Perempuan sebagai Agen Transfer Maskulinitas

*Fathul Purnomo

Dalam sistem patriarki, dibuat suatu ilusi berupa stratifikasi metafisis performa gender. Maskulin lebih tinggi dibanding feminin. Dari generasi ke generasi sifat maskulin terus dijaga agar tidak punah, ataupun mengalah dengan sifat feminin. Maka menjadi suatu persoalan bagi penjaga trah maskulinitas ketika melihat bentuk maskulinitas baru yang mempertipis sekat maskulin dan feminin, dalam hal ini seperti K-pop, dan ini sebabnya mengapa mereka menuai begitu banyak cibiran. Di dalam masyarakat umum yang mengasumsikan setiap manusia dilahirkan sebagai seorang cisgender, maskulinitas dijaga untuk melanggengkan kuasa laki laki diatas perempuan.

Untuk terus melestarikan sifat maskulin pada laki laki, Sang ayah akan berupaya melatih anak laki-lakinya untuk melakukan hal hal yang dianggap laki laki. Dalam masyarakat umum, transfer maskulinitas dilakukan dengan jalan memberikan laki laki permainan yang cenderung bersifat dikonsumsi untuk publik¬¬. Hal ini menjadi alasan mengapa laki laki superior karena bahkan dalam level permainan mereka disuguhkan dengan pola yang sifatnya lebih publik, contohnya sepakbola. Permainan yang dilakukan oleh laki laki juga lebih banyak menggunakan otot, agar laki laki tetap nampak lebih kuat secara fisik dibanding perempuan. Ini berkontribusi pada banyaknya kekerasan dalam rumah tangga, karena, meskipun tubuhnya kurus, para suami telah tersusupi oleh ilusi kebesaran masa otot, yang diterjemahkan sebagai pemegang kuasa tertinggi.

Bandingkan dengan perempuan. Permainan tradisional perempuan – permainan boneka – menunjukkan pada level permainan perempuan sudah terdomestifikasi. Anda bayangkan dalam permainan Barbie, kecakapan yang diperhitungkan adalah bagaimana sang anak perempuan mampu mendandani boneka, menata peralatan rumah tangga Barbie, dan sebagainya. Permainan boneka-bonekaan ini pula menjadikan perempuan terus merasa perlu merawat ruang ruang privat-cikal bakal narasi ibu, dan sekaligus karena permainan perempuan tidak banyak terpapar ke publik.  Sehingga permainan ini akan berdampak pada mental perempuan dimana akan dia gugup jika harus berhadapan dengan orang banyak atau publik. Ini menjadi alasan, mengapa tokoh laki-laki lebih dominan. Laki-laki di design oleh masyarakat agar unjuk gigi, tampil di depan umum, dan seraya menggunakan masa otot.

Di daerah pedalaman papua, salah satu suku mempraktikkan ritual transfer maskulinitas dengan jalan oral. Sang pemuda yang akan beranjak dewasa harus mengulum penis sesepuh yang dianggap memiliki sifat maskulinitas ideal. Di daerah Nias, para pemuda diharuskan meloncati batu setinggi 2 meter, dan jika berhasil maka mereka akan secara sah dianggap sebagai pemuda seutuhnya, yang maskulin dan siap menikah.

Maskulinitas menjadi begitu penting, selain karena dalam sistem patriarki merupakan hierarki tertinggi gender, maskulinitas juga berkorelasi erat dengan survavilitas masyarakat. Sederhana saja, jika laki laki Nias yang akan menikahi para gadis desa tidak bisa melompat setinggi 2 meter, maka laki laki tersebut dianggap tidak kuat. Dalam masyarakat meramu dan berburu ini, melompat merupakan keterampilan wajib yang harus dimiliki setiap pemuda, guna mendapatkan babi tergemuk di hutan.

Karena penting, dan berhubungan dengan tingkat survavilitas masyarakat, maka maskulinitas kemudian tidak hanya ditransfer oleh laki laki, namun juga ternyata oleh perempuan.

Dalam keluarga saya ibu adalah sosok maskulin sekaligus pentransfer maskulinitas. Ibu selama ini selalu membebani saya dengan memberikan nasihat akan beratnya menjadi anak pertama. Seorang anak laki laki pertama menjadi harapan besar dalam keluarga feodal jawa seperti saya. Bersifat feminin, menurut ibu saya, akan menjadikan probabilitas hidup saya rendah (sisa perilaku masa berburu dan meramu), maka Ibu dengan begitu bersemangat mengajari saya berperilaku maskulin.

Ketika saya masih kecil, saya adalah seorang bocah yang sangat feminin, dan hal itu dianggap berbahaya bagi ibu. Maka hal pertama yang dilakukannya adalah dengan mengajak saya mengejek teman laki-laki sebaya saya yang juga feminin. Perlu diingat, bahwa dalam sistem patriarki, laki laki yang bersifat feminin akan dengan segala upaya diusahakan agar direfutasi, salah satunya dengan jalan mem-bully. Dengan jalan bully ini pula, ada banyak nyawa yang terkorbankan, banyak anak laki-laki yang feminin kemudian bunuh diri. Dengan membully seakan-akan menegaskan bahwa hal tersebut salah, dan saya bukan merupakan bagian dari kesalahan tersebut.

Setelah remaja, ibu kemudian mengajari saya untuk mahir berkendara. Bagi ibu saya, laki-laki harus menjadi jagoan dalam berkendara. Hal ini mampu dibaca dari bagaimana pak petani membajak sawah dengan menggunakan sapi, dan sang pembajak sawah adalah pasti laki-laki. Hewan-hewan ternak pun semuanya ditunggangi oleh laki laki, mulai dari karapan sapi di Madura, pacuan kuda di Nusa Tenggara, dan sapi-sapi di suku Sunda.

Dari sini kemudian muncul asumsi bahwa berkendara adalah milik laki laki. Dan hal ini terus terlestarikan sampai hari ini, bagaimana anda melihat bawah perempuan yang memang secara kesejarahan dibentuk untuk tidak mahir berkendara kemudian tetap terjaga. Kita berterimakasih kepada industri,  karena sejak pabrik otomotif muncul, terjadi lompatan tiba tiba. Setelah ribuan tahun perempuan dipaksa untuk diam,  mobil dan motor dibuat untuk kenyaman pengguna perempuan. Sampai saat ini sebenarnya perempuan masih tidak cakap dalam berkendara, karena dibentuk oleh sejarah. Bisa anda bandingkan jumlah pengendara laki-laki dan perempuan, dan kecakapan berkendara antara laki laki dan perempuan.

Setelah saya kuliah, dimana tahapan ideal selanjutnya adalah menikah bagi masyarakat Indonesia, maka Ibu saya mengajarkan saya untuk berpendidikan tinggi, meniti karir, dan membangun rumah. Penguasaan properti merupakan peninggalan dari masa bercocok tanam: laki-laki mulai membuka lahan dan mulai berebut tanah pertanian. Laki-laki yang memiliki lahan terlebar, maka akan menghasilkan panen lebih banyak, sehingga  survavilitas hidupnya lebih tinggi.

Bagi ibu, pria maskulin sempurna adalah mereka yang mampu menafkahi keluarga, dan laki-laki tidak boleh memiliki gaji lebih rendah dibanding perempuan. Di tahap ini pula, Ibu menjejali saya dengan berbagai kebencian pada dirinya sendiri. Ibu menilai bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, karena hal tersebut sia-sia, pada akhirnya perempuan harus terdomestifikasi di bawah bayang-bayang suami. Perempuan juga tak harus bekerja, karena pekerjaan utama perempuan adalah merawat rumah tangga – hasil dari bermain Barbie.

Sampai pada titik ini, saya sadar bahwa yang menanamkan imaji maskulinitas ideal pada saya dan yang membina saya untuk menjadi misoginis adalah seorang perempuan. Transfer maskulinitas dan misoginis ternyata tidak selalu dari laki laki. Namun bisa terjadi dari agen perempuan, perempuan yang telah termakan sistem bengis berupa patriarki.

*Artikel ini dipublikasikan di Magdalene.co, 4 Maret 2016

**Tautan lengkap sila kunjungi http://magdalene.co/news-720-perempuan-sebagai-agen-transfer-maskulinitas.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s