Kereta Pink Commuter Line: Sebuah Kandang Patriarki

so_news_krl1

*Fathul Purnomo

Ketika anda naik kereta Commuter Line, akan ada kereta khusus berwarna pink yang kabarnya ramah terhadap perempuan. Namun kenapa harus berwarna pink? Apakah hanya pink? Ada apa dengan warna selain pink? Apakah warna selain pink tidak toleran terhadap perempuan? Apakah seluruh dunia harus bercat pink agar ramah terhadap perempuan? Saya merasakan tremendum saat melihat kereta khusus perempuan itu berkelebat di depan saya,di saat saya sedang melamun di stasiun Universitas Indonesia (UI). Menurut saya, kereta khusus perempuan itu bukanlah solusi bagi keamanan perempuan. Kereta khusus perempuan hanya menjadikan perempuan semakin terisolir. Menurut saya, perempuan telah terjebak, karena perempuan masuk dalam permainan bahwa wanita masih lemah, yang harus diamankan oleh laki-laki dalam kereta pink. Sampai kapan perempuan harus selalu dikandangkan?


Wanita kemudian selalu harus diamankan dengan jalan dikandangkan, di rumah hingga di kereta pink, seakan-akan perempuan bukanlah makhluk sosial, dan mirip dengan rusa yang terus dimangsa predator. Meskipun perempuan sudah ‘diamankan’, dalam rumah dan dalam kereta khusus perempuan, yang sebenarnya mengurung perempuan adalah pemangsa perempuan yang berada di mana-mana. Alih-alih menjadi aman, perempuan justru masuk dalam kandang patriarki, warna pink pada kereta pertama dan terakhir Commuter Line adalah tanda bahwa perempuan masih menjadi intaian jika dilepas di dunia rimba patriarki. Kereta khusus perempuan adalah legitimasi laki-laki atas kepemilikan tubuh perempuan, dibalut dengan sutra berwarna pink keganasan patriarki, jadilah kereta abal-abal ‘pengaman’ perempuan. Pink justru mendiskriminasikan perempuan. Pink bukan warna perempuan.

Dalih kereta pink perempuan sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan hanya akan berakhir sia-sia, manakala laki-laki tidak mengubah cara berpikir yang melihat perempuan sebagai objek. Relasi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan masih bersifat “I and It”, belum beranjak pada “I and Thou”, seperti bayangan Martin Buber. Karena relasi “I and It” inilah penyebab dari eksploitasi tubuh perempuan. Kemudian kita setuju untuk tidak mencat ulang semua kereta Commuter Line dengan warna pink –yang sebenarnya tidak menjadi jaminan ramah terhadap perempuan– tentu selain itu, perlu mengaudit ulang kondisi finansial perusahaan jika berkeinginan mencat ulang Commuter Line dengan konsep ramah perempuan. Ternyata Kebijakan anti diskriminasi kemudian masih harus mendapat restu uang, di sini saya paham mengapa Karl Marx mengutuk pengkonstitusian akan uang. Padahal para bapak pengguna setia Commuter Line dan menjadi penyumbang profit Commuter Line itu telah ditopang oleh para perempuan yang sedari pagi menyiapkan sarapan tanpa dibayar. Perempuan adalah mesin industri tak tampak agar Commuter Line bisa tetap beropreasi. Namun justru di Commuter Line sendiri perempuan terkandangkan. Saya hanya bisa mengembik menyaksikanya.

Setelah membaca artikel ini, semoga PT. Kereta Api Indonesia akan memproduksi dan mempromosikan kereta yang ramah perempuan, untuk mendongkrak pendapatan perusahaan, dan lagi-lagi perihal profit. Problem masyarakat kita adalah masih dependent dan konsumtif dengan karya karya patriarki berupa hirarki gender, dan belum bisa move on. Laki-laki harus turut serta mengentaskan budaya yang patriarki ini. Perempuan harus dianggap sebagai manusia, bukan bayang bayang laki-laki lagi. Perempuan juga hadir dalam realitas sosial, dan perempuan berhak berelasi secara “I and Thou.” Perempuan yang tidak terbelenggu warna Commuter Line. Warna-warna kelam yang nampak maskulin, ataupun warna pink yang terkesan feminin ­–walaupun ternyata itu adalah polesan hirarki gender– harus kita ubah. Tak perlu ada segregasi warna, termasuk bagaimana kemudian saya bermimpi bisa menemukan celana dalam pria berwarna pink, sungguh saya nantikan Calvin Klein mempromosikan celana dalam pria warna pink. Manusia yang bebas berekspresi di mana saja, tanpa tersekat oleh warna-warna. Kereta pink maupun tidak, perempuan berhak merasa aman!

*Tulisan direvisi dengan mengganti kata gerbong menjadi kereta. Gerbong adalah wagon kendaraan yang digunakan untuk mengangkut barang. Gerbong berbeda dengan kereta, yang berarti wagon kendaraan yang digunakan untuk mengangkut orang.

**Tulisan ini pernah dimuat pada situs Jurnal Perempuan (29 Oktober 2015) dan dapat diakses pada tautan berikut 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s