Journal Review : Stereotip gender dan kemampuan spatial.

The woman who uses her brain loses her mammary function first and had little hope to be other than a moral and medical freak. (Hall, 1905)

*Ferena Debineva

Selama ini, terdapat stereotipe dalam hal kemampuan spasial antara laki-laki dan perempuan. Penelitian yang berupaya untuk melihat perbedaan fungsi otak laki-laki dan perempuan tersebut telah banyak dilakukan.

Buku nonfiksi popular Why Men Dont Listen and Why Women Cant Read Road Maps (Pease & Pease, 1999), yang telah dicetak ulang sebanyak 17 kali hingga Mei 2012, menggambarkan pasangan Ray dan Ruth yang bertengkar mengenai lokasi pertemuan, di mana Ruth tidak bisa membaca lokasi tujuan mereka tanpa memutar-mutar peta, sementara Ray berada di belakang kemudi.

Dalam buku tersebut, Allan dan Barbara Pease mengedepankan perbedaan fungsi otak, di mana laki-laki lebih dominan dalam mempersepsi ruang, sementara perempuan tidak memiliki kemampuan mempersepsi ruang sebaik laki-laki.
Stereotipe itu telah diterima secara luas. Implikasinya, misalnya, terdapat pembatasan akses perempuan pada pekerjaan yang membutuhkan navigasi seperti supir, pilot, navigator, dan nahkoda, yang selalu didominasi bahkan dipersyaratkan dengan jenis kelamin tertentu, yaitu laki-laki.

Selain itu, terdapat stereotipe lainnya bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan STEM (science, technology, engineering, & math) yang baik, sehingga hanya sedikit perempuan yang dianggap mampu bertahan di fakultas yang didominasi oleh laki-laki seperti Teknik dan MIPA. Stereotipe ini menimbulkan kecemasan bagi individu dalam mengerjakan tugas yang berkaitan dengan STEM, dan membuatnya cenderung menghindari tugas dan karier yang berhubungan dengan matematika.

Namun, apakah kenyataannya persis sama dengan stereotipe tersebut?

Dalam studi yang dilakukan Maloney, Waechter, Risko, dan Fugelsang (2012) terlihat bahwa kecemasan matematika berkorelasi secara negatif dengan kemampuan spasial (keruangan) individu. Artinya, semakin cemas individu, maka semakin menurun kemampuannya untuk memproses informasi spasial. Dalam penelitian ini juga diperlihatkan bahwa perempuan lebih cemas dalam matematika karena kemampuan spasialnya lebih buruk dibandingkan rata-rata kemampuan spasial laki-laki.

Dalam studi lainnya, Maloney, Schaeffer, dan Beilock (2013) mendefinisikan “ancaman stereotipe” sebagai sebuah fenomena di mana individu menunjukkan performa yang lebih buruk dalam melakukan sebuah tugas, dibandingkan kemampuannya, saat terdapat stereotipe negatif yang relevan dan kentara (Steele & Aronson, 1995, dalam Maloney, Schaeffer & Beilock, 2013).

Menurut studi tersebut, perempuan menunjukkan performa yang lebih buruk ketika dilekatkan dengan stereotipe negatif bahwa perempuan lemah dalam kemampuan matematika, dibandingkan dengan ketika tidak dilekatkan dengan stereotipe tersebut. Jadi, individu memiliki kepercayaan bahwa hasil performa yang buruk dan kegagalan individu merupakan konfirmasi stereotipe negatif.

Lebih jauh lagi, riset membuktikan bahwa perempuan yang memberikan penilaian yang tinggi pada matematika (mengganggap matematika adalah hal yang penting), mengidentifikasikan diri secara kuat pada identitas sebagai perempuan, dan familiar dengan stereotipe sosial di mana perempuan tidak memiliki kemampuan yang tinggi dalam matematika, adalah kandidat yang paling mudah terjerumus dalam ancaman stereotipe (Maloney, Schaeffer, & Beilock, 2013).

Buruknya performa individu itu sendiri disebabkan karena individu terpapar kecemasan dalam mengerjakan soal matematika dan ancaman stereotipe secara bersamaan. Working memory-nya (sistem yang bertanggung jawab untuk secara sementara menampung dan memproses  informasi baru dan yang sudah disimpan) kemudian dipengaruhi kuat oleh pemikiran akan performa negatif sehingga menggantikan alokasi fokus individu untuk mengerjakan soal. Akibatnya, performa matematikanya menjadi buruk.

Menariknya, dalam penelitian yang dilakukan Estes dan Felker (2012), terdapat faktor lain yang memediasi pengaruh jenis kelamin dalam performa rotasi mental yang juga termasuk dalam pengukuran kemampuan spasial, yaitu kepercayaan diri (confidence). Secara spesifik, kepercayaan diri memprediksi performa (dan bukan kemampuan) pada laki-laki dan perempuan.

Maloney, Waechter, Risko, dan Fugelsang (2012) menyebutkan pula bahwa bermain video game dapat membantu perempuan meningkatkan kemampuan spasialnya. Selain itu, menolak stereotipe bahwa kemampuan spasial perempuan lemah juga dapat meningkatkan kepercayaan diri perempuan yang pada gilirannya berimbas positif pada performanya.

Landasan teoretis

Kecemasan matematika (math anxiety) adalah kondisi di mana individual mengalami afek negatif ketika berkutat dalam tugas yang membutuhkan kemampuan numerik dan matematis (Richardson and Woolfolk, 1980). Hembree (1990) mengatakan bahwa kecemasan matematika lebih berpengaruh pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hal ini dimungkinkan karena adanya stereotipe genderApakah yang dimaskud dengan stereotipegnder?Sterotipe gender adalah pandangan umum atau prekonsepsi tentang atribut atau karakteristik yang dimiliki, atau peran yang sebaiknya ditunjukkan, oleh laki-laki dan perempuan.

Stereotipe gender berbahaya ketika hal itu membatasi kapasitas laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan kemampuan personal dan karier serta menentukan pilihan hidup (Office of High Commisioner for Human Rights, 2015).

Mitos-mitos yang berkaitan dengan stereotipe perempuan dalam hal matematika seperti Perempuan tidak dapat mengerjakan matematika, Terdapat perbedaan fungsi biologis karena perbedaan gender dalam hal matematika,  dan Perempuan belajar lebih baik dari guru perempuan berkembang di tengah masyarakat. Bahkan hampir setengah dari perempuan yang pernah diteliti mendukung stereotipe ini sampai batas tertentu (Blanton, Christie, & Dye, 2002 dalam Estes & Felker, 2011).

Adanya mitos dan stereotipe tersebut menimbulkan ketidakinginan perempuan untuk mengerjakan tugas matematika, yang selanjutnya mengakibatkan performa perempuan yang buruk pada matematika, sehingga perempuan cenderung menghindari karier yang berkaitan dengan STEM.

Pandangan tersebut menginisiasi bias dalam kelas yang justru menguatkan perbedaan laki-laki dan perempuan (Campbell & Storo, 1994). Individu yang memegang kepercayaan tradisional tentang peran gender dan yang terlibat dalam perilaku gender yang khas percaya pada stereotipe umum bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan dalam keterampilan spasial.

Namun, kenyataannya perempuan dapat menunjukkan performa yang lebih baik, contohnya dalam melakukan rotasi mental, apabila diminta untuk membayangkan dirinya dalam stereotipe gender laki-laki, dibandingkan apabila dirinya mengasosiasikan diri dengan stereotipe perempuan (Ortner & Sieverding, 2008 dalam Estes & Felker, 2011).

Penelitian 1
Partisipan Penelitian
Maloney, Waechter, Risko, dan Fugelsang (2012) melakukan dua studi, yaitu (1) pada 118 mahasiwa Universitas Waterloo (80 perempuan dan 39 laki-laki) dan (2) pada 240 partisipan dewasa (151 perempuan dan 98 laki-laki) yang direkrut secara online menggunakan Amazons Mechanical Turk.

Hipotesis Penelitian
Hubungan antara jenis kelamin dan kecemasan matematika dimediasikan oleh spasial learning ability.

Alat Ukur
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan Abbreviated Math Anxiety Questionnaire (AMAS) yang terdiri atas 9 soal, dan Object Spasial Imagery Questionnaire (OSIQ) yang terdiri atas 15 soal Spasial dan 15 soal mengenai Objek

Variabel Penelitian
IV1 : Jenis Kelamin
IV2 : Kecemasan Matematika
Mediator : Kemampuan Belajar Spasial (Spatial Learning Ability)

Desain Penelitian
Korelasional

Metode Penelitian
Partisipan diminta mengisi soal AMS dan OSIQ secara online dan mengidentifikasi jenis kelamin biologis.

Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin berkorelasi terhadap kemampuan spasial (β=.38, SE=.54, p < .01), namun kemampuan spasial berkorelasi negatif dengan kecemasan matematika (β=-.38, SE=.61, p < .01).

Penelitian ini menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin bukan dipengaruhi oleh stereotipe sosial atau keinginan perempuan untuk melaporkan kecemasan, seperti yang diyakini selama ini. Perempuan dianggap lebih cemas (dalam matematika) dibandingkan rata-rata laki-laki karena perempuan lebih buruk dalam kemampuan spasial dibandingkan rata-rata laki-laki.

Studi Penelitian 2
Partisipan Penelitian
Estes dan Felker (2012) melakukan empat eksperimen mengenai kepercayaan diri yang memediasi perbedaan jenis kelamin dalam performa rotasi mental (salah satu kemampuan spasial) pada sejumlah besar mahasiswa yang berkuliah di kawasan Amerika Utara, yang berkisar antara usia 17 hingga 23 tahun.

Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental, between subject.

Hipotesis Penelitian
Hubungan antara jenis kelamin dan performa rotasi mental dimediasi oleh kepercayaan diri

Alat Ukur
24 item Mental Rotation Test

Variabel Penelitian
IV : Jenis Kelamin
DV : Tugas Rotasi Mental (Mental Rotation Task)
Mediator : Kepercayaan diri

Desain Penelitian
Eksperimental. 2 X 2 Between Subject.

Metode Penelitian
Dalam eksperimen 1, 70 (35 perempuan dan 35 laki-laki) partisipan diukur secara individual dalam sebuah ruangan yang minim suara. Instrumen dan petunjuk percobaan diberikan melalui komputer. Setiap percobaan berisi satu soal gambar dengan empat alternatif yang dijajarkan pada layar.

Stimuli berupa soal ditampilkan hingga waktu yang tidak ditentukan. Stimulus tersebut tetap berada di layar hingga partisipan memberikan dua respons sebagai jawaban. Partisipan diminta menekan tombol A, B, C, atau D, berdasarkan jawaban yang mereka anggap paling benar.
Setelah menekan jawaban, pada kelompok 2 (confidence), pertanyaan mengenai kepercayaan terhadap jawaban akan muncul berupa teks, “How confident are you in this choice?” dan partisipan diminta memilih salah satu jawaban dari angka 1 (not at all) hingga 7 (extremely). Ketika eksperimen berakhir, partisipan diminta untuk menekan tombol M/F tergantung jenis kelamin masing-masing.
Dalam eksperimen 2, para peneliti berusaha mengurangi perbedaan jenis kelamin dalam performa rotasi mental dengan membuat kepercayaan diri menjadi tidak relevan dengan tugas yang diberikan. Caranya adalah membagi responden menjadi dua kelompok, kelompok ommission (diperbolehkan menghapus jawaban) dan commission (diminta menjawab tiap pertanyaan). Dalam eksperimen ini, total 174 mahasiswa (85 perempuan dan 89 laki-laki) berpartisipasi untuk mengisi 24 item kuesioner Mental Rotation Test (MRT).

Dalam eksperimen 3, yang dilakukan kepada 148 mahasiswa (76 perempuan dan 72 laki-laki), peneliti berupaya melihat apakah performa dijelaskan lebih baik melalui respons jawaban (commission) atau tingkat kepercayaan diri (confidence).
Terakhir, dalam eksperimen 4 para peneliti memanipulasi kepercayaan diri partisipan sebelum pengerjaan MRT. Total sejumlah 153 mahasiswa (76 perempuan, 77 laki-laki).

Hasil Penelitian
Karena laki-laki lebih percaya diri dibanding perempuan dalam tugas rotasi mental (Cooke-Simpson and Voyer 2007) dan kepercayaan diri memediasikan performa dalam tugas-tugas kognitif lain (Casey et al. 1997; Estes 2004), para peneliti berhipotesis bahwa kepercayaan diri memediasikan perbedaan jenis kelamin dalam performa rotasi mental.

Eksperimen 1 mereplikasikan perbedaan jenis kelamin dalam performa rotasi mental tetapi juga memperlihatkan bahwa kepercayaan diri memediasikan perbedaan jenis kelamin itu, dan memperhitungkan kepercayaan diri menghapuskan perbedaan jenis kelamin dalam skor rotasi mental.

Kelompok commission dalam eksperimen 2 menghapuskan keefektifan kepercayaan diri dengan meminta partisipan merespons tiap soal. Saat kepercayaan diri kemudian menjadi tidak relevan, perbedaan jenis kelamin dalam akurasi yang muncul dalam kondisi omission terhapus dalam kondisi commission ini.
Dalam eksperimen 3, kondisi commission lagi-lagi menghapuskan perbedaan jenis kelamin dalam akurasi. Namun, kondisi kepercayaan diri mengembalikan relevansi kepercayaan diri dengan menambahkan permintaan kepada partisipan untuk menilai kepercayaan dirinya dalam tiap respons. Dengan kepercayaan diri yang ditekankan, perbedaan jenis kelamin dalam akurasi muncul kembali.
Akhirnya, dalam eksperimen 4 para peneliti memanipulasi kepercayaan diri partisipan dengan secara acak memberitahukan kepada mereka bahwa mereka di atas atau di bawah rata-rata dalam tugas yang sangat sulit. Partisipan kemudian menampilkan performa yang lebih baik atau lebih buruk dalam MRT.

Kesimpulan
Perdebatan mengenai apakah kemampuan spasial dipengaruhi oleh jenis kelamin masih terus berlangsung. Kepercayaan umum bahwa mamalia jantan memiliki kemampuan spasial yang lebih tinggi dibandingkan betina masih beredar secara luas.

Penelitian Jones, Braithwaite, dan Healy (2003) yang mencoba menjelasakan fenomena tersebut lewat pendekatan evolusioner gagal menjelaskan fenomena tersebut. Sementara itu, Rivardo, Rhodes, dan Legg (2011) yang berupaya menjelaskan perbedaan pengaruh ancaman stereotipe dalam tugas matematika dengan mengukur hormon melalui saliva juga tidak menemukan hasil yang signifikan.
Sebaliknya, Maloney, Waechter, Risko, dan Fugelsang (2012) di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan spasial antara perempuan dan laki-laki. Sementara Estes dan Felker (2012) menemukan bahwa perbedaan kemampuan spasial antara perempuan dan laki-laki dimediasikan oleh kepercayaan diri.

Penutup
Kegagalan dalam analisis tentang perbedaan jenis kelamin dan kaitannya dengan kemampuan spasial, yang berusaha dijelaskan lewat analisis ancaman stereotipe laki-laki dan perempuan, belum membuahkan hasil. Hal ini diasumsikan terjadi karena stereotipe yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki sudah terjadi secara otomatis jauh sebelum individu menyadari bahwa dirinya terpengaruh oleh stereotipe tersebut.

Selama ini, laki-laki didukung penuh untuk berkarya di bidang pendidikan, terutama STEM, sementara perempuan terjebak dalam ide menjadi feminin, yang banyak diartikan sebagai lebih lemah daripada menjadi maskulin. Ilmu pengetahuan dan pendidikan yang selama ini didominasi laki-laki memberikan kepercayaan diri dan akses seluas-luasnya kepada laki-laki. Ilmu pengetahuan yang diberi label maskulin dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh perempuan. Laki-laki mendapatkan akses mulai dari mainan, pendidikan, pekerjaan, dan karier sepanjang hidupnya untuk mengekplorasi dan mengembangkan dirinya dalam STEM, terutama dalam kemampuan spasial dan matematika.
Namun, Sherman (1967, dalam Reily & Neumann, 2013) menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam kemampuan spasial seseorang tergantung pada kesempatan yang diberikan untuk membangun dan mengasah kemampuan spasial tersebut lewat kegiatan bermain dan kegiatan rekreasional lainnya.

Dalam masyarakat, anak laki-laki dan perempuan secara tipikal disosialisasikan secara berbeda dalam berbagai kegiatan tersebut, dan didukung oleh orangtuanya untuk terlibat dalam kegiatan yang secara stereotipe bersifat maskulin atau feminin, sesuai dengan jenis kelamin mereka. Mobil, video games bentuk bangun ruang, peralatan pertukangan, serta mainan bentuk dan berhitung diberi gender sebagai milik laki-laki dan mempunyai label maskulin, yang mana menurut Caplan & Caplan (1994, dalam Reily & Neumann, 2013) membantu mengembangkan kemampuan spasial. Sementara, kegiatan yang dilabeli feminin tidak membutuhkan kemampuan spasial, namun mengembangkan kemampuan sosial (Lever 1976, dalam Reily & Neumann, 2013).

Penemuan-penemuan tersebut menunjukkan bahwa stereotipe gender berpengaruh tidak secara langsung pada kemampuan spasial seseorang namun memengaruhi akses individu untuk mengembangkan kemampuan spasial mereka. Hal ini tentunya dapat diatasi dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memperkenalkan pendidikan dan pengalaman tanpa mengenal gender sedari dini, serta adanya affirmative action untuk mengikutsertakan lebih banyak perempuan dalam kegiatan yang mendukung pengembangan kemampuan tersebut.

Pada dasarnya, banyaknya penelitian yang tidak mampu menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara kognitif dapat dilihat sebagai satu fenomena tertentu. Penelitian yang selama ini berfokus untuk mencari perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan seharusnya dapat menyasar pada penelitian mengenai kesamaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan (Campbell & Storo, 1994).

Penelitian untuk melihat kesamaan adalah hal yang penting, meskipun tidak populer, untuk melakukan pembuktian terbalik pada teori yang menyasar pada perbedaan biologis dan kognitif antar jenis kelamin, yang berdampak pada diskriminasi sosial.

Penelitian seperti itu juga dapat memberikan gambaran yang menekankan pada persamaan laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk menginisiasi pendidikan berkeadilan gender. Perempuan sebaiknya mendapatkan dukungan penuh agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan, karier, dan pendidikan terkait STEM.

Daftar Pustaka
Campbell, P. B., & Storo, J. N. (1994). Girls are… Boys are… : Myths, stereotypes & gender differences. Office of Educational Research and Improvement. MA : Campbell-Kibler.
Jones, C. M., Braithwaite, V. A., & Healy, S. D. (2003). The evolution of sex differences in spasial ability. Behavioral Neuroscience. 117 (3), 403-411. DOI: 10.1037/0735-7044.117.3.403
Estes, Z., & Felker, S. (2012). Confidence mediates the sex difference in mental rotation performance. Archives of Sexual Behavior, 41 (3), 557-70. DOI: 10.1007/s10508-011-9875-5
Maloney, E. A., Waechter, S., Risko, E. F., & Fugelsang, J. A. (2012). Reducing the sex difference in math anxiety: The role of spasial processing ability. Learning and Individual Differences, 22 (3), 380-384. DOI: 10.1016/j.lindif.2012.01.001
Maloney, E. A., Schaeffer, M. W., & Beilock, S. L. (2013). Mathematics anxiety and stereotype threat: shared mechanisms, negative consequences and promising interventions. Research in Mathematics Education, 15 (2), 105-128, DOI: 10.1080/14794802.2013.797 744
Office of High Commisioner for Human Rights. (2015). Gender stereotypes/ stereotyping. Retrieved Oktober 25, 2015, from United Nations Human Rights: http://www.ohchr.org/EN/Issues/Women/WRGS/Pages/GenderStereotypes.aspx
Pease, A., & Pease, B. (1999). Why men dont listen and why women cant read road maps : How were different and what to do about it. New York : Pease International.
Reily, D. & Neumann, D. L, (2013). Gender-role differences in spasial ability: A meta-analytic review. Sex Roles (68), 521535. DOI: 10.1007/s11199-013-0269-0
Rivardo, M. G., Rhodes, M. E., Camaione, T. C., & Legg, J. M. (2011). Stereotype threat leads to reduction in number of math problems women attempt. North American Journal of Psychology, 13(1), 5-16.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s