Ringkasan kegiatan diskusi Kampus & LGBT di ITB

Pada Jumat, 26 Februari 2016, SGRC  hadir di ITB sebagai narasumber di diskusi “Kampus dan LGBT” yand diselenggarakan oleh Majalah Ganesha. Selain SGRC, Ari Jogaiswara Adipurwawidjana (Dosen FIB UNPAD) juga diundang sebagai narasumber.

Lokasi diskusi berpindah dari lokasi awal karena masalah perizinan, memotong awal diskusi. Diskusi dimulai dari Pak Ari yang memaparkan mengenai kampus sebagai tempat diskusi yang aman. Beliau menceritakan pengalaman kuliahnya di AS, di negara bagian yang konservatif, berbagai isu masih saja ada di dalam ruangan kampus.

Pak Ari lalu menjelaskan mengenai bidangnya, yaitu humaniora, yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Beliau menjelaskan bahwa isu sensitif, seperti LGBT, seharusnya dibahas, bahkan diajar dalam kurikulumnya. Ia kemudian mengutarakan kekhawtirannya, bahwa dengan pengkubuan pro-kontra LGBT, seperti yang sekarang banyak terjadi, kemanusiaan diabaikan. Ia lalu kembali ke topic LGBT dan kampus, di mana kebebasan akademik seharusnya dijunjungkan. Jika ia harus memilih antara kebebasan akademik dan ketertiban (diam  demi menjaga norma), beliau memilih kebebasan akademik. Karena jika di kampus saja tidak dapat dibahas secara akademik, di mana lagi hal tersebut bias dilakukan?

Pemaparan berkutnya dilakukan oleh SGRC. Di sini, SGRC menjelaskan bahwa bahasan SGRC mencakup seksualits dan gender. Selain itu, SGRC juga memaparkan mission statement. Kegiatan SGRC pun diurai sepanjang tahun 2015, mulai dari Seminar Kartini & Liberty, pelatihan pencegahan kekerasan seksual di kampus, kegiatan internal Arisan! (satu-satunya kegiatan yang ada bahasan mengenai orientasi seksual), dan kegiatan lainnya. Kemudian dijelaskan SGRC dibentuk dalam lingkungan kampus untuk memahami isu ini secara komprehensif dan melihat berbagai perspektif.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi pertanyaan. Pertanyaan pertama dari moderator mengenai keadaan SGRC sekarang beserta hambatan yang ada. Pertanyaan berikutnya menanyakan mengenai sifat diskusi yang diadakan SGRC, lebih tepatnya mengenai bagaimana melakukan diskusi tanpa menggiring ke satu kubu atau opini. SGRC menjelaskan bahwa dalam diskusi, yang paling penting adalah memaparkan fakta. Selain itu, opini-poni juga dapat dipaparkan. Mengenai menggiring atau menjurus ke satu opini, hal tersebut balik ke individu yang sudah terinformasi. Pertanyaan terakhir adalah bagaimana mahasiswa dalam kondisi sekarang dapat membantu melindungi mereka yang vulnerable. SGRC berpendapat bahwa edukasi dan informasi yang komprehensif dapat membantu mengklarifikasi mitos-mitos dan mengurangi stigma terhadap mereka yang rentan. Selain itu, tekanan dari berbagai pihak dapat membantu menekankan pemerintah dalam menjaminkan hak-hak mereka yang rentan. Pak Ari sendiri menambahkan, bahwa jika bisa bersabar, edukasi mouth to mouth juga dapat dilakukan. Sesudah sesi pertanyaan dan diskusi ditutup secara formal, dilanjutkan dengan sesi sharing dengan peserta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s