDSM dapat memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan individu lain pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mempraktekkan BDSM.

Safe, Sane, and Consensual

Hal paling penting yang mendasari setiap hubungan BDSM dan yang juga seringkali dipakai sebagai slogan dari hubungan BDSM yang sehat adalah safe, sane, and consensual. Safe berarti setiap partisipan atau orang yang tertarik pada BDSM harus tahu mengenai teknik yang tepat dalam melaksanakan praktek BDSM serta peduli akan faktor keamanan terkait praktek yang akan dilakukan, dan tindakan yang dilakukan harus sejalan dengan pengetahuan tersebut. Sane berarti individu yang ada dalam hubungan BDSM harus menyadari adanya perbedaan antara fantasi dan realita, di mana ada hal-hal yang mungkin menarik secara fantasi terkadang tidak realistis untuk benar-benar dilaksanakan, serta bertindak sejalan dengan kesadaran tersebut. Consensual, setiap partisipan harus saling menghormati batas yang telah diterapkan satu sama lain. Salah satu hal penting yang ada dalam hubungan BDSM adalah safewords atau kata pengaman, yaitu kata, frasa, atau gestur, yang biasanya digunakan oleh bottom untuk menyampaikan bahwa batasan yang mereka tetapkan telah dilewati/dilanggar, tanpa mengubah kenyataan bahwa ada power exchange antara top dan bottom dalam hubungan BDSM.

Mengapa Seseorang Tertarik dengan BDSM?

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tertarik pada hubungan BDSM dan mempraktekkannya. Faktor-faktor tersebut di antaranya:

  • Rasa Penasaran. BDSM terlihat dan terdengar sangat menyenangkan, sexy, tetapi juga tabu di saat yang bersamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa minat masyarakat terhadap BDSM meningkat pesat karena melejitnya novel dan film Fifty Shades of Grey (yang sangat buruk). Rasa penasaran inilah yang membuat masyarakat menjadi tertarik pada BDSM. Meskipun praktek yang dilaksanakan dalam novel dan film tersebut bukanlah praktek dan hubungan BDSM yang benar, tetap saja rasa penasaran karena BDSM terlihat sangat menyenangkan namun tabu membuat orang ingin mencobanya.
  • Fantasi (fetish) yang sudah dimiliki sejak lama. Sebagian orang bahkan sedari awal sudah memiliki fantasi seks yang berbeda dan mungkin terlihat tidak normal di mata orang lain. Fantasi untuk diikat, dipukul, bermain peran, atau bahkan sampai pada bentuk yang lebih ekstrim seperti scat dan golden shower ketika berhubungan seks nyatanya sudah ada di benak sebagian orang tanpa ada stimulus langsung dari luar (misalkan video porno atau erotika) yang mereka terima. Adanya BDSM membuat orang-orang ini menjadi lega, karena mereka tahu bahwa apa yang menjadi fantasi mereka selama ini ternyata tidaklah sedemikian aneh, karena ada orang-orang lain di luar sana yang juga tertarik pada hal yang sama.
  • Keinginan untuk memperluas imajinasi/fantasi seks karena seks yang selama ini dilakukan dirasa terlalu membosankan, atau bahkan orang yang diajak berhubungan seks juga terlalu membosankan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan seks yang begitu-begitu saja akan membuat seseorang kelamaan menjadi bosan. BDSM memampukan seseorang untuk mencoba ranah dan cara baru untuk “menyegarkan kembali” kehidupan seks mereka, bahwa ada kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan sebelum, ketika, atau sesudah berhubungan seks yang dapat menghilangkan rasa jenuh yang mereka hadapi. Rasa bosan kepada orang-orang yang selama ini diajak berhubungan seks juga bisa diatasi misalkan dengan mencoba berhubungan seks dengan seorang sadist atau masochist, atau mencoba bondage dengan seorang yang sudah mahir dalam hal tersebut. Siapa tahu justru mereka atau mungkin menemukan sisi lain yang selama ini terpendam. Jika mereka telah mempraktikkan BDSM namun merasa bahwa BDSM tidaklah cocok bagi mereka, mereka bebas untuk tidak lagi melanjutkannya. Semuanya kembali kepada selera dan preferensi masing-masing individu.
  • Rasa takut sebagai afrodisiak (pembangkit gairah seks). Rasa takut nyatanya dapat menjadi pembangkit gairah seks. Kepuasan yang didapatkan ketika seseorang telah berhasil mengalahkan rasa takutnya ditambah dengan kepuasan yang didapatkan ketika dan setelah berhubungan seks menjadikan kepuasan yang didapat setelah melakukan aktivitas BDSM dapat dikatakan lebih tinggi dibandingkan kepuasan yang didapat dari hubungan seks yang biasa saja (vanilla).

Rasa Percaya dan Tanggung Jawab

Pada pelaksanaan praktik BDSM untuk meramaikan kehidupan seks, patut disadari bahwa terjadi power exchange antara individu yang satu dengan individu lainnya. Satu orang menyerahkan dirinya kepada orang lain sebagai suatu bentuk gift (hadiah) secara sukarela dan si individu penerima ini mengetahui dan sadar bahwa kepuasan individu lain (pemberi) ini ada dalam tangannya. Tentu menyerahkan diri kita pada orang lain bukanlah sesuatu yang mudah. Beberapa hak atau kuasa yang kita miliki atas diri kita kita serahkan pada orang lain untuk mereka gunakan meskipun tujuannya adalah agar kita dapat memperoleh kepuasan yang lebih tinggi lagi. Agar kita mampu “mengikhlaskan” diri kita dan kepuasan kita kepada orang lain, rasa percayalah yang menjadi  kuncinya.

Rubel dan Fairfield (2013) bahkan menyatakan bahwa keajaiban (magic) bisa terjadi jika kita telah memiliki rasa percaya  pada pasangan kita dan rasa percaya itu telah menjadi suatu ikatan yang kuat. Apabila kita merupakan bottom, kita dapat menyerahkan rasa takut, rasa cemas, bahkan orgasme kita di tangan pasangan kita, dan pasangan kita inilah yang nantinya akan menentukan apa saja yang akan atau tidak akan tubuh kita alami. Hal ini tidak dapat kita lakukan jika tidak ada rasa percaya antara kita dan pasangan kita. Di sisi lain, jika kita merupakan top, kita patut menyadari bahwa kepuasan dan keselamatan orang lain ada di tangan kita. Karena itulah untuk menjadi top  yang baik diperlukan latihan yang benar. Menjadi praktisi BDSM yang benar tidaklah berlangsung sekali jalan atau dalam bahasa sehari-hari dikatakan tidak ujruk-ujruk jadi.  Perkumpulan peminat BDSM biasanya melakukan pelatihan cara menjadi top yang baik dan benar serta memberikan penjelasan bagaimana menggunakan tools secara efektif dan mampu memberikan kepuasan bagi kedua belah pihak. Jadi, untuk menjadi seorang top yang baik diperlukan rasa tanggung jawab yang besar, bukan hanya asal pukul atau asal ikat atau asal menggunakan berbagai tools lainnya.

BDSM vs. Kekerasan

Penggunaan rasa sakit sebagai sarana untuk mencapai kepuasan yang lebih tinggi seringkali mengaburkan persepsi orang akan apakah BDSM itu sebenarnya dan apa bedanya dengan kekerasan (abuse). Wall of Feminism telah membagikan sebuah tabel komprehensif mengenai perbedaan antara BDSM dan kekerasan. Pada intinya, BDSM merupakan penggunaan rangsangan khusus pada tubuh untuk membangkitkan kepuasan yang dilaksanakan dalam suatu bentuk power exchange yang konsensual antara kedua belah pihak. BDSM dibangun dan membangun rasa percaya antara kedua belah pihak yang terlibat dan ada kesepakatan akan batas-batas mana saja yang tidak boleh dilanggar ketika berada dalam scene BDSM. Di sisi lain, kekerasan merupakan cara untuk melukai seseorang, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Tidak ada kepuasan yang diraih dalam kekerasan. Kekerasan berarti mengambil hak orang lain untuk kepentingan pribadi dan jelas berarti tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak karena hanya ada satu pihak yang “diuntungkan” sementara pihak lain “dirugikan”. Tidak ada komunikasi dan tentu saja korban kekerasan akan takut untuk berhadapan dengan pelaku kekerasan. Hal ini jelas berbeda dengan BDSM dimana keterbukaan sangat diperlukan dan justru timbul keinginan untuk selalu berada bersama dengan pasangan kita, bukan untuk kabur darinya.

Lalu, bagaimanakah cara kita untuk membedakan apakah kita menjadi korban kekerasan atas nama BDSM atau apakah kita sudah benar-benar menjalankan praktek BDSM dengan benar? Apabila kita menjawab “tidak” pada satu dari pertanyaan-pertanyaan berikut, maka kita telah menjadi korban kekerasan.

  • Apakah kebutuhanmu terpenuhi dan batas yang kamu tetapkan dihormati oleh pasanganmu?
  • Apakah hubunganmu dibangun atas kejujuran, rasa percaya, dan rasa hormat?
  • Apakah kamu dapat menjalankan aktivitasmu sehari-hari tanpa gangguan sedikitpun?
  • Apakah jika kamu sedang tidak ingin, kamu dapat meminta pasanganmu untuk melakukan hubungan seks yang normal/biasa?
  • Apakah kamu dapat memutuskan hubunganmu dengan pasanganmu tanpa takut bahwa kamu akan dilukai atau bahkan pasanganmu (atau partisipan lain, jika ada lebih dari 2 individu dalam 1 hubungan) melukai dirinya/diri mereka sendiri?
  • Apakah kamu dapat menolak untuk melakukan aktivitas yang ilegal secara hukum?

(dan jika kamu masih berpikir bahwa Fifty Shades of Grey merupakan contoh hubungan BDSM yang baik, kamu perlu berpikir sekali lagi dan merenungkan daftar di atas.)

Saya Tertarik dengan BDSM. Lalu, Bagaimana Saya Menemukan Orang yang Juga Tertarik pada BDSM?

Cara paling mudah untuk menemukan pasangan yang sama-sama tertarik pada BDSM, seperti juga bagaimana kita memecahkan sebagian besar masalah kita akhir-akhir ini, adalah melalui internet (serius). Banyak terdapat forum yang ditujukan untuk peminat BDSM dan dari situ kita dapat berkenalan dan bertanya-tanya mengenai BDSM lebih lanjut jika kita belum berpengalaman sama sekali. Kita dapat juga mencari komunitas/perkumpulan BDSM yang dapat kita hadiri secara langsung. Di Arizona, Amerika Serikat misalnya terdapat Arizona Power Exchange sebagai komunitas BDSM yang tergolong sangat aktif dan dapat membantu kita untuk lebih mendalami BDSM. Mereka juga menyediakan pelatihan untuk menjadi top  yang baik.

Cara lainnya adalah flagging. Flagging merupakan suatu metode untuk menunjukkan preferensi seksual kita untuk diketahui orang lain dengan mudah. Masukkan saputangan berwarna khusus (contoh: warna hitam untuk heavy SM, warna abu-abu untuk bondage) di saku belakang kiri atau kanan celana kita dan keluarkan ujungnya agar orang dapat mengetahui preferensi kita dari warna saputangan dan di saku sebelah mana kita memasukkan saputangan tersebut.

Karena kita tidak dapat mengetahui secara pasti niatan asli dan kejujuran seorang yang kita kenal melalui internet – atau bahkan melalui pertemuan langsung dalam komunitas BDSM – sebaiknya kita memulai petualangan kita di dunia BDSM dengan melakukannya di tempat khusus untuk umum yang memang ditujukan untuk aktivitas BDSM. Dengan demikian, keamanan kita akan lebih terjamin. Tentu kita haruslah pintar dan jangan mau diajak langsung ke rumah seseorang dengan dalih praktik BDSM. Syukurlah kalau misalkan orang itu memang jujur. Celakalah kalau orang itu punya maksud lain yang tidak baik pada diri kita.

Kita tidak perlu menemukan seorang yang 100% cocok dengan diri kita ketika kita mencari pasangan BDSM kita. Memang, menemukan kecocokan akan ketertarikan BDSM (sebagai contoh, seorang submissive tentu akan mencari seorang dominant sebagai pasangannya. Fetish lain menjadi kriteria berikutnya) merupakan bagian dari proses seleksi pasangan kita, tetapi menemukan pasangan yang benar-benar 100% cocok tidaklah wajib dan juga sangat susah untuk dilakukan. Pada dasarnya, setiap hubungan adalah kompromi, bukan? Tidak terkecuali dalam hubungan BDSM. Karena itulah kompromi, rasa percaya, dan persetujuan (consent) menjadi kunci utama keberhasilan setiap hubungan. Bila kamu tertarik dengan BDSM, mulailah mencari dan janganlah takut untuk mencoba karena ketakutan untuk mencoba tidak akan pernah memuaskanmu!

Referensi:

Cutler, Bert. (2003). Partner Selection, Power Dynamics, and Sexual Bargaining in Self-Defined BDSM Couples. Unpublished Doctorate Dissertation. San Fransisco: The Institute for Advanced Study of Human Sexuality

Rubel, R. J., & Fairfield, M. (2013). BDSM Mastery-Basics: Your Guide to Play, Parties, and Scene Protocols. Austin: Red Eight Ball Press.

Hawkeye, Lauren & Jameson, Lauren. (2014). BDSM Basics for Writers. Self-Published E-Book.

Richters J, De Visser RO, Rissel CE, Grulich AE, Smith AMA. (2008) Demographic and Psychosocial Features of Participants in Bondage and Discipline, “Sadomasochism” or Dominance and Submission (BDSM): Data from a National Survey. J Sex Med,5:1660–88.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s