Masih Tentang LGBT, ketika Perang Wacana Hilang

*Ridha Intifadha

Ketika saya kuliah dahulu, ilmu pengetahuan mengenai “dialektika” sangat menarik hati saya. Ia semacam metode untuk mencari kebenaran dari suatu hal yang dipertentangkan. Ketika ada suatu tesa (tesis) maka akan ada antitesa-nya. Keduanya saling berbenturan hingga membentuk sintesa. Namun, sintesa ini akan muncul “lawan”nya. Dan begitu seterusnya. Proses ini terus berlangsung sampai akhirnya mencapai kebenaran paripurna (melebihi sempurna).

Barangkali dialektika inilah yang menguatkan iman seorang muslim. Pintu gerbang memasuki agama ini bukanlah mengucapkan “Tuhan saya adalah Allah”, melainkan ucapan “tiada Tuhan selain Allah”. Kalimat itu menegasikan semua konsep teologi sampai akhirnya dinegasikan kembali menjadi sintesa sempurna melalui kata “kecuali”.

Ah ya, kalimat inilah yang disebut sebagai syahadat atau ikrar (persaksian dan pengakuan): yang menjadi penguat seorang muslim karena maknanya begitu dalam, dan selalu dibacakan setiap kali beribadah shalat.

****

Dua hari terakhir, isu soal LGBT kembali menguat dan melebar setelah fenomena perkembangan (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia (SGRC UI) di publik. Meluasnya isu LGBT melalui sosial media ini tidak main-main. Pemerintah mulai turun tangan dan seolah menyatakan sikap menolak, namun setelah ditekan berbagai pihak akhirnya meralat ucapannya. Lewat twitter @menristekdikti, ia berusaha tidak memperkeruh auman lidahnya di sejumlah media.

Sayangnya, klarifikasi itupun menuai kontroversi tersendiri. Masyarakat memandangnya berbeda: jika memang kamu heteroseksual, maka kamu bisa bermesraan di tempat publik. Sepertinya pak menteri tidak mengetahui perbedaan orientasi seksual, ekspresi gender maupun identitas gender.

Di sosial media, tulisan “mengejek” ala mojok.co pun hadir(1). LSM seperti LBHM mengambil sikap terkait intoleransi(2). Di youtube, muncul video berjudul “Heboh, Homo Pacaran di Stasiun Universitas I********” padahal jelas-jelas tulisan ‘tebet’ pada tiang peron dalam video tersebut(3). Dari arus pelangi, mereka mengeluarkan release “pernyataan sikap hentikan diskriminasi terhadap LGBTIQ di kampus oleh Meristek(4). Koran nasional seperti tempo dan jakarta post bahkan turut meramaikan isu LGBT ini. Di situs change.org, dua petisi dikeluarkan dan saling bertentangan antara satu(5) dengan yang lainnya(6). Beberapa akun di twitter dengan ribuan pengikutpun turut menggoreng isu ini(7). Sekali lagi, semuanya terjadi tidak kurang dari 2 hari. Luar biasa!!

****

Saya melihat kecenderungan bahwa ini adalah perang. Sayangnya, bukan lagi perang wacana ala coldwar yang mempertentangkan kiri-kanan, barat-timur, kapitalis-komunis. Perang yang terjadi mulai mengerucut menjadi konflik personal atau kelompok. Keluarga dan anak. Pemerintah dan warga negaranya. Media dengan masyarakat yang menjadi obyek pemberitaannya. Birokrat kampus dengan komunitas mahasiswanya. Dan begitu seterusnya. Wacana LGBT yang menjadi akar diskursus yang ada menjadi hilang atau tersingkirkan. Bagi saya, ini berbahaya karena akhirnya sintesa tidak akan terbentuk.

Isu LGBT akhirnya merambah ke ranah politis atau struktural. LGBT yang sejatinya adalah permasalahan diferensiasi personal terlihat sebagai stratifikasi sosial melalui term “mayoritas-minoritas”, ada juga yang melihatnya sebagai perbedaan tingkat moral atau bahkan keimanan seseorang.

Dampaknya, saya bisa memastikan perang ini sudah lagi tidak menarik bagi saya (atau kalian yang tadinya bersemangat atas isu ini) untuk terlibat lebih di dalamnya. Saya seolah menjadi penonton film dokumenter secara live lalu menunggu sekaligus penasaran: siapakah pihak yang akan kalah atau menyerah terlebih dahulu?

****

Saya harus akui bahwa LGBT itu ada! Mengakui bahwa mereka eksis dan hadir di tengah-tengah kita. Bahkan ia hadir di tempat yang katanya menjunjung tinggi agama, seperti pesantren sekalipun. Tentu tidak semua pesantren terdapat LGBT di dalamnya, namun beberapa data ilmiah telah menguji kevalidan eksistensi mereka di “penjara suci” tersebut(8). Mengakui adanya eksistensi mereka adalah upaya memanusiakan mereka. Sekarang pertanyaannya bagaimana cara kita bersikap kepada mereka?

Sejujurnya, saya khawatir perang ini bukan lagi sekadar pengakuan eksistensi, namun jua pada akhirnya pengakuan kewajaran atas LGBT, dari sisi orientasi maupun perilaku. Isu ini merambah ke bagaimana kita memandang sesuatu sebagai hal yang normal atau tidak, bukan mengedepankan solusi agar dapat bertoleransi, hidup berdampingan atau menyediakan wadah bagi kaum LGBT yang ingin mengendalikan jiwanya sesuai dengan tuntunan agama. Perang ini menjadi sangat politis dan akhirnya dapat melahirkan suatu legitimasi yang bagi saya akan sangat kontroversial jikalau telah berakhir

****

Lalu… Bagaimana “perang” ini berakhir?

Barangkali ketika salah satu pihak kalah atau menyerah. Toh, nyatanya pemerintah terlihat “bersalah” dan masyarakat sudah mulai jengah dengan kualitas para pemimpinnya. Di sisi lain, dukungan pro dan kontra mulai hadir di berbagai media, kolom opini hingga dukungan personal.

Di sinilah saya melihat bahwa salah satu alasan kaum LGBT dan para pendukungnya sangat solid dan kuat adalah karena mereka memiliki musuh bersama. Sesuatu yang seharusnya dapat diambil hikmah bahwa ketika kita bergerak memperjuangkan sesuatu, itu akan lebih mudah ketika dilakukan secara berjamaah.

Atau bisa jua perang ini berakhir saat terjadi korban jiwa. Saya tidak main-main berkata demikian. Pagi ini, saya menghubungi salah satu pendiri SGRC dan menyatakan kekhawatiran saya. Kekhawatiran bahwa akan ada seseorang yang menyiksa diri sendiri, atau bahkan bertindak melampui batas. Lalu pendiri SGRC itu berkata kepada saya: “Jagain aja rekan-rekan yang bisa dijaga. Bangun wacana dengan organisasi kampus agar assistrekan-rekan”. Saya harap kemungkinan kedua ini tidak terjadi tentu saja.

****

Atau… Ada solusi lain, yaitu mengembalikan perang ini kembali ke tataran wacana. Mengembalikan diskursus ini dengan fokus pembahasan LGBT, terlepas dari siapa orang atau kelompoknya. Solusi ini akan menghilangkan stigma maupun label, sehingga memang ditujukan semata-mata menemukan sintesa. Kita tidak akan lagi memperdebatkan kesalahan apalagi dosa seseorang/kelompok, namun berupaya melihat berbagai sisi LGBT sebagai orientasi dan perbuatan. Tentu solusi ini artinya dialektika.

Solusi ini membutuhkan musyawarah dari banyak pihak. Para akademisi, pemuka agama, pemerintah, para pihak yang merasa diviktimisasi melalui intimidasi dan fitnah, para pengamat-kritikus, dan masih banyak lagi pihak yang dapat diajak mewakili serta diharapkan mengedepankan solusi. Merekalah (yang saya harapkan) dapat duduk bersama, berdiskusi dan bermusyawarah atas fenomena LGBT.

Solusi ini dibutuhkan tentu tidak untuk memperkeruh suasana apalagi menyerang pondasi iman, namun sebagai ijtihad dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

****

Memang landasan negara ini keimanan atas Tuhan yang Maha Esa, namun ia pun tidak melupakan adanya nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Tanpa diskriminasi dan penjajahan dari pihak (korup) yang merasa dirinya lebih berkuasa.

Dengan kedua landasan itulah negara kita bisa merdeka menyatu dalam kerangka bhinneka tunggal ika. Persatuan ini kemudian dimanifestasikan dalam dimensi kerakyatan dengan hikmah kebijaksanaan; lalu dilegitimasi melalui permusyawaratan/perwakilan.

Dan pada akhirnya, kita mencapai muara paripurna bahwa semua itu demi terciptanya keadilan sosial bagi setiap lapisan masyarakat.

****

Jadi apakah kita memilih untuk berbuat adil serta menghidupkan perdamaian… Atau justru menikmati perang ini hingga nantinya menyesal begitu semuanya telah terlambat?

(1) http://mojok.co/2016/01/pak-menristek-download-grindr-yuk/

(2) http://lbhmasyarakat.org/rilis-pers-lbh-masyarakat-pemerintah-indonesia-darurat-intoleransi/

(3) http://www.youtube.com/watch?v=1C8hoaNpeSE

(4) https://m.facebook.com/aruspelangi.org/posts/678110612330088?notif_t=like

(5) https://www.change.org/p/menristek-m-natsir-menristek-m-nasir-cabut-pernyataan-lgbt-merusak-moral-bangsa-pelarangan-masuk-kampus?recruiter=58199112&utm_source=share_petition&utm_medium=whatsapp

(6) https://www.change.org/p/dpr-ri-dukung-pernyataan-menristek-m-nasir-lgbt-merusak-moral-bangsa-dilarang-masuk-kampus?recruiter=442859138&utm_source=share_petition&utm_medium=whatsapp

(7) misal @jokoanwar, @aMrazing, @GleenFredly, @idetopia, @sahal_AS, @blogdokter

(8) http://eprints.dinus.ac.id/7250/ atau http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=33118 atauhttp://lib.unnes.ac.id/11275/1/9051.pdf dan masih banyak lagi

 

*Tulisan diunggah di Selasar pada 26 Januari 2016, dan dapat diakses langsung di https://www.selasar.com/budaya/masih-tentang-lgbt-ketika-perang-wacana-hilang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s