Pernyataan Sikap SGRC Indonesia: Remedial Metode Penelitian untuk BEM Universitas Andalas

Support Group & Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia – selaku pelopor organisasi pemuda dengan fokus kajian gender dan seksualitas berbasis akademis – mengapresiasi hadirnya diskusi, riset, serta publikasi yang membahas isu gender dan seksualitas secara ilmiah. Sejak tahun 2014, SGRC Indonesia aktif memperjuangkan kebebasan akademis, serta mendorong kampus untuk menjadi pusat informasi terkait studi seksualitas, kesehatan reproduksi, dan keragaman gender. Selain itu, SGRC Indonesia turut berperan aktif dalam meluruskan miskonsepsi yang hadir di masyarakat terkait isu-isu di atas; yang dalam beberapa tahun terakhir ini semakin menguat.

Berangkat dari semangat tersebut, melalui rilis ini SGRC Indonesia meminta. pertanggungjawaban akademis terkait publikasi “Hasil Survei LGBT di Lingkungan Universitas Andalas,” yang diterbitkan oleh Kementerian Riset dan Pengembangan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Andalas (yang selanjutnya disebut ‘BEM Unand’). SGRC mempertanyakan kredibilitas publikasi “Hasil Survei LGBT di Lingkungan Universitas Andalas,” karena rilis tersebut tidak mengikuti kaidah berpikir yang runut, bias, dan sarat akan lompatan-lompatan logika dalam rumusan kesimpulannya, seperti:

  1. BEM Unand menyimpulkan bahwa LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) disebabkan oleh pergaulan yang salah, bukan ‘akademis’.

    SGRC Indonesia menilai bahwa hasil survei yang dirilis oleh BEM Unand bersifat deskriptif. Artinya, survei tersebut hanya dapat menunjukkan pandangan, atau persepsi partisipan penelitian; seperti yang tercermin dalam frasa “. . . partisipan beranggapan bahwa . . .” dan bukan menunjukkan ‘kebenaran absolut’ atas prekondisi yang menyebabkan ‘LGBT’. Simpulan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, simpulan ini menggambarkan hubungan antara dua variabel: ‘pergaulan yang salah’ dan ‘LGBT’. Poin ini menarik untuk dibahas, karena dalam rilis yang diterbitkan oleh BEM Unand, SGRC Indonesia tidak dapat menemukan definisi konseptual terkait ‘LGBT’, ‘pergaulan’, ‘pergaulan yang salah’, dan ‘akademis’. Selain itu, BEM Unand juga tidak menyertakan lampiran analisis data yang menjadi syarat utama pengambilan kesimpulan di atas. SGRC Indonesia mengingatkan bahwa menarik kesimpulan tanpa adanya data atau metode yang valid merupakan bentuk scientific misconduct; yang tentunya dapat mencoreng nama baik BEM Unand, dan Universitas Andalas secara keseluruhan.
  2. LGBT dapat ditularkan, dan perbuatan LGBT dapat menularkan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS.

    Simpulan ini menunjukkan kurangnya pemahaman BEM Unand terkait konsep LGBT – yang tentunya dapat dengan mudah dipahami jika BEM Unand memiliki rumusan definisi konseptual yang jelas. LGBT dapat didefinisikan sebagai: ragam orientasi seksual, ekspresi, dan identitas gender. Oleh karena itu, ketika membahas tentang ‘penularan LGBT,’ penting bagi BEM Unand untuk mendefinisikan ‘apa yang menular’. Definisi dari ‘perbuatan LGBT’ juga harus dijelaskan. Senada dengan simpulan pertama, simpulan kedua juga hanya menunjukkan persepsi partisipan penelitian, dan bukan ‘kebenaran absolut’. Ketika partisipan percaya bahwa “matahari berputar mengelilingi bumi”, belum tentu matahari benar-benar berputar mengelilingi bumi. Ketika partisipan percaya bahwa LGBT menular, belum tentu fakta ilmiah mengatakan hal yang sama. SGRC Indonesia mendorong BEM Unand untuk melakukan kajian literatur yang lebih intensif terkait state of the art dari riset-riset terkait LGBT – bahwa selayaknya bentuk orientasi seksual dan identitas gender lainnya (seperti heteroseksual dan cisgender), LGBT tidak menular.

    Terkait argumen mengenai penularan HIV/AIDS, SGRC Indonesia setuju bahwa aktivitas seksual dapat menularkan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS; namun hal ini berlaku bagi seluruh manusia terlepas dari apapun orientasi seksualnya: homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Jika narasi yang dicoba dibangun oleh BEM Unand adalah ‘LGBT lebih berisiko tertular penyakit menular seksual’, maka sebaiknya BEM Unand memberikan data pendukung yang akurat dan terbarukan. Sebagai contoh, berdasarkan data dari Ditjen P2P, Kemenkes RI pada tahun 2017, jumlah penderita AIDS berdasarkan faktor risiko terbanyak terjadi pada kelompok heteroseksual (68%), diikuti oleh pengguna NAPZA suntik (11%), baru setelah itu kelompok homoseksual (4%), dan penularan melalui perinatal dari ibu ke anak (3%). Data ini justru menunjukkan bahwa jumlah penderita AIDS berdasarkan faktor risiko terbanyak terjadi pada kelompok heteroseksual, bukan homoseksual.

    Pemahaman yang komprehensif terkait HIV/AIDS merupakan elemen kunci dalam menanggulangi penularan, sekaligus menghilangkan stigma yang kerap melekat pada penyintas HIV/AIDS. Bagi SGRC Indonesia, narasi inilah yang seharusnya dibangun, alih-alih mencari kelompok tertentu sebagai kambing hitam dari permasalahan bersama ini.

  3. 40% responden survei LGBT di Universitas Andalas mengenal lebih dari satu orang yang ‘terjangkit’ LGBT. Hal ini menunjukkan bahwa di Universitas Andalas sudah terdapat benih-benih LGBT.

    Ibid. Simpulan ini, layaknya simpulan pertama dan kedua, tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. BEM Unand tidak menyertakan definisi konseptual dari konsep ‘LGBT’, ‘terjangkit,’ dan ‘benih-benih’. Selain itu, terjadi lompatan logika ketika BEM Unand menyimpulkan bahwa mengenal orang yang ‘terjangkit’ LGBT merupakan tanda dari adanya ‘benih-benih LGBT di Universitas Andalas’. Lagi-lagi, pihak BEM Unand harus mampu mempertanggungjawabkan simpulan ini dengan menyertakan model statistika, atau metode penarikan kesimpulan lain yang digunakan.

    Ketika berbicara tentang benih-benih; penyebaran; endemik; kasus yang lebih endemik di kampus adalah kekerasan seksual dan kekerasan dalam pacaran. SGRC berpendapat bahwa akan lebih bijak bagi BEM Unand untuk fokus pada penanganan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus, alih-alih menerbitkan hasil survei yang bias dan justru menguatkan narasi kekerasan simbolik terhadap kelompok tertentu. Sangat penting bagi BEM Unand untuk dapat memberikan dukungan bagi penyintas kekerasan seksual dimanapun, dan membangun sistem kampus yang bebas dari kekerasan seksual, salah satunya dengan memberikan pelatihan pencegahan kekerasan seksual di kampus. SGRC akan dengan senang hati berkerja sama dengan BEM Unand dalam mewujudkan poin di atas. SGRC juga memiliki modul pencegahan kekerasan seksual di kampus yang dapat diunduh melalui tautan: Modul Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus.

  4. LGBT dapat disembuhkan dan LGBT dapat dihilangkan dari Universitas Andalas dengan menjalankan kembali aturan anti-LGBT di Universitas Andalas.

    Kesalahan yang sama kembali diulangi oleh BEM Unand. Rilis survei harus dengan jelas mencantumkan definisi LGBT: apakah LGBT yang dimaksud oleh BEM Unand adalah orientasi seksual, aktivitas seksual, atau identitas gender. Jika BEM Unand mendefinisikan LGBT sebagai orientasi seksual, pernyataan BEM Unand bahwa LGBT dapat ‘disembuhkan’ patut dipertanyakan karena dalam PPDGJ (Pedoman & Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa) III F.66, tertulis bahwa orientasi seksual tidak dianggap sebagai gangguan. Selain itu, lagi-lagi BEM Unand melakukan lompatan logika dengan menyatakan bahwa ‘LGBT dapat dihilangkan dari Universitas Andalas dengan menjalankan aturan anti-LGBT’. Perlu diingat bahwa riset yang dapat dijadikan basis bagi perumusan kebijakan hanyalah riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, dan riset ini tidak memiliki kualitas tersebut – setidaknya sampai BEM Unand dapat melakukan pembuktian secara akademis.

    Sebagaimana yang diatur dalam pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar RI 1945 bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan pasal 28 I ayat 2 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan. Pun prinsip penyelenggaran pendidikan haruslah demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, keagamaan, budaya dan kemajemukan bangsa. Prinsip ini diamanatkan dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

    Mengacu pada Undang-Undang tersebut, BEM UNAND justru seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemenuhan perlindungan hak mendapatkan pendidikan yang layak, terlepas dari identitas gender dan orientasi seksual dan menolak aturan anti-LGBT yang bertentangan dengan undang-undang.

  5. 89.50% responden menolak LGBT di Universitas Andalas

    SGRC Indonesia mengapresiasi bunyi pernyataan ini yang mampu menggambarkan dengan baik penjelasan deskriptif dari survei – jika dibandingkan dengan pernyataan lainnya pada hasil survei ini. Hal yang kemudian menjadi pertanyaan adalah ‘apa yang ditolak?’. Lagi-lagi, penting bagi BEM Unand untuk dapat menampilkan definisi konseptual dari konsep LGBT yang digunakan dalam survei ini.

Secara garis besar, hasil ‘riset’ BEM Unand gagal menampilkan pembuktian atas simpulan yang menggambarkan hubungan sebab-akibat antara dua variabel, serta definisi konseptual dari jargon, atau terminologi yang dipergunakan oleh tim peneliti dalam penyusunan riset. SGRC Indonesia tidak dapat menemukan: karakteristik sampel penelitian, model analisa, teknik pengolahan data, dan lampiran-lampiran lain yang menjadi kewajiban dalam sebuah rilis akademis. BEM Unand juga tidak menjelaskan bahwa simpulan yang dibuat di atas merupakan persepsi yang ada pada mahasiswa Universitas Andalas, bukan sebuah fakta yang diambil dari penggunaan metode yang valid dan reliable, dan bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya, juga didukung oleh hasil-hasil penelitian sebelumnya.

Berangkat dari semangat untuk mengembangkan diskursus akademis terkait isu seksualitas, SGRC Indonesia memberi contoh pemaparan yang dapat dilakukan oleh BEM Unand dengan menggunakan data survei deskriptif yang terdapat dalam rilis BEM Unand.

“Persepsi negatif yang ada di lingkungan kampus Universitas Andalas terhadap kelompok ragam gender dan seksual salah satunya dikenal dengan istilah homonegativity. Homonegativity merupakan sekumpulan sikap, kepercayaan, perasaan, dan tingkah laku negatif terhadap lesbian, gay, dan hubungan sejenis (McDermott, 2012). Homonegativity, yang juga disebut sebagai homophobia, heteroseksisme, atau prasangka anti-gay, merupakan bagian dari kelompok besar stigma sosial yang dialami oleh minoritas gender dan seksual di beberapa negara di dunia (Herek & McLemore, 2013; Lottes & Grollman, 2010; Stulhofer & Rimac, 2009). Penelitian global tentang opini publik terhadap individu LGBT yang sudah dilakukan berfokus pada lima faktor yang berasosiasi dengan sikap homonegatif yaitu gender, umur, pendidikan, agama, dan hubungan antar kelompok (Slootmaekers & Lievens, 2014). Pada umumnya, perempuan memiliki sikap homonegatif yang lebih rendah dan mempunyai sikap lebih menerima dibandingkan laki-laki (Herek, 2002; Lim, 2002). Asosiasi serupa ditemukan padak individu yang lebih muda dibandingkan ke generasi yang lebih tua, dan individu yang berpendidikan lebih tinggi dibandingkan ke pendidikan yg rendah (Slootmaeckers & Lievens, 2014). Selain variabel demografis, terjadinya hubungan antar kelompok juga sebagai indikasi rendahnya sikap homonegatif. Beberapa penelitian menunjukkan ketika seseorang mengenal individu lesbian dan gay, dan terutama berinteraksi secara rutin dengan individu dari kelompok minoritas seksual dapat mengurangi sikap homonegatif (Detenber, Ho, Neo, Malik, & Cenite, 2013; Lewis, 2011; Pettigrew & Tropp, 2006)”.

SGRC menghargai perbedaan perspektif dalam memandang fenomena sosial; namun scientific misconduct yang hadir dalam presentasi hasil penelitian BEM Unand merupakan hal yang tidak dapat ditolerir dalam komunitas akademik. SGRC Indonesia menuntut pertanggungjawaban keilmuan dari BEM Unand dengan menyertakan, dan membuat public: laporan lengkap yang mencakup karakteristik sampel, definisi konseptual, operasionalisasi konsep, model analisa, daftar pertanyaan, metode penelitian, metode analisa data, beserta lampiran-lampiran lainnya.

SGRC Indonesia, sebagai pelopor organisasi pemuda dengan fokus kajian gender dan seksualitas di lingkungan kampus, membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi semua organisasi kemahasiswaan yang tertarik meneliti topik-topik terkait gender dan seksualitas untuk bersama-sama menggunakan asas keilmuan yang valid dan sistematis. SGRC juga mengingatkan kembali pentingnya pendidikan tinggi yang menjunjung asas kebenaran ilmiah, penalaran, kejujuran, keadilan, manfaat, kebajikan, tanggung jawab, kebhinekaan dan keterjangkauan.

Tentang SGRC Indonesia:

SGRC Indonesia adalah organisasi non-profit yang didirikan di lingkungan kampus dan bergerak pada bidang kajian pemikiran. SGRC Indonesia mengkaji hal-hal terkait seksualitas seperti kesehatan reproduksi, hak seksual, politik pengaturan seksual, akses kesehatan, dan pendidikan seksual. Tujuan organisasi adalah mengupayakan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan gender dan seksualitas yang terjadi di Indonesia, khususnya di lingkungan kampus. SGRC Indonesia dapat dihubungi melalui akun Instagram/Twitter/Ask.fm: SGRCUI, atau email ke: contact@sgrcui.org (cc: ui.sgrc@gmail.com).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s