[SIARAN PERS] Diamnya Akademisi Indonesia terhadap Diskriminasi dalam Perguruan Tinggi

Jakarta, 2 Mei 2017 – Selamat hari pendidikan nasional!

Pada hari pendidikan ini, Support Group and Resource Center on Sexuality (SGRC) Indonesia memberikan rekam jejak perguruan tinggi di Indonesia yang masih tidak menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan mendiskriminasi hak warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan lanjutan. Dalam catatan kami, setidaknya dalam tiga tahun terakhir (2015 – 2017) berbagai universitas di Indonesia melakukan penolakan keragaman identitas gender dan eksklusi kepada minoritas seksual dalam bidang pendidikan.

Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang terbuka untuk diskusi umum dan sebagai institusi negara, dan universitas negeri khususnya menjamin akses pendidikan yang rata bagi semua warga Indonesia tanpa membedakan kelas ekonomi maupun kelas sosial berdasarkan gender.  Penolakan tersebut justru menunjukkan kepincangan dan kegagapan universitas dalam menjalankan amanat undang undang dasar  yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam mendapatkan pendidikan.

Berbagai penolakan ini menunjukkan bahwa Indonesia sepertinya masih jauh tertinggal untuk menerima kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan hak pendidikan bagi tiap-tiap warganya. Di samping itu, penolakan ini juga menunjukan ketertinggalan dunia pendidikan dan kebaharuan dalam dunia sains dan sosial.

Sebagai contoh keilmuan psikologi dalam panduan diagnosis gangguan psikologis atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dan ICD 10 WHO (World Health Organization) menyatakan homoseksual tidak lagi termasuk dalam gangguan jiwa. Dalam penemuan biologis terbaru, penemuan kategori interseks sebagai manusia yang terlahir bukan dengan kelamin perempuan atau laki-laki secara biologis juga merombak identitas dan peran gender yang biner di masyarakat dan secara hukum pengakuan terhadap gender ketika juga sudah diakui oleh beberapa negara seperti Australia. Sedangkan dalam bidang antropologi, penemuan keragaman identitas gender justru ditemukan di negeri Indonesia sendiri dengan penemuan lima gender di masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan (penelitian Sharyn Graham Davies, 2011).

Namun sayangnya institusi pendidikan tinggi di Indonesia lebih berpihak pada trend populer daripada mencari tahu dengan informasi dan paradigma terbaru. Keterbelakangan ini juga diperparah dengan minimnya tingkat literasi masyarakat, lemahnya penguasaan terhadap bahasa inggris yang membuat sempitnya jangkauan bacaan mahasiswa dan dosen.  Berpikir kritis dan keterbukaan pikiran sebagai prinsip dasar para akademisi dilupakan karena para akademisi sibuk untuk mengejar pangkat dan menjadi birokrat. Akibatnya kita lihat saat ini, publikasi riset di jurnal Ilmiah Indonesia sangat minim padahal sudah banyak intensif beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah namun topik dan penguasaan bahasa para akademisi masih jauh dari standar layak terbit. Institusi bungkam dan menutup mata, dan justru menjadi bagian dari pelanggengan kasus kekerasan dan diskriminasi berbasis gender. Mahasiswa dan dosen yang seharusnya menjadi corong pengetahuan, terjebak dalam minimnya pengetahuan mengenai gender dan seksualitas, memalingkan muka dan memilih bungkam.

Di hari pendidikan nasional ini kita belajar: Mengapa universitas menolak isu-isu kontroversial dan tidak mau menjadikan wilayah kampus sebagai tempat untuk mengembangkan diskurus. Mengapa kita melestarikan kebodohan dan keterbatasan informasi, mengapa di era globalisasi ini kita masih tidak bisa membedakan ranah pengetahuan dan agama. Dan yang terpenting mengapa kita melarang orang lain untuk mendapat hak pendidikannya.

——————————-selesai——————————

Tentang SGRC Indonesia

Manusia terlahir unik, terlepas dari keinginan mereka untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual merupakan elemen yang mendasar dari kehidupan manusia dan berperan penting dalam mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat. Hingga saat ini, diskusi mengenai seksualitas yang dulu dianggap tabu kini menjadi topik yang sangat penting dalam menjelaskan fenomena sosial yang muncul di masyarakat. Namun, hal tersebut masih belum mampu menghentikan prasangka dan diskriminasi terhadap siapapun yang menampilkan ekspresi yang berbeda dari mayoritas terkait seksualitas mereka.

Akademisi telah memberikan berbagai kontribusi besar dalam usaha untuk meningkatkan pemahaman kita terkait seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual. Ketidakpedulian, tabu, dan ketakutan dapat mengganggu usaha dalam mempelajari dan memahami dampak secara struktural, kebudayaan dan individual dari isu ini. Mulai dari overpopulasi hingga kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual, kehamilan ramaja, kekerasan dan pelecehan seksual, dan disfungsi seksual yang telah berhasil melahirkan kontroversi sepanjang waktu, budaya, kebijakan, agama, dan diperparah oleh media massa, yang seringkali mendistorsi kenyataan dan menempatkan individu sebagai pelaku. Pencerahan, pencegahan, pengobatan dan pemahaman terkait domain yang rumit ini dan konflik, regulasi serta intervensi hanya dapat dilakukan melalui pendekatan interdisipliner terhadap isu ini.

SGRC saat ini berusaha mengembangkan dan mendukung penelitian dan pemahaman terkait seksualitas, tanpa melupakan pendekatan dan kesejahteraan individu sebagai parameter dalam melakukan hal tersebut. SGRC telah menjadi pelopor dalam pembentukan support group dan pusat sumberdaya untuk penelitian dan pengembangan informasi terkait seksualitas, reproduksi dan orientasi seksual. Oleh karena itu, SGRC lahir tidak hanya untuk meluruskan fakta-fakta ambigu dalam masyarakat melalui penyediaan sumber dan informasi terkait isu gender dan seksualitas, namun juga melalui penyediaan support group untuk menjamin kesejahteraan individual.

———————————————————————————————————————-

Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai SGRC Indonesia, silakan kunjungi

www.sgrcui.org  Ataupun media sosial SGRC Indonesia dengan mencari kata ‘SGRCUI’ pada laman pencarian.

———————————————————————————————————————-

Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:

Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia

Ferena Debineva, Founder & Chairperson ferenadebineva@sgrcui.org

Nadya Karima Melati, Co-Founder & Researcher nadyakarima@sgrcui.org

Advertisements

Penjelasan SGRC Indonesia Mengenai Surat Pernyataan PDSKJI Terkait LGBT dan Tanggapan APA

Hari ini SGRC Indonesia akan membahas mengenai terminologi yang belakangan beredar, terutama mengenai ODMK dan ODGJ, kaitannya dengan PDSKJI. Terutama untuk yang belum membaca jawaban SGRC Indonesia di laman ask.fm/SGRCUI. Hal ini berkaitan dengan surat pernyataan PDSKJI terkait LGBT, tanggapan APA, dan penjelasan lanjutan dari PDSKJI.

CeIux0OVAAAcTq5.jpg large
lembar pertama pernyataan sikap PDSKJ yang menjadi perdebatan di kalangan publik.
CeIuy1jVAAAHSea.jpg large
lembar kedua pernyataan sikap PDSKJ yang seharusnya menjadi perhatian lebih dan diutamakan.

Jika ada yang tidak dimengerti, silakan bertanya langsung ya! Pertanyaan dapat diajukan melalui email resmi kami dan beberapa media sosial kami, dengan mengetik pencarian dengan nama SGRCUI, baik itu Twitter, Facebook, Instagram, dan Askfm.

Untuk lebih jelas akan dijelaskan secara lugas mengenai pengertian-pengertian terkait dengan gambar di atas. Pertama, mari kita urai istilah istilah umum:

  1. PDSKJI merujuk kepada Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia.
  2. IPA adalah Indonesian Psychiatric Association, sama dengan PDSKJI.
  3. ICD adalah International Classification of Diseases
  4. ODMK adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan dan ODGJ adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa.
  5. Singkatan lain yang mungkin muncul akan dijelaskan kemudian.

Harus dapat diketahui bahwa Psikiater dan Psikolog adalah dua disiplin ilmu yang berbeda. Psikiater berbeda dengan Psikolog. Pendidikan S1 Psikiatri adalah Pendidikan Dokter, yang selanjutnya melanjutkan dengan spesialis Kedokteran Jiwa. Sedangkan Psikolog menempuh S1 di Ilmu Psikologi dan melanjutkan S2 Profesi Psikologi. Semoga menjadi cukup jelas.

Sekarang, pembahasan mengenai ODMK dan ODGJ itu sendiri. Pada poin kedua dijelaskan:

Dalam Ilmu Psikiatri dikenal orientasi seksual meliputi heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Homoseksualitas adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual dengan kepada jenis kelamin yang sama. Homoseksual meliputi lesbian dan gay. Biseksualitas adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada kedua jenis kelamin. Transeksualisme adalah gangguan identitas jenis kelamin berupa suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan tidak enak atau tidak sesuai anatomis seksualnya dan menginginkan untuk memperoleh terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan. Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa, Pasal 1 Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental dan sosial, pertumbuhan dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki resiko mengalami gangguan jiwa. Dengan demikian orang dengan homoseksual dan biseksual dapat dikategorikan sebagai orang dengan masalah kejiwaan (ODMK)”.

Pernyataan ini seringkali digunakan untuk menstigmatisasi LGBT, dan melegitimasi tindakan kekerasan terhadap LGBT karena dianggap ‘Gangguan’. Hal ini (ODMK) dianggap sebagai diagnosis FINAL dari Psikiater bahwa LGBT terganggu dan harus disembuhkan. Padahal, ODMK bukan merupakan terminologi untuk diagnosis melainkan terminologi untuk populasi yang dianggap beresiko tinggi; serta yang dimaksud ODMK adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, dan perkembangan, dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Contohnya, ODMK bisa seseorang dengan disabilitas tetapi hidup dalam lingkungan yang tidak disability-friendly; remaja yang tertekan oleh bullying di sekolah;  pekerja yang sehari-hari mengalami tekanan menghadapi kemacetan dalam perjalanan harian. ODMK juga banyak dialami oleh kelompok urbanisasi, warga yang tinggal di daerah bencana alam, bajir, daerah teroris. Jadi, sebenarnya semua orang mempunyai resiko mengalami masalah kejiwaan.

Pertanyaan selanjutnya : “Dari mana terminologi OMDK ini berawal?”. Istilah ODMK dan ODGJ bisa ditemukan di Undang-Undang  Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa (selanjutnya dibaca UU Kesehatan Jiwa). Salah satu alasan UU Kesehatan Jiwa memunculkan istilah ODMK selain ODGJ adalah karena keinginan perhatian upaya kesehatan jiwa bagi ODMK bisa ditekankan pada upaya promotif dan preventif.

Upaya promotif Kesehatan Jiwa ditujukan untuk:

  1. Mempertahankan dan meningkatkan derajat Kesehatan Jiwa masyarakat secara optimal
  2. Menghilangkan stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ sebagai bagian dari masyarakat ;(dan ini sangat penting)
  3. Meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa; dan
  4. Meningkatkan penerimaan dan peran serta masyarakat terhadap Kesehatan Jiwa.

Stigma, diskriminasi, dan peran serta masyarakat adalah kata-kata kunci bagi upaya promotif dan dapat dilaksanakan dimanapun. Apa implikasi lanjutan yang terdapat di UU Kesehatan Jiwa mengenai ODMK dan ODGJ? Adalah terdapat pada Pasal 86 UU Kesehatan Jiwa yang sama.

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasungan, penelantaran, kekerasan dan/atau menyuruh orang lain untuk melakukan pemasungan, penelantaran, dan/atau kekerasan terhadap ODMK dan ODGJ dipidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Inilah yang seharusnya menjadi  highlight concern.

Lalu? Apakah pernyataan tersebut berbeda dengan ICD? Apakah sebenarnya ICD yang menjadi rujukan PDSKJI/IPA? Indonesia, terutama PDSKJI, masih menggunakan ICD 10 (International Classification of Disease) dan gagal menegaskan bahwa sebagaimana yang tertulis pada F66 –Psychological and behavioural disorders associated with sexual development and orientation, dicatatkan bahwa: “Sexual orientation by itself is not to be regarded as a disorder”.

CeI4ECoUAAAT-p3.jpg large
ICD 10 – F66 – Psychological and behavioural disorders associated with sexual development and orientation, note: “Sexual orientation by itself is not to be regarded as a disorder”.

ICD-10 sendiri adalah klasifikasi kesehatan yang dibuat oleh WHO (World Health Organization) yang digunakan praktisi kesehatan untuk epidemiologi, manajemen kesehatan dan tujuan klinis, termasuk analisis situasi kesehatan umum kelompok populasi; Untuk memonitor insiden & prevalensi penyakit dan masalah kesehatan lainnya, membuktikan gambaran situasi kesehatan umum negara dan populasi.  Jadi tidak hanya berfokus pada kesehatan mental saja. Uniknya edisi 10 (ICD-10) dipublikasikan pada tahun 1990, yakni masih dipakai dari 27 tahun lalu.

Lalu apa itu DSM? DSM V (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition. DSM V adalah alat bantu diagnosis dan klasifikasi gangguan mental yang dikeluarkan oleh APA (American Psychiatric Association). Pada tahun 2013 yang diterbitkan oleh APA (American Psychiatric Association) dan berfokus pada klasifikasi gangguan mental.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah mana yang lebih baru antara standar DSM V yang dipakai Amerika, dengan ICD-10 yang dijadikan acuan para ahli psikiatri Indonesia? Jelas dan tentu terbitan DSM V merupakan acuan yang jauh lebih mutakhir. ICD-10 terakhir kali direvisi tahun 1992, dan sampai saat ini masih dalam proses revisi final ke ICD-11, pada tahun 2018.

Jadi mengapa terjadi kesalahpahaman? Menurut kami, hal ini terjadi karena PDSKJI menerbitkan surat dengan terminologi yang hanya dimengerti oleh kalangan amat terbatas (ahli, psikiater, psikolog, pembuat kebijakan) namun menerbitkannya sebagai statement publik.

_____________________________________________________________________

Penjelasan yang sama oleh Ferena Debineva dapat ditemukan pada https://chirpstory.com/li/308895#_=_, menulis dan mewakili SGRC Indonesia.

Editor: Ris Carolina

PERKOSAAN DAN ETIKA KEPEDULIAN MILIK PUTRI DUYUNG

perkosaan-1

Masih ingat lirik lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh kita semua ketika upacara bendera sewaktu masih sekolah dulu? “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…” Apa yang ada dalam imajinasi kita ketika mendengar kalimat “tanah air tumpah darah”.

Saya dulu selalu mengafiliasikan dinyanyikannya lagu ini ketika masa revolusi kemerdekaan dan banyak huru-hara para pejuang pribumi bertempur melawan tentara NICA dan darah yang tumpah adalah darah para pejuang. Imajinasi pejuang pribumi saya juga amat sempit, hanya terbatas pada laki-laki, jawa, dan Muslim.

Sylvia Tiwon dalam tulisannya berjudul The Trapped Goddesses: Myth of Mother, Earth and Nation mengungkapkan, yang dimaksud dengan “tumpah darah” adalah darah yang keluar setelah persetubuhan dan darah yang tumpah ke tanah adalah darah nifas perempuan setelah melahirkan.

Tentu penemuan seperti ini belum masuk dalam pelajaran sejarah Indonesia. Ketika kita membicarakan tentang bangsa, sebuah komunitas yang merasa terikat pada suatu wilayah sama yang dipijak, dan wilayah itu adalah tubuh ibu (mother earth). Ibu yang melahirkan. Ibu yang tumpah darah.

Cara berpikir kita amat male-sentris dan begitu pula pengetahuan kita tentang sejarah bangsa. Ini yang berusaha diungkapkan feminis teoritis Dewi Candraningrum dalam bukunya Body Memories (2014).

Sekarang kita kembali pada masa sekarang. Kampanye pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan kini viral di mana-mana. Opini tentang kekerasan seksual berhamburan di berbagai media online, termasuk di Geotimes. Dan dengan membaca tulisan-tulisan tersebut kita bersepakat pada satu hal, kekerasan seksual terjadi karena adanya ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki.

Buat saya, salah satu bukti ketimpangan relasi adalah pemahaman tentang sejarah dan pemikiran yang mengutamakan laki-laki yang kita sebut dengan patriarki.

Dan contoh yang disebutkan dalam pembukaan esai ini mengungkapkan bagaimana cara kita berpikir telah mengendap dan menjadi arahan untuk menilai dan bertindak, sehingga tercipta sebuah kebudayaan memperkosa yang kita tidak pernah sadar bahwa kita berada di dalamnya.

Tulisan ini berusaha mengungkapkan cara berpikir male-sentris dan menawarkan etika kepedulian (ethics of care) sebagai pendekatan kita untuk menganalisis kasus-kasus kekerasan seksual lebih dalam dan lebih berpihak kepada korban.

Tidak Sadar Memperkosa
Sebulan lalu seorang teman datang kepada saya dengan tangan dingin gemetar, tatapan matanya lurus tetapi kosong. Dia didiagnosis mengidap post traumatic stress disorder (PTSD) karena perkosaan yang dia terima. Dia enggan melapor tentang apa yang terjadi kepadanya, dan pemerkosa berkeliaran bebas tanpa rasa bersalah.

Ketika membaca tiga baris kalimat di atas, saya menduga akan muncul pikiran “lah salah sendiri kaga ngelapor setelah terjadi perkosaan”. Cara berpikir kita beralih dari berempati kepada korban dan mendengarkan (etika kepedulian) menjadi bagaimana untuk berlaku adil (etika keadilan).

Tanpa kita sadari cara berpikir juga membentuk persepsi kita terhadap apa yang adil. Kita menerapkan keadilan dalam masyarakat dan menghukum pelaku seberat-beratnya tanpa melihat bagaimana hancur hidup korban.

Fakta angka yang diberikan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan seksual selalu memberikan pikiran sampingan bahwa, “angka tersebut cukup besar, tapi saya yakin saya bukanlah pelaku”. Alasan berikutnya adalah, “saya mencintai perempuan, maka saya akan memperlakukannya dengan baik”.

Dalam Jurnal Perempuan edisi 89 berjudul “Psikoanalisis Pelaku Kekerasan Seksual” oleh Kristi Poerwandari dipaparkan, semua kasus kekerasan seksual dalam riset tersebut terjadi dalam hubungan romansa dan dilakukan oleh orang terdekat. Hubungan romansa yang sering kali didasari kata cinta.

Cara berpikir maskulin juga mendorong kita untuk mencintai dengan hasrat untuk memiliki dan menguasai. Ini membuat kekerasan seksual dalam hubungan romansa sering dianggap biasa. Kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat dalam hubungan romansa ini yang tidak pernah disadari dengan dalih tidak mau menyakiti, dan tidak dilaporkan juga.

Etika kepedulian adalah bagian dari “Etika Feminis” tentang cara berpikir apa yang adil dan bagaimana cara melakukannya. Teori ini dikembangkan oleh Carol Gilligan dalam In Different Voice. Etika kepedulian menerangkan bahwa perempuan tidak melihat apa yang “adil”, tetapi apa yang tidak menyakiti atau sedikit menyakiti orang lain.

Teman saya yang mengidap PTSD mengatakan percuma melaporkan pelaku karena pelaku terlampau manipulatif dan tubuh teman saya tidak mampu mengeluarkan tenaga untuk menuntut laki-laki tersebut. Dia cuma bisa marah. Dan dalam kemarahannya atas apa yang terjadi padanya, dia tidak menyakiti siapa pun. Tetapi kita terus memaksa untuk terus bersikap adil.

Padahal, apa yang adil bagi masyarakat belum tentu adil bagi korban yang telah mengalami perkosaan. Kita mungkin meminta dia untuk bungkam saja dan melupakan kejadian perkosaan, karena khawatir lingkungan dianggap tercemar karena kasus pemerkosaan, atau menuntut hukuman mati bagi pelaku.

Contoh paling mudah untuk memahami etika kepedulian adalah pada dongeng The Little Mermaid karya Hans Christian Anderson. Ketika putri duyung berhasil menjadi manusia, menukarkan sirip dan suara indahnya dengan sepasang kaki demi bisa berjalan di darat dan bersama pangeran yang dia cintai. Namun semua usahanya kandas dan pangeran memilih perempuan lain.

Ketika itu solidaritas perempuan, saudari-saudari putri duyung, menukarkan rambut panjang mereka demi sebilah pisau untuk ditancapkan ke jantung pangeran agar putri duyung bisa mendapatkan siripnya kembali dan hidup bersama mereka. Tapi putri duyung menolak, dia mau mengambil sebuah keputusan yang tidak menyakiti siapa pun. Dia tidak tega membunuh pria yang dia cintai, walau harus bertepuk sebelah tangan. Kemudian putri duyung memilih terjun ke lautan dan menjadi buih.

Tahapan pengambilan keputusan putri duyung untuk memilih apa yang baik untuknya, walau masyarakat yang diwakili oleh soildaritas saudaranya menawarkan akan apa yang adil untuk dia. Etika kepedulian memang sulit diterima, karena kita selalu berpikir keadilan dalam konsep laki-laki. Bahkan balas dendam dengan hukuman kebiri dijadikan solusi untuk berlaku “adil”.

Kita mengalihkan perhatian kepada korban menjadi balas dendam kepada pelaku. Kita tidak pernah bertanya kepada korban akan apa yang dia mau. Memang butuh waktu untuk sembuh dari trauma kekerasan seksual dan terbentur kembali oleh cara berpikir kita ditambah hukum yang positivis dan male-sentris.

Dan tentu saja etika kepedulian yang saya tawarkan adalah pada kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh teman atau pacar terdekat, dalam relasi romansa yang sering kali tidak terungkap dan korbannya harus didengarkan untuk mampu sintas.

Cara berpikir laki-laki dirayakan, dibuat baku, dan kaku melalui peraturan-peraturan tanpa pernah dilakukan refleksi dan dialog sehingga perempuan terus tidak bersuara. Cara berpikir itu juga menghambat pengetahuan akan definisi dari kekerasan seksual. Kekerasan seksual dianggap tidak ada dan pemerkosaan adalah hal yang wajar untuk mengontrol tubuh perempuan dan menguji apakah hukum positivis bekerja.

Laki-laki pemerkosa ataupun catcallers di pingggir jalan tidak sadar apa yang dia lakukan adalah bentuk dehumanisasi perempuan. Cara berpikir ini diinternalisasi dalam pikiran kita dan muncul dalam kebudayaan populer seperti dalam lirik lagu Iwan Fals, Mata Indah Bola Pingpong, “Jangan marah kalau kau kugoda, sebab pantas kau digoda, salah sendiri kau manis”.

Ada anggapan bahwa perempuan adalah setengah manusia. Kecantikan dan kebaikan membuat dia tidak butuh dimintai persetujuan untuk diganggu.

Kekurangan analisa dari kasus-kasus pemerkosaan adalah melihat perempuan sebagai pihak tertindas karena berada dalam relasi yang timpang dan perempuan tak diberikan suara tentang apa yang baik untuknya. Cara berpikir masyarakat yang menuntut “yang adil” sejalan dengan Perrpu yang dikeluarkan pemerintah terkait kampanye darurat kekerasan seksual yang berfokus pada membalas dendam pelaku dan tidak memberikan empati kepada korban. Tidak juga mendengarkan suaranya.

Mereka menjadi putri duyung yang selamanya membisu dan cerita-cerita tentang kekerasan seksual hanya jadi buih di lautan.

Nadya Karima Melati. Geotimes. Kamis 23 Juni 2016 http://geotimes.co.id/perkosaan-dan-etika-kepedulian-putri-duyung/#gs.AhGHtvE. diakses 23 maret 2017.

KETIKA LGBT DIBENCI LEBIH DARI YAHUDI [Catatan Gender 2016]

j

Menulis refleksi akhir tahun mengenai LGBT Indonesia mengantarkan saya pada ingatan dan sejarah bagaimana Indonesia terang-terangan menunjukkan taring intoleransi dan keganasannya pada kelompok yang bahkan lebih dibenci dibandingkan Yahudi, dan hanya satu tingkat di bawah ISIS: yaitu lesbian, gay, biseksual, dan transgender/LGBT (hasil survei Lembaga Survei Indonesia dan Wahid Institute).

Pada awal tahun ini, organisasi kecil tingkat kampus yang saya dirikan dan saya banggakan, SGRC (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies), sebuah lembaga kajian seksualitas dan gender, dalam waktu beberapa hari menjadi ancaman yang lebih berbahaya dari perang nuklir. Setelahnya, ancaman dan berbagai bentuk kekerasan silih berganti, bukan hanya dari teman, keluarga, aparat dan instansi pendidikan, namun juga dari instansi pemerintahan kita yang terang-terangan menolak keberadaan LGBT dengan komentar-komentar yang tidak masuk akal, selain tentu tidak manusiawi.

Sulit bagi saya untuk benar-benar memahami bagaimana institusi negara yang seharusnya melindungi warganya justru terang-terangan mengajukan penolakan dan ancaman kepada sesuatu yang bahkan mereka tidak pahami, dengan berlandaskan kebencian buta?

Pada waktu-waktu itu, saya melihat kekerasan dan diskriminasi terhadap LGBT terjadi di mana-mana, individu LGBT, bahkan tidak melakukan apa pun yang dituduhkan: menularkan, mengajak, membaiat, atau bahkan mengajak bunuh diri. Kita bisa melihat bagaimana kajian dibatalkan dengan alasan tidak berizin, dibubarkan paksa, dan bagaimana kampus diam tak bersuara saat kebebasan berpendapatnya diinjak-injak. Bahkan kampus tidak bicara sekeras itu tentang radikalisasi yang nyata menggerogoti sampai saat ini.

Penghukuman atas Tubuh dan Ekspresi Gender
Minimnya pengetahuan dan dibatasinya akses terhadap informasi seputar tubuh menyebabkan instansi-instansi yang buta mengenai gender mengambil ruang untuk mendikte identitas dan tubuh, serta menegaskan kembali peran gender yang kaku. Tubuh, yang lekat dengan diri, dijauhkan dari pemaknaan pribadi. Institusi menegaskan kuasanya melalui sensor, pembatasan akses dan pembakaran buku, yang dianggap sebagai panacea bagi semua masalah.

Penghukuman atas tubuh, pemerkosaan, dan pemaksaan identitas yang dilakukan oleh masyarakat terhadap yang liyan haruslah menjadi cambuk besar bagi Indonesia, bukannya diterima sebagai keadaan yang “sudah seharusnya”. Pada kelompok LGBT, ketimpangan ini adalah pil pahit yang harus ditelan setiap hari. Pil pahit pelanggaran hak dan kemanusiaan tersebut pula yang setiap hari dirayakan oleh media dan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Inklusivitas Gender
Di masa lalu, konsep laki-laki dan perempuan amat sederhana: laki-laki akan berburu makanan dan perempuan membesarkan anak. Sekarang, tidak ada garis yang jelas dan kaku untuk memisahkan keduanya. Pertukaran peran justru mampu menciptakan manusia yang adaptif dengan lingkungan sekitar yang terus berubah.

Gender bukanlah hal yang melekat dan terberi, dan beberapa individu harus melampaui proses perjalanan panjang untuk menemukan identitasnya, melampaui kromosom gen, tampilan fisik, dan apa yang dikenakan. Pelekatan gender pada hal-hal yang bersifat permukaan justru menyulitkan individu untuk beradaptasi dan dalam banyak kasus justru membatasi individu untuk menemukan kenyamanan dalam tubuhnya sendiri.

Majalah National Geographic mendedikasikan satu edisi khusus Januari 2017 dengan judul besar “Gender Revolution” yang berbicara mengenai pergeseran lanskap tentang gender. Hal yang paling menarik adalah bukan hanya bagaimana perkembangan sains membantu menjelaskan pergeseran lanskap dan pembebasan gender dari kutub laki-laki dan perempuan, namun juga memaparkan bahwa bahkan anak pada usia 9 tahun sudah mampu memahami bagaimana peran gender membentuk dirinya dalam perkembangan identitasnya.

Salah satu studi yang dilakukan oleh Fusion’s Massive Millenial Poll menunjukkan sesuatu yang menarik tentang cara generasi milenial melihat gender. Polling tersebut menunjukkan bahwa setengah dari mereka berpikir bahwa gender adalah spektrum dan beberapa orang berada di luar kategori yang konvensional.

Hal ini memungkinkan kemunculan ruang-ruang berekspresi yang lebih luas dan berupaya keluar dari kotak-kotak kaku gender yang selama ini dipahami. Karenanya, kita menemukan banyak ekspresi gender yang berbeda ditampilkan di laman media sosial, baik sebagai ekspresi maupun bentuk identitas diri yang fleksibel.

Contoh saja selebgram seperti Jovi Adhiguna (@joviadhiguna), Millendaru Prakasa (@millencyrus), Aaron Daffa (@aarondaffaa), yang memilih untuk mengekpresikan diri dengan tampilan feminine dan maskulin sekaligus, terlepas dari identitas gender dan orientasi seksualnya masing-masing. Atau pasangan Evelyn dan Aming yang mampu menunjukkan bagaimana gender dan seksualitas bersifat cair dan dapat saling dipertukarkan.

Terminologi baru muncul dan berupaya mengakomodasi spektrum melampaui definisi laki-laki atau perempuan seperti agender, bigender, transgender, two-spirit, intersex, genderqueer, nonbinary, androgynous, pangender, gender fluid, nonconforming, questioning, dan masih banyak lagi. Gender seharusnya bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, seperti yang diutarakan Kinsey di bukunya Sexual Behavior in the Human Male:

The world is not to be divided into sheep and goats. Not all things are black nor all things white. It is a fundamental of taxonomy that nature rarely deals with discrete categories. Only the human mind invents categories and tries to force facts into separated pigeon-holes. The living world is a continuum in each and every one of its aspects. The sooner we learn this concerning human sexual behavior, the sooner we shall reach a sound understanding of the realities of sex. (Alfred Kinsey, 1948, p. 638-639)

Memahami identitas gender yang kompleks dan menantang dikotomi gender yang kaku justru membantu individu agar dapat merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Karenanya, pembahasan gender dan orientasi seksual seharusnya bukan lagi berada pada tataran dosa/tidak, menyimpang/tidak, atau sakit/tidak.

Pendekatan saintifik yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, pemikiran dan penelitian terbarukan, serta diskusi lepas kiranya dapat mengisi ketertinggalan jauh dan tumpukan pekerjaan rumah besar mengenai pemahaman identitas, ekspresi gender, bahkan orientasi seksual.

Di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun, saya berharap Anda memasukkan revolusi pemikiran sebagai salah satu prioritas resolusi tahun baru Anda.

WOMEN’S MARCH JAKARTA

3
Dokumentasi berupa foto dapat dilihat pada akun Instagram SGRC Indonesia, @sgrcui

Women’s March diadakan pada hari Sabtu 4 Maret 2017 yang lalu, yang diawali dengan marching atau gerak jalan yang dimulai pukul 09.00 dari Sarinah Mall, Thamrin hingga ke Taman Aspirasi, Kawasan Monumen Nasional. Peserta didominasi dengan warna merah muda, putih dan ungu serta berbagai poster unik. Ratusan orang dari berbagai kelompok menyuarakan berbagai aspirasi terkait masalah gender yakni hak otonomi atas tubuh, body-positivity, kekerasan seksual, peningkatan keterlibatan perempuan dalam pemerintahan, kesetaraan bagi LGBTIQA+, masalah lingkungan dan peran perempuan di dalamnya, masalah perempuan dan perburuhan, serta perlindungan kelompok difabel, dengan tagar #Perempuan Bersatu. Perempuan bersama-sama turun ke jalan untuk menuntut kehidupan yang aman dan setara. Kesempatan berharga untuk menyuarakan pendapat seperti ini memang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

timeline_20170303_113239

Gerak jalan dimulai dengan seruan-seruan tentang anti patriarki dan tuntutan kesetaraan yang diteriakkan secara lantang dan bersemangat.  Panitia juga sibuk mengatur barisan peserta yang berasal dari berbagai golongan, sebuah prinsip interseksionalitas yang berusaha terus dijaga dalam gerakan perempuan. Women’s March ikut pula disemarakkan dengan kehadiran beberapa artis-artis tanah air yang bukan untuk mengisi acara namun turut ambil bagian dalam selebrasi perjuangan perempuan dengan mengangkat poster-poster menggelitik setara dengan peserta lainnya; misalnya Hannah Al-Rashid yang menyindir beberapa orang yang menganggap feminisme tidak sesuai dengan “budaya” bangsa atau Nino Fernandez yang membawa poster dengan pesan “For My Future Wife and Kids” (Untuk Calon Istri dan Anak-anakku), dan Nadine Alexandra yang dengan bangga mengangkat poster lebar berwarna merah muda dengan pesan “Diversity, Equality, Love” (Keberagaman, Kesetaraan, Cinta). Tak ketinggalan ada komedian Arie Kriting dan sutradara Joko Anwar yang sibuk mendokumentasikan jalannya acara.

Sesampainya di Taman Aspirasi, Monas, acara berlanjut dengan orasi-orasi dari berbagai representasi kelompok, yakni Musdah Mulia, Rukka Sombolinggi dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Mariana Amirudin dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Dian Kartikasari dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) serta organisasi lingkungan hidup WALHI. Acara juga kian semarak dengan adanya penampilan musik dari Sister in Danger, Melanie Subono, dan Mutiara Malika, pembacaan puisi oleh Helga Worotitjan, Ayu Meutia, Putri Minangsari dan Tiar S serta penampilan tari Rejang dari Bali. Acara juga kian meriah saat adanya agenda menari bersama dengan lagu penyanyi Beyonce – “Run The World (Girls)”. Para peserta asyik menari dan mengangkat poster-poster mereka yang memiliki kalimat – kalimat yang menggelitik seperti “bosan ditanya kapan kawin”, “two girls kiss, god smiles”, “bukan rokku yang pendek tapi otakmu yang tumpul”, “bisexuals are just confused by your ignorance”, serta berbagai poster lainnya dengan sasaran yang berbeda-beda namun pada intinya menyuarakan hak-hak perempuan.

Segala kemeriahan tersebut tidak membuat acara menjadi tidak terkendali, acungan jempol pantas diberikan kepada panitia acara yang tidak hanya sukses mengorganisir berbagai elemen masyarakat dengan pesan yang berbeda dengan satu tujuan utama, bahkan peserta juga diingatkan agar tidak mengotori area acara dalam bentuk peduli lingkungan. Acara berlangsung dengan damai dan aman, aparat juga berjaga sejak acara mulai hingga acara berakhir sekitar pukul 13.00 WIB.

Acara #WomensMarchJKT berhasil menyakinkan peserta yang ikut hadir pada hari itu, dengan berbagai tuntutan dan kepentingan yang berbeda-beda, kita adalah satu bagian dari kelompok yang memiliki tujuan yang lebih besar, kesetaraan untuk hidup yang lebih baik. Sekarang, saatnya kita melanjutkan dan ambil bagian untuk mewujudkan kesetaraan tersebut.

  • Author : Kharisanty Soufi Aulia
  • Editor : Ris Carolina

PERTANYAAN SEPUTAR KEPERAWANAN DAN SELAPUT DARA

17333346_1253390748078621_2710705026174550016_n

Mari kita menjawab pertanyaan ‘apakah selaput dara adalah penentu keperawanan’. Apabila sebagian dari kalian menjawab iya, maka kalian juga pastilah mengharapkan darah berceraiburai seperti bah pada malam pertama, yang pada akhirnya dilanjutkan dengan pertanyaan ‘wajibkah darah perawan pada malam pertama’. Pikirkan seperti ini, semisalnya saja saat pertama kali kalian berhubungan seks dan darah dari jebolnya selaput dara tidak kunjung tiba, lalu siapa yang memperawani atau mengagahi kalian sebelum ini? Jin? Belum lagi ditambah drama-drama dangdut merasa dicurangi karena pasangan kalian tidak berdarah, bukankah justru seharusnya jangan sampai berdarah? kalian  melakukan malam pertama atau jadi jagal daging di pasar? Pertanyaan-pertanyaan sederhana akan membuka sedikit akal bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘darah’ dan ‘perawan’ hanyalah bayangan mistis yang dipupuk tanpa pencerahan pengetahuan.

Keterbukaan informasi sepertinya tidak menjadi jaminan seseorang dapat mendalami analytical thinking  mengenai suatu isu yang sebenarnya selalu ada pada masyarakat, hal-hal sederhana seperti perbedaan selaput dara (red: hymen) dan keperawanan (virginity) yang sebenarnya hanya perlu keingintahuan dan sedikit ketikan singkat maka muncullah beberapa website resmi yang menjelaskan perihal ini. Dijelaskan dibanyak website resmi terkait dengan keperawanan, penyebab ‘pop’ atau ‘break’ hymen tidak hanya penetrasi dari hubungan seksual, tapi bisa jadi karena aktivitas, seperti berolahraga, cedera, pemeriksaan vagina, masturbasi, dan lain-lain.

Pada anak-anak dan remaja, selaput dara yang robek dapat pulih dengan cepat. Sementara pada orang dewasa, kondisi dan bentuknya sangat bervariasi, dan bahkan karena hymen tiap orang berbeda-beda, tidak jarang malah walaupun sudah pernah ada penetrasi, hymen tersebut terbentuk kembali. Ini menjadi bukti mutlak keunikan perempuan.

17333353_408842926142851_782859820939083776_n
lebih dekat dengan SGRC Indonesia dan tau lebih banyak tentang seksualitas, gender dan reproduksi dengan mengunjungi media sosial SGRC. Ketik dan cari: SGRCUI.

Pertanyaan lainnya adalah dan seringkali menjadi sedikit drama karena kontroversi  adalah mengenai perlukah tes keperawanan dilakukan? dan saya sangat yakin jika kalian mengatakan perlu, berarti alasan ‘moral’ menjadi pertimbangan kalian. Sayangnya alasan moral dan kehormatan untuk menjustifikasi praktek ‘tes keperawanan’ tersebut, bertentangan dengan HAM yang tercantum pada Pasal 7 UN-ICCPR (United Nation on International Covenant on Civil and Political Rights), yang telah diratifikasi Indonesia pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005.

“No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or punishment. In particular, no one shall be subjected without his free consent to medical or scientific experimentation”

Secara singkat dinytakan bahwa tidak ada seorang pun boleh disiksa atau diperlakuan atau dihukum dengan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan. Secara khusus, tidak seorangpun dapat diperlakukan demikian tanpa persetujuan bebas untuk eksperimen medis atau ilmiah, tes keperawanan dapat dikatakan suatu tindakan yang ‘merendahkan’ martabat, namun lagi-lagi pihak-pihak pelaku bisa jadi kembali berkelit dengan berkata: ‘tiap perempuan menyetujui untuk melakukan tes keperawanan’, mungkin memang benar adanya, akan tetapi kembali pada konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia yakni Pasal 16 UN-CAT  (United Nation on Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment, lebih dikenal dengan the United Nations Convention against Torture), yang diratifikasi Indonesia pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998.

Each State Party shall undertake to prevent in any territory under its jurisdiction other acts of cruel, inhuman or degrading treatment or punishment which do not amount to torture as defined in article I, when such acts are committed by or at the instigation of or with the consent or acquiescence of a public official or other person acting in an official capacity. In particular, the obligations contained in articles 10, 11, 12 and 13 shall apply with the substitution for references to torture of references to other forms of cruel, inhuman or degrading treatment or punishment.

Yaitu, setiap Negara Pihak harus mencegah perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan yang dilakukan oleh dan/atau atas hasutan maupun dengan persetujuan ataupun dengan ijin dari pejabat atau pihak lain yang bertindak dalam kapasitas resmi, dengan kata lain  tindakan dari pejabat atau pihak yang berwenang baik secara langsung maupun tidak langsung menghasut atau memberi izin untuk merendahkan suatu kelompok dengan eksperimen medis ataupun yang dikatakan ilmiah, tidak dapat dibenarkan, begitupula dengan tes keperawanan.

Apabila kalian masih bersikeras bahwa yang kalian lakukan sama sekali tidak salah ataupun merendahkan martabat seseorang, praktek tes keperawanan kepada perempuan melanggar asas non-diskriminasi pada mukadimah UN-CEDAW (United Nation on Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) yang telah diratifikasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.

Noting that the Universal Declaration of Human Rights affirms the principle of the inadmissibility of discrimination and proclaims that all human beings are born free and equal in dignity and rights and that everyone is entitled to all the rights and freedoms set forth therein, without distinction of any kind, including distinction based on sex.

Pada UN-ICCPR dan UN-CAT tertulis kata degrading yang akan selalu disandingkan dengan dignity yang merupakan kata sifat. Terbukti dari arti kata degrading adalah ‘to lower in dignity or estimation; bring into contempt’ dimana kata dignity terdapat pada mukadimah UN-CEDAW. Jadi tidak ada ‘merendahkan’ tanpa ‘merendahkan martabat’ seseorang atau suatu kelompok, yang dalam hal ini terkait dengan keperawanan. Jadi dapat disimpukan bahwa praktek tes keperawanan adalah tindakan yang merendahkan martabat perempuan, sehingga tidak ada moralitas yang bertujuan untuk merendahkan martabat mahluk hidup lainnya.

Pertanyaan selanjutnya ‘apakah keperawanan itu hadiah’, jawabannya bisa iya bisa tidak, tapi yang paling penting dan utama adalah kesiapan seseorang untuk melakukan hubungan seks dan adanya persetujuan (consent) sebelum melakukannya. Semakin perempuan siap, semakin nikmat hubungan seksual tersebut, otomatis jika perempuan berdarah saat malam pertama apakah menurutmu itu bentuk kesiapan? Ah atau bentuk kurangnya keahlian? Apapun itu tidak seharusnya penilaian akan kesucian perempuan diserahkan pada mata penghakiman orang lain, food for thought.

—————————————————————————————————————————————–

References:

UN-ICCPR (United Nation on International Covenant on Civil and Political Rights). Ratifikasi – Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. LN RI Tahun 2005 Nomor 119, TLN 4558.

UN-CAT  (United Nation on Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment). Ratifikasi – Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998. LN RI Tahun 1998 Nomor 164, TLN Nomor 3783.

UN-CEDAW (United Nation on Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women). Ratifikasi – Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984. LN RI Tahun 1984 Nomor 29, TLN Nomor 3277.

Alodokter, ‘Kaitan Antara Selaput Dara dan Keperawanan’, http://www.alodokter.com/kaitan-antara-selaput-dara-dan-keperawanan, diakses 16 Maret 2017.

Michael Castleman, PsychologyToday,All About Sex: The Hymen Membrane Widely Misunderstood’, 01 Maret 2011, https://www.psychologytoday.com/blog/all-about-sex/201103/the-hymen-membrane-widely-misunderstood, diakses 16 Maret 2017

Cristen Conger, HuffingtonPost, ‘Sex Myth Exposed: What They Dont Teach You About Hymen’, 20 Desember 2011, http://www.huffingtonpost.com/cristen-conger/sex-myth_b_1154683.html, diakses 16 Maret 2017

Sherria Ayuandini, TheConfersation, ‘Women Suffer the Myths of the Hymen and the Virginity Test’, 15 Desember 2014, http://theconversation.com/women-suffer-the-myths-of-the-hymen-and-the-virginity-test-35324, diakses 16 Maret 2017

BBCIndonesia, ‘Tren Sosial: Tes Keperawanan’, 9 Februari 2015, http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150209_trensosial_tes_keperawanan, diakses 16 Maret 2017

Dictionary.com, http://www.dictionary.com/browse/degrading, diakses 16 Maret 2017, Diakses 16 Maret 2017


Author: Ris Carolina