Book Review – Tombois dan Femmes: Menantang Gender Label di Indonesia

*Nadya Karima Melati

lontar-pub-tomboifemmes.jpg
Bagaimana kelompok Lesbian di Indonesia mendefiniskan dirinya dalam masyarakat?
Indonesia yang amat luas dan berpenduduk 249,9juta (Info Bank Dunia 2015) dan terdiri dari ribuan pulau. Dan kebanyakan penelitian tentang ke-Indonesia-an berpusat pada politik dan kekuasaan di Pulau Jawa.
Bagaimana dengan penelitian yang berhubungan tentang seksualitas terutama dengan kaum lesbian di luar pulau non-Jawa dan jauh dari Ibu Kota Jakarta?

Evelyn Blackwood berupaya mengupas bagaimana kehidupan kelompok lesbian di Padang, Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pisau analisis antropologi ini mencoba melihat bagaimana kelompok gender tombois dan femmes di Padang mendefiniskan dirinya, berkelompok dan berelasi dengan masyarakat sekitarnya. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode wawancara secara intim untuk mengetahui cerita kehidupan dan hubungan para lesbian di Padang  selama  tahun 2001-2004.
Evelyn Blackwood, Profesor dari Departemen Antropologi Universitas Purdue membagi buku ini menjadi tujuh bab (1). Gender Sexuality and Queer Desires, (2). Shifting Discourse of Gender and Desire, (3). Learning to Be Boys and Girls, (4). Doing Gender, (5). Desire and Difference, (6). Ambiguities in Familiy, Community, and Public Spaces, dan (7). Translocal Queer Connections. Responden untuk penelitian ini adalah 28 orang yang terdiri dari 13 tombois dan 15 orang yang terlibat hubungan romantis dengan para tombois.
Tidak mudah menemukan kelompok Lesbian di Padang. Hal ini diungkapkan oleh penulis sendiri. Ia butuh bantuan koneksi dari waria kenalan partner penelitiannya, Sri Setyawati. Pemahaman heteronormatifitas dalam masyarakat Indonesia menempatkan hubungan sesama jenis menjadi tabu dan sulit bagi pasangan sesama jenis baik gay maupun lesbian untuk menunjukan sisi romantis di depan umum. Penelitian diawali dengan mengenal satu orang tombois yang tinggal bersama pasangannya dan kemudian dikenalkan kepada teman-teman tomboy lainnya. Walau begitu, tidak semua tombois dan pasangannya berkelompok, ada pula satu pasangan lesbian yang tidak berada dalam satu kelompok dan memisahkan diri.
Tombois dan femmes adalah istiah yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperlihatkan relasi lesbian butch dan femme dalam masyarakat Indonesia yang masih terikat dalam gender binary. Tombois bersifat dan bersikap maskulin, mengenakan celana dan kaus seperti pakaian laki-laki, merokok dan minum minuman keras, berambut pendek tapi tidak cepak, dan mengikuti budaya laki-laki muda (bujang) di Padang yang tidur di rumah temannya ataupun di surau.
Sedangkan femmes memiliki sifat dan sikap keperempuanan, pandai dalam urusan domestik, penyayang, dan pasif. Kebanyakan tombois dan femmes masih tinggal di rumah keluarga batihnya. Beberapa dari mereka menyewa rumah kontrakan dan tinggal bersama. Kelompok lesbian yang ditemui berasal dari kelas ekonomi menengah bawah yang bekerja sebagai pembantu, pelayan rumah makan, maupun tukang parkir.
Bab pertama menjelaskan posisi geografis dan kondisi budaya Indonesia beserta rezim kekuasaan ketika para responden dibesarkan. Kentalnya budaya Minangkabau dan agama Islam yang mendominasi pola berinteraksi masyarakat Padang, tak terkecuali kelompok lesbian ini, membentuk cara berpikir dan pandang mereka terhadap diri dan lingkungan yang mereka hadapi.  Dijelaskan pula bahwa perempuan yang menyukai perempuan maupun perempuan yang bersikap seperti laki-laki bukanlah hal yang baru dalam kebudyaan Indonesia. Memang, terminologi lesbian dan gay populer di Indonesia pada tahun 1980an. Namun, praktik perempuan yang berjiwa laki-laki bisa ditemukan dalam budaya nusantara seperti calalai dan banci. Begitupula dalam kisah Ramayana yang populer ketika Srikandi mengganti kelaminnya menjadi laki-laki bernama Kadarhwa dan menikahi Dewi Durhni telah ada sebelum masuk dan berkembangnya gerakan lesbian dan gay di Indonesia.
Pada bab dua, kita akan diajak  untukmelihat bagaimana kekuasaan dominan di Indonesia berupaya untuk merumuskan pemahaman kohesi tubuh dengan gender yang linear melalui pendidikan formal, pandangan agama, dan pendekatan budaya. Para tombois dan femmes belajar untuk menjadi perempuan seperti ibu mereka yang sopan, menutup aurat, dan pandai memasak. Orde Baru menciptakan hierarki gender yang menempatkan perempuan menjadi inferior dibanding masukulinitas laki-laki. Para tombois, yang dilahirkan bervagina tetapi bersikap kelaki-lakian juga diperlakukan sebagai laki-laki oleh lingkungan dan bahkan oleh pasangannya, mengalami ambiguitas yang dijelaskan pada bab 6. Dengan berlaku sebagai laki-laki, para tombois mendapatkan kebebasan yang tidak didapatkan oleh perempuan pada umumnya, yang tidak diijinkan keluar malam dan harus selalu bersikap sopan santun. Tombois, perempuan yang bersikap maskulin dan berpenampilan seperti laki-laki dianggap sebagai penyimpangan yang tidak direstui oleh negara dan agama, tetapi sesungguhnya diterima secara kultural.
Baru di bab ketiga para tombois menjelaskan bagaimana mereka mendefiniskan dirinya dan bagaimana lingkungan sekitar mendefiniskan para tombois. Dikisahkan, tombois tidak bersikap seperti laki-laki dan menyukai perempuan secara instan. Hampir seluruh responden menyatakan sejak kecil ia memilih sebagai laki-laki. Ia menyukai bermain dengan laki-laki dan memakai pakaian seperti anak laki-laki. Walaupun selama bersekolah di sekolah formal ia harus mengenakan rok. Sedangkan para femmes tumbuh seperti perempuan yang menyukai bermain masak-masakan dan sejenisnya dengan perempuan lainnya. Tombois juga bergaul dengan laki-laki dan diperlakukan seperti laki-laki tanpa adanya pelecehan ataupun digoda. Rasa malu membedakan keperempuanan dan kelaki-lakian, malu terjadi apabila perempuan tidak berlaku seperti perempuan, atau laki-laki dianggap tidak bersikap kelaki-lakian. Jika rasa malu pada perempuan diartikulasikan sebagai perasaan bersalah, para tombois seperti laki-laki mengekspresikan rasa malu dengan kemarahan.
Bab empat, ‘Doing Gender,’ memaparkan bagaimana tombois memposisikan dirinya sebagai laki-laki yang tidak mau bersikap seperti perempuan dan pasangannya juga turut memposisikannya sebagai laki-laki. Walau begitu, mereka tetap saling menilai perilaku sesamanya dengan standar nilai yang normatif. Saling mengukur kadar maskulinitas di antara sesamanya. Tombois juga menggunakan hegemoni maskulinitasnya untuk menjaga relasi bersama pasanganya yang diharapkan berperilaku sebaliknya, feminim. Hal ini dikisahkan pada paragraf awal buku ini, Robi, tombois yang meminta pacarnya, Noni, untuk membuat teh bagi Evelyn Blackwoods sebagai tamu mereka. Para tombois juga menggunakan bahasa maskulin yang digunakan oleh laki-laki yakni ‘wa’ang’ untuk menyebut dirinya sendiri.
Hasrat tombois dan femmes dijelaskan pada bab selanjutnya, bab lima memperlihatkan bahwa kebanyakan para tombois merasa kalau ia harus mencoba menyukai laki-laki karena dianggap sebagai ‘kodrat.’ Beberapa dari responden pernah menikah kemudian bercerai, ada pula yang pada usia remaja pernah mencoba memacari laki-laki namun ternyata hal tersebut tidak disukainya. Sedangkan dengan femmes lebih banyak yang dulunya mengencani laki-laki sebelum berpacaran dengan tombois yang sekarang.
Upik, salah satu responden femme, pernah menikah dengan laki-laki dan memiliki satu anak, sebelum kemudian bercerai dan merasa bersama dengan kekasihnya sekarang yang seorang tomboi membuat ia merasa lebih nyaman. Hampir semua tombois mengakui bahwa mereka mempunyai hasrat terhadap perempuan diabandingkan dengan laki-laki sejak dulu, sedangkan untuk femmes terbagi, ada yang baru menyukai tombois sejak berpacaran, dan ada pula yang berkata sejak dari dulu memang lebih menyukai tombois dibandingkan laki-laki.
Heteronormativitas kemudian menguji para tombois dan femmes ini, mereka merasa memiliki kewajiban untuk menikah dengan laki-laki dan mempunyai anak. Perasaan kolektivitas dan kesetiaan kepada keluarga menjadi batu kerikil dalam perasaan mereka. Tidak jarang mereka dipaksa untuk menikah dan berdasarkan wawancara, para tombois lebih keras untuk menolak paksaan menikah dibanding pasangan perempuannya. Namun hal ini tidak membuat para tombois tidak merelakan apabila suatu hari nanti pasangannya harus menikah dengan laki-laki karena mereka merasa hubungan percintaan mereka tidak memberikan tujuan akhir (menikah).
Bab enam memaparkan ambiguitas para tombois dan hubungannya dengan femmes dalam masyarakat dan keluarga. Kesetiaan kepada keluarga membuat para tombois, walau masih memakai simbol-simbol maskulin seperti celana, kaus, dan rambut pendek di luar rumah, bersikap sebaik mungkin di dalam rumah.  Mereka menyadari bahwa keluarga adalah segalanya, salah satu responden mengatakan, “tidak ada yang namanya mantan keluarga, adanya mantan pacar.” (hal 158)  Para tombois tidak segan melakukan tugas rumah tangga walaupun tetap saja, kebanyakan waktu mereka, mereka habiskan di luar rumah seperti laki-laki Minang pada umumnya. Mereka tidak masalah dipanggil ‘uni’ oleh keluarganya. Ambiguitas para tombois juga menolong mereka untuk tidak dicurigai apabila tinggal bersama dengan pasangannya. Walaupun dengan catatan, mereka tetap tidak bisa menunjukan hubungan romantis mereka di depan umum. Namun tetap saja konflik perasaan tombois ada pada dalam dirinya; menjadi seorang laki-laki, perempuan yang mencintai, dan kesetiaan pada keluarga. (hal 176)
Bab terakhir melihat bagaimana kelompok lesbian tombois dan femmes di Padang ini dalam konteks yang lebih luas. Hubungannya dengan aktivis lesbian dan gay di Indonesia dan bagaimana diskursus pengetahuan tentang queer yang diperoleh kelompok lesbian di Padang ini. Kelompok lesbian yang diteliti Evelyn Blackwood yang masih terikat dengan gender binary, hanya menyediakan sifat maskulin dan feminis, dan tidak percampuran keduanya, yakni Androgini. Walaupun ada satu orang lesbian androgini di Padang, tetapi perempuan tersebut tidak berada dalam lingkaran kelompok lesbian yang diteliti.
Para tombois dan femmes menyadari dan mengakui dirinya sebagai lesbian berdasarkan Informasi yang mereka temui di media cetak. Pengetahuan seksualitaasnya tidak didapat secara langsung dari pergerakan lesbian/gay di Indonesia ataupun dari internet (hal 206). Pengetahuan queer yang asimetris, menurut analysis Evelyn Blackwood tentang keadaan kelompok lesbian di Padang ini, jika dibandingkan pengetahuan queer yang bisa didapatkan oleh kelompok menengah atas, berpendidikan, dan urban yang berpatokan dengan diskursus pengetahuan queer ala Barat. Penelitian ini juga menunjukan interseksi dari etnis, kelas, dan gender yang menghasilkan gender khusus dan subjektivitas seksual yang menunjukan bahwa tidak adanya homogenitas yang bersifat global, ataupun identitas queer yang bersifat nasional. Strategi untuk mencapai kesetaraan hak-hak seksual harus peka dengan perbedaan para kelompok, bangsa, dan wilayah di seluruh dunia.

Tombois dan Femmes: Menantang Label Gender di Indonesia

Judul: Tombois and Femmes: Defying Gender Labels in Indonesia

Penulis: Evelyn Blackwood

Penerbit: The Lontar Foundation, Jakarta, Indonesia

Jumlah Halaman: xi+251

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s