Jenis-Jenis Kekerasan Seksual Siber oleh SGRC

Berikut ini pemetaan 11 jenis kekerasan seksual siber berdasarkan analisa Director of Advocacy and Policy Analyst SGRC, Riska Carolina, M. H. Klasifikasi ini dibuat untuk mempermudah korban, pendamping maupun peneliti terkait kasus-kasus kekerasan di dunia siber memahami jenis kasus dan penyelesaian yang berpihak kepada korban.

  • Doxing: prilaku mengambil data pribadi sesorang tanpa ijin kemudian mempublikasikan tanpa seijin pemilik data tersebut. Paling mudah doxing dilakukan melalui sosial media karena kita sering kali mempublikasi konten sosial media seperti facebook atau Instagram. tapi tidak jarang juga dilakukan dengan proses hacking.
  • Defamation, upaya pencemaran nama baik yg dilakukan beramai-ramai secara terorganisir dengan tujuan untuk membanjiri sosial media seseorang/laman suatu organisasi dengan ulasan buruk sampai dengan niatan fitnah & kabar bohong (hoax). Upaya pencemaran nama baik ini bisa menyerang siapa saja dan biasanya tokoh dengan pengaruh tertentu dengan tujuan merendahkan.
  • Flaming, apabila Defamation dilakukan keroyokan secara publik, Flaming nyerang personal message atau DM. Isinya tidak jauh-jauh dari ancaman, hinaan, cercaan, pelecehan, video porno, kalimat tak senonoh, gif porno. Flaming paling sering dialami perempuan. Tanpa persetujuan perempuan, seorang lelaki mengirimkan foto genitalnya secara personal kepada perempuan dengan tujuan ingin mengajak berhubungan seksual.
  • Hate Speech, hate speech bisa dilakukan oleh individu/grup yg menyasar identitas diri seseorang, yg bercirikan hasutan untuk kekerasan. ex: dia itu kaum A, pantas dibinasakan. Biasanya terjadi pada kelompok minoritas seksual atau seseorang yang dituduh sebagai bagian dari minoritas gender dan seksual.
  • Impersonating, Impersonating adalah pemalsuan akun. Pemalsuan akun ini mengatasnamakan seseorang dilakukan dengan tujuan pencemaran nama baik ataupun sering dilakukan oleh fans yang obsesif.
  • Deadnaming, Deadnaming adalah prilaku melecehkan nama yang dipilih oleh minoritas gender dan mempublikasikan nama lahir mereka dg tujuan untuk menghina, mencemarkan, hingga ajakan melakukan kekerasan kepada mereka.
  • Out-ing, Prilaku outing dilakukan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan dan bertujuan untuk mempermalukan seseorang tersebut berdasarkan identitas gender dan seksual orientasi mereka yg berbeda.
  • Online Shaming Online shaming bentuknya bisa berupa gambar (dibuat meme) atau caption dengan tingkatan konten dari olok-olok, hinaan, pencemaran, kabar bohong (hoax), sampe sayembara untuk mengajak melakukan kekerasan terhadap sesorang.
  • Honey Trapping, aplikasi dan situs web kencan sering disalahgunakan menjadi tindakan kekerasan yang disebut Honey Trapping. Ketika sudah berjanji untuk kencan darat dan bertemu offline, ketika bertemu muka yang terjadi malah kekerasan fisik dan sering kali disertai ancaman dan pemerasan.
  • Revenge Porn, kasus ini adalah yang paling sering dialami remaja dan dewasa muda perempuan. Ketika mentan kekasih diputuskan cintanya kemudian tidak terima dan menyebarkan konten seksual berupa gambar telanjang, video seks dan sebagainya sebagai ancaman agar korban kembali kepada dirinya. Apabila korban menolak, maka konten tersebut disebarkan ke media sosial dan internet yang lebih luas.
  • Morphing adalah mengedit foto menjadi bernuansa seksual dan bertujuan untuk mengolok-olok perempuan atau seseorang. Edit foto ini bertujuan untuk mempermalukan atau membuat sebuah imaji tertentu yang bersifat seksual dan merugikan seseorang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s