Diskriminasi, nyatakah?

*Ferena Debineva

Seorang mahasiswa pernah bertanya, masih adakah diskriminasi di UI—salah satu perguruan tinggi paling prestisius di Indonesia?

Pertanyaannya tidaklah sulit dijawab dan tentu saja jauh dari membingungkan. Hanya saja, kami mengalami kebingungan mengapa pertanyaan ini bisa muncul. Diskriminasi di perguruan tinggi ini tidaklah sesukar itu untuk dijumpai. Ia bahkan sangat kasat mata.

Tetapi, memang, persoalan ini lebih lazim dialami oleh kelompok tertentu—kelompok yang dalam istilah yang sebenarnya kurang nyaman didengar disebut minoritas. Diskriminasi yang acap kali dihadapi oleh kelompok minoritas seksual antara lain adalah pelecehan dan kekerasan. Bentuknya mencakup prasangka yang berujung pada bullying, diskriminasi dan ancaman dari pihak-pihak tertentu.

Seorang alumni yang kini bekerja sebagai peneliti di pusat kajian departemen, ambil satu contoh, dipanggil oleh Ketua Departemen dan dimarahi habis-habisan. Ia diminta menjauh dari himpunan mahasiswa karena dianggap berusaha menularkan orientasi seksualnya kepada para mahasiswa lainnya.

Pada kesempatan lain, ada mahasiswa yang lulus dengan predikat cum laude tak bisa maju mewakili fakultasnya dalam wisuda. Karena apa? Kalian dapat menerkanya: karena orientasi seksualnya yang berbeda.

Perlakuan ini menyakitkan. Kami bisa meyakinkan kepada kalian, sangat menyakitkan. Anda dianggap “menular.” Keberadaan Anda diperlakukan sebagai penyakit sekaligus aib. Bayangkan rasanya nama Anda dan teman-teman Anda yang dianggap lain tiba-tiba dicatat oleh seorang staf universitas. Mereka kemudian meminta Anda menyebutkan semua nama yang orientasinya sama dengan Anda agar mereka bisa mencatat semuanya.

Apakah kita bisa berpikiran positif menghadapi perlakuan demikian? Betapapun kami berusaha melakukannya, kami tak bisa. Mereka nampak sedang digiring masuk dalam zona karantina dan diperlakukan seakan tak mempunyai perasaan.

Diskriminasi semacam yang baru saja kami sebutkan bahkan boleh dikatakan baru diskriminasi tahap pertama. Keluhan bahwa kelompok LGBT mengalami diskriminasi selanjutnya lumrah ditanggapi dengan menafikan keseriusan dari kepelikan ini. Mereka dianggap terlampau melebih-lebihkan situasi. Kesulitan mereka dianggap didramatisir dan seharusnya tidak seberapa.

Apa yang perlu Anda alami agar Anda disebut cukup menderita kalau begitu?

Dan sejauh ini, kami baru menyebutkan diskriminasi yang gamblang. Yang tidak terlihat—yang dialami pihak-pihak bersangkutan melalui media sosialnya, pergaulan sehari-harinya—jelas jauh lebih pervasif.

Mengapa hal ini terjadi? Hal ini terjadi, kami kira, karena sikap yang memunculkan pertanyaan sang mahasiswa di pembukaan tulisan ini. Sebagian individu menerima hak mereka sebagai sesuatu yang terberi begitu saja—cuma-cuma. Kehidupan berjalan dengan begitu mulus, mereka tak menyadari kekerasan dalam pelbagai bentuk terjadi di depan mata mereka sampai dengan kekerasan tersebut mengambil bentuk pemukulan.

Pelaku diskriminasi, kami curiga, bahkan tak menyadari bahwa tindakan mereka adalah diskriminasi. Pada titik ini, kami kira, kita perlu menganggap masalah ini masalah bersama dan patut dijadikan bahan evaluasi diri. Mulailah tempatkan diri pada kedudukan orang lain dan bayangkan diri kita tak seberuntung itu sama dengan kebanyakan orang.

Mari mulai dengan pertanyaan, mengapa saya tidak menerima individu lain? Mengapa saya merasa perlu melakukan tindak kekerasan untuk melegitimasi pandangan saya terhadap individu lain? Mengapa saya merasa terancam dengan keberadaan individu lain?

Atau sebagai instansi: Apakah sebagai instansi, UI telah melindungi dan mengakomodasi kebutuhan kebutuhan dan hak hak dasar sivitas akademika, termasuk diantaranya LGBTIQA? Apakah UI sebagai instansi, melindungi dan mempunyai kebijakan dan panduan yang jelas untuk meminimalkan adanya diskriminasi dan kekerasan di lingkungan kampus?

Ini yang jelas bukan (hanya) masalah dan pekerjaan rumah untuk LGBT, tapi untuk semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s