Perempuan, Keluarlah dari Salon! Ideal itu Mitos!

*Fathul Purnomo

Jika anda pergi ke tempat perbelanjaan produk kecantikan dan kesehatan, yang akan anda dapati adalah tiga per empat isinya merupakan produk yang ditujukan bagi perempuan. Saya terengah-engah mencari roll on pria beberapa hari lalu. Perempuan ternyata merupakan konsumen terbesar produk perawatan tubuh, bahkan dari nama tempatnya pun sudah tendensius, “kecantikan,” kenapa tidak kegantengan? Setiap hari kita dibombardir dengan iklan perawatan kecantikan di televisi. Setiap varian produk telah memiliki spot tersendiri pada tubuh perempuan. Karena pada lokasi-lokasi tersebut telah didempul dengan mitos-mitos tentang perempuan ideal.

Tubuh perempuan telah didefinisikan dengan berlapis-lapis konsep. Jika dibandingkan dengan laki-laki, anda akan lebih banyak menemukan konsep yang terkait dengan tubuh perempuan. Mulai dari muka, anda akan mendapati istilah cantik, manis, dan lucu. Untuk muka cantik pun beragam, mulai dari kulit muka yang cantik karena merah merona, putih langsat, atau cokelat eksotis. Dari kepribadian ada inner beauty serta ceria. Dari bentuk tubuh terdapat ramping, seksi, montok, dan masih banyak lainnya.

Bandingkan dengan laki-laki, dari muka maka hanya ada ganteng, istilah manis ada namun tidak setenar seperti pada perempuan, lucu pun demikian. Dari bentuk tubuh, laki-laki juga tidak terlalu bermasalah dengan bentuk tubuh dan mungkin hanya akan diklasifikasikan dalam sixpack atau tidak, bahkan sixpack pun di perempuan juga ada. Semua produk yang dikeluarkan oleh perusahaan laris-manis di pasaran karena di setiap lekuk tubuh perempuan menyimpan mitos kecantikannya masing-masing. Pendefinisian terhadap perempuan dilakukan dengan justru memberikan mitos-mitos keelokan pada setiap bagian secara partikular sehingga menjadikan tubuh perempuan terpisah-pisahkan. Konsep yang satu berkelindan dan tumpang tindih dengan yang lain, mitos-mitos menggelayuti setiap bagian tubuh.

Karena perempuan disibukkan dengan berbagai konsep kecantikan yang justru memisah-misahkan diri mereka, perempuan kemudian serasa diharuskan memiliki perhatian yang cukup besar dalam wilayah ini. Mereka mencoba menjadi sempurna, cantik, anggun, seksi, dan memiliki inner beauty sekaligus, maka banyak perempuan yang kemudian justru sibuk dengan hal-hal partikular. Katakanlah perempuan menempuh langkah demi langkah untuk menjadi seksi, berlatih gym setiap hari, fokus pada perut dan pinggang, maka pada saat yang sama ia akan memberikan porsi perhatian pada level kedua untuk pengembangan intelektualitas. Ketika pun ia sudah sixpack, sixpack tersebut hanyalah pendefinisian secara partikular dan tidak universal pada kebertubuhan perempuan. Jelasnya distingsi antar konsep menjadikan perempuan hanya bergerak pada pendefinisian diri secara partikular. Banyaknya konsep mengenai perempuan inilah yang menjadikan perempuan justru semakin lemah dan terpinggirkan, kalah dalam sejarah. Ini persis seperti kasus bahwa setiap perempuan harus menjadi ibu, sehingga banyak perempuan yang tidak bisa mendapatkan tingkat intelektualitas yang baik karena harus mengurus anak. Mitos ibu disematkan pada setiap perempuan.

Situasi ini ditangkap oleh kapitalis. Perempuan kemudian diberikan fasilitas yang begitu memanjakan demi mendapatkan konsep perempuan ideal, perempuan yang sixpack, ceria, dan menawan. Mulai dari salon untuk totok aura, sauna demi kulit yang mulus, produk perawatan kecantikan yang begitu beragam. Mitos-mitos cantik pun dimunculkan oleh industri demi melanggengkan pergerakan profit perusahaan. Bayangkan untuk perawatan kulit saja perempuan memiliki lebih dari satu, untuk satu area, ada sabun pembersih muka, setelah itu ditambah dengan pelembab, baru kemudian diberikan bedak. Jika muka berkeringat ada kertas pembersih minyak muka. Sebelum tidur wajib menggunakan pembersih khusus dan baru memakai masker. Betapa berat hidup perempuan, bahkan mendefinisikan muka pun begitu rumit dan mahal. Pengotak-ngotakan konsep ideal perempuan manjadikan perempuan teralienasi dari dirinya karena mereka berfokus dengan wilayah-wilayah partikular, ditambah lagi dengan infiltrasi dari industri yang melanggengkan ini. Menjadi perempuan kemudian begitu mahal. Sementara menjadi manusia tentu didefinisikan secara universal bukan partikular.

Bandingkan dengan laki-laki. Tidak terdapat distingsi yang sejelas pada perempuan antara ganteng, lucu, dan manis bagi laki-laki. Karena ketidakjelasan inilah yang justru menjadikan laki-laki bebas menentukan siapa dirinya. Analoginya seperti pilihan warna, karena yang diberikan bukan berbentuk pengotakan warna, namun gradasi warna. Keabu-abuan konsep laki-laki menjadikan laki-laki lebih bebas menentukan diri sendiri. Kenapa kemudian laki-laki menang dalam sejarah? Laki-laki lebih unggul dalam hal pendidikan contohnya, dikarenakan mereka tidak sibuk dengan wilayah-wilayah yang diberikan mitos seperti perempuan yang harus berbadan montok katakanlah. Laki-laki tidak mudah galau dibandingkan perempuan hanya karena masalah tubuh sebab laki-laki selalu bebas mendefinisikan diri. Inilah yang membuat laki-laki bisa berfokus pada hal yang lebih dari urusan tubuh, sehingga kemudian ekonomi, politik, dan pendidikan banyak dikuasai laki-laki. Berbeda dengan perempuan, ada noda sedikit di wajah, perempuan akan merasa sangat insecure. Belum menikah di usia 35 tahun dianggap perawan tua, belum memiliki anak dianggap wanita yang gagal dan mitos-mitos lainnya.

Duhai perempuan, tidak pernah ada perempuan ideal, terlebih mitos dibuat partikular. Keluarlah dari mitos-mitos yang diproduksi pabrikan, anda bebas mendefinisikan diri tanpa harus menjadi mahal dan justru membuat anda asing dengan diri anda sendiri. Bagaimana perempuan bisa merangsek masuk dalam berbagai sektor kehidupan jika masih digerogoti mitos-mitos pada tubuhnya yang tiada akhir.

Perempuan terus dilemahkan oleh mitos.

**Tulisan ini pernah dimuat pada situs Jurnal Perempuan (13 Desember 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s