Menjadi Sekutu Feminis Karena Feminisme itu Personal

Femfest 2019 yang diadakan pada 23-24 November 2019 di Wisma PKBI Jakarta, dihadiri oleh banyak pemateri dari berbagai latar belakang. Meskipun berbeda latar belakang semuanya sama-sama bertujuan untuk menciptakan dunia yang lebih ramah gender. Ada banyak kelas yang diadakan dalam festival ini. Sekutu Feminis adalah salah satu kelas yang paling menarik perhatian peserta. Kelas ini diisi oleh tiga orang narasumber, yakni Ryan Febrianto (Plan International), Tara Basro (Aktor), dan Kokok Dirgantoro (Entrepreneur & PSI). Kelas ini dimoderasi oleh Andi Komara dari LBH Jakarta. Ketiga pembicara dalam kelas ini merupakan sekutu feminis yang berperan aktif dalam mewujudkan nilai-nilai feminisme. Ada benang merah yang bisa dilihat dari latar belakang kenapa ketiga pembicara ini memutuskan untuk menjadi sekutu feminis; yaitu karena isu-isu dalam feminisme bersinggungan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Ryan Febrianto mulai menjadi sekutu feminis karena alasan yang sangat personal; ibunya menjadi salah satu alasan mengapa ia aktif dalam isu-isu perempuan. Ryan bersama NGO tempat ia bekerja sering melakukan penelitian terkait dengan isu gender. Misalnya, ia pernah melakukan penelitian tentang apa yang menyebabkan laki-laki menjadi pelaku kekerasan seksual. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa salah satu faktor utama mengapa laki-laki lebih banyak menjadi pelaku kekerasan seksual yaitu karena laki-laki cenderung menganggap perempuan sebagai objek seksual yang dimiliki oleh laki-laki.

“Laki-laki merasa punya ‘entitlement’ terhadap tubuh perempuan. Inilah pentingnya mengapa laki-laki perlu memahami feminisme; memahami bahwa perempuan adalah subjek yang independen dan punya kebebasan yang utuh dan tidak didefinisikan oleh kepemilikan laki-laki”, ujar Ryan.

Hal yang bersinggungan diungkapkan juga oleh Kokok Dirgantoro mengenai perannya sebagai sekutu dari feminis. Ia berpendapat berdasarkan perjuangannya menjadi sekutu feminis yang tidak terasosiasi dengan organisasi apapun. Sedangkan untuk perjuangan aktivismenya lebih berfokus pada ranah individu; mengubah lingkungan sekitarnya seperti tempat kerjanya menjadi lebih ramah gender.

“Misalnya dengan membuat kebijakan cuti untuk ayah yang anaknya baru lahir atau cuti hamil-melahirkan untuk pekerja perempuan. Jadi mendorong cita-cita feminis itu juga sebenarnya baik untuk laki-laki, ” Ungkap pekerja Koorporasi ini.

Tara Basro pun berangkat dari alasan personal. Dulu ia sangat tidak nyaman dengan kondisi fisik yang ia miliki; sebagai perempuan dalam dunia peran, kulitnya dinilai tidak memenuhi standar kecantikan aktor perempuan di Indonesia. Tara menilai body positivity menjadi salah satu fokus feminisme yang ia terapkan dalam kehidupannya.

“Sebenarnya menjadi feminis itu buat aku adalah bagaimana kita bisa tampil percaya diri dengan tubuh yang kita miliki tanpa harus bersandar pada standar kecantikan perempuan yang sering kali dikonstruksikan oleh laki-laki”, ungkap aktor pemeran Tiga Skrikandi itu.

Kelas ini menjadi sangat inspiratif bagi para peserta diskusi karena memberikan gambaran bagaimana menjadi sekutu feminis yang baik dan dapat berperan positif terhadap gerakan feminis di Indonesia. 


Penulis: Rickdy Vanduwin (GHRS Udayana)

Feminis Festival: Dari Sekutu sampai yang “Khusus” dalam Institusi Pendidikan

Feminist Festival (Femfest) 2019 merupakan acara dari Femfest pertama yang saya datangi. Awalnya saya ingin datang sebagai peserta, namun tiba-tiba saya diajak untuk menjadi moderator di salah satu kelas yang ada di Femfest 2019, yaitu kelas Identitas Gender. Femfest membuka banyak sekali kelas yang menarik, yang tentunya berkaitan dengan feminisme. Kelas-kelas milik Femfest sangat beragam sehingga saya bingung mana yang harus saya datangi. Kelas favorit saya adalah kelas sekutu feminis yang diadakan di hari pertama. Bukan hanya karena Tara Basro sebagai narasumber, namun saya bisa belajar tentang apa itu sekutu feminis dan bagaimana harusnya sekutu feminis itu.

Perempuan sebagai sekutu Feminis, benarkah?

tara basro

Walaupun menjadi kelas favorit, saya memiliki banyak pertanyaan yang kurang terjawab salah satunya adalah peran Tara Basro sebagai pembicara. Tara Basro adalah seorang perempuan yang seharusnya tidak dimasukkan dalam lingkaran sekutu feminis. Sepengetahuan saya, sekutu feminis berarti orang-orang yang berada di luar perempuan. Saya juga mempertanyakan tentang istilah ‘lelaki feminis’ yang menurut saya, tidak valid. Namun hal ini terus menerus dibahas bahkan secara intrinsik dan divalidasikan.

Sekutu sendiri berarti aliansi, bukan sesuatu yang ada di dalamnya. Dari kelas ini, saya kemudian mengerti namun pada saat yang bersamaan memiliki banyak pertanyaan tentang validitas ‘lelaki baru’ atau ‘lelaki feminis’ ini.  Pada dasarnya, laki-laki sudah memiliki segalanya. Mereka dilahirkan dengan privilese, yang dengan adanya privilese tersebut, mereka otomatis berada di atas perempuan yang begitu lahir, tubuhnya sudah dipolitisasi. Itulah mengapa muncul gerakan feminisme ini. Laki-laki cis tidak seharusnya berada di dalam lingkaran feminis tersebut. Mereka sebagai sekutu, seharusnya memberikan dukungan dari luar, mendorong dari bawah, yang berperan sebagai pengawal gerakan feminisme itu sendiri, bukan menaruh dirinya di dalam ruang untuk perempuan yang telah susah payah direnggut kembali oleh para perempuan.

Kembali ke pertanyaan saya di awal; apa peran Tara Basro dalam kelas ini? Apakah Tara menjadi representasi perempuan sukses yang melawan standar kecantikan? Sebagai aktris? Atau sebagai token saja? Tapi apabila ia adalah representasi dari perempuan feminis, mengapa ia diberikan porsi bicara yang sedikit?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan saya di sini dapat dijadikan bahan evaluasi bagi tim penyelenggara. Menurut saya, kelas sekutu feminis bisa diputar sudut pandangnya menjadi bagaimana keinginan perempuan feminis terhadap sekutu feminis dan bagaimana dan dengan cara apa para sekutu feminis bisa membantu gerakan feminisme.

Privilege dan Institusi Pendidikan

Saya juga masuk ke dalam kelas feminisme dalam institusi pendidikan yang menurut saya kurang baik eksekusinya, baik dari moderator atau pembicaranya sendiri. Kedua pembicara, selain Ummanabiegh, berasal dari institusi pendidikan yang dapat dibilang privileged. Mengapa tidak mengambil staf pengajar dari institusi pendidikan negeri? Institusi pendidikan negeri memiliki banyak siswa Indonesia di dalamnya. Saat ini yang dibutuhkan adalah penanaman feminisme dalam institusi pendidikan negeri. Institusi demikian masih sangat asing mendengar kata ‘feminisme’. Hal lainnya adalah moderator yang bertanya melompat-lompat sehingga membuat saya sedikit bingung.

Femfest memberi pengalaman baru

Namun, apapun itu berada di dalam kelas sekutu feminis dan feminis dalam institusi pendidikan memancing nalar saya, dan cukup membuat otak berputar, sehingga hal tersebut penting untuk diapresiasi. Saya sangat beruntung dapat menghadiri Femfest tahun ini. Saya dapat bertemu dengan banyak teman-teman baru dari berbagai organisasi. Femfest membuat saya merasa welcomed dan tidak merasa diasingkan, karena saya dapat menjadi diri sendiri dan tidak merasa sendiri. Selain itu, saya mendapat banyak sudut pandang mengenai gerakan feminisme dan gerakan-gerakan lainnya.


Penulis : Tara Imann (PadGHRS)