Pernyataan Sikap Aliansi Sisterhood Kampus Terhadap Pembredelan Pers Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Berbicara

Pernyataan Sikap Aliansi Sisterhood Kampus Terhadap Pembredelan Pers Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

 

Kami jaringan organisasi anak muda yang terdiri dari SGRC UI, Space UNJ, Pad GHRS, GSHR Udayana dan Dipo GHRC merupakan organisasi anak muda yang fokus dalam kajian seksualitas dan gender berbasis kampus. Kami bersama-sama mendukung Pers Mahasiswa Suara USU dalam mengecam tindakan pemblokiran website Pers Mahasiswa Suara Universitas Sumatera Utara yang dilakukan pada hari Kamis, 21 Maret 2019 dengan alasan memuat cerita pendek bertema seksualitas. Tidak lama berselang, pihak kampus mengancam untuk mencabut izin kemahasiswaan Suara USU. Ancaman yang dilakukan pihak birokrat Universitas Sumatera Utara (USU) tersebut dikeluarkan setelah viralnya sebuah cerpen di website Pers Mahasiswa USU berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” yang ditulis oleh Yael Stefani Sinaga pada Senin malam, 18 Maret 2019. Pihak rektorat mempermasalahkan cerpen tersebut karena menggunakan kata-kata yang dianggap vulgar, seperti: ‘sperma’, juga cerpen tersebut dituduh mempromosikan LGBT.

Kami melihat pihak rektorat USU telah melakukan pelanggaran yang fatal sebagai perguruan tinggi yakni:

  1. USU telah gagal menjadi universitas yang menyediakan ruang untuk berdiskusi,  berpikir kritis dan membungkam mahasiswa yang melakukannya
  2. USU gagal mencetak pemikir yang berkemanusiaan sesuai sila ke-2 Pancasila sebagai dasar negara yang berbunyi, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Pelarangan sastra sebagai sarana memanusiakan manusia telah melanggar Pancasila tentang kemanusiaan dan terakhir,
  3. Kampus USU gagal dalam menjawab tantangan jaman ketika isu gender dan seksualitas telah menjadi bahasan dalam kajian ilmiah dan didiskusikan dalam ranah akademik.

Kami melihat apa yang dilakukan pihak rektorat terhadap Suara USU adalah bentuk pembredelan terhadap pers mahasiswa. Pembredelan yang dilakukan atas nama moral dan melarang penggunaan kata ‘sperma’ yang dilakukan oleh kalangan akademik menunjukan bahwa birokat kampus tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap sastra Indonesia. Sebab, pada tahun 2008 Khatulistiwa Award memberikan penghargaan pada novel karya Ayu Utami karena keberanian dirinya untuk membahas topik seksualitas yang selalu dianggap tabu dalam sastra. Tren mengangkat seksualitas sebagai kajian dalam sastra adalah bentuk pemberian suara dari kelompok yang terpinggirkan seperti perempuan dan LGBT. Pelarangan dengan alasan vulgar membuktikan kampus USU telah buta terhadap sastra dan membungkam tragedi kemanusiaan yang dituliskan dalam sebuah cerpen.

Kami menolak segala penindasan, diskriminasi, ancaman, dan pengerdilan atas segala usaha untuk membentuk wacana inklusif di lingkup akademik universitas seluruh Indonesia. Kami juga meminta birokrat kemahasiswaan Universitas Sumatera Utara untuk tidak mencabut status kemahasiswaan pers mahasiswa Suara USU dan lebih meningkatkan kualitas literasi birokrat kampus dengan membaca lebih banyak sastra Indonesia.

24 Maret 2019,

Sisterhood Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s