Our Friend : Pernyataan Sikap Forum LGBTIQ Indoneisa : Hentikan Diskriminasi terhadap LGBTIQ di kampus oleh MENRISTEK

Polemik keberadaan Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia banyak sekali menuai komentar terkait komunitas LGBT di Indonesia, khususnya di dalam ruang lingkup pendidikan di perguruan tinggi. Mulai dari masyarakat sipil, akademisi, sampai pejabat negara, berebut membuat opini yang sayangnya negatif.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir menegaskan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) semestinya tidak boleh masuk kampus, Menurut dia, kelompok LGBT bisa merusak moral bangsa, dan kampus sebagai penjaga moral semestinya harus bisa menjaga betul nilai-nilai susila dan nilai luhur bangsa Indonesia (Antara News, 23 Januari 2016).

Sebelum jauh berasusmsi tentang LGBT yang merusak moral bangsa ini ada baiknya kita memahami beberapa konsep tentang LGBT, yaitu :

  1. Seksualitas nonheteronormatif (yang dapat berwujud identitas lesbian, gay, biseksual) adalah varian dari keberagaman orientasi seksual yang duduk setara dengan heteroseksualitas. Sedangkan trans* adalah varian dari keberagaman identitas gender yang juga duduk setara dan sama dengan perempuan dan laki-laki.
  2. Poin 1 diatas didukung oleh beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak-pihak akademisi, yang a.l. bermuara pada keputusan WHO pada 1990 mencabut homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa, yaitu pada nternational Classification of Diseases (ICD) edisi 10. Asosiasi Psikologi Amerika menyatakan bahwa penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa homoseksualitas adalah variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia. Sejak kali pertama diterbitkan pada 1952, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) menuai pujian dan juga kritik. Hingga kini, DSM sudah mengalami revisi lima kali. Dalam edisi ke-5 baik homoseksualitas maupun identitas trans* tidak lagi digolongkan sebagai gangguan jiwa. Indonesia juga tidak ketinggalan melalui Pedoman Penanggulangan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) ke II pada tahun 1983 dan III tahun 1993 telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa.
  3. Poin 2 menunjukan bahwa sesungguhnya kajian-kajian tentang seksualitas khususnya LGBT selalu didasari dengan kajian ilmiah, bukan hanya asumsi dan persepsi.

Selain poin-poin diatas, hukum tertinggi Republik Indonesia, UUD 1945, telah menjamin hak asasi manusia setiap warga negara, termasuk di dalamnya LGBT. Ada sekitar 40 hak konstitusional warga negara Indonesia, Beberapa hak yang dimaksud di antaranya hak untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi (Pasal 28 F), hak mendapatkan pendidikan (pasal 31 ayat 1, pasal 28 C ayat 1 ), hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul (28 E ayat 3), hak untuk menyatakan pikiran (28 E ayat 2), hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun (Pasal 28 I ayat 2), dan masih banyak lagi.

Berangkat dari hal diatas, kami organisasi-organisasi LGBTIQ se-Indonesia menyatakan :

  1. Negara dan pejabat di dalamnya, yang seharusnya berkewajiban melindungi, memenuhi, menghargai dan mempromosikan hak asasi manusia, telah menjadi pelaku pelanggaran HAM dengan dalam hal ini telah melakukan diskriminasi terhadap LGBT yang merupakan bagian dari warga negara.
  2. Pelarangan LGBT di kampus adalah pelanggaran hak konstitusional warga negara, yaitu hak atas pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi pada pasal 31 ayat 1 dan pasal 28 C ayat 1.
  3. Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) adalah bagian dari kebebasan berkumpul dan berserikat Pasal 28 E ayat 3 , Hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan segala jenis saluran yang tersedia pasal 28F.
  4. Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi harusnya punya wewenang untuk dapat membuat kebijakan-kebijakan dalam pendidikan tinggi sehingga dapat mencetak akademisi yang cerdas, humanis dan nondiskriminatif terhadap segala lini kemasyarakatan. Bukan melakukan diskriminasi itu sendiri.
  5. Kampus sebagai ruang reproduksi pengetahuan dan agen perubahan seharusnya berperan penting dalam menciptakan kondisi sosial yang lebih aman, nyaman, dan saling menghargai sesam warga negara melalui pendidikan, sosialisasi yang lebih humanis bukan malah menjadi pelaku diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
  6. Menristek seharusnya memahami kembali Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Bukan sebagai penjaga moral, tetapi mereproduksi pengetahuan yang lebih bermoral untuk penghargaan martabat setiap manusia termasuk LGBT.
  7. Bapak Muhammad Nasir Djamil selaku anggota Komisi III DPR RI seharusnya memahami kerangka hak asasi manusia secara tidak parsial. Orang dengan orientasi seksual, identitas gender dan ekspresi gender yang berbeda di republik ini adalah bagian dari warga negara yang sah. Pemenuhan dan perlindungan HAM seharusnya juga diperuntukkan bagi mereka, bukan malah menyebut sebagai perusak moral bangsa.

“Hak LGBT adalah Hak Asasi Manusia”

“Setiap orang berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman, ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi “
-UUD 1945 pasal 28G ayat 1

“Setiap orang berhak untuk bebas dari perlakuan diskriminasi atas dasar APAPUN”
-UUD 1945 pasal 28 I ayat 2

“Setiap orang berhak atas pendidikan dan memperolah manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya”
-UUD 1945 pasal 28 C ayat 1 dan Pasal 31 ayat 1

ATAS NAMA FORUM LGBTIQ INDONESIA.

JAKARTA, 24 JANUARI 2016

*Tautan resmi sila rujuk http://forumlgbtiqindonesia.org/2016/01/26/hentikan-diskriminasi-terhadap-lgbtiq-di-kampus-oleh-menristek/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s