Notulensi HAKTP

Pada tanggal 2 Desember 2015, diadakan pemutaran film “Misteri Anu Jatuh” karya Samaria Simanjuntak dan “Selamat Menempuh Hidup Baru” karya Dinda Kanya Dewi di Auditorium Gedung Komunikasi FISIP UI.

Acara ini adalah rangkaian dari rangkaian 16 hari tanpa kekerasan terhadap wanita, mulai dari 25 November sampai 10 Desember (Hari HAM). Diselenggarakan oleh PUSKA Gender dan Seksualitas FISIP UI yang bekerjasama dengan SGRC UI, UN Women, dan SEPERLIMA.

Acara dibuka oleh Ketua PUSKA Gender dan Seksualitas FISIP UI dan perwakilan dari UN Women. Acara ini juga memberikan kesempatan untuk launching website PUSKA Gender yang terbaru (termasuk logonya yang baru juga) di laman http://www.genseks.fisip.ui.ac.id. Akan ada tulisan-tulisan kecil setiap bulannya dan melihat perkembangan dari PUSKA Gender ini. PUSKA Gender juga sudah melakukan banyak penelitian dengan berbagai topik dan juga berkolaborasi dengan berbagai organisasi bahkan berkerjasama dengan pemerintah daerah.

“Misteri Anu Jatuh” karya Samaria Simanjuntak ini bercerita mengenai tentang bagaimana kehidupan di Wisma Bermartabat yang dikenal sebagai tempat yang sangat bermartabat. Di suatu hari, mereka menemukan “anu” (diduga adalah kondom) dan kedua pelayan yang bekerja di wisma tersebut harus bisa menemukan siapa yang membawanya dari kelima pelanggan yang ada di wisma tersebut.

“Selamat Menempuh Hidup Baru” karya Dinda Kanya Dewi bercerita mengenai Ira yang diperkosa oleh pacarnya Iwan dan karena tidak mau menjadi aib, akhirnya mereka berdua dinikahkan.

Setelah adanya pemutaran film ini, ada diskusi dengan 3 narasumber, yaitu Fadlinah Hana dari PAMFLET, Justina Rostinawati dari UN Women, serta Andreas Susanto dari Rutgers dengan Moderator Mbak Reni Kartikawati dari PUSKA Gender dan Seksualitas FISIP UI.

Pembicaraan pertama mengenai bagaimana kedua film yang diputar berhubungan dengan masyarakat Indonesia. Fia (PAMFLET) berpendapat bahwa film ini merefleksikan bagaimana masyarakat memperlakukan ODHA dan korban-korban  pemerkosaan. Andreas (Rutgers) berpendapat bahwa film ini menarik pengemasannya. Keduanya memang menggambarkan realita yang terjadi. Bagian yang menarik adalah ketika berbicara mengenai seksualitas, yang dianggap sebagai urusan publik, apalagi ketika sudah berhubungan dengan permasalahan remaja.

Untuk masalah kondom, Andreas bercerita mengenai pengalaman kampanyenya di Papua, dimana kasus HIV/AIDS tinggi. Namun penyuluhan kondom (dan kontrasepsi lain)  ditolak. Pertanyaan menarik yang ditunjukkan kepada para penonton sebenarnya adalah apa sebenarnya kegunaan dari kondom itu sendiri? Banyak jawaban yang muncul seperti untuk mencegah kehamilan, mencegah penyebaran penyakit kelamin, dan lain sebagainya.

Justina (UN Women) berpendapat bahwa sebenarnya esksitensi dari kondom itu sendiri sebenarnya masih dikaitkan dengan stigma-stigma yang negatif. Adapun patut diingat juga adalah jargon ‘ABCDE,’ yakni  A (Abstinence), B (Be Faithful), C (Condom), D (Don’t share needles), dan E (Education).

Ditekankan juga bahwa masyarakat Indonesia sering menggunakan kata penghalusan, seperti burung yang seharusnya menunjukkan kepada penis. Maka, sebenarnya dari sini sudah terlihat mengapa salah satu film yang ditampilkan menggunakan kata yang diperhalus, seperti “Anu.” Sebenarnya penggunaan kata “Anu” untuk perhalusan yang selama ini dipakai, ditujukan agar penonton bisa mengetahui makna dari “Anu” itu sendiri tanpa takut akan adanya penghakiman, dibandingkan dengan kata “Kondom.”

Ada salah satu pengalaman yang dimiliki oleh seorang audiens saat berbicara mengenai seksualitas dengan kedua anaknya, dengan menggunakan logikanya sendiri. Dia berpesan agar memberikan edukasi yang benar kepada anaknya. Jangan hanya sekedar “jangan,”tetapi juga alasan kuat di balik itu. Membuka diskusi terbuka dengan anak itu pun juga dianggap dengan baik. Mengarahkan anak-anak agar bisa mencari informasi dengan baik dan terbuka, sehingga dapat mengetahui jawaban dari hal-hal yang belum dikenalnya. Keterbukaan adalah penting.

Ajaran mengenai seksualitas sebenarnya bisa dimulai sejak kecil karena seksualitas tidak melulu soal seks, tapi bisa saja mengenai masalah higienis atau nama alat genitalia. Sebenarnya orang tua malu untuk memberikan pendidikan seksualitaskarena dari generasi atas-atasnya yang juga tidak terbuka dengan seksualitas itu sendiri; masih menganggapnya sebagai sesuatu yang rahasia dan ditabukan.

Jadi, karena kemajuan media, kita tidak bisa membendung akses pada infromasi. Sekarang pun, melakukan hubungan seks tidak lagi harus menunggu saat menikah, tapi juga di luar hubungan pernikahan. Maka dari itu, kita seharusnya bisa memberi arahan yang baik agar tidak terjadi hal yang diinginkan saat berhubungan seks dan kita sebagai orang tua juga harus bisa untuk mengikuti perkembangan zaman yang ada. Intinya, seksualitas sebaiknya diajarkan sejak kecil dan keterbukaan adalah sangat penting. Karena kita memang hidup di era digital, aksesnya pun semakin terbuka di internet.

Edukasi penting karena itu adalah merupakan bagian dari hak. Sekolah kadang masih enggan untuk memberikan pendidikan seksualitas dan menyerahkannya pada orang tua, namun tidak melihat bagaimana keadaan orang tua itu sendiri. Pendidikan seksualitas yang ada di sekolah sebenarnya masih hanya sekadar formalitas saja, tidak diluaskan lagi. Orang tua sebaiknya jangan diharapakan sebagai master dari pendidikan seksualitas.

Ditabukan atau tidak itu sebenarnya itu tidak perlu. Tabu itu sebenarnya bentukan masyarakat sendiri yang mengarah ke vulgar. Padahal kalau bisa dibuka obrolannya, bisa jadi hal itu tidak menjadi tabu. Memberi pemahaman untuk orang-orang yang belum mengerti mengenai seksualitas sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan media yang gampang merangsang orang tanpa rasa “menggurui” atau “seperti belajar,”bisa saja memberi lewat memberi kreatif, seperti film, dengan jalan cerita yang menarik . Obrolan mengenai seksualitas sebenarnya bisa lebih dibuat santai.

Seksualitas sebenarnya semata-mata tidak hanya sekitar seks, bukan juga untuk mengajarkan anak untuk berbuat seks. Tapi, pendidikan seksualitas pun juga berbicara mengenai masalah emosi dan masalah sosial. Orang tua setidaknya juga sudah bisa melepas anaknya sendiri untuk bisa mengakses pendidikan seksualitas dengan baik. Dalam pendidikan seksualitas yang komprehensif, para remaja setidaknya bisa membaca situasi apa yang beresiko/ membahayakan, belajar menolak dengan tegas. Pendidikan seksualitas juga jangan dipisah, sebaiknya bisa digabung agar bisa saling mengerti dan mengecek satu sama lain dan bisa mendapat kebenaran dari situ. Para remaja diharapkan dapat dibimbing agar bisa mencari dan menyebarkan informasi dengan baik. Kekecewaan terhadap pendidikan seks di Indonesia dikemukakan oleh salah satu audiens.

Pendidikan seksualitas di Indonesia masih sangat sedikit bahasannya dan hanya sekadar biologis saja. Bila seseorang membuka diskusi dengan teman sebayanya, ternyata masih ada yang sangat berpikiran sempit dan masih berpikiran terhadap stigma-stigma yang masih terbilang jadul. Pendidikan seks di Indonesia memang sangat sedkit. Ketertutupan informasi memang sangat menghambat para remaja untuk mendapatkan pendidikan seksualitas dan menjadi ironi sendiri karena menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya konyol, tapi di balik itu sebenarnya menunjukkan bahwa menutup informasi itu dapat menghambat akses pada informasi mendasar, yang sudah sepatutnya diketahui oleh semua orang.

*Notulensi ditulis oleh Joshua Ananggadipa Haryono (Rabu, 2 Desember 2015)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s