NOTULENSI 1 – PENGENALAN HAK REPRODUKSI DAN SEKSUAL*

IMG_20151016_090803

*Rahmat Saragih

ALIANSI REMAJA INDEPENDEN

Seringkali ketika kita membahas hal terkait dengan tubuh kita, kita menggunakan kata-kata yang “dibungkus” agar terdengar lebih sopan. Padahal pemahaman isu-isu terkait ketubuhan merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk melakukan pencegahan kekerasan seksual. Melalui pemahaman yang komprehensif terkait tubuh, kita dapat mengetahui batasan-batasan sampai seseorang dapat ikut campur dalam masalah-masalah ketubuhan kita. Terkait kekerasan seksual dan isu ketubuhan, khususnya di lingkungan kampus, kasus Sitok Srengenge merupakan salah satu kasus yang menjadi tolak ukur kita dalam meningkatkan kesadaran mengenai isu-isu dan permasalahan tersebut.

Isu-isu ketubuhan dan isu-isu seksualitas merupakan isu yang ada disekitar kita dan sudah sepatutunya dibahas secara komprehensif tanpa perlu “dibungkus” agar terdengar lebih sopan. Dengan membuat kata-kata dalam pembahasan isu ketubuhan dan seksualitas terdengar lebih sopan akan menjadikan isu-isu ini terkesan dekat namun sangat jauh dari kita. Tak jarang terjadi distorsi makna ketika kata-kata dalam pembahasan isu-isu ini dibuat menjadi lebih sopan.

Oleh karena itu, penggunaan kata-kata yang sepatutnya, yang sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, merupakan salah satu cara agar isu-isu ini menjadi salah satu hal yang dapat dibahas secara terbuka dan tidak dianggap tabu. Isu-isu ketubuhan sudah dapat dibahas mulai sejak kita masih di dalam kandungan. Ketika teknologi USG sudah dapat mendeteksi jenis kelamin seorang janin, isu ketubuhan sudah dapat dibahas sejak saat itu. Jenis kelamin menjadi jangkar bagaimana kita harus bertindak dan  berekspresi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, mungkinkah masyarakat memiliki kontrol penuh terhadap apa yang harus kita lakukan di tengah-tengah mereka? Seharusnya tidak, karena terdapat sebuah konsep yang dinamakan dengan self-ownership. Self-ownership merupakan salah satu konsep diri mengenai kepemilikan tubuh, dalam konsep diri tersebut yang memiliki kontrol penuh terhadap tubuh kita adalah kita sendiri, namun seringkali masyarakat melupakan konsep ini dan ikut campur atau bahkan seringkali mengekang hak-hak ketubuhan kita.

Terdapat beberapa term yang harus dibedakan dalam pembahasan isu ketubuhan dan seksualitas, yaitu jenis kelamin, gender, dan seks. Jenis kelamin adalah sesuatu yang didefinisikan oleh kromosom dan alat kelamin kita, sedangkan gender merupakan sesuatu yang dikonstruksikan secara sosial oleh masyarakat, hal ini terkait dengan bagaimana seseorang harus bertindak sesuai dengan jenis kelamin mereka, yaitu laki-laki ataupun perempuan. Seks adalah identifikasi biologis seseorang yang biasanya mengacu kepada jenis kelamin, yang memiliki sifat secara biologis bersifat permanen, fungsinya tidak dapat diubah namun secara fisik dapat diubah melalui penanganan tertentu.

Seksualitas merupakan aspek kehidupan yang menyeluruh mencakup seks, gender, orientasi seksual, erotisme, kesenangan (pleasure), keintiman dan hal-hal terkait reproduksi. Seksualitas sendiri adalah pemahaman yang sangat luas oleh manusia terkait dirinya sendiri. Langkah awal dalam pemahaman terkait seksualitas, khususnya bagi orang-orang yang baru dalam pembahasan terkait isu ini, dapat menggunakan sebuah media yang dinamakan genderbread. Genderbread akan menjelaskan empat dimensi seksualitas yang ada di diri manusia, yaitu gender identity, gender expression, biological sex, dan attraction (romantically dan sexually).

                Terkait dengan isu-isu ketubuhan dan seksualitas, terdapat satu set hak yang dimiliki seseorang terkait dengan dirinya. Hak-hak tersebut antara lain hak untuk hidup, hak untuk bebas dan merasa aman, hak kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi, hak mendapatkan privasi, hak kebebasan untuk berpikir, hak untuk mendapatkan akses dan informasi, hak memilih untuk menikah atau tidak, hak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan dan perlindungan kesehatan, hak untuk mendapatkan keuntungan dari perkembangan ilmu pengetahuan, hak untuk berkumpul dan berpartisipasi secara politik, serta hak bebas dari penyiksaan/kekerasan. Semua orang harus menyadari bahwa mereka memiliki 12 hak-hak yang telah disebutkan diatas, dengan menyadari hak-hak mereka tersebut, mereka dapat melakukan tindakan preventif dalam tindakan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Satu set hak tersebut juga dapat diaplikasikan ketika seseorang menjadi korban dan tidak perlu takut untuk melaporkan apa yang dia alami.

*Notulensi Oleh Dimas Mahendra, SGRC UI

Advertisements

One thought on “NOTULENSI 1 – PENGENALAN HAK REPRODUKSI DAN SEKSUAL*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s