Penjelasan SGRC Indonesia Mengenai Surat Pernyataan PDSKJI Terkait LGBT dan Tanggapan APA

Hari ini SGRC Indonesia akan membahas mengenai terminologi yang belakangan beredar, terutama mengenai ODMK dan ODGJ, kaitannya dengan PDSKJI. Terutama untuk yang belum membaca jawaban SGRC Indonesia di laman ask.fm/SGRCUI. Hal ini berkaitan dengan surat pernyataan PDSKJI terkait LGBT, tanggapan APA, dan penjelasan lanjutan dari PDSKJI.

CeIux0OVAAAcTq5.jpg large
lembar pertama pernyataan sikap PDSKJ yang menjadi perdebatan di kalangan publik.
CeIuy1jVAAAHSea.jpg large
lembar kedua pernyataan sikap PDSKJ yang seharusnya menjadi perhatian lebih dan diutamakan.

Jika ada yang tidak dimengerti, silakan bertanya langsung ya! Pertanyaan dapat diajukan melalui email resmi kami dan beberapa media sosial kami, dengan mengetik pencarian dengan nama SGRCUI, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, dan Askfm.

Untuk lebih jelas akan dijelaskan secara lugas mengenai pengertian-pengertian terkait dengan gambar di atas. Pertama, mari kita urai istilah istilah umum:

  1. PDSKJI merujuk kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia.
  2. IPA adalah Indonesian Psychiatric Association, sama dengan PDSKJI.
  3. ICD adalah International Classification of Diseases
  4. ODMK adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan dan ODGJ adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa.
  5. Singkatan lain yang mungkin muncul akan dijelaskan kemudian.

Harus dapat diketahui bahwa Psikiater dan Psikolog adalah dua disiplin ilmu yang berbeda. Psikiater berbeda dengan Psikolog. Pendidikan S1 Psikiatri adalah Pendidikan Dokter, yang selanjutnya melanjutkan dengan spesialis Kedokteran Jiwa. Sedangkan Psikolog menempuh S1 di Ilmu Psikologi dan melanjutkan S2 Profesi Psikologi. Semoga menjadi cukup jelas.

Sekarang, pembahasan mengenai ODMK dan ODGJ itu sendiri. Pada poin kedua dijelaskan:

Dalam Ilmu Psikiatri dikenal orientasi seksual meliputi heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Homoseksualitas adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual dengan kepada jenis kelamin yang sama. Homoseksual meliputi lesbian dan gay. Biseksualitas adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada kedua jenis kelamin. Transeksualisme adalah gangguan identitas jenis kelamin berupa suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan tidak enak atau tidak sesuai anatomis seksualnya dan menginginkan untuk memperoleh terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan. Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, Pasal 1 Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental dan sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki resiko mengalami gangguan jiwa. Dengan demikian orang dengan homoseksual dan biseksual dapat dikategorikan sebagai orang dengan masalah kejiwaan (ODMK)”.

Pernyataan ini seringkali digunakan untuk menstigmatisasi LGBT, dan melegitimasi tindakan kekerasan terhadap LGBT karena dianggap ‘Gangguan’. Hal ini (ODMK) dianggap sebagai diagnosis FINAL dari Psikiater bahwa LGBT terganggu dan harus disembuhkan. Padahal, ODMK bukan merupakan terminologi untuk diagnosis melainkan terminologi untuk populasi yang dianggap beresiko tinggi; serta yang dimaksud ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Contohnya, ODMK bisa seseorang dengan disabilitas tetapi hidup dalam lingkungan yang tidak disability-friendly; remaja yang tertekan oleh bullying di sekolah;  pekerja yang sehari-hari mengalami tekanan menghadapi kemacetan dalam perjalanan harian. ODMK juga banyak dialami oleh kelompok urbanisasi, warga yang tinggal di daerah bencana alam, bajir, daerah teroris. Jadi, sebenarnya semua orang mempunyai resiko mengalami masalah kejiwaan.

Pertanyaan selanjutnya : “Dari mana terminologi OMDK ini berawal?”. Istilah ODMK dan ODGJ bisa ditemukan di Undang-Undang  Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa (selanjutnya dibaca UU Kesehatan Jiwa). Salah satu alasan UU Kesehatan Jiwa memunculkan istilah ODMK selain ODGJ adalah karena keinginan perhatian upaya kesehatan jiwa bagi ODMK bisa ditekankan pada upaya promotif dan preventif.

Upaya promotif Kesehatan Jiwa ditujukan untuk:

  1. Mempertahankan dan meningkatkan derajat Kesehatan Jiwa masyarakat secara optimal
  2. Menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ sebagai bagian dari masyarakat ;(dan ini sangat penting)
  3. Meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa; dan
  4. Meningkatkan penerimaan dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa.

Stigma, diskriminasi, dan peran serta masyarakat adalah kata-kata kunci bagi upaya promotif dan dapat dilaksanakan dimanapun. Apa implikasi lanjutan yang terdapat di UU Kesehatan Jiwa mengenai ODMK dan ODGJ? Adalah terdapat pada Pasal 86 UU Kesehatan Jiwa yang sama.

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasungan, penelantaran, kekerasan dan/atau menyuruh orang lain untuk melakukan pemasungan, penelantaran, dan/atau kekerasan terhadap ODMK dan ODGJ dipidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Inilah yang seharusnya menjadi  highlight concern.

Lalu? Apakah pernyataan tersebut berbeda dengan ICD? Apakah sebenarnya ICD yang menjadi rujukan PDSKJI/IPA? Indonesia, terutama PDSKJI, masih menggunakan ICD 10 (International Classification of Disease) dan gagal menegaskan bahwa sebagaimana yang tertulis pada F66 –Psychological and behavioural disorders associated with sexual development and orientation, dicatatkan bahwa: “Sexual orientation by itself is not to be regarded as a disorder”.

CeI4ECoUAAAT-p3.jpg large
ICD 10 – F66 – Psychological and behavioural disorders associated with sexual development and orientation, note: “Sexual orientation by itself is not to be regarded as a disorder”.

ICD-10 sendiri adalah klasifikasi kesehatan yang dibuat oleh WHO (World Health Organization) yang digunakan praktisi kesehatan untuk epidemiologi, manajemen kesehatan dan tujuan klinis, termasuk analisis situasi kesehatan umum kelompok populasi; Untuk memonitor insiden & prevalensi penyakit dan masalah kesehatan lainnya, membuktikan gambaran situasi kesehatan umum negara dan populasi.  Jadi tidak hanya berfokus pada kesehatan mental saja. Uniknya edisi 10 (ICD-10) dipublikasikan pada tahun 1990, yakni masih dipakai dari 27 tahun lalu.

Lalu apa itu DSM? DSM V (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition. DSM V adalah alat bantu diagnosis dan klasifikasi gangguan mental yang dikeluarkan oleh APA (American Psychiatric Association). Pada tahun 2013 yang diterbitkan oleh APA (American Psychiatric Association) dan berfokus pada klasifikasi gangguan mental.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah mana yang lebih baru antara standar DSM V yang dipakai Amerika, dengan ICD-10 yang dijadikan acuan para ahli psikiatri Indonesia? Jelas dan tentu terbitan DSM V merupakan acuan yang jauh lebih mutakhir. ICD-10 terakhir kali direvisi tahun 1992, dan sampai saat ini masih dalam proses revisi final ke ICD-11, pada tahun 2018.

Jadi mengapa terjadi kesalahpahaman? Menurut kami, hal ini terjadi karena PDSKJI menerbitkan surat dengan terminologi yang hanya dimengerti oleh kalangan amat terbatas (ahli, psikiater, psikolog, pembuat kebijakan) namun menerbitkannya sebagai statement publik.

_____________________________________________________________________

Penjelasan yang sama oleh Ferena Debineva dapat ditemukan pada https://chirpstory.com/li/308895#_=_, menulis dan mewakili SGRC Indonesia.

Editor: Ris Carolina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s