Internet dan LGBT: Sebuah Transisi Peradaban

*Fathul Purnomo

Abad 21, merupakan salah satu transisi peradaban tersulit yang sedang dihadapi manusia, selain dipengaruhi oleh meledaknya internet yang membuat beberapa generasi terbata-bata menggunakannya, abad ini juga dibumbui dengan wacana LGBT. Internet telah banyak mengubah banyak aspek kehidupan. Manusia di pelosok kampung mampu bertukar informasi dengan pejabat negara, bahkan di lain benua, seperti terbalasnya surat sorang warga Cina dari Ratu Elizabeth. Di masa ini semakin banyak manusia menjadi ahli, apapun bentuk informasi yang tersebar, dengan begitu berapi-api para netizen akan berusaha mencari tahu dan mengomentari hal tersebut. Perang informasi ini begitu penting, mengingat segala keputusan praksis didahului dengan investasi buah pikiran. Karena Konten internet bersifat dialogis, berdampak pada cara berpikir dan bertindak banyak golongan. Konten internet yang sudah besifat dialogis ini pula adalah partikel penyusun gagasan kesetaraan, dimana sudah tidak ada lagi narasi utama yang menjadi patokan bertransaksi informasi.

Dalam lingkup akademik contohnya, seluruh materi yang diajarkan sudah tidak lagi bersifat monolog. Sangat mungkin di zaman ini beradu pendapat dengan dosen, karena masifnya informasi yang tersedia dalam dunia maya menjadi kontributor utama mengapa hal ini terjadi. Dengan titik tolak ini pula, pemimpin diktator semacam Soeharto akan sangat sulit hadir di zaman ini. Ini pula menjadi alasan mengapa sosok seperti Jokowi muncul ke permukaan. Dalam bidang ekonomi, pengaruh internet juga sudah tak terbantahkan lagi. Ambillah contoh ojek online, Gojek. Gojek adalah bentuk baru perusahaan di mana tidak terpusat pada kantor, namun justru langsung pada lapangan. Aplikasi menjadikan driver Gojek ‘seakan-akan’ pemilik dari perusahaan, karena merekalah yang menguasai medan dan sekaligus pemilik dari alat produksi (baca: sepeda motor).

Dengan menjadi ancaman terhadap segala struktur dari politik, ekonomi, dan kebudayaan,  internet otomatis menjadi ancaman nyata bagi sistem dominan masyarakat dunia: sistem patriarki. Kebebasan berpendapat dan membuat representasi diri ini banyak menuai kegagapan, ibarat dosen tua yang gagap ketika menerima kritik dari mahasiswa. Masih segar di ingatan kita bagaimana Menristek yang gagap mengenai jurnal-jurnal ilmiah berkenaan dengan LGBT, justru menyerang kelompok studi SGRC. Hal ini bisa dibaca sebagai internet phobia yang masih menjadi polemik dan perseteruan di banyak pemerintah karena takut nilai-nilai nasional-nya dihajar ‘kekuatan asing’ internet. Ketakutan menggunakan internet, karena internet telah terbukti akan selalu merombak kehidupan manusia dan membuat negara menjadi tidak stabil.

Setelah terseok-seok mengikuti arus internet dan globalisasi, kembali manusia Indonesia harus dihadapkan dengan diskursus LGBT—yang juga berawal dari penyebaran poster konseling SGRC di Internet, 20 Januari 2016. Sebagian besar masyarakat dunia pada dasarnya masih menolak wacana ini; Anda bisa menghitungnya secara kuantitatif. Namun tak dinyana jika Amerika Serikat yang 38% kaum dikuasai oleh kaum konservatif, 34% kaum moderat dan 24% kaum liberal justru mampu memenangkan pernikahan sesama jenis di Mahkamah Agungnya. Tak salah, karena selain didukung PBB sebagai salah satu bagian HAM, LGBT juga sudah terbukti secara medis dan saintifik bukan sebagai penyakit atau kelainan.

Mereka yang masih takut dengan LGBT pada dasarnya adalah orang-orang yang berupaya mempertahankan etos abad pertengahan, dimana kedudukan rasio tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kehadiran teks-teks ketuhanan. Ketakutan akan wacana LGBT adalah sebuah manifestasi dari keengganan dan ketakutan menggunakan fakultas terbaik yang dimiliki manusia–akal.

Apakah LGBT memang begitu menakutkan? Iya, karena dengan pengakuan hak-hak LGBT mengharuskan mengubah tatanan peradaban secara radikal. Pertama, dalam kasus pernikahan sesama jenis. Negara kemudian harus merevisi konstitusi yang mereka pergunakan. Bagaimana tidak, dalam kompisisi keluarga contohnya, jika pernikahan sesama jenis dilegalkan maka ibu dan ayah tidak menjadi hal yang baku. Akan muncul ibu dan ibu, ayah dan ayah. Keluarga merupakan unit terkecil dalam sosial, di mana jika berubah maka akan juga berdampak pada struktur masyarakat secara keseluruhan (baca: negara bagi Anda yang masih percaya dengan imaji agung sebuah negara).

Dengan mengakui LGBT maka akan ada desakan pada porsi dalam kursi parlemen. Karena bisa dipastikan, dalam demokrasi politik representatif seperti sekarang ini, simbol kehadiran merupakan cerminan anti-diskriminasi dan penyalur bahasa minoritas terampuh yang terkebiri  oleh narasi umum. Mau tidak mau, jika LGBT menang, maka negara harus mengubah regulasi kebijakan ekonomi perusahaan, di mana promosi anti-diskriminasi akan semakin digalakkan, dimana gender gap diakui berpengaruh besar terhadap arus pendapatan agregatif sebuah negara.

Ketakutan akan wacana LGBT disebarkan oleh kehendak meme patrarki untuk tetap hidup. Perubahan ini tidak sebegitu menakutkan manakala tidak karena seluruh wacana kehidupan manusia ternyata ditentukan oleh satu struktur yang sama yaitu patriarki. Politik, ekonomi, sosial, dan semua produk peradaban menggunakan pijakan patriaki. Walhasil, LGBT dianggap sebagai rival terbesar dan membahayakan. Patriarki ingin tetap melanggengkan kuasa maskulinitas, dimana hal tersebut akan terjungkal karena relasi seorang lesbian justru didominasi oleh feminitas. Patriarki menghendaki unjuk maskulinitas dengan memperkosa atau bereproduksi lewat rahim perempuan, namun kaum gay abai dari sesuatu yang bersifat PIV (penis on vagina) maupun pro-kreasi. Patriarki menghendaki publik milik laki laki, sedang wacana LGBT membawa isu kesetaraan dan anti-diskriminasi. Bisa dibayangkan betapa takut mereka jika muncul seorang imam yang perempuan, sekaligus lesbian.

Di garda terdepan patriarki, hadir agama sebagai pelindung sekaligus penguat segala suprastruktur produk kebudayaan lain seperti politik, struktur sosial, ekonomi, dsb. LGBT yang selama ini dianggap sebagai produk barat, yang kemudian dikorelasikan dengan skeptisisme beragama menjadikan masyarakat timur beranggapan hal tersebut sebagai propaganda barat. Sesederhana pemikiran LGBT akan kawin dengan neo-ateisme, namun ternyata tidak. LGBT juga kawin dengan interpretasi baru keagamaan yang menghadiahkan ruang dalam bentuk teisme kaum urban–dalam hal ini timur dikuasai oleh agama Islam dan kristen. Teisme yang banyak bersilangan dengan upaya penetrasi demokrasi. Maka, dalam hal ini, LGBT sungguh menjadi tantangan berat yang merongrong kehidupan. Sungguh di luar dugaan, LGBT mampu dimaknai lewat sistem keagamaan. Karena menyerang suprastruktur dari agama patriarki, LGBT menjadi sumber kegelisahan.

Kembali ke Internet, wacana LGBT menggunakan pelumas teknologi informasi guna memperhalus penetrasi ke dalam masyarakat dunia. Sesungguhnya tidak banyak jumlah dari pegiat hak LGBT yang benar-benar bagian dari komunitas LGBT. Jika Anda adalah seorang pengguna aktif intenet, maka anda akan dapati perang yang begitu masif dari para teman-teman komunitas LGBT (yang heteroseksual) dengan kaum kontra LGBT. Kelindan antara LGBT dan internet yang berhasil menggoyang sistem patriarki berujung pada fobia yang begitu viral. Akumulasi dari ketakutan akan internet ditambah dengan ketakutan memakai logika, dibumbui dengan gelagap ketidaksiapan dan ketakutan meratapi nasib patriarki yang diujung tanduk. Betapa berat ketakutan yang mereka idap, tiga lapis ketakutan secara maksimal.

Meme LGBT telah kawin dengan pentingnya penggunaan media internet, dan melawan maskulinitas dan agama sebagai suprastruktur sistem patriaki. Sebenarnya perang antara pro dan kontra LGBT hanyalah bagian dari pertarungan meme dalam peradaban kita yang muda ini. Maka manusia, selamat menikmati perang yang sesungguhnya bukan Anda aktor utamanya. Saran saya bagi kaum konservatif: perjalanan Anda masih akan dihantam dengan peyempurnaan formula fisikawan Michio Kaku yang akan menjadi batu lompatan ke peradaban selanjutnya. Welcome to the new civilization, mari berkemas dan membawa bekal secukupnya, masih kuatkah Anda membawa rongsokan patriarki?

*Tulisan ini dimuat di Jakartabeat pada 12 Februari 2016 dapat di akses di http://www.jakartabeat.net/kolom/konten/internet-dan-lgbt-sebuah-transisi-peradaban

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s