[SIARAN PERS] Diamnya Akademisi Indonesia terhadap Diskriminasi dalam Perguruan Tinggi

Jakarta, 2 Mei 2017 – Selamat hari pendidikan nasional!

Pada hari pendidikan ini, Support Group and Resource Center on Sexuality (SGRC) Indonesia memberikan rekam jejak perguruan tinggi di Indonesia yang masih tidak menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan mendiskriminasi hak warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan lanjutan. Dalam catatan kami, setidaknya dalam tiga tahun terakhir (2015 – 2017) berbagai universitas di Indonesia melakukan penolakan keragaman identitas gender dan eksklusi kepada minoritas seksual dalam bidang pendidikan.

Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang terbuka untuk diskusi umum dan sebagai institusi negara, dan universitas negeri khususnya menjamin akses pendidikan yang rata bagi semua warga Indonesia tanpa membedakan kelas ekonomi maupun kelas sosial berdasarkan gender.  Penolakan tersebut justru menunjukkan kepincangan dan kegagapan universitas dalam menjalankan amanat undang undang dasar  yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan.

Berbagai penolakan ini menunjukkan bahwa Indonesia sepertinya masih jauh tertinggal untuk menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan hak pendidikan bagi tiap-tiap warganya. Di samping itu, penolakan ini juga menunjukan ketertinggalan dunia pendidikan dan kebaharuan dalam dunia sains dan sosial.

Sebagai contoh keilmuan psikologi dalam panduan diagnosis gangguan psikologis atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dan ICD 10 WHO (World Health Organization) menyatakan homoseksual tidak lagi termasuk dalam gangguan jiwa. Dalam penemuan biologis terbaru, penemuan kategori interseks sebagai manusia yang terlahir bukan dengan kelamin perempuan atau laki-laki secara biologis juga merombak identitas dan peran gender yang biner di masyarakat dan secara hukum pengakuan terhadap gender ketika juga sudah diakui oleh beberapa negara seperti Australia. Sedangkan dalam bidang antropologi, penemuan keragaman identitas gender justru ditemukan di negeri Indonesia sendiri dengan penemuan lima gender di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan (penelitian Sharyn Graham Davies, 2011).

Namun sayangnya institusi pendidikan tinggi di Indonesia lebih berpihak pada trend populer daripada mencari tahu dengan informasi dan paradigma terbaru. Keterbelakangan ini juga diperparah dengan minimnya tingkat literasi masyarakat, lemahnya penguasaan terhadap bahasa inggris yang membuat sempitnya jangkauan bacaan mahasiswa dan dosen.  Berpikir kritis dan keterbukaan pikiran sebagai prinsip dasar para akademisi dilupakan karena para akademisi sibuk untuk mengejar pangkat dan menjadi birokrat. Akibatnya kita lihat saat ini, publikasi riset di jurnal Ilmiah Indonesia sangat minim padahal sudah banyak intensif beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah namun topik dan penguasaan bahasa para akademisi masih jauh dari standar layak terbit. Institusi bungkam dan menutup mata, dan justru menjadi bagian dari pelanggengan kasus kekerasan dan diskriminasi berbasis gender. Mahasiswa dan dosen yang seharusnya menjadi corong pengetahuan, terjebak dalam minimnya pengetahuan mengenai gender dan seksualitas, memalingkan muka dan memilih bungkam.

Di hari pendidikan nasional ini kita belajar: Mengapa universitas menolak isu-isu kontroversial dan tidak mau menjadikan wilayah kampus sebagai tempat untuk mengembangkan diskurus. Mengapa kita melestarikan kebodohan dan keterbatasan informasi, mengapa di era globalisasi ini kita masih tidak bisa membedakan ranah pengetahuan dan agama. Dan yang terpenting mengapa kita melarang orang lain untuk mendapat hak pendidikannya.

——————————-selesai——————————

Tentang SGRC Indonesia

Manusia terlahir unik, terlepas dari keinginan mereka untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual merupakan elemen yang mendasar dari kehidupan manusia dan berperan penting dalam mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. Hingga saat ini, diskusi mengenai seksualitas yang dulu dianggap tabu kini menjadi topik yang sangat penting dalam menjelaskan fenomena sosial yang muncul di masyarakat. Namun, hal tersebut masih belum mampu menghentikan prasangka dan diskriminasi terhadap siapapun yang menampilkan ekspresi yang berbeda dari mayoritas terkait seksualitas mereka.

Akademisi telah memberikan berbagai kontribusi besar dalam usaha untuk meningkatkan pemahaman kita terkait seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual. Ketidakpedulian, tabu, dan ketakutan dapat mengganggu usaha dalam mempelajari dan memahami dampak secara struktural, kebudayaan dan individual dari isu ini. Mulai dari overpopulasi hingga kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual, kehamilan ramaja, kekerasan dan pelecehan seksual, dan disfungsi seksual yang telah berhasil melahirkan kontroversi sepanjang waktu, budaya, kebijakan, agama, dan diperparah oleh media massa, yang seringkali mendistorsi kenyataan dan menempatkan individu sebagai pelaku. Pencerahan, pencegahan, pengobatan dan pemahaman terkait domain yang rumit ini dan konflik, regulasi serta intervensi hanya dapat dilakukan melalui pendekatan interdisipliner terhadap isu ini.

SGRC saat ini berusaha mengembangkan dan mendukung penelitian dan pemahaman terkait seksualitas, tanpa melupakan pendekatan dan kesejahteraan individu sebagai parameter dalam melakukan hal tersebut. SGRC telah menjadi pelopor dalam pembentukan support group dan pusat sumberdaya untuk penelitian dan pengembangan informasi terkait seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual. Oleh karena itu, SGRC lahir tidak hanya untuk meluruskan fakta-fakta ambigu dalam masyarakat melalui penyediaan sumber dan informasi terkait isu gender dan seksualitas, namun juga melalui penyediaan support group untuk menjamin kesejahteraan individual.

———————————————————————————————————————-

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai SGRC Indonesia, silakan kunjungi

www.sgrcui.org  Ataupun media sosial SGRC Indonesia dengan mencari kata ‘SGRCUI’ pada laman pencarian.

———————————————————————————————————————-

Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:

Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia

Ferena Debineva, Founder & Chairperson ferenadebineva@sgrcui.org

Nadya Karima Melati, Co-Founder & Researcher nadyakarima@sgrcui.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s