Kronologis Eksklusi Kelompok Minoritas Gender dan Seksual di Kongres ARUPS, Bali

Kami dari Jaringan Rakyat Bhinneka pada hari Kamis, 22 Februari 2018 hadir dan menyewa booth di acara ARUPS 6th Congress (ASEAN Regional Union of Psychological Societies) untuk berkampanye tentang Stigma dan Pencegahan Diskriminasi (Moving Beyond Stigma: Reducing Prejudice and Preventing Discrimination in Mental Health Standard) yang berlangsung di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali yang dilaksanakan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Kongres berlangsung selama tiga hari sejak tanggal 20-22 Februari 2018 dan kami memiliki booth untuk menyebarkan booklet selama dua hari di tanggal 21-22 Februari 2018.

Menurut kesepakatan awal di hari pertama, kami mendapatkan tempat booth di dekat pintu depan  dan meja registrasi tempat acara. Namun, pada hari kedua, pada pukul 8:48, kami mendapat pesan dari pihak panitia bahwa lokasi booth kami dipindahkan ke bagian belakang dekat dengan toilet yang cukup tersembunyi. Karena keadaan tersebut, kami berkeliling menyebarkan booklet kepada para peserta dan memberitahukan lokasi booth kami.

Pada hari ketiga, pada pukul 6:09, kami mendapat pesan peringatan panitia untuk menghentikan sementara penyebaran booklet dan melarang kehadiran salah satu anggota kami yang memiliki ekspresi gender yang berbeda. Kami melakukan mediasi dengan panitia untuk mempertahankan booth kami. Pada pukul 11:00, di mediasi pertama kami bertemu dengan panitia dan mereka menjelaskan alasan eksklusi karena isu minoritas gender dan seksual dianggap sebagai isu yang sensitif/politis. Alasan lainnya adalah adanya beberapa peserta yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran rekan kami dengan ekspresi gendernya. Kami bersepakat untuk tidak menyebarkan booklet kepada para peserta kongres maupun berkeliling untuk menarik peserta kongres datang ke booth kami.

Pada pukul 13:00, kami melakukan mediasi kedua untuk memperbolehkan rekan kami hadir ke lokasi acara. Pada akhirnya, kawan kami diizinkan masuk dengan persyaratan tidak memasuki ruang aula utama dan tidak bertindak sebagai “maskot” bagi kelompok kami. Kami menyayangkan atas tindakan eksklusi yang terjadi di dalam konferensi akademik yang selayaknya menjadi ruang terbuka untuk diskusi mengenai keberagaman yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Eksklusi tersebut menunjukkan bahwa ARUPS mempunyai sikap diskriminatif terhadap kelompok minoritas gender dan seksual.

Kami berterimakasih kepada seluruh panitia penyelenggara yang bersedia berdialog dengan kami. Kami mendorong psikolog profesional di Indonesia, dan ASEAN dalam konteks yang lebih luas, untuk lebih terbuka dalam membicarakan stigma sosial dan diskriminasi terhadap kelompok rentan, termasuk minoritas gender dan seksual.

 

Jaringan Rakyat Bhinneka

22 Februari 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s