Label yang tepat untuk laki-laki yang mendukung kesetaraan

Jika mendengar kata ‘feminisme’, masih banyak orang mengira bahwa feminisme adalah gerakan yang berfokus pada penempatan perempuan pada posisi yang lebih tinggi dari laki-laki. Padahal, diskursus feminisme berbicara tentang upaya penyediaan akses yang setara antara perempuan dan laki-laki. Dalam budaya yang sangat patriarkis, gerakan feminisme dibutuhkan untuk melindungi dan memberdayakan perempuan. Oleh karena itu, penyelenggaraan Feminist Festival (Femfest) 2019 di Wisma PKBI, Jakarta, menjadi kesempatan yang baik untuk membuka ruang-ruang diskusi baru tentang keberadaan feminisme di Indonesia.

Salah satunya adalah kelas diskusi sekutu feminis yang diisi oleh Ryan Febrianto (Plan International), Tara Basro (Aktor), dan Kokok Dirgantoro (Entrepreneur & PSI). Kelas ini menjadi sangat inspiratif bagi para peserta diskusi karena memberikan gambaran bagaimana menjadi sekutu feminis yang baik dan dapat berperan positif terhadap gerakan feminis di Indonesia. Melalui kelas ini, setiap orang sadar bahwa mereka dapat berperan aktif dalam menghapus ketidaksetaraan gender berdasarkan fokus masing-masing.

Selain itu juga, kelas ini pun membuka diskursus apakah laki-laki bisa menjadi ‘male feminist’ atau hanya menjadi ‘women ally. Pergelutan diskusi yang terjadi di kelas ini memantik pemikiran-pemikiran dari pesertanya. Salah seorang penanya mengungkapkan, bahwa laki-laki tidak dapat menjadi male feminist karena laki-laki tidak merasakan opresi yang dirasakan oleh perempuan, sehingga posisi laki-laki dalam gerakan perempuan dianggap menjadi agen pendukung dalam feminisme. Namun penanggap lainnya pun berpendapat bahwa laki-laki bisa menjadi lebih dari women ally karena feminisme sendiri berangkat dari ide penyetaraan akses oleh laki-laki dan perempuan. Sehingga hal tersebut menjadi feminis tidak berkaitan dengan perjuangan perempuan secara identitas.

Pada akhir diskusi dalam kelas ini diambil kesimpulan tentative bahwa label yang pantas diberikan kepada laki-laki sebenarnya tidaklah terlalu penting, yang penting adalah bagaimana laki-laki juga dapat berkontribusi dalam gerakan kesetaraan gender yang juga disuarakan dalam feminisme.


Penulis: Rickdy Vanduwin (GHRS Udayana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s