Orientasi Seksual : Sebuah Pengantar

*Ferena Debineva

Apa yang dimaksud dengan orientasi seksual?
Apa dimensi dari orientasi seksual?
Apa yang dimaksud dengan fluidity dalam seksualitas?

 

 

American Psychological Association (2008) mendefinisikan orientasi seksual sebagai “an enduring pattern of emotional, romantic, and/or sexual attractions to men, women, or both sexes.” (American Psychological Association, 2008, p.1)

American Psychological Association (2008) juga mengatakan bahwa
orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual, meskipun perilaku seksual berkaitan dengan orientasi seksual. Orientasi seksual juga berbeda dari jenis kelamin dan gender, termasuk jenis kelamin biologis (anatomi, fisiologi, dan karakteristik genetik yang terkait dengan menjadi laki-laki atau perempuan), identitas gender (kesadaran psikologis sebagai lelaki atau perempuan), dan peran
gender sosial (norma-norma budaya yang menentukan perilaku feminin dan maskulin). Orientasi seksual merujuk kepada bentuk hubungan dengan orang lain, namun bukan hanya dalam bentuk hubungan yang sudah ataupun tengah dijalani.

Individu mengekspresikan orientasi seksual melalui perilaku dengan
orang lain, termasuk tindakan sederhana seperti berpegangan tangan atau berciuman. Dengan demikian, orientasi seksual erat kaitannya dengan hubungan pribadi yang intim yang dapat memenuhi kebutuhan akan cinta, keterikatan, dan kedekatan. Selain perilaku seksual, ekspresi orientasi seksual mencakup pula afeksi non-seksual antara pasangan, adanya nilai-nilai dan tujuan bersama, keinginan untuk saling mendukung, dan komitmen berkelanjutan (American
Psychological Association, 2008)

Kinsey (1948; 1953) meyakini bahwa orientasi seksual, bersifat kontinum, bukan hanya kategorisasi heteroseksual-homoseksual, namun juga terdapat orientasi seksual yang berada di tengah/mengarah ke tengah.

“Sexual orientation was not an either/or situation in which one is either completely heterosexual or completely homosexual but instead that sexual orientation is on a continuum, with some people falling at either extreme and some falling closer to the middle.” (Kinsey, Pomeroy, & Martin, 1948, p.638)

Sejalan dengan Kinsey, Klein (1948; 1953) menyatakan bahwa orientasi seksual bersifat kontinum. Namun, meskipun menggambarkan orientasi seksual secara kontinum, skala Kinsey dirasa kurang efektif, karena orientasi seksual masih diasumsikan dan diperlakukan sebagai suatu konstruk yang bersifat unidimensional berupa identifikasi diri.

Fritz Klein, (1993) membuat Klein Sexual Orientation Grid (KSOG) untuk menilai beragam dimensi serta perubahan individu dari waktu ke waktu. Klein membuat tahapan waktu identifikasi diri menjadi tiga bagian, yaitu masa lalu, masa kini, dan ideal. Refleksi identitas diri
ini dilakukan berdasarkan relasinya ke masa lalu (seumur hidup sampai 12 bulan yang lalu), saat ini (satu tahun/12 bulan yang lalu hingga saat ini), dan ideal (bagaimana individu melihat dirinya seharusnya/yang diinginkannya)

Klein dalam bukunya The Bisexual Option (1993) membagi 7 dimensi dalam orientasi seksual yaitu:

A. Ketertarikan Seksual
Ketertarikan seksual adalah peningkatan dorongan seksual atau yang
dipikirkan individu menarik unruk dijadikan pasangan. Ketertarikan secara seksual berbeda dengan pengalaman seksual. Individu yang tertarik pada jenistertentu bukan berarti pernah terlibat dengan aktivitas seksual yang terkait dengan objek tujuannya.

B. Perilaku Seksual
Perilaku seksual tidak sama dengan orientasi seksual. Perilaku seksual adalah tingkah laku yang bersifat seksual. Pengalaman seksual tidak terbatas kepada hubungan intim yang melibatkan penetrasi alat kelamin saja, melainkan hubungan fisik dalam bentuk apapun yang mengarah kepada peningkatan dorongan seksual.

C. Fantasi Seksual
Fantasi seksual erat kaitannya dengan dorongan seksual. Fantasi seksual berkaitan dengan imajinasi yang bersifat erotis dan seksual. Fantasi seksual didefinisikan sebagai pikiran yang menyenangkan, terkait aktivitas seksual.Fantasi seksual tidak selalu dibarengi dengan aktivitas seksual, namun dapat digunakan untuk meningkatkan dorongan seksual.

D. Preferensi Emosi
Preferensi emosi berkaitan dengan siapa individu memilih untuk menjalin hubungan emosi yang kuat. Individu memilih individu lain untuk menjalin kedekatan mengembangkan pertemanan, hubungan yang akrab dengan individu lainnya.

E. Preferensi Sosial
Preferensi sosial erat kaitannya dengan waktu yang dihabiskan individu dalam tingkah laku sosialnya, apakah dengan jenis kelamin yang sama atau dengan jenis kelamin yang berbeda. Meskipun kesannya serupa dengan preferensi emosi, preferensi sosial lebih menekankan pada dengan siapa dan kelompok individu bersosialisasi.

F. Gaya Hidup Heteroseksual/Homoseksual
Gaya hidup adalah cara khas kehidupan seorang individu, kelompok, ataubudaya. Gaya hidup heteroseksual/homoseksual terkait dengan cara khas individu untuk memilih berkumpul dengan kelompok orientasi seksual tertentu

G. Identifikasi Diri
Identifikasi diri terkait orientasi seksual adalah hasil evaluasi yang
didefinisikan individu mengenai dirinya sendiri. Identifikasi individu adalah variabel terkuat karena pandangan diri akan memengaruhi pikiran dan tingkah laku individu.

Dimensi waktu Klein menunjukkan bahwa seksualitas bersifat ‘fluid’. Terdapat beberapa miskonsepsi mengenai fluidity dalam orientasi seksual (Diamond, 2008)

1. Fluidity bukan berarti bahwa setiap orang adalah biseksual. Seperti halnya individu memiliki orientasi seksual yang berbeda, individu akan memiliki derajat fluidity yang berbeda juga.

2. Fluidity bukan berarti menolak adanya orientasi seksual. Fluidity bisa dilihat sebagai komponen tambahan dari seksualitas individu yang berjalan bersamaan dengan dimensi diatas selama hidupnya. Fluidity menggambarkan bahwa beberapa individu mampu merasakan cakupan perasaan dan pengalaman erosi yang lebih besar dibandingkan deskripsi yang berbasis orientasi seksual tertentu.

3. Fluidity juga tidak berarti bahwa orientasi seksual dapat berubah. Fluidity bermakna bahwa orientasi seksual individu bukanlah satu satunya faktor dalam menentukan ketertarikan nya. Walaupun individu mempunyai pengalaman ketertarikan yang berbeda, orientasi seksual individu secara keseluruhan tetap sama.

Referensi :

American Psychological Association. (2008). Answers to your questions: for your better understanding of sexual orientation and homosexuality. Washington, DC.

Debineva, F. (2013). Perbedaan sikap biphobia antara heteroseksual dan homoseksual pada tahapan usia dewasa muda di Indonesia. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Diamond, L. M. (2008). Sexual fluidity : understanding women’s love and desire. Cambridge : Harvard University Press

Kinsey, A. C., Pomeroy, W. B., & Martin, C. E. (1948). Sexual behavior in the human male. Philadelphia: W. B. Saunders.

Kinsey, A. C., Pomeroy, W. B., Martin, C. E., & Gebhard, P. H. (1953). Sexual behavior in the human female. Philadelphia: W. B. Saunders.

Klein, F. (1993). The bisexual option (2nd ed.). New York: Hawthorn Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s