Sikap, Prasangka, dan akhiran – phobia

*Ferena Debineva

Apa itu sikap? Apa itu prasangka? Apa makna akhiran – phobia?

Sikap

Sikap didefiniskan Gordon Allport (1954) sebagai “A learned predisposition to think, feel and behave towards a person (or object) in a particular way” (Allport, 1954, p.10), yaitu sebuah predisposisi yang dipelajari untuk berpikir, merasakan dan bersikap terhadap seseorang (atau objek) dengan cara tertentu.

Baron, Byrne, dan Branscombe, (2009) mengemukakan bahwa individu dapat memiliki sikap yang tegas terhadap suatu ide/objek, namun memiliki sikap yang berbeda dan tidak jelas terhadap ide/objek yang lainnya. Sikap dapat memengaruhi pemikiran individu, meskipun tidak selalu tergambar dalam tingkah laku yang nyata, meskipun terapat pula sikap yang dapat memengaruhi perilaku.

Mengenal perilaku individu dan mengenal objek sikap individu membantu untuk memprediksi tingkah laku individu terhadap suatu objek, dan/atau mengurangi sikap negatif terhadap suatu objek (American Psychological Association, 2008).

Prasangka

Sikap negatif disebut juga sebagai prasangka. Prasangka muncul dalam interaksi sosial di mana terdapat minimal dua kelompok yang berbeda (Forsyth, 2010). Kelompok itu bisa setara ataupun berbeda baik dalam hal jumlah pendukung atau anggota maupun relasi kekuasaan.

Perbedaan itu melahirkan adanya kelompok yang mayoritas dan minoritas. Prasangka didefinisikan sebagai “any attitude, emotion or behaviour towards members of a group, which directly or indirectly implies some negativity or antipathy towards that group” (Brown, 2010, p. 23).

Prasangka adalah respon emosi negatif berdasarkan keanggotaan suatu kelompok (Brown, 2010). Prasangka sifatnya tidak personal, namun merupakan sikap terhadap kelompok kategori secara keseluruhan (Allport, 1954, p.10).

Individu menilai anggota dari kelompok tersebut karena mereka berada dalam suatu kategorisasi tertentu. Individu mungkin tidak sadar jika individu tersebut memiliki prasangka terhadap kelompok tertentu, namun penilaian dan keputusan mengenai orang lain dan bagaimana mereka berinteraksi akan terpengaruh.

Vaughan dan Hogg (2005) menjelaskan bahwa terdapat kelompok-kelompok tertentu yang biasanya menjadi target prasangka dan diskriminasi, yaitu kelompok jenis kelamin tertentu, kelompok usia tertentu, serta termasuk orientasi seksual yang berbeda dan individu dengan keterbatasan fisik.

Akhiran – phobia

Suffix – phobia berasal dari bahasa Yunani phobos : fear. Phobia didefinisikan sebagai
“an exaggerated, usually inexplicable and illogical fear of a particular object. class of objects, or situation.” (Merriam-Webster Online Dictionary, 2002)

Akhiran – phobia ini digunakan untuk mendefinisikan ketakutan yang irasional pada objek atau situasi tertentu, seperti misalnya arachnophobia (irrational fear towards spider), agoraphobia (irrational fear towards open space), chorophobia (irrational fear towards dancing), atau chrometophobia (irrational fear towards money).

Namun, akhiran – phobia diatas (clinical phobia) berbeda dengan akhiran – phobia seperti dalam homophobia, islamophobia, atau judeophobia. Akhiran – phobia yang kedua tidak terkait dengan definisi psikriatris dan psikologis mengenai phobia (Weiss, 2003).

Akhiran – phobia dalam homophobia, biphobia, transphobia, islamophobia, atau judeophobia didefisinikan sebagai “negative attitude towards… / prejudice towards…” (eg. Bennett,
1992, p.205; p.207) sama seperti yang digunakan dalam terminologi racism (prejudice towards specific race), ageism (prejudice towards specific age), dan sexism (prejudice towards specific sex).

Sehingga baik homophobia (prejudice towards homosexual), biphobia (prejudice towards bisexual), islamophobia (prejudice towards islam), judeophobia (prejudice towards jewish), adalah hasil dari sikap negatif individu yang didasari oleh identifikasi dirinya dengan kelompok tertentu, kepada kelompok lainnya.

Diskriminasi bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba melalui perjalanan dari sikap – stereotipe – prasangka – kemudian diskriminasi. Ketika individu mempunyai prasangka negatif terhadap orang lain dikarenakan atribut keanggotaan individu tersebut, diskriminasi dan kekerasan akan rentan terjadi. Untuk memutus rantai diskriminasi dan kekerasan, individu pertama-tama harus mengevaluasi sikapnya terhadap suatu kelompok. Individu selayaknya mampu menilai individu lain sebagai individu yang utuh, dan memiliki hak hak yang setara, tidak peduli agama, ras, etnis, usia, jenis kelamin, bahkan orientasi seksual tertentu.

Referensi :

Allport, G. (1954). The nature of prejudice. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley Pub.

American Psychological Association. (2008). Answers to your questions: for your better understanding of sexual orientation and homosexuality. Washington, DC.

Baron, R. A., & Branscombe, N. R. Social Psychology (13th ed.). Boston, Massachusetts: Pearson.

Bennett, K. (1992). Feminist bisexuality: A both/and option for an either/or world. Dalam E. R. Weise (Penyunt.), Close to home: Bisexuality and feminism (hal.205-231). Seattle, WA: The Seal Press.

Brown, R. (2010). Prejudice: Its social psychology (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Forsyth, D. R. (2010). Group Dynamics (5th ed.). Belmont, California: Wadsworth, Cengage Learning.

Hogg, A. M. & Vaughan, N. G. (2005). Social Psychology. New York: Person Education. Limited

Merriam-Webster Online : Dictionary and Thesaurus. (2002). Phobia. Dipetik January 24, 2012, dari Merriam-Webster: The Brittanica Encyclopedia:
http://www.merriam-webster.com/dictionary/phobia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s