Belajar Gender dari KPop

*Fathul Purnomo

​Tak sengaja rekan-rekan saya membuka folder berisikan kpop music video dan memutar sebuah video dari BTS—salah satu boyband korea—berjudul “Dope” versi dance practice dalam laptop saya. Dengan semena-mena mereka langsung menggugat dengan mengatakan bahwa tidak ada yang asyik dengan video tersebut, terlebih seluruh anggota grup BTS adalah laki-laki. Mereka merasa bahwa yang harus dinikmati oleh laki-laki adalah selain daripada yang laki-laki, dan sekaligus yang tidak mengimitasi perempuan. Bahkan mereka merasa bahwa menari merupakan bagian dari perempuan, sehingga laki-laki yang menari (laki-laki yang mengimitasi perempuan) adalah suatu hal yang menjijikkan. Mereka semakin menggelinjang tak tahan manakala menonton beberapa video keseharian dari kpops star laki-laki yang senang berpelukan, saling berpegang tangan, tidur-tiduran mesra, dan segala bentuk aktivitas lainnya yang bagi mereka tampak sangat menjijikkan karena hanya dilakukan oleh para perempuan atau para faggot saja, sekaligus tertegun manakala mereka tahu bahwa kesemuanya adalah laki-laki heteroseksual.

Miris mendengar ujaran mereka mengenai kpop stuffs, bukan karena mereka menyerang idola saya, namun lebih dikarenakan mereka adalah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di kampus ternama, UI. Entah darimana asalnya mereka mendapatkan konsep dimana laki-laki hanya harus menikmati perempuan, bahkan dalam hal musik. Mereka beranggapan bahwakpop boyband tidak maskulin. Mereka akan baik-baik saja manakala berjumpa penggemar Ariel Noah, namun mereka akan melompat-lompat sambil mengumpat-umpat manakala mendapatifanboy kpop. Permasalahannya adalah bahwa bentuk kekagumanpun dalam benak mereka hanya boleh diberikan pada laki-laki yang maskulin sempurna dan perempuan feminin saja, dalam perkara ini menganga sebuah persoalan besar. Bisa dipahami kenapa salah satu suku pedalaman di Papua mempraktikkan suatu ritual dimana pemuda yang beranjak dewasa harus mengoral penis kepala suku termaskulin demi transfer maskulinitas, dan aktivitas tersebut dianggap biasa.

Lalu jika bahkan para laki-laki kpop—tentu mereka tidak tahu bahwa ada juga bentuk beast boys—adalah perwujudan dari laki-laki yang feminin, maka salahkan kemudian jika kita menggemarinya? Sangat tampak ini adalah upaya menjaga trah maskulinitas lama, laki-laki feminin dianggap mengancam kelangsungan hidup masyarakat—lagi lagi kembali ke masa berburu dan meramu. Sehingga perjuangan gender ketiga di Indonesia sepertinya masih akan berdarah-darah, karena pemahaman semacam bahwa hanya mereka yang maskulin sempurna dan atau feminin sajalah yang boleh dikagumi serta alam bawah sadar sebagian besar rakyat Indonesia menganggap laki-laki kemayu tidak pernah eksis, dan jikapun ada tampak mengancam.

Dari segi pembacaan pada perempuan, patut dicurigai bahwa tuntutan untuk hanya menggemari girlband dilatarbelakangi kuasa mengobjektifkasi perempuan. Para anggotagirlband yang cantik nan elok tersebut digunakan sebagai pemuas mata semata. Para laki-laki menonton JKT 48 hanya sebagai pemuas dahaga seksualitas saja, persis seperti indutri pornografi yang sangat mengedepankan sudut pandang laki-laki, dan sebaliknya perempuan diekspos demi pemuas saja, jika ini juga terjadi pada girlband tentu sangat disayangkan.

Kebengisan kawan-kawan saya bertambah manakala melihat para boyband korea juga menari. Entah mengapa, menari diasosiasikan dengan bentuk feminin, kuat dugaan hal ini terjadi dikarenakan pengaruh prostitusi. Jika anda berkunjung ke pantura, maka akan banyak tempat remang-remang yang menjajakan perempuan-perempuan pemuas pengguna jalan. Sopir truk antar provinsi biasanya akan berhenti dan sebagai bentuk daya tarik selain hanya berjajar di samping jalan adalah dengan memberikan hiburan musik dangdut. Karena sang penjaja adalah perempuan, maka yang menyanyi juga adalah perempuan yang sekaligus mencoba menggugah berahi para calon pelanggan dengan jalan bergoyang. Tak hanya di pantura, juga di Timur Tengah memiliki cara yang sama, para wanita arab berlenggak-lenggok menari sambil diiringi musik demi memuaskan hasrat para tuannya. Terjadi pergeseran makna dari menari, tentu hal tersebut salah karena tarian tidak pernah bergender. Ketika laki-laki menari adalah suatu bentuk penyelewengan kodrat, maka bagi rekan-rekan saya, boyband korea menari adalah suatu kesalahan fatal.

Beranjak pada serangan mereka yang melihat bahwa aktifitas berpelukan, bergandengan tangan, dan berbagai hal lucu lainnya hanya milik perempuan juga sepertinya bermasalah. Dugaan sementara hal ini dilatarbelakangi oleh historisitas kaum laki-laki dimulai dari fase berburu dan meramu dimana laki-laki yang harus turun ke hutan mencari makan. Maka inisiasi yang harus dilakukan adalah dengan memisahkan pemuda dari ibunya agar ia mulai kuat dan tidak lagi menyusu pada ibu yang cenderung menjadikan ia lemah karena selalu tergantung dengan sang ibu. Dalam fase pemisahan ini sekaligus menjadikan mereka harus mulai mengangkat tombak berburu babi demi mengisi perut, tak ada lagi waktu berpeluk-pelukan dengan ibu, tak ada lagi masa bergandengan tangan dan cium kening dari ibu, karena sang Ayah hanya akan mengajarinya berlari demi mencari mangsa sekaligus menghindari pemangsa. Sebaliknya, karena perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, maka mereka tetap terbiasa dengan perilaku ibu yang lucu-lucu tersebut, seperti halnya bergandengan, berpelukan, dsb. Ini menjadikan saya paham mengapa etos ibu adalah penuh dengan welas asih, cinta dan kasih sayang, relasi yang erat dsb.

Promosi untuk percaya diri berpelukan, bergandengan tangan, dan berbagai hal mesra lainnya dengan sesama laki-laki sepertinya perlu digalakkan. Ayolah bung, ini tahun dimana anda tak perlu angkat tombak demi mememenuhi gizi harian, sehingga kenapa kemudian laki-laki harus lagi-lagi berseloroh tentang maskulinitas lama. Bahkan konsep maskulitas itu sendiri selalu bergerak. Tidak ada perilaku yang diciptakan hanya demi gender tertentu. Belajarlah dengan menonton kpop, mereka telah merombak bentuk maskulinitas lama yang erat kaitannya dengan otot, berani berbuat hal-hal yang selama ini dianggap tabu dalam ranah laki-laki, dengan begitu anda mungkin akan memahami makna gender sebenarnya dan tidak lagi berpikir serta bertindak diskriminatif.

**Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan pada 19/1/2016 dan dapat diakses dihttps://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/belajar-gender-dari-kpop

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s