Kpop : Maskulinitas baru prototipe kesetaraan?

*Fathul Purnomo

Pasca runtuhnya masa berburu dan meramu, modus maskulinitas pun kemudian mulai berubah. Aktivitas laki-laki yang sudah tidak lagi banyak memerlukan bantuan masa otot menjadikan maskulinitas lama mulai bergeser. Maskulinitas lama mulai merekah dan melahirkan bentuk maskulinitas baru yang mulai mengimitasi modus umum feminitas dan juga lebih banyak menggunakan otak. Walaupun mitos mengenai laki-laki ideal dalam bentuk maskulinitas lama masih saja menghantui banyak pria. Mitos ini banyak menjangkiti pria, terlebih di negara berkembang. Dalam dunia industri, kantor perusahaan akan ditempatkan di negara negara maju, sehingga menuntut para pekerja lebih banyak menggunakan fakultas otak—ini pula cikal bakal dari sebagian fragmentasi maskulinitas baru. Sedang para pekerja kelas bawah yang banyak berada di negara berkembang karena perusahaan-perusahaan besar menempatkan pabrik mereka di sana menjadikan mereka lebih banyak bergantung pada otot. Hal ini mungkin menjadi jawaban kenapa Indonesia masih bertengger pada angka KDRT yang tinggi mengingat masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan otot. KDRT ternyata berkorelasi erat dengan penguasaan pengetahuan.

Jika kaum menengah ke bawah difasilitasi dengan menjadi buruh dan memuluskannya sebagai agen KDRT, maka kaum menengah ke atas didukung oleh adanya tempat gymGym sebenarnya adalah upaya pengembalian romantisisme maskulinitas lama. Gym adalah upaya mempertahankan etos laki-laki untuk terus menggunakan otot. Para perempuan juga datang kegym untuk memperbaiki bentuk tubuh karena telah termakan iklan yang merupakan produk imajinasi laki-laki akan perempuan ideal. Gym berguna membesarkan laki-laki dan terus mengkerdilkan perempuan. Gym adalah pembendaan peninggalan purba kala (baca: pembesaran masa otot). Zaman berburu dan meramu sudah berakhir, sehingga gym tak ubahnya artefak yang masih tersisa dari upaya menjaga peradaban di masanya yang hari ini sudah tidak lagi relevan. Pemeliharaan tempat gym melanggengkan atmosfer pria sebagai superior dan perempuan harus tetap terus terdomestifikasi.

Transformasi maskulinitas lama terkait erat dengan perubahan konstelasi zaman, dimana banyak dipengaruhi salah satunya oleh teknologi dan informasi. Di abad ini kemampuan bertahan manusia terbantu lewat penemuan teknologi dan informasi yang terus termutakhirkan. Mulai dari bidang kedokteran, sains, arsitektur, dsb. Bagaimana penemuan mereka memengaruhi peradaban manusia dan meningkatkan kelangsungan hidup manusia? Anda bayangkan saja berkat teknologi seorang pemuda di kampung mampu menjual produknya ke luar negeri berbekal smartphone. Sains juga tak kalah hebat, kabarnya hari ini sudah dimulai riset mengenai prediksi kapan seseorang akan berhenti hidup dan sekaligus prediksi ini bisa direkayasa, luar biasa! Tentunya lagi-lagi diperlukan piranti teknologi untuk dapat menyempurnakannya. Para arsitektur juga semakin lihai membuat desain tata letak tempat tinggal yang juga mampu meningkatkan harapan hidup manusia. Kita patut berterimakasih kepada otak yang telah membantu menemukan semua penyokong peradaban manusia ini. Tak salah jika yang paling pertama diperhatikan di zaman ini adalah otak.

Pada masa berburu dan meramu perempuan-perempuan lebih condong mencari pejantan dengan masa otot paling baik. Hal ini dilatarbelakangi oleh faktor kelangsungan hidup manusia, dimana laki-laki yang berotot akan memiliki probabilitas bertahan hidup lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berbadan ringkih, yang berotot tentu akan lebih mudah mendapatkan babi. Perpindahan modus maskulinitas ini pula yang menjadikan perempuan juga mulai berpikir ulang untuk tidak hanya melihat laki-laki dari masa otot, namun otak.

Berkaca pada Amerika Serikat, meskipun di sama pria relatif lebih unggul dalam rasio (baca: selain otot), namun masih saja terus mempertebal sekat antara maskulin dan feminin.  Sebaliknya Korea Selatan adalah negara yang masih sangat mementingkan otot sampai saat ini mengingat Korea Selatan masih mewajibkan para pemudanya untuk mengikuti wajib militer guna mengantisipasi serangan dari Korea Utara, namun mereka telah mampu mempertipis sekat antara performa maskulinitas dan feminitas. Spekulasi saya mencuatnya maskulinitas baru di negara ini adalah hasil respons terhadap penolakan bentuk etos maskulinitas lama. Persis seperti orang yang baru menyadari kebebasan manakala ia justru tak sedang bebas. Korea Selatan telah mentransformasi maskulinitas, ini tampak dari aktivitas boyband yang bisa dirasa sangat jauh dari kesan maskulinitas lama, termasuk dalam keseharian mereka yang memang senang berpelukan, bergandengan tangan, dsb. Tampaknya hal tersebut tercipta demi meningkatkan kohesitas diantara orang Korea Selatan agar tetap kuat dan tidak mudah pecah ketika suatu saat mereka tiba-tiba harus berperang melawan Korea Utara. Maskulinitas baru adalah bentuk pelampauan atas faktisitas berupa maskulinitas lama. Sikap-sikap yang selama ini dianggap feminin adalah justru upaya kita untuk bisa menjalin kekuatan. Berkat maskulinitas baru ini pula Korea Selatan menjadi negara yang sangat komunal, mudah dikoordinasi, ini tampak dari girlband dan boyband yang terdiri dari belasan orang dan menari bersama dengan seirama.

Feminitas kemudian dikonversi menjadi kekuatan. Namun disayangkan, meskipun Korea Selatan adalah pelopor dari gerakan maskulinitas baru dan ada pengakuan secara kolektif atas sifat feminin yang justru menguatkan mereka, akan tetapi sampai saat ini Korea Selatan masihlah negara yang termasuk tidak ramah terhadap perempuan. Cairnya gender selama ini diprediksi mampu mempermudah infiltrasi perempuan dalam ranah publik, dimana hierarki metafisis yang memandang maskulinitas lebih unggul dibanding femininitas tidak lagi terjadi. Sepertinya hal tersebut harus dikaji ulang, karena bagaimana pun Korea Selatan adalah negara yang memiliki bentuk maskulinitas baru dan sekaligus meminjam etos feminin demi pertahanan negara namun belum mampu mereduksi paham masyarakat yang misoginis.

Jika anda perempuan Korea dan tidak cantik maka anda akan sulit mendapatkan pekerjaan. Itulah mengapa angka operasi plastik begitu tinggi di Korea Selatan. Sistem patriarki ini difasilitasi lagi-lagi oleh kapitalis. Atau jika anda adalah anggota dari girlband tertentu dan sengaja atau tidak badan anda agak terbuka ketika bernyanyi, maka masyarakat akan mengumpat anda. Karena tubuh yang terbuka dipandang sebagai langkah menuju perempuan tidak baik. Lagi-lagi mitos dihadirkan, berupa perempuan tidak baik. Sedang di sisi lain, masyarakat masih mengagung-agungkan perempuan yang penurut dan lemah lembut. Masyarakat seharusnya sadar bahwa justru para anggota girlband tersebut adalah citra dari perempuan-perempuan hebat. Perempuan yang menitikberatkan pada kapabilitas dirinya untuk terus hidup. Perempuan yang mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Kasus terbaru adalah anggota girlband SNSD bernama Taeyon yang memiliki kualitas olah vokal sangat baik, namun ketika SNSD sedang konser dan melakukan lipsync, para netizen mem-bullymereka—termasuk Teayon—dengan salah satunya mengatakan bahwa SNSD selama ini memang tidak pernah mengandalkan kualitas, namun hanya berjualan badan semata. Berbeda dengan boyband, yang jika bahkan mungkin mereka hanya memakai celana dalam di atas panggung, para kpoper masih akan membelanya dengan alasan totalitas. Tentu hal ini sangat disayangkan, dimana bentuk maskulinitas baru dan afirmasi feminitas secara massal, sebagai bentuk tidak adanya lagi hierarki gender masih belum bisa mengantarkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Maskulinitas baru yang sudah tidak lagi bertumpu pada otot harusnya bisa lebih jinak dan tidak lagi kasar terhadap perempuan. Sepertinya masih diperlukan perbaikan di beberapa variabel terkait selain daripada penyetaraan jenis performa gender. Dan lagi- lagi perempuan masih harus berjuang lebih keras demi kehidupannya.

*Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan pada 17/01/2016 dan dapat diakses di https://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/kpop-maskulinitas-baru-prototipe-kesetaraan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s