ARISAN: LGBT Movement

*Joshua Ananggadipa Haryono

Apakah anda sebenarnya pernah bertanya, mengapa bisa ada gay rights movement? Bukankah semua manusia itu punya derajat yang sama? Well, lihat kenyataannya saja. Masih ada orang-orang yang terdiskriminasi, baik dari ras, agama, warna kulit dan salah satunya orientasi seksual. Gay rights movement pun tak datang begitu saja karena adanya proses yang dijalani sehingga bisa menjadi suatu gay rights movement yang sangat berpengaruh bagi dunia terutama dalam memperjuangkan hak LGBT.

Gay rights movement ini bila dilihat dari konteks sejarahnya semua bermulai di Benua Eropa (terutama di Eropa Barat dan di negara-negara seperti Jerman, Austria, Inggris Raya). Gay rights movement pertama kali tercatat sejarah pada tahun 1867 dimana saat itu seorang penulis bernama Karl Heinrich Ulrich memperdebatkan mengenai perlakuan sesama jenis yang saat itu menjadi tindak criminal di Jerman dan dia berbicara di depan para petinggi hukum di Berlin. Sebelumnya, Ulrich menulis esai yang dikumpulkan dan dipublikasikan dengan judul Forschungen über das Rätsel der mannmännlichen Liebe (Studies on the Riddle of Male-Male Love). Dalam esainya ini dia menggunakan istilah “urning” (sekarang kita kenal dengan sebutan gay) serta “dioning” (sekarang kita kenal dengan istilah lesbian). Ulrich pun dilihat sebagai pionir dari gay rights movement.

Masuk ke abad 20 awal, di beberapa negara, perlakuan sesama jenis pun sudah bukan merupakan tindakan kriminal lagi. Dari sini pun beberapa akademisi atau tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam ilmu pengetahuan pun juga sudah mulai membicarakan mengenai perlakuan sesama jenis, seperti Sigmund Freud, Magnus Hirschfield, Henry Havelock Ellis. Pada tahun 1919, Magnus Hirschfield membangun Institute for Sexual Science di Berlin, yang merupakan institut pertama yang dibangun yang mempunyai kajian mengenai seksualitas.

Bagaimana keadaan di Benua Amerika? Di Benua Amerika sendiri sebenarnya belum terlalu muncul topik mengenai homoseksualitas ini. Namun, ada seorang tokoh yang membuat gay rights organization di Amerika Serikat, yaitu Henry Gerber. Geber membentuk suatu gay rights organization dengan nama The Society for Human Rights. Namun, karena sibuk dengan Perang Dunia II, topik ini hampir tidak pernah terdengar lagi di Amerika Serikat. Di tahun 1950an-lah topik mengenai homoseksualitas pun muncul kembali dan bahkan di zaman ini ada sebutan The Homophile Movement. Mengapa disebut homophile? Karena homophile dianggap lebih merepresentasikan cinta (philia = cinta) dibanding dengan homosexual yang dianggap diartikan lebih mengutamakan seks. Pembicaraan mulai hangat dan sudah tercatat berbagai kekerasan yang dilakukan polisi terhadap para gay maupun para cross dresser. Dapat disimpulkan bahwa kehidupan para gay di tahun 50an ini memang tidak mudah dan memaksa mereka untuk bertahan di closet untuk bisa menjalani hidup seperti biasa, ditambah lagi dengan dikeluarkannya Anti Sodomy-Law. Namun, dengan banyaknya kecaman di tahun-tahun ini, organisasi LGBT pun juga mulai bermunculan. Salah satu organisasi yang terkenal di zaman ini adalah Mattachine Society yang dibuat pada tahun 1951. Organisasi ini bertujuan untuk membantu para gay agar bisa berasimilasi dengan masyarakat melalui edukasi dan membangun ally bagi para heteroseksual.

Tahun 60an pembicaraan menjadi semakin hangat dan scene dari LGBT pun juga semakin meningkat. Perjuangan pun juga sudah dimulai. Ini ditunjukkan dengan adanya demonstrasi pertama kali yang mengangkat topik mengenai homoseksualitas. Demonstrasi ini terjadi di tahun 1965 di depan Gedung Putih, Washington D.C. Namun, demonstrasi ini sangat berjalan dengan damai, hanya sebatas orang-orang berbaris memegang plang masing-masing dan berpakaian rapih. Uniknya, pakaian yang dipakai adalah jas untuk para lelaki dan dress biasa untuk para perempuan. Ini merupakan bentuk protes mereka dan memumjukkan bahwa sebenarnya para homoseksual itu sama saja seperti orang-orang pada umumnya. Mereka menuntut persamaan hak untuk para homoseksual.

Pada tahun 1966, ada suatu kejadian yang cukup rusuh dan menimpa para drag queen adalah Compton’s Cafeteria Riot. Tidak banyak hal yang tercatat mengenai kejadian ini, namun kejadian ini adalah salah satu kejadian pertama yang melibatkan suatu kerusuhan dan kejadian yang melibatkan drag queen. Namun, salah satu landmark yang menjadi titik kebangkitan perjuangan para homoseksual adalah Stonewall Riot. Stonewall Riot terjadi pada tanggal 28 Juni 1969. Kejadian ini adalah dimana terjadinya kerusuhan antara pengunjung bar dengan polisi dan kejadian ini memakan beberapa korban, baik dari pengunjung maupun polisinya. Namun, kejadian ini memang sangat diketahui publik dan kejadian ini menjadi titik kebangkitan perjuangan homoseksual itu sendiri. Nantinya, bulan Juni dirayakan sebagai pride month setiap tahunnya.

Setelah terjadinya Stonewall Riot itu, pada tahun 1970 diadakan suatu march yang diarayakan sebagai peringatana setahun terjadinya Stonewall Riot dan march ini sekarang kita kenal dengan gay pride. Gay pride pertama diadakan di Christopher Street dan aksinya dinamakan Christopher Street Liberation Day. Lalu, gay pride ini diadakan di Los Angeles dan Chicago. Di tahun 70an inilah kehidupan para homoseksual semakin visible di masyarakat dan sudah banyak orang yang melakukan coming out. Bahkan, ada beberapa orang yang memang sudah out dan ambil andil dalam dunia perpolitikan. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Harvey Milk. Milk adalah salah satu figur yang paling terkenal dan sangat berpengaruh dalam eksistensi serta pengakuan kesetaraan terhadap LGBT di dunia perpolitikan. Milk merupakan seorang gay yang pertama kali terpilih untuk masuk ke public office (San Francisco Board of Supervisor) di California. Namun, seiring dengan kebangkitan perjuangan ini, kaum konservatif pun juga tak kalah suara dengan para LGBT. Salah satu tokoh anti-gay yang terkenal adalah Anita Bryant. Bryant adalah seorang yang berasal dari Florida, penyanyi dan mantan Miss Oklahoma. Bryant sering berbicara di publik mengenai posisinya dia dalam hal LGBT itu sendiri dan dia sangat mempromosikan pandangan oposisinya itu, bahkan dia sampai membuat kampanye yang disebut Save Our Children. Ada kejadian dimana saat dia mengadakan konferensi pers di Iowa pada tahun 1977, Bryant dilempar pie dan langsung landas dimukanya.

Masuk ke tahun 80an, para gay ini dihadapkan dengan isu virus yang menjadi salah satu penyakit yang memakan banyak korban di dunia, yaitu HIV/AIDS. Kepanikan mengenai virus ini terjadi di awal tahun 80an. Bahkan nama asli dari AIDS ini sendiri dulunya adalah Gay-Related Immune Deficiency (GRID). Nama yang memang sangat ofensif dan munculnya nama ini karena memang virus ini tersebar dikalangan homoseksual. Padahal, setelah ditelusuri kembali, virus ini pun juga menjangkit kaum heteroseksual juga. Namun, stigma itu sudah melekat pada masyarakat saat itu dan bahkan para konservatif menyebut hal ini sebagai “hukuman bagi para homoseksual dari Tuhan”. Akhirnya sebutan GRID pun dihilangkan dan diganti menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Arah dari organisasi LGBT yang ada saat itu pun juga sedikit berubah karena sekarang mereka fokus untuk bisa menghilangkan stigma yang ada di masyarakat mengenai AIDS dan para homoseksual itu serta bagaimana mereka sebagai organisasi pejuang LGBT ini dapat terus mendukung para anggotanya yang terjangkit AIDS ini. Di sisi lain, mereka juga memperjuangkan kesetaraan untuk para LGBT agar tidak semakin dimarjinalkan, apalagi dengan adanya berita mengenai AIDS ini. Sehingga, bisa dibilang tahun 80an ini adalah tahun yang sangat berat bagi LGBT movement itu sendiri karena banyak sekali masalah yang harus dibereskan. Respon dari pemerintah Amerika Serikat saat itu juga sangat lambat, padahal sudah banyak korban berjatuhan akibat virus ini. Baru sekitar pertengahan tahun 80an, Presiden Reagan (Presiden saat itu) menginstruksikan untuk membuka research mengenai virus ini.

Tahun 90an adalah saat dimana LGBT menjadi salah satu bahan pemberitaan media maupun inspirasi dalam sebuah film ataupun serial televisi. Sudah mulai banyak serial televisi yang memunculkan karakter seorang gay ataupun lesbian, namun potrayalnya itu sendiri masih seorang yang menjadi korban perkosaan, pengidap AIDS, punya kehidupan yang berat, dieksklusi oleh keluarganya sendiri dan hal-hal sedih lainnya. Namun, salah momen landmark dalam media adalah ketika salah satu sitkom yang berjudul Ellen (salah satu bintangnya adalah Ellen DeGeneres), dimana tokoh utamanya, Ellen Morgan, melakukan coming out. Coming out ini pun juga tak hanya tokohnya saja, namun dalam kehidupan nyata Ellen DeGeneres pun juga melakukan hal yang sama, bahkan sampai menjadi headline di Majalah People. Di tahun 1998, sitkom Will & Grace pun dirilis dan menjadi salah satu sitkom yang paling terkenal dan salah satu sitkom terbaik. Potrayal LGBT dalam media ini sudah menjadi salah satu bentuk dimana perjuangan kesetaraan itu tak hanya disalurkan lewat suatu organisasi, namun bisa melalui media visual, walaupun ada beberapa serial televisi dan film yang dibuat oleh seorang heteroseksual. Namun, pergerakan organisasi LGBT pun juga semakin kuat dan semakin bertambah visibilitasnya dan bahkan semakin vokal di publik itu sendiri. Beberapa negara sudah memulai melegalkan civil union seperti Denmark, Swedia, dan Belanda.

Masuk ke zaman 2000an, LGBT movement pun semakin kuat dan penyampaiannya pun mulai beragam seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih. Pergerakannya pun sudah mulai menyebar karena tak hanya lagi di Benua Amerika ataupun di Benua Eropa lagi, namun sudah menjamur hingga Benua Asia bahkan Benua Afrika. Namun, pihak konservatif pun juga sama kuatnya, apalagi di Benua Afrika dan Benua Asia yang masih sangat kuat dalam hal budaya dan agama sehingga masih ditemukan di banyak negara dimana perlakuan sesama jenis merupakan sebuah tindak kriminal dan bahkan sampai bisa mendapatkan hukuman mati. Tetapi, di belahan dunia barat, pernikahan sesama jenis telah dilegalkan. Negara yang pertama kali melegalkan pernikahan sesama jenis adalah Belanda, yaitu pada tahun 2001. Lalu disusul Belgia, Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Norwegia, Swedia, Portugal, Islandia, Argentina, Denmark, Brazil, Perancis, Uruguay, Selandia Baru, Luksemburg, Amerika Serikat, Irlandia, dan yang baru saja melegalkan adalah Kolombia. LGBT movement di zaman 2000an ini memang sudah semakin menjamur dan bahkan dari para heteroseksual pun juga sudah berani menyuarakan suaranya untuk mendukung LGBT dan biasanya disebut straight ally (ally saja sebenarnya sudah cukup), bahkan beberapa petinggi negara seperti Barack Obama (Presiden Amerika Serikat), Mary McAleese (mantan Presiden Irlandia) menyuarakan dukungannya untuk melegalkan pernikahan sesama jenis.

Apa kabar dengan Indonesia? Dengan meluapnya pemberitaan mengenai LGBT di awal tahun 2016, ini bisa diartikan sebagai titik awal dimana masyarakat Indonesia sudah seharusnya mengetahui mengenai hal ini dan bisa mendobrak tabu bila diajak berbicara mengenai LGBT. Namun, kesiapan dari orang Indonesia itu sendiri sebenarnya masih minim, dan pembekalan pengetahuan yang cukup amat diperlukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s